bc

BALAS DENDAM ISTRI YANG DIABAIKAN.

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
heir/heiress
like
intro-logo
Uraian

Nayla menikah dengan Arga, pria tampan dan sukses yang dulu sangat mencintainya. Namun setelah tiga tahun pernikahan, segalanya berubah. Arga mulai menjauh, sibuk dengan pekerjaannya—dan dengan wanita lain, Sekar, rekan kantornya.Nayla, yang selalu sabar dan setia, akhirnya mengetahui bahwa Arga berniat menceraikannya demi Sekar.Namun, Nayla bukan lagi wanita lembut yang rela diinjak. Ia pergi, meninggalkan Arga dengan luka yang ia ciptakan sendiri.Tiga tahun kemudian, Nayla kembali—bukan sebagai wanita rapuh, tapi sebagai CEO muda yang berkuasa.Kini giliran Arga yang memohon… dan Nayla yang menentukan permainan.Tapi di balik semua itu, ada rahasia besar yang bisa mengubah segalanya—termasuk arti balas dendam yang sesungguhnya

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Cinta Yang Mulai Retak.
Malam itu hujan turun perlahan, menetes di kaca jendela apartemen mereka yang megah di tengah kota Jakarta. Di dalam ruangan, lampu redup menciptakan bayangan samar di wajah Nayla yang sedang menatap jam dinding—pukul sebelas lewat lima belas. Suaminya, Arga, belum juga pulang. Sudah tiga malam berturut-turut seperti ini. Teleponnya tak diangkat, pesan hanya dibalas dengan jawaban singkat: “Lembur.” Kata itu kini terdengar seperti alasan yang sudah kehilangan makna. Nayla duduk di tepi ranjang, memandangi foto pernikahan mereka di meja nakas. Di foto itu, Arga menggenggam tangannya erat, matanya penuh cinta dan janji. Ia masih ingat betapa bahagianya hari itu—saat semua orang berkata mereka pasangan sempurna. Tapi kini, entah sejak kapan, kehangatan itu hilang. Arga jarang bicara, jarang tersenyum, dan mulai menjauh. Rasanya seperti hidup dengan orang asing yang kebetulan berbagi atap bersamanya. Teleponnya bergetar pelan. Harapan sempat muncul—mungkin Arga? Tapi bukan. Pesan dari sahabatnya, Dina. “Nay, kamu udah makan? Jangan terus nunggu dia, ya.” Nayla menatap pesan itu lama. Hatinya terasa sesak. Ia ingin menjawab, tapi tak tahu harus berkata apa. Yang bisa ia lakukan hanya menulis satu kata: “Belum.” Ia memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang. Ia bukan tipe istri yang menuntut. Ia paham pekerjaan Arga penting, bahwa ia sedang mengejar posisi direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Tapi dulu, Arga selalu bilang, “Aku lembur demi masa depan kita, Nay.” Sekarang, entah masih ada kata “kita” di sana atau tidak. --- Pintu apartemen akhirnya terbuka pukul dua dini hari. Suara langkah kaki Arga terdengar tergesa, diiringi aroma parfum asing yang menusuk hidung Nayla—aroma bunga yang tak pernah ia pakai. “Baru pulang?” tanyanya pelan. Arga hanya menoleh sekilas. “Iya. Ada meeting dadakan sama klien.” “Meeting sampai jam dua pagi?” Nada Nayla lembut, tapi mengandung luka yang dalam. Arga menghela napas panjang, meletakkan jasnya di sofa. “Nayla, tolong jangan mulai, ya. Aku capek.” Nayla menunduk. “Aku cuma nanya.” “Dan aku udah jawab.” Suara Arga meninggi sedikit. Ia berjalan ke dapur, menuang air, lalu meminumnya tanpa menatap istrinya sama sekali. Keheningan merayap. Hanya suara hujan yang masih setia menemani. Nayla memperhatikan punggung suaminya—dulu punggung yang selalu ia sandari dengan tenang. Kini terasa begitu jauh, dingin, dan asing. “Aku cuma... kangen kamu, Ga,” ucap Nayla akhirnya, suaranya nyaris bergetar. “Aku cuma pengin kita kayak dulu lagi.” Arga berhenti sejenak, tapi tak menoleh. “Kita udah nggak kayak dulu, Nay.” Hening. Satu kalimat itu seperti pisau yang menembus jantungnya. Arga lalu melangkah ke kamar, meninggalkannya sendirian di ruang tamu dengan segelas air yang tak disentuh. --- Keesokan paginya, Arga sudah berangkat kerja lebih awal. Tak ada sarapan bersama, tak ada ciuman di kening seperti biasanya. Hanya secarik catatan di meja makan: “Aku ada rapat di luar. Jangan tunggu makan malam.” Nayla menatap tulisan itu lama. Tulisannya masih sama, tapi rasanya berbeda—dingin, datar, dan seolah tanpa perasaan. Ia duduk lama di kursi itu, lalu perlahan menggulung kertasnya dan memasukkannya ke dalam laci. Entah mengapa, ia masih ingin menyimpannya. Hari itu, Nayla mencoba mengalihkan pikiran dengan pergi ke toko bunga kecil miliknya. Dulu, Arga-lah yang mendorongnya membuka usaha itu, karena tahu Nayla suka merangkai bunga. Kini toko itu menjadi satu-satunya tempat di mana ia merasa berarti. Ketika sedang menata vas bunga mawar putih, Dina datang membawa dua gelas kopi. “Aku bawa kopi favoritmu. Kamu kelihatan pucat, Nay.” Nayla tersenyum tipis. “Cuma kurang tidur.” “Arga lembur lagi?” Nayla diam. Ia tak perlu menjawab, karena wajahnya sudah memberi tahu semuanya. Dina menatapnya prihatin. “Kamu harus sadar, Nay. Kadang cinta aja nggak cukup kalau cuma kamu yang berjuang.” Nayla menatap bunga di tangannya. “Aku tahu, Din. Tapi aku belum siap kehilangan dia.” “Kalau dia yang justru udah ninggalin kamu duluan?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Nayla tak sanggup menjawab. --- Sore harinya, saat Nayla sedang menutup toko, ponselnya berdering. Nomor asing. Ia ragu sejenak sebelum mengangkat. “Halo?” Suara perempuan di seberang terdengar lembut tapi menusuk. “Selamat sore, Mbak Nayla. Saya Sekar, rekan kerja Mas Arga.” Jantung Nayla berdetak cepat. Nama itu... nama yang pernah ia dengar disebut Arga di telepon beberapa waktu lalu. Sekar. “Ya, ada apa, Mbak Sekar?” “Oh, saya cuma mau sampaikan, Mas Arga lupa membawa dokumen penting dari kantor, jadi saya baru saja antar ke apartemen. Tapi karena sepertinya beliau sedang mandi, saya titip di meja ruang tamu ya.” Nayla terdiam. Sekar... di apartemennya? “Nanti saya sampaikan, terima kasih,” katanya pelan sebelum menutup telepon. Tangannya gemetar. Ia tak tahu harus merasa apa—marah, cemburu, atau kecewa. Yang jelas, dadanya terasa sesak. Ia menatap layar ponsel itu lama, seolah berharap semuanya hanya salah paham. Namun saat malam tiba dan Arga pulang, Nayla tahu hatinya tak salah. Ada bekas lipstik samar di kerah kemeja suaminya—warna merah muda, bukan warna lipstik yang pernah ia pakai. Ia ingin bertanya, tapi bibirnya kelu. Ia hanya berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah pucat, mata sembab, senyum yang hilang. “Sejak kapan aku jadi selemah ini?” bisiknya pelan. Air mata jatuh juga akhirnya. --- Malam itu Nayla keluar dari kamar, berjalan pelan ke balkon. Dari sana ia bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelip, indah tapi menyakitkan. Ia memegang cincin di jarinya—cincin yang dulu melambangkan janji setia. “Kalau aku pergi, apa kau akan mencariku, Ga?” tanyanya pada angin malam. Tak ada jawaban, hanya suara hujan yang turun lagi, seperti malam sebelumnya. Tapi di balik hujan itu, hatinya mulai berubah. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam dirinya—bukan lagi cinta, tapi luka. Dan dari luka itu, kelak lahir kekuatan yang bahkan Arga tak akan pernah sangka. Cinta mereka mungkin belum sepenuhnya hancur, tapi retakannya sudah terlalu dalam. Dan Nayla tahu, malam ini adalah awal dari segalanya—awal dari akhir.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook