Bencana yang Semakin Tampak Jelas

1001 Kata
Waktu yang sedari malam merangkak menuju pagi mulai menunjukkan sisa-sisa bencana di mana-mana. Yang semalam tak terlihat karena gelap, sekarang tampak begitu jelas kehancurannya. Di sepanjang pesisir pantai porak poranda. Tak ada yang tersisa selain hanya kesedihan mendalam dari tiap-tiap hati yang menyaksikan bencana itu secara nyata. Tidak ada bangunan utuh di sana. Semuanya retak, bahkan roboh sehingga meninggalkan puing-puing yang berserak. Reruntuhan dari bangunan dan pepohonan malang-melintang tak beraturan sampai memutuskan akses jalan. Belum lagi adanya kendaraan yang semalaman terbawa arus kian membuat haru pemandangan. Beberapa di antaranya terbalik, bahkan remuk. Menyatu dengan sampah-sampah yang menumpuk bersama lumpur. Sementara itu, di lokasi terjadinya likuefaksi, orang-orang selamat menganga menyaksikan tanah amblas, sehingga menelan beberapa rumah dan penghuninya. Mereka benar-benar tertelan bumi. Hidup-hidup. Penduduk setempat yang selamat itu pun lagi-lagi enggan masuk ke rumah. Selain karena takut dengan adanya gempa susulan, rumah mereka pun tak lagi layak huni. Tempat berlindung satu-satunya untuk mereka telah roboh, meski sebagian hanya mengalami retak. Pintu, jendela, genteng dan material lainnya bahkan ada yang amat sangat berserak. Dan yang membuat mereka kian sedih adalah karena telatnya pertolongan. Tidak seperti deru air laut yang seketika melesat, menyapu kota dalam hitungan menit. Mereka harus menunggu selama berjam-jam dalam keadaan perut lapar. Bahkan, banyak diantaranya justru terus berjalan menyusuri puing demi puing karena harus mencari sanak-saudara, dengan langkah tergopoh-gopoh. Tubuhnya ringkih, sementara raut wajahnya begitu tampak memilukan. Namun, tak banyak yang bisa mereka temukan selain tumpukan sampah. Tidak semua dari mereka dapat menemukan sanak-saudaranya dalam keadaan selamat. Sebagian dari mereka meninggal karena tak kuat melawan derasnya arus juga beratnya beban yang menghantam. Seketika, jerit tangis pun seolah menjadi irama paling memilukan di pagi hari yang cerah. Air mata mereka mengalir, menganak sungai karena kepedihan mendalam. Lebih-lebih saat mereka mendapati anak, ibu, ayah dan saudara kandung yang meninggal. Luruh sudah air mata mereka, sampai akhirnya menghantar waktu kian berlalu. Sama halnya dengan Tania, gadis cantik berambut panjang dan hitam legam itu terjebak dalam reruntuhan sejak semalam. Tubuhnya basah sempurna, kotor dan banyak luka karena benturan juga goresan di sepanjang air membawanya terombang-ambing. Namun, meski begitu, ia justru tengah asyik bermimpi. Mimpi yang membawanya ke sebuah taman. Dalam mimpinya ia berdiri di tengah-tengah padang bunga. Kedua tangannya merentang bebas. Sedang, kepalanya mendongak sambil menatap langit dengan mata menyipit. Hari ini, cuaca memang begitu panas. Ia merasa silau, tapi nyaman melihat salah satu ciptaan Tuhan itu. Kedua belah sudut bibir Tania menyungging lebar. Ia tersenyum sembari menghela napas panjang. Matanya kali ini terpejam. Ia merasa begitu tenang dan damai. Terlebih saat indra pendengarannya mendengar kicauan burung kenari. Tania kian merasa nyaman. Namun, cuaca yang awalnya cerah seketika berubah mendung. Tania yang dapat merasakan hilangnya terik dari pandangan mata tertutup pun seketika membuka mata. Langit benar-benar gelap. Awan seolah menggumpal, menggulung, sehingga siap memuntahkan air di dalamnya. Kedua belah sudut bibir Tania lagi-lagi menyungging. Senyumnya kali ini semakin lebar. Ia benar-benar senang, karena akhirnya, hujan akan segera turun menyiram bumi. Dan, belum genap lima menit berlalu, bulir demi bulir pun jatuh di wajahnya yang manis. Ia langsung menutup mata perlahan, sembari menikmati setiap air yang jatuh bak sebuah jarum menusuk wajah. "Tan, Tania!" teriak Rahma yang Tania tak tahu, dari mana asal suara ibunya itu. "Hujannya makin gede, Sayang. Ayo, sini neduh dulu!" sambung ibunya itu. Ia sudah berada di bawah pohon nan rindang. "Atau, kita pulang aja lha, ya?" teriak ibunya lagi. Tania yang masih ada dalam posisi sama pun menggeleng. Ia tak mau berteduh, apalagi pulang. Yang ia mau sekarang adalah berada di bawah curah hujan. Ia ingin menikmati setiap bulirnya, setiap tetesannya, dan setiap gigil yang diciptakannya. "Lho, kenapa? Anak-anak udah pada balik juga, tuh!" timpal sang Ibu, seiring dengan wajah memucat. Kedua belah bibirnya bahkan bergemeletuk menahan gigil. Angin di tengah-tengah hujan membuatnya kedinginan. "Iya, Kak. Anggi aja udah nggak kuat dingin ini." Adik dari kekasih Tania pun ikut menimpali Rahma. Ia memeluk tubuhnya sendiri dalam gigil. "Nggak apa-apa. Aku masih mau di sini aja, Bu. Ibu pulang duluan gih. Nanti aku nyusul," kata Tania, masih dalam posisi sama. Sekarang, wajah serta tubuhnya basah sempurna. Kerudungnya apalagi. "Kakak mau nunggu Kak Satria dulu. Kamu pulang bareng Ibu sana," Sambungnya, tak bergerak sedikitpun. "Lho, Kak Satria mau ke sini emang? Hujan-hujan begini?" tanya Anggi, sebagai murid juga calon adik Tania itu. Ia dapat dipercaya. "Iya lah. Kak Satria kan udah janji mau datang. Jadi ya Kakak harus menunggunya, bukan? Dah sana kamu pulang bareng Ibu," timpal Tania lagi. Namun, kali ini ia berbalik. Kepalanya tak lagi mendongak menghadap langit. Matanya tak lagi terpejam, menatap dalam gelap. "Nggak mau, ah. Aku mau di sini aja bareng Kakak. Biar Ibu pulang sendiri. Ya, Bu?" tanya Anggi pada ibu dari gurunya itu. Ia menyengir lebar. "Aku mau nemenin Kak Tania soalnya, Bu." Ia menyambung ucapannya. "Hm, ya sudah kalau gitu. Ibu pulang duluan aja kalau gitu. Tapi ingat, kalau ada petir harus langsung pulang, ya? Jangan keras kepala terus!" timpal Rahma pada Anggi juga Tania. Ia lantas berdiri, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Tania dan Anggi. "Iya, Bu. Iya!" timpal Tania saat ibunya sudah begitu jauh dari pandangannya. Ia tersenyum melihat kepergian ibunya yang tidak begitu suka ada di bawah curah hujan. Namun, saat itu juga, Tania yang sedari tadi asyik bermimpi pun akhirnya sadar kalau apa yang baru saja terjadi adalah mimpi. Sehingga membuat ingatannya memutar kejadian semalam, di mana ia terombang-ambing dalam air. Matanya berkedut pelan. Tapi, ia tak bisa membuka matanya sama sekali. Hanya air mata yang seketika menggenang dan membuat ia tak merasa nyaman. Sebab, sekujur tubuhnya terasa begitu kaku dan linu. Belum lagi kebas, di beberapa bagian. Jemari lentiknya pun bergerak pelan. Amat pelan, sampai meski pun seseorang ada di sekitarnya, mereka tidak akan mendapati gerakan itu. Ia ingin beranjak bangun. Tapi, sekadar mengangkat tangan saja ia tak mampu karena tangannya itu tertimpa pepohonan. Lantas, bibirnya yang kotor pun berucap pelan. Bahkan nyaris tak terdengar saking pelannya. Padahal, ia merasa sedang berteriak meminta tolong. Namun, yang keluar dari mulutnya justru hal lain. “A-i-i-r,” gumamnya. “A-a-ai-r.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN