The Last Weird || Bagian 16

2040 Kata
THE LAST WEIRD 16: MALAM NATAL Malam natal yang seharusnya dihabiskan dengan penuh kegembiraan malah berakhir dengan berbaring diatas ranjang. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi kedepan nya, tidak satupun. Yang kita hanya bisa adalah, terus berharap dan percaya dengan apa yang terbaik untuk kita. Sama seperti gadis yang masih memejamkan matanya dan berbaring lemah di atas ranjang.  "Apa dia baik-baik saja Ayah?"  Xander, lelaki itu tidak ada pilihan lain selain membawa Alice ke rumah ayah nya. Karena, di apartemen nya, tidak ada sama-sekali peralatan yang bisa dipakai. Hanya ada beberapa, namun itu tidak bisa mengobati luka Alice.  "Apa kau memberikan nya ramuan itu?"  "Iya yah!"  "Kau beruntung bisa mengalahkan satan itu Xander. Jika telat satu menit, ayah rasa gadis ini akan berakhir di dalam perut satan itu. Tapi pertanyaan nya, mengapa kalian bertiga baru sadar bahwa ibu Alice itu bukan lah sosok manusia? Bagaimana indra mu tidak bekerja Xander? Kalian bahkan sudah 18 tahun, saling mengenal sudah semenjak 3 tahun yang lalu. Ayah kecewa pada mu!" seru mr. Erick sambil bangkit berdiri "Maaf ayah, jika boleh jujur. Aku memang sudah mempertanyakan hal itu semenjak beberapa hari terakhir ini dan sejak mengenal gadis ini. Aku juga bertanya-tanya, mengapa kekuatan besar yang ada di dalam dirinya tidak bisa bekerja dengan maksimal. Aku sendiri tau bahwa Alice sangat beruntung karena memiliki kekuatan itu. Namun saat aku mencoba merasakan auranya, rasanya ada yang menghalangi penglihatan ku. Jadi aku tidak bisa berbuat terlalu jauh dan malah membahayakan Alice!"  "Sudah lah, jaga gadis ini Xander. Dia ada hubungan nya dengan mu. Ayah sudah mencoba untuk menerawang pikirannya, tapi ada yang menghalangi ayah. Kekuatan nya begitu besar, dan ayah tidak bisa. Dia sendiri lah yang harus memecahkan sihir yang melindungi pikirannya itu, untuk tau siapa dia sebenarnya!"  "Ayah, bisa kah ayah memberikan ku petunjuk?"  Erick yang hendak berlalu, tertahan. Ia menatap lengan nya dan menatap siapa yang memegang nya. Xander yang baru sadar sudah lancang segera melepaskan genggaman nya  "Ahhh maaf ayah, aku tidak bermaksud!"  "Ada hal lain yang ingin kau tanyakan pada ayah?"  Xander manarik nafas nya, "simbol kefanaan, ayah tau mengapa kami bisa melihat nya?"  Erick sedikit terkejut, ia kembali duduk "Darimana kau tau simbol itu?"  "Ada beberapa hal yang tidak aku beritahu pada ayah sejak aku memilih untuk tinggal sendirian. Beberapa hari terakhir ini, ada teror di sekolah kami. 3 nyawa hilang, hati nya diambil dan semua korban meninggal dengan cara yang sama. Ada yang membunuh mereka dan setiap kali ada pembunuhan Alice pasti merasakan sakit di bagian hati nya juga. Dan yang paling penting, selalu ada simbol benda itu di sebelah korban. D-dan semua korban adalah gadis ayah!"  Erick menari nafas nya, lalu sedikit menatap gadis yang masih terbaring di atas ranjang putranya. "Dengar, ayah akan memberitahu mu sebuah rahasia besar yang selama ini tidak ayah beritahu pada mu. Kau bukan lah darah daging ayah, aku mengadopsi mu saat ayah menemukan mu di sebuah rumah yang baru saja di serang oleh para satan. Ayah tidak tau mengapa, awal nya ayah ingin menitipkan mu ke panti asuhan karena kau akan lebih aman di sana ketimbang di sini. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari mu sehingga membuat ayah ingin melindungi mu. Aku menjadikan mu anak angkat sejak saat ini dan kau memang benar-benar memiliki kelebihan!"  Xander menatap lelaki paruh baya yang ada di depan nya, ia menghela nafas. Sejak awal ia memang sudah menduga hal ini. Tapi ia sama-sekali tidak mempermasalahkan nya. "Lalu, apa hubungan nya ayah? Bagiku, aku bukan anak mu atau tidak. Aku tetap lah anak mu, karena sejak dulu itu lah yang aku tau!"  Erick menghela nafas nya, namun bangga dengan Xander. Meski anak nya itu baru saja mendapati fakta itu, lelaki itu tetap bisa menjaga ekspresi nya   "Ini berhubungan dengan benda kefanaan ini Xander. Benda itu terlihat pasti karena salah-satu dari antara kalian bertiga memiliki sebuah masa lalu yang terlupakan atau sengaja di lupakan. Dalam artian, salah-satu dari kalian ada yang kehilangan ingatan. Karena, ayah juga tidak berhasil menelusuri masa lalu mu nak, ayah sudah mencoba mencari apa yang terjadi dengan keluarga mu saat itu. Tapi tidak ada petunjuk sama-sekali bahkan hingga saat ini ayah masih berusaha untuk mencarinya. Dan gadis ini, jika dia asuh oleh seorang iblis selama ini. Ayah bisa menebak bahwa ada sesuatu di masa lalu nya, karena benda itu muncul jika seseorang dari kalian bertiga memiliki masa lalu yang berhubungan dengan malaikat atau seorang manusia yang menyimpan benda itu! "  "Tapi ayah, mengapa ayah bilang bahwa aku juga berhubungan dengan Alice?"  "Ini hanya fisarat ayah saja, tapi kalian bertiga memang sengaja untuk dipertemukan untuk memecahkan sesuatu yang bahkan tidak kalian ketahui dan jika kau sungguh ingin dia menjadi pemilik mu. Kau harus melindunginya dengan segenap jiwa mu, kalian bertiga tidak dipertemukan secara sengaja. Tapi, ada sesuatu yang harus kalian hadapi!" seru mr. Erick segera berjalan menuju pintu dan menghilang dibalik pintu itu.  Xander mengerutkan kening nya, aneh..ini aneh, ayah nya bahkan tidak marah saat ia menggenggam lengan pria paruh baya itu. Padahal, ingatan Xander masih begitu segar. Ia bahkan sadar betapa marah nya lelaki paruh baya itu saat ia memegang tangan nya dengan tidak sengaja kala itu. Sebenarnya Xander terlalu terkejut saat lelaki itu mengatakan bahwa ia bukan lah anak nya, lalu berarti ayah nya tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun? Xander menggelengkan kepala untuk menghilangkan segala pemikirannya saat mendengar pergerakan dari arah Alice. Ia segera duduk di kursi dihadapan gadis itu. Menatap kelopak mata gadis itu yang mulai mengerjap. "Alice??? kau mendengar ku? Alice???" Xander menyentuh wajah Alice yang masih terasa hangat. Efek dari ramuan yang ia berikan memang akan seperti itu.  Namun, Xander refleks menarik tangannya. Wajah nya lagi-lagi memerah, rasanya Xander sudah tidak waras lagi jika berhubungan dengan Alice. Berada di sekitar gadis itu, cukup memberi kan Xander banyak pengalaman yang tidak terduga. Bahkan, g--gadis itu...ia memberi ciuman pertamanya pada gadis itu. Xander segera menggelengkan kepalanya, ia mengipas wajah nya dan segera menetralkan wajah nya. Bisa-bisa nya ia bertindak seperti itu nanti di depan Alice.  Alice mulai merasakan ada yang memanggil namanya, ia juga merasakan sebuah sentuhan di wajah nya. Dengan perlahan, ia mulai membuka matanya dan menyesuaikan cahaya redup yang masuk melalui netra matanya. Alice berusaha, "Alice? Kau melihat ku?"  Alice mengerjapkan matanya dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar berwarna hitam dengan ukiran kupu-kupu di tengahnya.  "Alice? Kau sadar!"  Mendengar suara itu, Alice mengalihkan perhatiannya dan menatap sosok pemuda yang kini menatap nya dengan raut wajah khawatir nya. Alice berpikir dan kali ini matanya benar-benar membulat sempurna, kesadarannya benar-benar sudah kembali sepenuhnya.  "Xander? Xander???? kau-kau- aku?"  "Alice? Kau mengenali ku kan? Untung lah!" seru Xander meraih tangan Alice dan membantu gadis itu untuk berbaring di sandaran kasur nya  "K-ka..!"  "sttt... minum dulu agar kau lebih berkonsentrasi!" seru Xander sambil menyerahkan segelas air putih yang langsung di teguk habis oleh Alice. Jujur saja, kali ini Alice kembali merasakan takut. Ia lalu menatap ke bawah, kaki nya benar-benar di perban. Dan, itu semua bukan lah mimpinya saja. Ia menelan saliva nya kasar, se-saat. Bayang-bayang satan itu seolah menghantuinya.  "hey, Alice? Kau melamun ? Dengar kan aku, sekarang kita berada di rumah ayah ku. Kau sekarang berada di kamar ku yang dulunya, mengenai apa yang baru saja menimpa mu. Aku benar-benar minta maaf karena tidak segera bergegas ke rumah mu! Kaki mu harus di gips selama beberapa hari, ayah ku sudah memberikan obat nya agar kau tidak lagi merasakan sakit karena gigitan dari iblis itu!" Xander sengaja tidak memberi tahu apa yang terjadi setelah Alice pingsan pada gadis itu.  Alice menatap kaki nya yang sebagian terekspos, urat-uratnya menonjol dan berwarna biru kehitaman. Alice terdiam. Ia memang tidak merasakan sakit lagi seperti ketika satan itu pertama kali menggigit kaki nya. Tapi, warna kaki nya saat ini benar-benar terlihat menyeramkan sekali. Alice tidak sadar bahwa ia lagi-lagi meneteskan air matanya.  "Alice? hey? Maaf Alice! Jika seandainya aku lebih awal datang dan membantu mu, aku rasa ini tidak akan terjadi pada mu!" seru Xander membuat perhatian Alice tertuju pada lelaki itu. Air mata Alice semakin mengalir deras, tangan Alice terangkat dan memukul d**a nya sendiri.  "Aku cacat, aku tidak berguna. Aku tidak bisa berjalan!" teriak Alice sambil meraung  "Alice, berhenti Alice. Kau bisa menyakiti diri mu sendiri!" seru Xander menangkap ke dua tangan Alice. Ia merasakan hatinya sakit saat melihat gadis di depan nya seperti ini.  Alice menggeleng, ia tidak bisa menerima ini. Lalu, jika Bertha adalah satan. Lalu, apa dia juga tidak punya orang tua? Apa Alice adalah anak buangan? Alice menatap Xander dengan pandangan terluka "Aku tidak punya orang tua selama  ini, bagaimana bisa Xander? Aku benar-benar tidak percaya lagi! jadi, aku dirawat oleh satan? Dimana orang tua ku, dimanaaaaaaaaaaa!" teriak Alice meraung keras  "Alice, kau tidak boleh seperti ini. Kau tidak bisa Alice! Karena aku juga tidak punya orang tua, kita sama"seru Xander segera memeluk Alice erat. Ia membiarkan punggung nya di pukul oleh gadis itu. Air mata Alice benar-benar membuat Xander sakit. Tidak, Alice bukan lah gadis seperti ini. Ia yakin bahwa Alice pasti kuat, ia tau akan hal itu. Sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, Xander sudah tau bahwa kepribadian gadis itu sangat kuat. Tidak ada yang menutupi hal itu. Selain cerdas, Alice juga berhati cantik.  "Maaf Alice, kau terlihat masih Syok. Aku harus melakukan ini pada mu!"  Xander  langsung memberikan Alice jurus tiga totok yang ia pelajari ketika masih bersama dengan ayah nya. Gadis itu seketika berhenti meronta dan jatuh ke dalam pelukan Xander. Cukup lama, Xander cukup lama memeluk gadis itu dengan air mata yang sesekali menetes. Ia sangat merasa bersalah kali ini.  Cukup lama hingga Xander segera membaringkan gadis itu lagi, merapikan rambut Nya yang berantakan dan menghapus  bekas air mata di wajah nya. Xander berdiri dan menyentuh wajah gadis itu "Selamat natal Alice, maaf jika aku tidak bisa melindungi malam ini. Tapi, aku berjanji akan melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan!" ujar Xander lalu mengecup kening Alice dan meninggalkan Alice yang kembali tertidur.  Xander melangkah menjauh dan menuju ke arah ruang baca yang selama ini selalu menemani nya.  Xander ingat bahwa masa kecil nya, ia begitu banyak menghabiskan waktunya di ruang baca ini. Hingga semua buku yang berada di ruangan itu sudah hampir selesai ia baca. Namun, untuk kali ini Xander tidak datang untuk membaca. Ia datang untuk merileksk an pikiran nya yang terasa berat. Akhir-akhir ini memang begitu terasa berat untuk nya, bukan hanya untuk nya saja. Tapi juga untuk kedua sahabat nya, Logan dan Alice.   Xander menatap buku-buku itu, ia memang selalu tidak mengingat apa yang dulu sering ia lakukan. Xander mengambil buku secara acak, lalu kembali lagi ke kamarnya. Ia menatap Alice, nafas gadis itu sudah mulai teratur. Xander mengambil kursi dan duduk tepat di depan gadis itu, mengambil tangannya dan mengelus rambut nya. "Malam natal ini seharusnya tidak seperti ini!" guman Xander menatap wajah Alice yang terdapat luka-luka. Bahkan lebam di kening Alice masih belum memudar meski ia sudah mengompres nya dengan air hangat.  Ponsel Alice yang berada di atas meja bergetar. Xander beranjak dan mengambil ponsel gadis itu. Dan ternyata pesan masuk dari Logan. Xander membuka pesan mereka, ia hanya membaca pesan lelaki itu karena setelah nya Logan langsung menelepon nya.  Logan : Xander? Aku ada di depan rumah Alice, dan rumah nya sangat berantakan. Aku juga tidak bisa menemukan Alice di sini, apa kau tau hal ini? Logan menatap layar ponsel nya, Xander memang mengangkat panggilan teleponnya. Namun lelaki itu tak kunjung menjawab membuat Logan ikut khawatir dengan keberadaan Xander. Namun saat ini, ia benar-benar kalut. Karena terakhir ia hanya mendengar suara dentuman keras saat menghubungi Alice. Alhasil, ia memutuskan untuk menyusul gadis itu. Namun, saat ia sudah berada di gerbang gadis itu. Rumah Alice gelap, dan di dalam rumah itu juga semua barang-barang berserakan. Serta ada darah dan abu di sana.  Xander menatap layar ponsel nya, Logan masih tidak menutup sambungan telepon nya "Dia ada bersama ku, di rumah Ayah!"  Holaaaaaaa gaissss huhuhuhu, autor mau ngucapin selamat natal bagi yang merayakannya.  Bisa juga dong berbagai keseruan natal untuk yang merayakan xixixixi, autor nya kepo hahahahahhaha jangan lupa terus dukung cerita ini sampai tamat ya dengan  berikan vote dan koment nya  kalau bisa, di share juga. Biar follower autor nya banyak xixixixixi  Biar tambah semangat donggggggg untuk update setiap hariiii Sekali lagi, terimakasihhh banyakkkkk :_)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN