Bab 3 Diam Yang Menyakitkan.

1111 Kata
Sudah seminggu berlalu sejak Nayla menemukan pesan itu di ponsel Arga. Pesan dari Sekar. Kata-kata yang tak bisa ia lupakan meski sudah mencoba seribu kali menutup mata. Namun Nayla tak lagi bertanya, tak lagi menuntut. Ia memilih diam. Bukan karena pasrah, tapi karena tahu kata-kata tak lagi berguna bagi seseorang yang sudah berhenti mendengarkan. Kadang diam jauh lebih mematikan dari amarah. Pagi itu, suasana apartemen terasa asing. Arga duduk di meja makan, membaca koran sambil menyeruput kopi. Biasanya Nayla yang akan mengajaknya bicara, menanyakan jadwal hari ini, atau sekadar menawarkan sarapan. Tapi kali ini, Nayla hanya sibuk di dapur, menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. Tanpa menatap, Arga berkata, “Kamu nggak bikin kopi buat aku?” Nayla berhenti sejenak, lalu menjawab datar, “Kopi kamu di depan.” “Oh.” Arga menatap cangkir di depannya. Biasanya, Nayla akan menaruhnya dengan catatan kecil bertuliskan semangat kerja, ya. Sekarang, hanya cangkir kosong tanpa pesan, tanpa senyum. Hening membentang. Arga memutar halaman koran, tapi pikirannya terasa aneh. Entah mengapa, ketenangan Nayla justru membuatnya gelisah. “Ada apa? Kamu kelihatan beda,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya mencoba terdengar tenang. Nayla menatapnya sebentar, lalu kembali ke dapur. “Aku cuma lelah.” “Lelah?” Arga menurunkan koran. “Kalau kamu capek, tinggal bilang. Aku bisa bantu.” Nayla tersenyum tipis, tapi bukan senyum hangat yang biasa. “Sama seperti kamu ‘bisa bantu’ menjaga janji pernikahan kita?” Arga terdiam. Ia tak menyangka Nayla akan menyinggung hal itu. Tapi sebelum sempat membalas, Nayla sudah berjalan keluar dari dapur sambil membawa tas kerja. “Aku ke toko dulu. Sarapannya di meja. Jangan lupa kunci pintu.” Nada suaranya tenang, tapi ada dingin yang membuat Arga tak bisa mengucap sepatah kata pun. --- Toko bunga itu kini menjadi tempat pelarian Nayla. Ia menenggelamkan diri dalam warna dan aroma bungamawar, lili, lavender semuanya menenangkan, meski tak mampu sepenuhnya menutup luka di d**a. Pelanggan yang datang memuji keindahan rangkaiannya, tapi tak satu pun yang tahu betapa banyak air mata yang sudah jatuh di antara kelopak bunga itu. Sore hari, Dina datang lagi, membawa dua kotak makanan. “Kamu kelihatan makin kurus, Nay,” katanya sambil duduk di kursi dekat meja kasir. “Kamu makan nggak sih?” Nayla tersenyum samar. “Makan kok, cuma… rasanya kayak nggak lapar.” “Masih tentang Arga?” Dina bertanya hati-hati. Nayla diam. Lalu akhirnya berkata, “Aku udah nggak mau bahas dia, Din. Aku cuma… nggak ngerti kenapa orang bisa berubah segitu cepatnya.” “Karena cinta yang dia punya mungkin cuma sementara,” jawab Dina lirih. “Dan kamu, Nay, terlalu tulus untuk seseorang yang nggak tahu cara menghargai.” Nayla menatap sahabatnya. “Mungkin kamu benar. Tapi aku nggak mau dia tahu aku hancur. Aku mau dia pikir aku baik-baik aja.” “Diam yang berisi kekuatan?” tanya Dina. Nayla mengangguk. “Ya. Aku udah cukup lama minta dipahami. Sekarang, biar dia yang belajar kehilangan.” Dina tersenyum kecil. “Itu baru Nayla yang kukenal.” Malamnya, Arga pulang lebih awal dari biasanya. Tapi yang menyambutnya bukan lagi istri yang lembut dengan senyum manis, melainkan rumah yang hening dan dingin. Lampu dapur sudah dimatikan, meja makan kosong, tak ada aroma masakan. “Nayla?” panggilnya sambil berjalan ke ruang tamu. Nayla muncul dari balkon, mengenakan piyama abu-abu sederhana. Wajahnya tenang, tapi tatapannya datar. “Kenapa?” “Aku pikir kamu udah tidur.” “Belum.” Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Arga merasa aneh, seolah orang di depannya bukan lagi istrinya. Ia ingin berbicara, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Nayla tak menuntut, tak bertanya ke mana ia pergi. Dan justru itu yang membuat Arga merasa bersalah. “Aku…” Arga mencoba membuka percakapan. “Aku pengin kita bicara.” Nayla menatapnya datar. “Tentang apa?” Arga menelan ludah. “Tentang kita.” “Kita?” Nayla tersenyum samar, getir. “Kita udah nggak punya ‘kita’, Ga. Kamu sibuk dengan duniamu, aku sibuk menyembuhkan diriku.” Arga terdiam. Kata-kata Nayla terdengar tenang, tapi isinya seperti duri yang menembus d**a. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia tahu ia salah, tapi entah kenapa, egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. “Aku cuma… merasa kamu makin jauh,” ujarnya akhirnya. Nayla menatapnya tajam. “Aku jauh? Kamu yang mulai menjauh, Ga. Aku cuma berhenti mengejar.” Seketika, ruangan terasa begitu dingin. Arga tak punya jawaban. Ia hanya menatap Nayla yang kini tampak begitu kuat dan asing sekaligus. Perempuan yang dulu selalu lembut dan penuh sabar kini menatapnya dengan ketenangan yang justru membuatnya takut. “Aku mau tidur,” ucap Nayla pelan, lalu melangkah menuju kamar. Sebelum menutup pintu, ia berkata tanpa menoleh, “Kadang, diam lebih menyakitkan daripada perdebatan. Tapi mungkin itu satu-satunya cara biar kamu tahu rasanya kehilangan sesuatu tanpa suara.” Pintu kamar tertutup pelan. Arga berdiri sendiri di ruang tamu, memandangi bayangan dirinya di kaca. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian. Beberapa hari berikutnya, rumah itu tetap sunyi. Nayla hanya berbicara seperlunya, sekadar formalitas. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi pelukan. Arga mulai merasa aneh dulu ia pikir ia butuh kebebasan dari Nayla, tapi kini, ketika Nayla berhenti memperhatikannya, ada kekosongan yang tak bisa dijelaskan. Ia mulai pulang lebih cepat, tapi setiap kali sampai di rumah, Nayla selalu tampak sibuk dengan laptop atau membaca buku tanpa memperhatikannya sedikit pun. Sampai suatu malam, Arga tak tahan. “Nayla, aku pengin tahu… kamu masih cinta sama aku?” Nayla menutup bukunya perlahan. “Cinta itu nggak mati begitu aja, Ga. Tapi kalau terus dilukai, dia bisa membusuk.” Arga tercekat. “Kamu marah?” “Marah itu reaksi orang yang masih berharap,” jawab Nayla datar. “Dan aku udah berhenti berharap.” Kata-kata itu membungkam segalanya. Arga hanya menatap Nayla yang berjalan melewatinya tanpa ekspresi. Wangi lavender dari tubuhnya tercium lembut, tapi meninggalkan jejak dingin yang menusuk. Saat pintu kamar tertutup di belakangnya, Arga sadar sesuatu telah benar-benar berubah. Dan mungkin, kali ini perubahan itu takkan bisa diperbaiki. Di dalam kamar, Nayla menatap cermin. Wajahnya tampak tenang, tapi di balik mata itu ada badai yang sedang disembunyikan. Ia menatap cincin pernikahan di jarinya, lalu perlahan melepasnya. Diletakkannya di atas meja rias, di samping foto pernikahan mereka. “Dulu aku pikir diam itu tanda kelemahan,” bisiknya lirih. “Tapi ternyata… diam justru cara terbaik untuk membuatmu sadar siapa yang kau abaikan.” Ia mematikan lampu dan berbaring. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidur tanpa menunggu Arga pulang. Dan di luar sana, hujan turun lagi seperti malam malam sebelumnya. Tapi kali ini, Nayla tak lagi menangis. Ia hanya diam. Diam yang menyakitkan. Diam yang perlahan akan menjadi senjata paling tajam yang pernah ia miliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN