Pagi itu, matahari menembus tirai jendela, memantulkan cahaya ke seluruh kamar. Tapi bagi Nayla, sinar itu tak lagi membawa hangat.
Ia terbangun dalam keheningan, mendapati sisi ranjang Arga sudah kosong. Hanya bekas lipatan selimut yang tersisa, seolah menandakan seseorang yang buru-buru pergi tanpa berpamitan.
Ia menatap bantal di sebelahnya, kosong dan dingin.
Dulu setiap pagi Arga selalu memeluknya dari belakang, membisikkan selamat pagi dan mencium pelipisnya.
Sekarang, yang menyapa hanyalah sepi.
Nayla turun dari ranjang, melangkah ke dapur. Di atas meja, ada secangkir kopi hitam—minuman kesukaan Arga—masih mengepulkan asap.
Tapi bukan Nayla yang membuatnya.
Ia baru bangun.
Dengan hati-hati, ia memeriksa meja makan. Ada dua piring, dua sendok, dan remah roti yang belum dibersihkan.
Nayla menelan ludah. “Dia sarapan… sama siapa?” bisiknya pelan.
Tiba-tiba, aroma parfum itu lagi—parfum bunga yang bukan miliknya—masih tercium samar di udara.
Dadanya sesak. Ia ingin menyangkal, tapi kenyataan sudah terlalu jelas.
Ada seseorang yang mulai mengambil tempatnya, perlahan namun pasti.
---
Hari-hari berikutnya berjalan seperti rutinitas tanpa makna.
Arga pulang makin larut, dan kalaupun ada di rumah, ia lebih sering sibuk dengan ponselnya daripada berbicara dengan Nayla.
Malam itu Nayla memberanikan diri bicara.
“Ga, besok ulang tahun pernikahan kita yang ketiga. Kamu masih ingat?”
Ia menatap Arga penuh harap, mencoba tersenyum walau hatinya gemetar.
Arga tak langsung menjawab. Ia masih sibuk menatap layar laptop di pangkuannya. “Oh… iya, aku ingat. Tapi kayaknya aku nggak bisa keluar besok. Ada rapat penting.”
“Setidaknya makan malam di rumah? Cuma berdua.”
Nada Nayla memohon, lirih dan lembut.
Arga menutup laptopnya, menghela napas. “Nayla, aku udah bilang aku sibuk. Kenapa kamu nggak bisa ngerti? Aku kerja keras juga buat kita.”
Nayla terdiam. Kalimat itu seperti repetisi dari masa lalu, tapi kini terdengar hambar.
Dulu Arga berkata dengan bangga, sekarang dengan nada menyalahkan.
Ia menunduk, menatap jari-jarinya yang menggenggam ujung rok. “Aku cuma ingin sedikit waktu dari kamu, Ga. Itu aja.”
Arga berdiri, mengambil jasnya. “Aku nggak bisa kasih itu sekarang. Jangan manja.”
Dan begitu saja, ia pergi meninggalkan Nayla yang masih berdiri di ruang tamu dengan air mata yang belum sempat jatuh.
---
Keesokan harinya, Nayla menyiapkan makan malam istimewa. Meskipun Arga sudah menolak, hatinya masih berharap mungkin kali ini suaminya akan berubah pikiran.
Ia memasak semua makanan favorit Arga: sop buntut, sambal matah, dan puding cokelat.
Ia mengenakan gaun sederhana warna biru lembut warna yang dulu Arga bilang paling cocok di tubuhnya.
Jam menunjukkan pukul delapan malam.
Nayla duduk di meja makan yang sudah dihiasi lilin dan bunga segar. Tapi kursi di depannya tetap kosong.
Pukul sembilan lewat tiga puluh, ponselnya bergetar.
Pesan dari Arga.
“Maaf, rapat molor. Kamu makan aja dulu.”
Nayla menatap layar itu lama, lalu mematikan ponselnya tanpa membalas.
Ia menatap meja makan yang masih rapi, lilin yang mulai meleleh, dan makanan yang kini sudah dingin.
Ia akhirnya makan sendiri. Sendok pertamanya terasa hambar, air matanya jatuh membasahi nasi.
Setiap suapan terasa seperti menelan kepedihan yang tak kunjung habis.
---
Tengah malam, pintu apartemen terbuka pelan. Arga masuk dengan langkah tenang, tanpa merasa bersalah.
Nayla masih duduk di ruang tamu, menunggu.
“Kamu belum tidur?” tanya Arga datar, melepas dasinya.
“Kamu bahkan nggak bilang selamat ulang tahun pernikahan, Ga,” suara Nayla gemetar. “Aku nunggu dari sore…”
Arga menghela napas panjang, seolah lelah dengan ucapan yang bahkan belum selesai.
“Nayla, aku udah capek. Jangan bahas hal remeh kayak gini. Aku punya urusan yang lebih penting.”
“Lebih penting dari aku?” Nayla menatapnya dengan mata merah. “Dari pernikahan kita?”
Arga diam sejenak, lalu menatap balik tanpa emosi.
“Mungkin iya.”
Hening.
Kalimat itu menusuk lebih tajam dari pisau.
Nayla menatapnya tak percaya. “Kau sadar apa yang barusan kamu bilang?”
Arga berbalik. “Aku cuma jujur. Aku udah nggak tahu kenapa kita masih bertahan. Rasanya kayak… semuanya cuma formalitas.”
“Formalitas?” Nayla hampir tak bisa menahan air matanya. “Tiga tahun pernikahan ini cuma formalitas buat kamu?”
Arga tak menjawab. Ia melangkah masuk ke kamar, meninggalkannya di ruang tamu yang tiba-tiba terasa begitu luas dan dingin.
Nayla jatuh terduduk, menutupi wajahnya.
Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.
Keesokan harinya, Nayla mencoba bersikap biasa. Tapi di dalam hati, sesuatu sudah berubah.
Cintanya pada Arga masih ada, tapi rasa percaya yang dulu ia pegang erat kini perlahan hancur.
Di toko bunganya, Dina datang lagi.
Wajah Nayla terlihat lelah, matanya sembab.
“Dia nyakitin kamu lagi?” tanya Dina hati-hati.
Nayla tersenyum getir. “Dia bahkan nggak sadar udah nyakitin.”
Dina menggenggam tangan Nayla. “Dengar, Nay. Kamu berhak bahagia. Jangan terus bertahan di tempat yang udah nggak ada cintanya.”
Nayla menatap sahabatnya lama, lalu menunduk. “Aku cuma takut, Din. Takut kalau aku pergi, aku nggak bisa mulai lagi.”
“Kadang kita harus berani kehilangan yang salah biar bisa nemuin yang benar,” jawab Dina pelan.
Kalimat itu membekas di hati Nayla.
Sepanjang hari ia memikirkannya tentang kehilangan, tentang cinta, dan tentang dirinya sendiri yang makin hilang dalam pernikahan yang hampa.
---
Malam itu, saat Nayla sedang menyiapkan teh di dapur, ponsel Arga yang tertinggal di meja ruang tamu berbunyi.
Layar menyala, menampilkan satu nama yang membuat darahnya berhenti mengalir seketika:
Sekar.
Pesan itu terbuka tanpa sengaja karena layar tak terkunci.
"Aku rindu kamu. Malam ini luar biasa. Aku nggak sabar ketemu lagi.”
Tangannya gemetar.
Pandangan kabur oleh air mata, tapi isi pesan itu terlalu jelas untuk disalahartikan.
Ia tak berteriak, tak membanting ponsel.
Hanya diam, lama sekali, sebelum akhirnya menutup mata dan menarik napas dalam.
Ada keheningan aneh dalam dirinya—bukan lagi kesedihan, tapi semacam ketenangan yang lahir dari kehancuran.
Nayla tahu malam itu sesuatu di dalam dirinya mati.
Cinta yang selama ini ia lindungi dengan sabar kini retak tak tersisa.
Dan dari serpihan itu, sesuatu yang lain mulai tumbuh—dingin, kuat, dan tak kenal ampun.
Ia menatap bayangan dirinya di jendela.
“Kalau ini yang kamu mau, Arga…”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Maka kamu akan mendapatkannya. Tapi dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan.”
Di luar, hujan kembali turun.
Tapi kali ini, air mata Nayla tak lagi mengalir.
Yang tersisa hanyalah tekad sebuah permulaan dari akhir yang perlahan mendekat.