Mengenalnya Sebagai Samara

1054 Kata

Malam hari ketika situasi rumah sakit telah sepi. Asmara memaksakan dirinya untuk bangun. Setiap inci tubuhnya terasa sakit. Terutama pada bagian dadanya yang sudah dibedah berulang kali, namun penyakitnya tetap timbul tenggelam.     Tidak hanya terasa sakit, tubuhnya juga seakan tanpa daya. Rasanya ia bisa roboh kapan saja. Tapi ia tetap berusaha bangun da bergerak. Tak peduli dengan keringat dingin yang mulai bermunculan merembes melalui pori - porinya.     Ia mulai berjalan keluar kamar. Langkahnya begitu pelan. Namun ia terus melangkah.     Ia ingin ke atap. Ia akan mencari lift. Ia dengar di atap ada air mancur yang besar dan indah. Di sana juga merupakan tempat para pasien terapi motorik.     Tapi bukan itu tujuan utama Asmara ke sana.     Lalu apa?     Ia ... ingin mengakhiri

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN