BAG 1
"Ini bayaranmu malam ini honey, terima kasih aku selalu puas atas servicemu. Kau begitu lihai" ucap laki-laki paruh baya yang baru saja memakai jasaku.
"Terima kasih om, tentu saja aku akan selalu memuaskan om" jawabku sambil mengambil lembar-lembar rupiah yang ada ditangan laki-laki itu.
Setelah memberikan kecupan di bibirku, laki-laki itu pun meninggalkan ku sendiri di kamar hotel ini. Gegas ku punguti pakaianku yang sudah berserakan di mana-mana, melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari bekas pergulatan panas tadi.
Gemericik air begitu menyegarkan tubuhku yang sudah penuh dengan keringat nista ini, menikmati setiap terpaan air yang menyentuh kulit tubuhku. Ah, segar sekali rasanya.
Ku tatap diri ini di depan cermin yang berada di kamar mandi. Tubuh polos tanpa sehelai benang pun ini memang mudah menggoda laki-laki, tubuh semampai, body ramping ditambah dua gundukan depan dan belakang yang padat berisi membuat siapa saja akan tergoda oleh kemolekan tubuhku.
Ku tatap lama diri ini di depan cermin, tak menyangka saja, akhirnya aku harus menyerah pada takdir ini. Menjadi pemuas nafsu para lelaki hidung belang, pada akhirnya pekerjaan yang tadinya ku amggap hina ini, malah sekarang aku sangat menikmatinya. Persetan dengan dosa, Tuhan saja begitu tak adil padaku.
??????
Ku ambil handuk yang menggantung di dekat pintu, melilitkan pada tubuh indahku ini. Sebentar lagi, aku harus kembali melayani nafsu p****************g, sudah tak terhitung lagi berapa laki-laki yang sudah menjamah tubuh indahku ini, aku sudah tak peduli akan hal itu.
Kehidupanku sudah hancur lebur semenjak 12 tahun yang lalu, sekarang aku bisa apa selain menikmati pekerjaanku ini.
Ku ambil lingerie warna merah menyala yang sudah ku siapkan di dalam paper bag untuk menyambut pelangganku ini. Sedangkan lingerie yang ku gunakan tadi sudah ku buang ke dalam tong s****h, memang aku selalu membawa beberapa lingerie dalam paper bag jika aku melayani lebih dari satu pria dengan durasi short time, sedangkan untuk waktu long time paling aku akan hanya membawa satu lingerie saja, karena sudah dipastikan aku akan melayani satu pria hingga pagi hari.
Setelah lingerie itu menempel di tubuh indahku, ku oles make up tipis-tipis saja. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, ini tamu terakhirku karena dia akan memakai jasaku hingga pagi hari.
??????
Gawai di atas nakas berbunyi, setelah ku lihat ternyata tamuku sudah berada di depan pintu kamar hotel.
Gegas ku beranjak menuju pintu kamar, di sana sudah berdiri sosok laki-laki berusia 45 tahun. Dia adalah salah satu tamu langgananku, aku sudah sering ia booking untuk memuaskan hasratnya.
"Mas sudah datang, aya masuk. Aku sudah tidak sabar" ucapku pada Mas Agam
Ya, tamuku kali ini bernama Mas Agam. Pemakai Setia jasaku, karena katanya serviceku benar-benar memuaskan. Dia adalah seorang manager di salah satu perusahaan besar. Jika ditanya apakah dia sudah menikah? Jawabannya adalah Ya, dia sudah menikah. Tapi yang ku tahu sang istri sekarang sedang terbaring koma akibat sebuah kecelakaan.
Brengsek bukan mahluk yang bernama laki-laki, disaat sang istri berjuang untuk sembuh, tapi dia malah mencari kehangatan lain diluaran sana.
"Yo, Mas juga sudah tidak sabar ingin menerkammu. Berikan service terbaikmu Cinta. Puaskan Mas malam ini" ucap Mas Agam sambil mendorongku ke dalam, tak lupa tangan nakalnya sudah mulai menjelajahi setiap inci tubuhku.
Aku di dorong dengan kasar ke atas kasur, Mas Agam mulai bermain dengan tubuhku, setelahnya kamar ini pun di penuhi oleh suara desahan dan erangan dariku dan juga Mas Agam. Dosa terindah ini pun kembali ku ulang.
??????
Sinar matahari menembus melewati celah jendela. Ku tutup mataku dengan tangan karena silau yang dihasilkan sinar matahari sangat mengangguku.
Ku raba samping tempat tidurku, ternyata Mas Agam sudah pergi meninggalkanku. Ku buka mata ini dengan perlahan, mengumpulkan semua kesadaran sebelum beranjak dari kasur. Ku lihat jam di gawai, ternyata sudah pukul 8 pagi, gegas ku langkahkan kaki menuju kamar mandi untuk kembali membersihkan diri ini.
Setengah jam di dalam kamar mandi, aku pun selesai dengan ritual mandiku. Ku bereskan barangku ke dalam tas, bersiap untuk pulang ke rumah dan kembali melanjutkan istirahatku.
Ku taruh uang pecahan 50 sebanyak dua lembar sebagai tip untuk nanti pegawai yang membersihkan kamar ini. Karena jujur saja kamar ini sudah seperti kapal pecah, bekas pengaman yang tergeletak di lantai, bekas tissue yabg berceceran di mana-mana, serta sprei yang sudah tak berbentuk lagi.
Sebelum meninggalkan hotel, ku sempat diri untuk sarapan terlebih dahulu. Karena jujur saja, cacing di dalam perut sudah berdemo minta di isi.
Selesai sarapan, ku pesab taxi online untuk mengantarkan ku pulang. Tak membutuhkan waktu yang lama, taxi online pesananku pun sudah berada di parkiran hotel.
"Sesuai aplikasi ya pak" ucapku kepada sang driver
"Baik mbak" jawab si driver dengan ramah.
?????
Perjalanan menuju ke rumahku membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Sepanjang perjalanan pulang, kembali kejadian 12 tahun silam berkelebat dalam bayanganku.
Masa di mana awal kehancuran hidupku akibat ke egoisan seorang yang bernama IBU. jika saja kejadian 12 tahun silam tak terjadi padaku, mungkin sekarang aku bukan pekerja tunasusila, atau bahasa kasarnya adalah PSK.
Mungkin jika masa depanku tak hancur, sekarang aku masih bisa mengejar cita-citaku sebagai seorang dokter. Tapi, takdir berkata lain padaku. Mungkin tuhan tak menginginkan ku menjadi seorang dokter, mungkin tuhan lebih ingin aku menjadi seorang PSK. Wanita penjaja sel*n*ka*g*n pemuas nafsu para p****************g.
Tes!
Tak terasa air mataku menetes di pipi ini, hatiku sakit bila mengingat itu semua. Aku benci pada hidupku sendiri, aku benci pada takdir dan aku benci pada Tuhan karena membuatku seperti ini.
Tapi sekarang, aku bisa apa. Aku hanya bisa pasrah saja menerima takdirku ini. Menikmati setiap prosesnya, dan tentu saja menikmati pekerjaan haramku ini.
???????
"Sudah sampai tujuan Mbak" ucap sang driver membuyarkan lamunanku
"Eh iya Pak, terima kasih. Ini uang bayarannya dan ini sedikit tip dari saya" ucapku sambil memberikan uang pecahan 100rb satu lembar dan uang pecahan 50 satu lembar
"Walah, terima kasih banyak ya Mbak. Ini banyak sekali, semoga Allah berikan kesehatan untuk Mbaknya, dan rezekinya selalu dilimpahkan oleh Allah" ucap sang driver sembari mendo'akan ku
Ku jawab dengan senyuman saja, entahlah aku tak mau mengaminkan do'a si Bapak. Aku berharap aku cepat mati saja agar tak terus menerus terbelenggu dengan dosa.
?????
Setelah turun dari taxi online, aku harus berjalan kaki untuk sampai di rumahku. Karena rumahku masuk ke dalam g**g yang lumayan sempit.
Saat berjalan melewati segerombolan Ibu-ibu di tukang sayur, dapat ku lihat, tatapan ibu-ibu itu seolah mencemoohku. Tak jarang aku mendapatkan kata-kata yang pedas dari mulut mereka.
Tak ku hiraukan tatapan mereka yang seolah begitu benci kepada diriku, aku terus melangkahkan kaki menuju ke rumah.
Sampai di rumah, ku lihat Ibuku sudah menunggu di kursi rotan yang memang di sediakan di teras. Tak ku hiraukan keberadaan dia, kebencian pada dirinya sudah mengakar di dalam hatiku.
"Kau dari mana saja Naya, Ibu khawatir padamu" ucap Ibu saat aku akan masuk ke dalam rumah
"Bukan urusanmu wahai wanita tua" ucapku ketus
"Tapi Naya, Ibu khawatir sama kamu. Apa kamu masih menekuni pekerjaan haram itu?"
"Ha ha ha, pekerjaan haram kau bilang hah? Sungguh kau ini sangat lucu wanita tua. Kau tak ingat kenapa aku menjadi seperti ini hah? Kau yang menjerumuskan ku ke dalam dunia gelap itu wanita setan!" ucapku sambil berteriak di hadapan mukanya.
Dapat ku lihat air mata sudah membasahi pipinya. Cih, dasar munafik! Seolah dia paling tersakiti disini, padahal dari dialah awal mula petaka ini di mulai.
Tak ku pedulikan lagi wanita itu, dengan langkah cepat aku masuk ke dalam kamarku. Tempat ternyaman yang bisa menenangkan ku ketika berada di rumah setan ini.
BRAAAAAKKK!
Ku tutup pintu dengan kuat sehingga kaca jendela pun ikut bergetar. Aku luruh dilantai, menangis sesegukan. Menangisi takdirku yang begitu kejam, menangisi segalanya yang sudah terjadi, dalam hati kecilku, sebenarnya aku tak mau berbuat kasar terhadap Ibuku sendiri, namun rasa benci yang sudah mengakar dalam hati membuat logika ku tak lagi berjalan.
Disaat seperti ini, aku sangat merindukan dekapan hangat Ayahku yang telah tiada. Sungguh aku ingin menumpahkan segalanya dipundak ayahku.
Ayah, aku merindukanmu.
Bersambung......