Begitu tiba di rumah, Lim bergegas turun ke rubanah. Langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Melihat Ibunya tergeletak tak bernyawa. Darah menggenang di mana-mana. Air matanya terus keluar tanpa di perintah. Kali ini langkahnya pelan. Menekuk kedua kakinya. Berlutut untuk pertama kali di depan sang Ibu. Membalik tubuh sang Ibu yang telah pucat. Lim memeluk jasad Areum. Menangis menjerit. "Seandainya saja, aku tahu tadi pagi adalah hari terakhirku bicara denganmu. Aku.. Akan membalasnya dengan senyum terbaikku. Bu.. Bawa aku bersamamu.." *** Foto Areum dengan senyum terbaik berada di bingkai cokelat kayu, di kelilingi banyak bunga. Di meja bawahnya terdapat satu pot kuning keemasan. Tempat dupa di tancapkan. Lim tak banyak bicara. Menunduk lemas sejak tadi. Mengenakan setelan jas,

