5. Kebenaran

1250 Kata
"Vella, kamu dipanggil Pak Bos tuh," ujar Rere. Vella yang sedang berkutat dengan berbagai dokumen transaksi menolehkan kepalanya lalu menganggukkan kepalanya. "Iya Re, makasih ya," balasnya tersenyum ramah lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan atasannya. Setelah sampai di depan ruangan yang bertuliskan Director room, wanita itu segera mengetuk pintunya lalu melangkah masuk setelah mendengar jawaban masuk dari dalam. "Permisi Pak, maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Vella sopan. "Oh iya Vella, proposal kerjasama dengan S.V.N Corporation ada di kamu, 'kan?" ucap Arnan langsung menanyakan maksudnya memanggil karyawannya. "Iya Pak, kebetulan saya yang menyimpannya," balas Vella menganggukkan kepalanya. "Kalo begitu saya minta tolong proposal kerjasamanya di cek kembali, lalu sesuaikan dengan data keuangan Will's Corporation dan secepatnya segera laporkan ke saya. Kalau bisa, sore ini sebelum pulang kerja harus sudah selesai ya," ucap Arnan memberikan tugas pada Vella. "Iya Pak baik, secepatnya saya akan segera menyelesaikan laporannya." "Ya sudah, kalo begitu kamu boleh kerjakan dari sekarang." "Baik Pak, kalo begitu saya pamit keluar dulu, permisi Pak," pamit Vella sembari membungkukkan badannya sopan. Lalu segera melangkah keluar setelah mendapat anggukan kepala dari atasannya. Setelah sampai di meja kerjanya, Vella segera mencari proposal yang di maksud atasannya agar dia bisa segera memulai pekerjaannya dan secepatnya bisa selesai. Tapi nihil, proposal itu tidak dia temukan pada semua tumpukan berkas yang ada di mejanya. "Vell, kamu lagi nyari apa sih?" tanya Rere yang sedikit terganggu dengan suara gaduh yang ditimbulkan Vella. "Aduh Re, kamu lihat proposal kerjasama dari S.V.N Corporation gak?" tanya Vella balik dengan ekspresi wajahnya yang sudah panik. Sedangkan Rere mengerutkan keningnya lalu menggelengkan kepalanya. "Gak liat tuh, 'kan kemarin kamu yang nyimpen," ucapnya sembari melangkahkan kakinya dan membantu Vella untuk mencari proposalnya. "Aduh di mana sih, aku yakin banget loh kemarin aku simpan di tumpukan berkas sini, tapi kok sekarang gak ada ya, mana harus udah selesai nanti sore lagi," ucap Vella panik sembari tangannya yang terus menggeledah setiap berkas yang ada. "Ya lagian kamu nyimpennya dimana? Atau mungkin kamu lupa nyimpen kali," balas Rere yang sama tidak kunjung menemukan proposalnya. "Enggak Re, aku yakin banget proposal itu udah aku simpan di tumpukan berkas sini," ucap Vella yakin sembari menunjuk tumpukan berkas di atas mejanya lalu sedetik kemudian wanita itu memukul kepalanya. "Nah 'kan, pasti kamu lupa lagi deh," ucap Rere yang sudah hapal betul dengan tabiat Vella yang pelupa sembari menunjuk wajahnya. "Ya ampun aku lupa! Kemarin 'kan gak sengaja ke bawa ke rumah Re," seru Vella setelah mengingat di mana letak proposal itu. Sedangkan di sisi lain, Rere sudah menepuk dahinya lalu menggelengkan kepalanya. "Dasar, ya sudah sana kamu ambil dulu gih," ucapnya. "Iya Re, kalau gitu aku pulang dulu ya," ucap Vella yang segera mengambil tasnya dengan terburu-buru. "Iya sana, hati-hati Vell!" seru Rere sedikit keras karena wanita itu yang berlari sehingga jaraknya sudah cukup jauh. *** "Huh, untung aja hari ini gak macet jadi aku bisa cepat nyampe rumah," gumam Vella menghembuskan nafasnya lega, lalu segera turun dari mobil dan memasuki rumahnya. Dicarinya berkas proposal yang dibutuhkan atasannya itu lalu tersenyum lebar ketika dia berhasil menemukannya. Tapi, di saat Vella berbalik dan akan melangkahkan kakinya wanita itu mengerutkan keningnya ketika melihat sesuatu yang familiar di atas meja kerja suaminya. "Loh, ini 'kan ponsel El," gumam Vella saat melihat ponsel suaminya yang tertinggal. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil ponsel itu dan dimasukkannya ke dalam tas lalu segera melangkah keluar dan kembali ke kantornya. Saat di perjalanan, Vella merasa sangat bimbang apakah dia harus kembali ke kantornya terlebih dahulu dan segera mengerjakan tugasnya, atau dia harus ke kantor suaminya terlebih dahulu untuk mengantarkan ponselnya yang pasti suaminya itu sangat membutuhkannya. Apalagi, dia tahu betul ada beberapa hal penting yang di simpan pria yang berstatus ayah putrinya itu dalam ponselnya. Sehingga saat bekerja ponsel itu harus ada bersamanya. Mungkin karena tadi pagi mereka bangun terlambat dan ponsel suaminya yang sedang di charger, jadi dia sampai tidak ingat untuk membawa ponselnya. Alhasil, Vella memilih membelokkan mobilnya untuk menuju kantor suaminya terlebih dahulu. Karena kebetulan jaraknya juga dekat. Untuk masalah pekerjaannya biarlah nanti dia yang bertanggung jawab. Setelah sampai di S.V.N Corporation, wanita itu segera memasuki kantor suaminya dan mengernyitkan dahinya saat menyadari kantor yang tidak seramai biasanya. "Loh, Bu Vella? Selamat siang Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Fani seorang resepsionis yang merasa sedikit terkejut dengan kehadiran istri dari atasannya, tapi segera menetralkan wajahnya. "Selamat siang Fani, Pak El nya, ada?" tanya Vella tersenyum ramah. "Pak El?" ulang Fani lalu saling melirik dengan seseorang di sampingnya. "Iya, Pak El nya ada tidak?" tanya Vella mengernyitkan dahinya saat melihat kedua orang di depannya yang malah tampak kebingungan. "Maaf Bu, tapi hari ini Pak El tidak datang, katanya beliau mau pergi liburan sama Ibu dan Nara. Karena itulah hari ini yang masuk kerja hanya staf keuangan dan resepsionis saja Bu," jelas Fani memberitahukan sesuai yang dikatakan atasannya kemarin. Mendengar penjelasan resepsionis itu tubuh Vella langsung membeku, lalu dengan suaranya yang tercekat wanita itu berusaha menjawab. "Oh ya? Mungkin dia mau ngasih kejutan sama saya dan Nara ya, karena itu saya belum tahu sama rencana liburannya," ucapnya tertawa kecil. "Oh iya, mungkin bisa jadi Bu," balas Fani tersenyum sopan. "Em ... pantas saja ya hari ini sepi, gak seramai biasanya. Tapi ini kalian pulang seperti biasa?" "Iya Bu seperti biasa pukul lima." Vella yang awalnya sedang melihat-lihat sekelilingnya langsung menolehkan kepalanya terkejut ketika mendengar balasan dari Fani. "Pukul lima?" tanya Vella berharap dia telah salah mendengar, karena biasanya suaminya pulang setiap pukul tujuh malam. "Iya Bu pukul lima, dan itu khusus untuk resepsionis dan staf keuangan saja, kalo untuk karyawan biasa dan Pak El 'kan biasanya setiap pukul empat sore sudah pulang," jelas Fani ramah. Lagi-lagi Vella tertegun, entah kebenaran apa lagi yang akan dia terima tentang suaminya. Di cekalnya ponsel yang dia genggam dengan erat untuk menyalurkan rasa kecewanya dengan pandangannya yang sudah mulai memburam. Dengan suaranya yang sudah benar-benar tercekat wanita itu masih berusaha untuk menjawab. "Oh, pantas saja di weekend kadang masih masuk kerja ya?" Melihat Fani yang menggelengkan kepalanya rasa sakit di hatinya semakin besar apalagi setelah mendengar jawabannya. "Di weekend kami full libur Bu, tidak pernah masuk kerja, kalaupun ada jam lembur biasanya kami bekerja lebih satu jam dari jam kerja biasanya Bu." Vella memundurkan langkahnya. Wanita itu berharap semua yang telah dia dengar hanya mimpi dan kesalahan. Tapi, mau bagaimana pun ini nyata dan ini adalah kebenaran tentang El suaminya yang ternyata selama ini sudah membohonginya. Tapi, kenapa? "Ibu? Ibu tidak apa-apa?" tanya Fani merasa khawatir saat melihat wajah istri atasannya yang tiba-tiba berubah pucat. "Ah, gak pa-pa Fan," balas Vella tersenyum tipis lalu menghela nafasnya untuk menetralkan emosinya. Seperti ada yang menghantam jantungnya, Vella benar-benar merasa terkejut dengan kebenaran tentang suaminya yang dia dapatkan. Dan sedikit pun dia tidak pernah menyangka sama sekali bahwa selama ini suaminya telah membohonginya. Sekali saja wanita itu berkedip pasti air matanya akan terjatuh. Karena itulah sebisa mungkin Vella menahan air matanya agar tidak terjatuh di hadapan karyawan suaminya. "Kalau Dinar, dia bagian apa ya?" tanya Vella mencoba mengubah topik pembicaraan, dan entah mengapa dia tiba-tiba teringat dengan salah satu karyawan suaminya itu. "Oh Dinar, dia masuk staf keuangan Bu," balas Fani ramah, dengan senang hati menjawab semua pertanyaan dari istri atasannya itu. "Kalo begitu, berarti Dinar hari ini masuk ya? Saya ada yang mau dibicarakan sama dia," ucap Vella dan akan segera melangkahkan kakinya. Tapi, pergerakannya langsung berhenti ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Fani. "Maaf Bu, tapi hari ini Dinar tidak datang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN