4. Karakter game baru

1462 Kata
Di perjalanan pulang, Vella terus memikirkan tentang hadiah yang ternyata suaminya itu tidak memberikannya pada Gauri. Beberapa pikiran buruk pun mulai bermunculan di dalam otaknya tapi segera dia tepis dan memilih untuk menanyakannya langsung pada suaminya nanti. Namun, ketika memasuki pelataran rumahnya, wanita itu mengernyitkan dahinya saat tidak melihat mobil suaminya di garasi. Bukannya tadi mereka akan camping? Kenapa sekarang mobilnya tidak ada? Menutup pintu mobilnya, Vella segera memasuki rumah dan tujuan utamanya adalah halaman belakang untuk mengecek suami dan putrinya. "Nara, El!" panggilnya. Melihat halaman belakang rumahnya yang kosong, dia menyimpulkan bahwa mereka sedang keluar. Karena itulah mengapa mobil suaminya tidak ada di garasi. Wanita itu menggelengkan kepalanya dan terkekeh kecil saat sadar tadi sempat akan mencurigai suaminya. Karena sudah merasa lelah dan badannya pun sudah terasa sangat lengket, akhirnya dia memutuskan untuk segera membersihkan badannya dan berpikir akan istirahat sebentar selagi suami dan putrinya sedang keluar. Ketika sampai di lantai atas, Vella dikejutkan oleh suara benda jatuh dari arah kamar Nara yang kebetulan berada tepat disebelah kamarnya. Dengan ragu, wanita itu membuka pintu kamar Nara untuk mengecek dengan jantungnya yang sudah berdegup dengan kencang. Setelah pintu terbuka, dia langsung terpaku saat melihat putrinya yang sedang bermain sendiri tanpa kehadiran suaminya. "Loh, Mamah sudah pulang?" tanya Nara yang menyadari kehadiran mamahnya dan segera membereskan lego yang tadi sempat terjatuh karena tersenggol. "Mah? Mamah!" panggil Nara agak keras yang berhasil membuyarkan lamunan Vella. Sedangkan Vella yang sadar masih di ambang pintu menggelengkan kepalanya, lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Nara dan duduk di samping putrinya. "Nara kok mainnya sendiri, Sayang? Papah ke mana?" tanyanya lembut sembari mengusap kepala Nara. "Tadi katanya Papah ada urusan penting, terus buru-buru pergi deh," jawab Nara yang masih sibuk membereskan legonya. Vella yang mendengarnya mengernyitkan dahinya, ada urusan penting apa sampai suaminya tega meninggalkan Nara sendirian dan tidak memberitahunya. Biasanya saat ada masalah tentang pekerjaan, suaminya itu selalu menghubunginya agar cepat pulang untuk menemani Nara di rumah. "Papah perginya sudah lama?" tanya Vella yang sudah merasa ada kejanggalan. Melihat Nara yang menganggukkan kepalanya semakin banyak pula pikiran buruk yang muncul di dalam otaknya, dan semakin memperkuat dugaannya, tapi segera menyangkalnya. "Iya." "Tapi tadi sempet camping dong, gimana seru gak?" tanya Vella seraya mencolek hidung Nara yang mancung. "Camping apaan, orang tadi Papah keburu ada yang nelpon," balas Nara mendengus, merasa kesal karena jadwal camping bersama papahnya itu harus gagal. Vella tersentak, lalu dengan cepat menormalkan ekspresi wajahnya dan tersenyum lembut pada putrinya sembari mengusap kepalanya. "Gak boleh gitu Sayang, mungkin Papah memang lagi ada kerjaan yang mendesak dan harus Papah sendiri yang turun tangan. Jadi Nara gak boleh kesel sama Papah, inget Mamah sama Papah gak suka loh kalo Nara nakal, minggu depan 'kan masih bisa camping, nanti Mamah juga ikutan deh," ucapnya memberikan pengertian pada putrinya sekaligus menghiburnya. Wajah Nara yang semula cemberut kini berubah menjadi sumringah. "Wah, beneran ya Mah ... Mamah ikutan," balasnya semangat. "Beneran dong ... masa bohong sih," ucap Vella tersenyum lebar lalu memeluk Nara, yang perlahan senyuman itu memudar. *** Sudah terhitung satu jam lamanya, Vella hanya duduk termenung di tempat tidurnya dengan sebuah laptop di pangkuannya. Niatnya dia akan mengerjakan tugas kuliah, tapi pikirannya tidak bisa fokus karena terus memikirkan tentang sikap suaminya yang membuatnya merasa curiga. Hingga sekarang matahari yang akan terbenam pun suaminya itu masih belum pulang, dan tidak memberikan kabar apapun padanya bahkan pesannya pun tidak di balas. Di ambilnya ponsel yang tergeletak di atas nakas, lalu wanita itu mencari kontak Kinan, sekretaris pria yang berstatus ayah putrinya, untuk mengetahui pertanyaan yang sedari tadi terus memenuhi kepalanya. Baru saja dia akan menekan tombol untuk menelpon tapi nama Gauri lebih dulu terpampang di layar ponselnya. "Halo, Bu," ucap Vella setelah telepon tersambung. "Halo Vella, aduh maafin Ibu ya jadi nelpon kamu segala pasti kamu lagi sibuk ya?" balas Gauri di seberang sana yang merasa tak enak karena telah mengganggu waktu menantunya. "Oh, gak pa-pa Bu, kebetulan aku lagi duduk-duduk aja nih, kenapa Bu?" tanya Vella penasaran karena tak biasanya Gauri menghubunginya. "Ini, Ibu cuma mau ngasih tahu sama kamu hadiah yang dikasih El sudah ada kok barusan dateng," ucap Gauri menjelaskan maksud dia menghubungi Vella. "Oh ya? Di kirim lewat jasa ekspedisi ya, Bu?" tanya Vella sembari turun dari tempat tidur dan berpindah tempat ke dekat jendela. "Iya, tadi El ada nelpon sama Ibu, dia minta maaf karena gak ngasih hadiahnya langsung, katanya kemarin lusa dia gak sempat, dan sekarang pun dia masih sibuk sama kerjaannya bahkan minta tolong sama Ibu untuk ngabarin kamu," jelas Gauri. "Kok tumben El gak ngabarin langsung ke Vella ya, Bu?" tanya Vella mengernyitkan dahinya. "Itu tadi katanya ponsel El habis baterai sebelum sempet balas pesan kamu, dia juga nelpon Ibu lewat ponsel Kinan buat ngasih tahu hadiah itu, sekalian nitip pesan sama kamu katanya kamu gak usah cemas dia baik-baik aja kok dan mungkin pulangnya agak telat," terang Gauri. "Oh ... syukur deh kalau El baik-baik aja, tadi aku emang sempat cemas karena gak biasanya El gak ngabarin aku." "Iya, ya sudah ya Vell, Ibu tutup telponnya, kebetulan Ibu lagi masak takutnya gosong," ucap Gauri terdengar buru-buru. "Oh iya Bu, makasih ya, sudah ngasih tahu Vella." "Iya Vella, ya sudah ya Ibu tutup." Setelah sambungan telepon terputus, Vella menghembuskan nafasnya lega dan merasa beberapa jam terakhir dia hanya menghabiskan waktunya dengan sia-sia karena telah berpikiran yang tidak-tidak tentang suaminya. Setelahnya wanita itu berbalik dan melangkahkan kakinya untuk melanjutkan tugasnya yang tadi belum selesai. Cukup lama Vella hanya fokus pada layar laptopnya sesekali dengan dahinya yang mengerut, lalu mendongakkan kepalanya saat mendengar suara mobil yang memasuki pelataran rumahnya. Seutas senyum terbit di bibirnya saat tahu itu adalah suaminya yang pulang. Buru-buru Vella segera menutup laptopnya dan turun untuk menyambut El. "Eh Sayang, maaf ya aku gak sempat ngabarin kamu tadi, ponsel aku mati soalnya," ucap El yang merasa bersalah, langsung meminta maaf pada Vella ketika istrinya itu datang menghampirinya. "Iya El, gak pa-pa kok, aku ngerti kamu juga pasti lagi sibuk sama kerjaan kamu. Tapi lain kali, kalo malem tuh ponsel kamu di charger biar paginya meskipun kamu ada kerjaan mendadak kejadian kayak gini gak ke ulang lagi," balas Vella lembut sembari membawakan tas kerja suaminya lalu menyimpannya. "Hmm ... iya maafin aku ya," ucap El seraya memeluk istrinya dari belakang lalu mengecup pundaknya sekilas. Wanita itu membalikkan badannya dengan tangan suaminya yang masih bertengger manis di pinggangnya. "Kok tumben sih kamu masih kerja di weekend? Udah gitu lama lagi," ujarnya. "Iya aku lagi ngejar target, soalnya bulan-bulan ini rencananya aku mau ngeluarin game terbaru. Jadi di weekend pun aku harus tetep kerja sama sebagian karyawan aku," terang El memberikan penjelasan kepada istrinya. Vella menghembuskan nafasnya lalu memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di d**a bidang pria yang berstatus ayah putrinya. Entah ada apa dengan perasaannya, tapi dia merasa sangat tidak tenang. "Hei, kamu kenapa sih? Sakit?" tanya El sembari mengusap kepala Vella. "Enggak, ya sudah sana kamu mandi dulu gih aku mau siapin makan buat kamu," ucap Vella seraya tersenyum manis. "Kalo sakit bilang ya!" peringat El merasa cemas karena seperti ada yang berbeda dari istrinya. "Iya El, aku gak pa-pa kok." "Ya sudah, aku mandi dulu ya," ucap El lalu mengecup dahi wanitanya lembut. "Mau ikut?" "El ih, apa sih ... sana-sana ah, aku mau nyiapin makan buat kamu dulu," balas Vella yang langsung pergi ke dapur dengan kedua pipinya yang sudah memerah. Sedangkan pria itu hanya terkekeh geli lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya. *** "Loh Sayang, kok kamu masih kerja?" tanya Vella saat melihat suaminya yang masih sibuk dengan iPadnya. "Eh Sayang, ngagetin aja kamu," balas El yang merasa terkejut dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba. "Em ... kayaknya kamu lagi konsen banget ya sampe aku dateng aja gak sadar," ujar Vella seraya memeluk leher suaminya dari belakang. "Iya nih, tanggung soalnya tinggal dikit lagi biar nanti aku bisa me time sama kamu," balas El terkekeh sembari menarik tangan Vella dan memangkunya. "Bisa aja kamu." "Eh, kenapa El?" tanya Vella saat melihat suaminya itu yang tiba-tiba langsung terdiam dengan dahinya yang mengerut. "Kenapa, hei?" ulangnya merasa khawatir. "Bentar Sayang, kayaknya aku ada panggilan alam deh," balas El menurunkan istrinya dari pangkuannya lalu segera beranjak dari duduknya dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Vella yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli. Setelah El pergi, Vella yang merasa bosan akhirnya memilih untuk melihat pekerjaan suaminya yang kebetulan iPadnya pun masih menyala. Lalu dia pun berinisiatif akan mencoba membuat karakter game baru untuk S.V.N Corporation, seperti sebelum-sebelumnya yang dia telah membuat banyak karakter game untuk perusahaan game suaminya. Vella mengambil iPad pencilnya untuk memulai menggambar. Namun, saat wanita itu mengklik salah satu file, dia cukup terkejut ketika melihat karakter game perempuan berambut pendek yang entah mengapa dia merasa familiar dengan karakter perempuan itu. "Kok kayak mirip ... Dinar?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN