3. Awal kebohongan

1045 Kata
"Vella!" Vella yang sedang berjalan menghentikan langkahnya lalu berbalik dan tersenyum saat ternyata yang memanggilnya adalah Sila, sahabatnya. Tapi kemudian dia mengernyitkan dahinya saat gadis itu menghampirinya dengan raut wajahnya yang panik. "Kenapa sih?" tanya Vella penasaran. "Vell sumpah gawat. Pokoknya kamu harus bantuin aku, titik," balasnya dengan nafas yang tak beraturan, sepertinya gadis itu habis berlari. "Ya bantuin apa? Kamu kenapa sih?" Sebelum menjawab, Sila menarik nafasnya terlebih dahulu lalu mengusap keringat di keningnya. Vella yang melihatnya sudah jengah karena gadis itu malah mengulur waktu. "Aku mau lihat tugas Pak Cipto dong, hehe," ucap Sila cengengesan sembari mengedip-ngedipkan matanya. Sedangkan Vella sudah menganga lalu mendengus kasar. Dia pikir ada apa sehingga membuat sahabatnya itu sangat terlihat panik. "Gak mau ah, salah siapa belum dikerjain," jawab Vella melengos, dalam hatinya dia cekikikan. Merasa lucu setelah melihat wajah Sila yang melas. "Ih Vell, please lah ... bantuin aku sekali ini aja, waktunya udah mepet banget ini," ucap Sila masih berusaha membujuk Vella. "Ya emangnya semalem kamu habis ngapain sih sampe tugas gak dikerjain, aku yang jadi IRT juga masih sempet loh." Sila menghentikan langkahnya yang juga membuat Vella berhenti lalu gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Tadi malem tuh aku abis kencan sama Fino, jarang-jarang 'kan dia ngajak aku jalan masa aku tolak sih. Nah, terus pas pulang karena aku ngerasa capek jadi langsung tidur deh. Ayo lah Vell, please ... bantuin aku ya? Nanti aku traktir kamu deh sepuasnya," jelasnya masih belum menyerah. Vella menggelengkan kepalanya lalu membuka tasnya dan mengambil sebuah buku. "Nih, tapi bukan karena aku mau ditraktir ya, aku gak tega aja liat wajah melas kamu," ucapnya meledek lalu tertawa saat melihat wajah masam Sila. "Iya deh iya, sahabat aku yang ini tuh emang paling terbaik pokoknya," balas Sila sumringah seraya memeluk Vella. "Ya sudah ayo, bentar lagi masuk loh," ajak Vella. "Vell, nanti kita jalan yuk ke mall udah lama deh kita gak jalan," ucap Sila di tengah mereka sedang berjalan. "Mm ... kayaknya enggak dulu deh, Sil. Soalnya nanti abis kelas aku mau ke rumah Ibu, maaf ya," tolak Vella merasa tak enak. "Oh ya sudah gak pa-pa, next time ya berarti, btw kamu ke sana sendirian?" "Iya, aku udah lama soalnya gak ke rumah Ibu," balas Vella seraya menganggukkan kepalanya. "Oh ... gitu." Setelahnya mereka melanjutkan perbincangan yang ringan selama menuju kelas dan sesekali akan tertawa. **** Suara bel rumah yang berbunyi membuat Gauri yang sedang merangkai bunga menghentikan kegiatannya lalu melangkahkan kakinya untuk melihat siapa tamu yang datang. "Loh, Vella?" ujar Gauri yang sedikit terkejut ketika melihat ternyata Vella lah yang datang. "Ibu, gimana sehat?" tanya Vella sembari memeluk Gauri. "Alhamdulillah sehat Nak, udah lama kamu gak datang ke rumah Ibu," balas Gauri yang membalas pelukan Vella dengan hangat. "Iya, maafin Vella ya Bu baru sempat ke rumah sekarang." "Eh, gak pa-pa gak usah minta maaf, Ibu paham kok kamu pasti punya banyak kerjaan yang harus di kerjakan," ucap Gauri tersenyum lembut sambil mengusap kepala Vella sayang. Vella yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa terharu. Karena wanita itu sudah memperlakukan dan menganggapnya sebagai putri kandung, bukan sebagai seorang menantu. "Ya sudah ayo masuk, Ibu sampai lupa saking senengnya ketemu kamu lagi," ucap Gauri terkekeh lalu memasuki rumahnya yang diikuti Vella. "Ini Bu, tadi waktu di jalan Vella sempet mampir dulu ke toko roti," ujar Vella seraya menyimpan sebuah paper bag di atas meja. "Duh, harusnya kamu gak perlu bawa apa-apa Vella, cukup kamu udah datang aja Ibu udah seneng banget kok," balas Gauri merasa tak enak telah merepotkan menantunya. "Gak pa-pa Bu, itu roti kesukaan Ibu loh, tadi aku beli di toko langganan Ibu," ucap Vella tersenyum ramah. "Oh iya? Makasih loh," jawab Gauri sembari melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda. "Itu toko rotinya lagi di bangun ya Bu?" tanya Vella memulai pembicaraan. "Iya, kayaknya mau di bangun lebih besar lagi deh, hebat ya padahal tokonya masih baru tapi udah banyak langganan dan sekarang malah mau diperbesar," puji Gauri pada salah satu toko roti baru langganannya. "Iya, berarti rejekinya udah lancar," balas Vella terkekeh lalu ikut mengambil beberapa tangkai bunga. "Ajarin Vella buat rangkai bunga yang cantik dong Bu, kayak punya Ibu," pintanya. "Merangkai bunga itu gak perlu teknik yang khusus kok, asal dikerjainnya dengan penuh ketekunan dan cinta juga hasilnya bakal bagus," terang Gauri tanpa mengalihkan tatapannya, tangannya sangat sibuk memilih bunga untuk menghasilkan rangkaian bunga yang indah. Gauri memang seorang florist yang mempunyai sebuah toko bunga kecil yang di buatkan El untuknya. "Aku coba deh. Oh ya Bu, aku kesini tuh sebenernya pengen makan masakan Ibu tahu, terus nanti kita makan bareng sambil nonton drama kesukaan kita," ungkap Vella semangat memberitahukan alasan utamanya datang. Dengan tangannya yang mulai sibuk merangkai bunga sambil sesekali akan mengernyitkan dahinya saat bingung akan memilih bunga yang selanjutnya. Sementara itu, Gauri yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Vella itu meskipun terlihat sangat mandiri dan sudah memiliki tanggung jawab yang besar, tapi jangan lupa bahwa dia masih seorang anak perempuan yang akan menunjukkan sisi manjanya kepada kedua orangtuanya. Terkadang, Gauri merasa sangat kasihan kepada menantunya. Di usianya yang masih muda, tapi wanita itu sudah harus menanggung banyak tanggung jawab yang besar, dan hidup tanpa kedua orang tuanya. Oleh karena itu, dia sangat menghormati dan menyayangi menantunya dengan tulus. Meskipun usianya masih muda, tapi untuk urusan mengurus rumah tangga Gauri akui wanita itu sangat cekatan dan juga seorang Ibu yang pengertian. "El sama Nara gimana Vell, sehat? Kok gak ikut kamu kesini?" tanya Gauri menanyakan keadaan putra dan cucunya. Vella sempat tersentak saat Gauri menanyakan kabar putranya. Bukannya kemarin lusa suaminya itu baru datang, kenapa ibunya masih bertanya? Menggelengkan kepalanya mencoba menepis pikiran buruknya, Vella menolehkan kepalanya lalu tersenyum. "Mereka sehat kok Bu, dan hari ini katanya mereka mau camping di belakang rumah jadi gak ikut deh," jelasnya. "Camping? Ada-ada aja kelakuan mereka," balas Gauri terkekeh geli. "Tapi syukur deh kalo kalian semua sehat, kapan-kapan kamu ajak Nara dong Vell, Ibu udah kangen banget sama cucu Ibu." "Iya Bu nanti Vella ajak Nara kesini. Oh iya Bu, gimana hadiahnya, suka gak? Katanya El kemarin lusa ngasih hadiah sama Ibu ya? Sweet banget gak sih dia, Bu?" tanya Vella yang tersenyum sendiri saat membayangkan bagaimana suaminya yang memberikan hadiah untuk ibunya. Sedangkan Gauri yang mendapatkan pertanyaan itu menolehkan kepalanya sambil mengernyitkan dahinya bingung. "Hadiah? Hadiah apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN