Kepala yang tak lagi berhias kerudung mau pun mukena itu bergerak pelan. Tania menoleh, berusaha menggerakkan kepalanya ke sisi kiri dan kanan perlahan. Matanya masih terpejam. Ia meringis, merasa nyeri teramat sangat akibat lebam dan baret di sebagian besar anggota tubuhnya.
Tenggorokannya yang kering merasa kehausan. Tania ingin sekali menenggak air sebanyak mungkin. Namun, ia bahkan tak bisa membuka mulut lebar-lebar untuk berteriak meminta tolong. Hanya gumaman, itu pun berupa bisikan pelan.
"Air. Air," katanya, masih dengan kedua mata terpejam. Padahal, ia sudah berusaha membukanya. Barulah setelah beberapa saat ia tersadar dari pingsannya, matanya itu terbuka pelan. "Aku haus. Aku mau air."
Tania seketika bergeming. Ia yang langsung merasa silau itu pun menyipitkan matanya. Ia terpejam barang sebentar, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Seingatnya, ia baru saja pulang dari mengajar. Diantar oleh Satria.
Akan tetapi, tak lama setelah itu Tania pun ingat. Membuat ia seketika menelan ludah, yang bahkan terasa begitu sepat. Kesedihan pun langsung menyesakkan napasnya sampai ke relung hati. Ia benar-benar merasa begitu sesak.
“B-bu ...,” gumamnya, tepat ketika air yang menggenang di kedua sudut mata jatuh melintasi lebam di pipi. Tania ingin menjerit, berteriak, bahkan berontak meski kemudian, hanya gemetar yang tampak di sekujur tubuhnya.
“A-yah ...,” gumamnya lagi, seiring dengan pandangan jatuh ke sisi kiri. Dilihatnya tumpukkan sampah, pohon dan juga puing-puing. Tidak ada siapa pun di sana. Tania langsung merasa takut karena dalam keadaan sendirian.
“Kalian d-di mana?” Tania pun menarik wajah, lalu menoleh ke sisi kanan perlahan-lahan. Namun, betapa terkejut dia, begitu mendapati seorang wanita paruh baya terbujur kaku di sampingnya.
Kedua mata pedihnya seketika terbelalak, terkejut sekaligus takut karena wanita yang ia lihat sama persis dengan keadaannya sekarang. Kotor dan penuh luka, tertindih pula oleh puing-puing bangunan. Hanya saja, Tania merasa jauh lebih beruntung karena masih bisa bernapas, walaupun dia sendiri tak tahu, sampai kapan bisa bertahan menahan sakit, haus, dan juga lapar.
Seraya menarik wajah kembali, Tania menghela dan membuang napasnya perlahan-lahan sambil bergumam dalam hati. “Kamu harus tenang Tania. Kamu juga harus kuat, agar nanti bisa mencari Ayah dan Ibu bersama para relawan.”
Namun, seberapa kuat pun Tania berusaha, daya tahan tubuhnya tak mendukung untuk tetap tersadar. Dia justru semakin lemah, semakin tak berdaya, sampai akhirnya kembali pingsan.
“B-bu ...," gumamnya. Tubuh Tania pun seketika kembali terkulai, lemah dan tak berdaya lagi.
Sementara di tempat lain, mereka—orang-orang yang selamat dari gempa dan tsunami—hatinya tergerak untuk membantu para petugas dan relawan lain yang turun ke lapangan. Termasuk Rifki Hasan, anak dari kepala desa yang tak sedang di rumah saat terjadinya tsunami. Mereka tak hanya mencari sanak-saudara, mereka pun mencari korban selamat yang membutuhkan pertolongan darurat, lalu saling bahu-membahu dalam melakukan evakuasi.
Bangunan-bangunan roboh, puing-puing yang berserakan, sampai tumpukkan sampah dijajaki satu per satu oleh beberapa kelompok. Para relawan itu terus mencari, sampai akhirnya banyak yang terselamatkan. Anak-anak, remaja, bahkan orang tua, mereka langsung diangkut ke tempat pengungsian terdekat.
Sayangnya, belum ada tenaga medis yang bisa memberikan pertolongan pertama di sana. Bantuan berupa makanan dan minuman pun hanya sedikit, karena untuk saat ini, akses yang bisa ditempuh hanya lewat udara.
Satu dua helikopter datang dan pergi, saat harus mengambil dan mengantar korban dengan luka serius ke rumah sakit. Sampai akhirnya pencarian dihentikan, karena hari sudah menjelang malam.
Sebagian tempat di kota Palu pun kembali hening, seperti kota mati, karena di beberapa titik benar-benar tak lagi berpenghuni.
***
Hari kedua setelah terjadinya gempa dan tsunami, bantuan berupa kebutuhan pokok mulai berdatangan meski jumlahnya masih terbatas. Mereka, orang-orang yang turut membantu itu berasal dari kota yang sama, yang tempat tinggalnya tidak terjangkau oleh dahsyatnya tsunami. Mulai dari bahan makanan, sampai pakaian seadanya.
Namun, meski hanya mie instan sebagai teman makan, mereka yang menjadi korban tsunami benar-benar menikmati hidangannya. Bahkan bersyukur, karena masih bisa menjumpai makan, setelah berhasil melewati kematian.
Lalu Tania, bagaimanakah keadaan gadis berlesung pipit itu?
Masih di tempat yang sama, gadis itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia sibuk bermimpi setelah merasa takut akan kehilangan seluruh keluarganya.
"Jangan nangis, Sayang. Ibu kan nggak ke mana-mana. Ibu masih ada di sini sama kamu." Bibir berhiaskan lipstick merah itu berucap lembut, seraya mengusap-usap kepala Tania dengan penuh kasih sayang. Senyum di bibirnya itu merekah.
“T-tapi aku takut, Bu. Gempa itu ... tsunami itu.” Tania pun terbata-bata saat menceritakan ketakutannya yang luar biasa. Ia benar-benar merasa seperti kehilangan kendali saking takutnya, sampai membuat sekujur tubuhku gemetar.
“Sudahlah, Sayang. Kamu akan baik-baik saja, kok. Kita semua akan baik-baik saja.” Rahma pun menatap wajah Tania, seiring dengan tatapan penuh keyakinan. Kemudian ia Mengusap lembut pipi anaknya itu, saat sebulir air jatuh dari sudut mata Tania. “Jangan menangis. Berjanjilah untuk tidak menangis," sambungnya.
Namun, gadis berkerudung putih itu tetap saja menangis. Bahkan tersedu-sedan sambil menatap balik wajah Rahma, karena sama sekali tak paham dengan sikap ibunya itu. Jelas-jelas, keadaannya sekarang sangat-sangat tidak baik. Jelas-jelas gempa dan tsunami kemari sore telah meluluh-lantahkan tempat tinggal mereka. Lalu bagaimana bisa Rahma bersikap setenang itu? Pikirnya dalam hati.
Tania mengernyit heran, tetapi lama-kelamaan, belaian Rahma membuatnya merasa semakin tenang. Tangisnya bahkan berhenti, menghentikan bulir yang semula terus saja berderai.
Tak ada suara siapa pun di taman yang berhiaskan macam-macam bunga di sekelilingnya itu. Hanya sesekali terdengar suara burung, juga kelebat angin yang menggoyang-goyangkan ranting dan dedaunan. Taman, di mana hanya ada Rahma dan Tania benar-benar hening dari riuh kendaraan.
Rahma dan Taniaa terpejam sambil menghirup udara segar. Keduanya benar-benar menikmati suasana yang tak pernah terjadi sebelumnya. Hening, tenang, dan nyaman.
“Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, Bu.” Tania membuka mata, menatap Rahma yang juga melihat ke arahnya.
“Nggak bisa, Sayang.” Rahma menggeleng. “Ibu harus pergi.”
“Kalau gitu, aku ikut!”
“Tidak, Sayang. Kamu nggak boleh ikut. Karena kamu harus tetap di sini untuk menuntaskan pencarianmu.” Rahma tersenyum. “Kau ingat ayah dan Satria bukan? Cari mereka.”
“Aku tahu. Tapi, memangnya Ibu mau ke mana? Kenapa aku nggak boleh ikut?” Tania pun terenyak, duduk tegak sambil melipat kedua tangan di d**a.
Rahma tak menjawab pertanyaannya. Dia justru bangkit berdiri, lalu melangkah mundur sambil tersenyum.
“Nggak, Bu. Aku mohon jangan tinggalkan aku di sini! Aku takut, Bu.” Tania berusaha menyusul, tapi tubuh dan kakinya justru terasa berat. Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun. “Kenapa ini? Kenapa aku nggak bisa bangun?” sungutnya, kesal karena sejujur tubuhnya benar-benar berat.
Ditatapnya lagi tubuh Rahma yang semakin jauh. “Bu, tunggu aku! Aku nggak bisa bangun.”
Air mata yang tadi sempat terjeda pun kembali berderai dan membasahi pipinya, saat memanggil Rahma. Namun, Rahma justru berbalik dan meninggalkan Tania seorang diri di taman.
“Tunggu aku, Bu! Tunggu ....”