"Ini Bu, di minum dulu," ujar seorang wanita berambut pendek sembari menyodorkan sebuah botol minum kepada Vella.
"Iya, makasih," jawab Vella tersenyum tipis.
"Sekali lagi saya minta maaf karena sudah bikin Ibu cemas," tutur wanita itu merasa sangat bersalah karena telah membawa Nara tanpa ijin.
Saat ini, mereka tengah duduk di sebuah bangku taman dekat sekolah.
Vella menolehkan kepalanya sebelum kembali melihat Nara yang sedang bermain dengan temannya, lalu menghela nafasnya.
"Nara adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesar saya selain suami saya. Mungkin karena itulah rasa takut untuk kehilangan Nara terlalu besar sampai saya sudah bereaksi terlalu berlebihan," terang Vella terkekeh kecil, lalu menolehkan kepalanya saat wanita itu memegang pundaknya.
Wanita itu tersenyum lembut seraya menatap mata Vella tulus. "Tidak ada yang terlalu berlebihan untuk kasih sayang dari seorang ibu. Saya paham betul dengan apa yang Ibu rasakan, jadi wajar saja jika seorang ibu merasa takut kehilangan anaknya, karena saya juga seorang ibu, untuk itu saya benar-benar merasa sangat bersalah pada Ibu," ungkapnya penuh penyesalan.
"Eh tidak-tidak, tadi saya memang merasa panik dan takut. Tapi sekarang saya merasa tenang, karena di saat saya telat untuk menjemput Nara untungnya ada kamu yang menjaganya, dan yang lebih penting sekarang Nara sudah ada bersama saya dalam keadaan baik-baik saja," jawab Vella sembari tersenyum menenangkan merasa tak enak karena wajah wanita itu benar-benar terlihat merasa bersalah.
Tak dipungkiri wanita itu juga merasa sangat lega karena dengan besar hati wanita yang berstatus sebagai ibu dari Nara telah memaafkannya tanpa memaki ataupun marah kepadanya.
Tadi dia memang membawa Nara untuk sekedar membeli es krim. Kebetulan anak itu juga adalah teman dari putrinya, dan di sekolahpun sudah sangat sepi, jadi dia tak tega jika harus meninggalkan anak itu sendiri. Oleh karena itu, dia mengajak Nara dan berpikir akan secepatnya untuk kembali ke sekolah. Namun, siapa sangka ternyata ban mobilnya malah bocor dan butuh waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya. Alhasil, dia menjadi telat untuk kembali ke sekolah dan malah membuat ibu dari Nara panik.
"Oh iya, perkenalkan Bu, saya Dinar," ucap wanita itu memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangannya.
Dengan senang hati Vella membalas uluran tangan itu. "Ah iya, salam kenal Dinar, saya Vella," balasnya tersenyum ramah.
"Iya Bu, Ibu istri atasan saya Pak El, 'kan?"
"Eh? Jadi kamu kenal saya?" tanya Vella yang merasa sedikit terkejut karena ternyata wanita itu mengenalnya dan merupakan salah satu karyawan suaminya.
Dinar sempat terkekeh melihat reaksi istri dari bosnya itu tapi dengan cepat segera menormalkan ekspresinya, takut dikira tidak sopan. "Iya, sebelumnya saya lihat Ibu waktu ulang tahun perusahaan kemarin, karena saya juga masih karyawan baru jadi wajar saja kalau Ibu tidak pernah melihat saya," jelasnya.
Sementara itu Vella menganggukkan kepalanya paham. "Oh iya-iya, jadi Cia itu anak kamu, ya? Nara sering banget ceritain Cia sama saya," terangnya terkekeh geli saat mengingat bagaimana excited nya Nara waktu menceritakan Cia teman barunya itu.
"Iya Bu, Cia juga sering banget ceritain Nara sama saya, awalnya saya sedikit terkejut karena tidak biasanya Cia menceritakan tentang temannya di sekolah. Tapi melihat bagaimana semangatnya Cia waktu bercerita, saya yakin Nara itu anak yang baik," ungkap Dinar seraya menatap lurus ke depan-ke arah putrinya berada.
Meskipun Dinar menceritakannya sambil tersenyum, tapi Vella dapat melihat dengan jelas ada kekosongan di matanya saat mengucapkan deretan kalimat itu dan dia bisa merasakannya.
"Suami kamu kerja dimana?" tanya Vella mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi melihat garis wajah Dinar yang langsung menurun sepertinya dia telah melontarkan pertanyaan yang salah.
"Ah, gak perlu di jawab—"
"Saya belum menikah."
Vella cukup tersentak ketika mendengar balasan dari Dinar. Tapi dia juga tahu batasannya dan tidak akan bertanya lebih lanjut.
Cukup lama hanya ada keheningan yang mengisi di antara mereka, hingga akhirnya Nara dan Cia menghampirinya.
"Mamah!" panggil Nara sembari tersenyum lebar, Vella yang melihatnya pun jadi ikut tersenyum.
"Apa Sayang, udah mainnya? Sampe keringetan gini," balas Vella seraya merapikan rambut putrinya yang berantakan dan mengusap keningnya yang basah karena keringat.
"Iya Mah, Nara capek nih, Cia juga udah capek, 'kan?" jawab bocah itu lalu menolehkan kepalanya pada Cia yang di jawab hanya dengan anggukan kepala.
"Ya sudah yuk pulang, udah sore juga," ujar Vella sembari beranjak dari duduknya begitu juga dengan Dinar. "Dinar, kita duluan ya," pamitnya.
"Oh iya Bu silahkan, hati-hati di jalan," balas Dinar ramah.
"Dadah Cia ...," ucap Nara ceria seraya melambaikan tangannya.
Setelah mereka pergi, Dinar terus menatap punggung Vella dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
"Papah pulang ...," ujar El yang baru saja memasuki rumah.
"Ye ... Papah pulang ...," seru Nara semangat.
Sedangkan Vella langsung mengambil tas kerja suaminya dan menyimpannya di atas sofa untuk sementara. "Gimana hari ini?" Pertanyaan yang selalu dia lontarkan ketika suaminya pulang bekerja.
"Kayak biasanya aja sih, gak ada yang menarik selain kamu," jawab El gombal.
"Mulai deh gombalnya," ujar Vella berdecak sembari melangkahkan kakinya menuju dapur. Lebih tepatnya untuk menghindari tatapan suaminya yang pasti mampu membuatnya tersipu malu.
Sedangkan di sisi lain, pria itu sudah terkekeh geli ketika melihat istrinya yang salah tingkah. Dia tahu persis saat ini wanita yang berstatus ibu putrinya itu pasti sedang merasa malu.
"Wah ... lagi belajar apa nih putri papah?" tanya El mengalihkan perhatiannya kepada Nara yang sedari tadi terus berkutat dengan bukunya.
"Bentar Pah, jangan liat dulu," cegah Nara ketika papahnya akan melihat apa yang tengah dilakukannya.
"Iya deh enggak," pasrah El lalu menolehkan kepalanya dan tersenyum manis ketika istrinya menghampirinya dan memberikannya segelas teh hangat. "Makasih Sayang," ucapnya.
"Iya, Sayang," balas Vella lalu ikut duduk di samping suaminya dan memperhatikan putrinya yang masih sibuk dengan bukunya.
"Selesai ...," seru Nara riang lalu beranjak dari duduknya menghampiri kedua orangtuanya. "Mah, Pah, lihat deh, ini aku, ini Mamah, dan ini Papah ...," jelasnya seraya menunjukkan hasil lukisannya.
Di sana, terlukis sebuah keluarga yang terlihat sangat harmonis dengan gambar dua orang dewasa yang sedang berpegangan tangan dan seorang anak kecil yang tengah tersenyum lebar sembari tangannya yang memeluk sebuah boneka. Meskipun lukisannya tidak terlalu jelas, tapi cukup bagus untuk hasil lukisan dari bocah berusia tujuh tahun.
"Wah ... bagus banget lukisannya," puji Vella tersenyum bangga seraya mengusap kepala Nara sayang.
"Keren nih Putri Papah, nanti kita pajang di dinding, gimana?" ujar El memberikan sebuah apresiasi untuk karya putrinya.
"Wah ... beneran, Pah? Boleh-boleh," balas Nara menganggukkan kepalanya semangat.
"Anak pintar," ucap El sembari mengusap kepala Nara dan mengecupnya sayang.
Vella yang juga ingin bergabung akhirnya memeluk putri dan suaminya membuat mereka saling berpelukan layaknya keluarga yang harmonis dan sempurna, tanpa ada yang bisa menganggu kebahagiaan mereka.
***
Saat ini, Vella tengah membereskan meja kerja suaminya setelah tadi menemani Nara untuk tidur. Di bereskannya satu per satu kertas yang berantakan lalu di susunnya dengan rapi dan berdecak saat ada salah satu kertas yang terjatuh.
"Tumben El bawa laporan keuangan ke rumah," gumamnya heran saat melihat ternyata kertas itu adalah berkas laporan keuangan S.V.N Corporation, perusahaan suaminya.
Wanita itu mengernyitkan dahinya saat melihat ada data untuk pengeluaran pribadi. Padahal biasanya suaminya itu tidak pernah mengambil pengeluaran pribadi, apalagi dengan jumlahnya yang cukup besar.
Vella menolehkan kepalanya saat mendengar pintu terbuka yang artinya El sudah keluar dari kamar mandi dan dia pun langsung menghampirinya.
"El, ini kamu ada ngambil prive buat apa?" tanyanya.
"Hm? Prive?"
"Iya, ini tadi aku gak sengaja jatuhin pas lagi beresin meja kerja kamu terus aku liat ada data pengambilan prive," jelas Vella, bukannya dia tidak percaya tapi dirinya hanya ingin mengetahuinya saja.
"Oh iya, aku memang ngambil prive buat beli hadiah untuk Ibu kemarin, ya memang sih bukan hari ulang tahun Ibu, tapi aku sebagai anaknya sekali-kali pengen ngasih barang bermerek sama Ibu, gak papa, 'kan?" balas El kalem seraya menghampiri istrinya.
"Oh ... ya gak pa-pa sih, justru aku seneng kamu perhatian sama Ibu, kamu beli apa?" balas Vella yang merasa tidak keberatan sembari kembali menyimpan berkasnya. Tak dipungkiri dia merasa lega karena ternyata suaminya itu mengambil uang untuk Ibunya.
"Beli tas. Sekretaris aku yang pilihin. Tadinya mau minta tolong sama kamu, tapi aku gak mau nambah kerjaan kamu, kasian kamunya pasti udah repot banget harus ngurusin rumah, kerjaan kamu, kuliah kamu pula," jawabnya sembari menatap teduh istrinya.
"Oh ya? Terus kamu yang ngasih sendiri?" tanya Vella seraya mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Iya dong ... masa mau ngasih hadiah gak di anterin langsung sih," jawab El seraya memeluk mesra pinggang ramping istrinya.
Vella memejamkan matanya saat suaminya itu mencium keningnya lembut. "Hmm ... manis banget sih, suaminya siapa kali," ujarnya sembari mencubit hidung pria yang dicintainya dengan gemas.
"Gak tahu, suaminya siapa sih?" balas El terkekeh sembari memeluk Vella sayang yang dibalas dengan pelukan erat dari istrinya.
"Tapi El, kalo kamu butuh aku bilang aja, aku gak pa-pa kok, 'kan ini memang udah jadi kemauan aku sendiri dan aku gak ngerasa repot sama sekali, dan juga aku ini istri kamu udah jadi kewajiban aku buat mengurus keluarga aku," terang Vella memberikan pengertian.
El yang mendengar penuturan lembut istrinya merasa sangat terharu dan beruntung karena memiliki istri seperti Vella. Di ambilnya tangan istrinya itu dan di kecupnya dengan lembut. Dia benar-benar merasa sangat beruntung memiliki istri baik seperti Vella, dan dia merasa bersalah karena masih belum cukup memberikan kebahagiaan untuk istri dan putrinya.
"Makasih ya sudah jadi istri yang baik dan juga ibu yang baik buat Nara, aku beruntung punya istri kayak kamu, i love you my wife," ungkap El tulus lalu perlahan memajukan wajahnya dan mencium bibir Vella.
Awalnya hanya sebuah kecupan tapi saat Vella membuka sedikit bibirnya, pria itu dengan lembut melumat bibir istrinya yang terasa manis. Semakin lama ciuman itu menjadi panas dan El menginginkan yang lebih dari sekedar ciuman.
Perlahan tangannya menelusup ke dalam pakaian Vella dan meraba punggungnya lalu menuntunnya untuk menuju tempat tidur dengan ciuman mereka yang masih terpaut. Setelahnya El mendorong Vella agar berbaring.
Malam itu dengan diiringi suara gemericik air hujan, mereka menghabiskan malam mereka dengan penuh cinta.