Bab 43

2175 Kata
Bambang menatap layar smartphone di tangannya yang sudah menunjukkan tepat pukul lima subuh. "Yes! Udah waktunya pulang..." Bambang beranjak dari tempat duduknya dan menggantung tas di bahunya, kemudian bergegas keluar dari ruang tunggu karyawan langsung menuju ke depan losmen. Namun, saat Bambang hendak keluar losmen, ia berpapasan dengan seseorang perempuan cantik yang masuk ke dalam losmen. Sambil melangkah keluar, Bambang mengunci tatapan bola matanya ke arah perempuan cantik itu, 'Cantik banget...' Bambang terus menatap perempuan cantik itu. Sehingga tak sengaja karena tidak melihat ke arah depan, dahi Bambang membentur sisi pintu losmen. "Duh!" Bambang tersentak seketika memusut dahinya sambil terus menatapi ke arah perempuan cantik yang tampak mengetuk pintu ruangan manager dimana Pak Rondo berada, 'Kok dia ke ruangan Pak Rondo, sih?' gumam Bambang, "Aku kira dia tadi tamu," ucap Bambang lirih, "Eh! Apa... Jangan-jangan?!" Bambang mulai berpikir yang tidak-tidak, "Ah, nggak mungkin Pak Rondo kayak gitu." Bambang langsung menepis prasangka buruknya tentang Pak Rondo kemudian lanjut berjalan ke depan losmen dan langsung menuju ke tempat parkir losmen dimana 'Kuda Hijau-nya' terparkir. "Weeiih, tumben nih mukanya cerah banget... Biasanya kalau habis lebur, muka kamu itu kucel!" sapa Pak Udin si tukang parkir. "He.. Iya Pak Udin," sahut Bambang kemudian menoleh kesana kemari mencari telak 'Kuda Hijaunya', "Loh, si 'Kuda Hijau-ku' kemana?" ucap Bambang lirih sambil terus menoleh kesana kemari. Pak Udin heran melihat Bambang yang tampak kebingungan. "Kenapa lagi, Mbang?" tanya Pak Udin menghampiri. "Ini, Pak. 'Kuda Hijau' saya mana ya?" sahut Bambang balik bertanya. "Kuda Hijau?" Pak Udin merasa heran, "Di parkiran mana ada kuda... Bambang Bambang." Pak Udin menggeleng. "Maksud saya bukan kuda, Pak." "Lah, tadi kamu bilang kuda." "Iya kuda, 'Kuda Hijau' saya, Pak..." "Nah kan, dari dulu ampe nenek-nenek jenggotan juga nggak pernah ada kuda disini, Mbang." "Duuh, maksud saya motor saya, Pak. Si Kuda Hijau..." "Ooh... motor kamu..." Pak Udin menatap ke segala penjuru parkiran, "Nah, itu motor kamu bukan?!" Pak Udin menunjuk ke arah beberapa motor yang letaknya sangat rapat. Bambang menatap ke arah yang ditunjuk Pak Udin, "Nah, iya bener, Pak. Itu 'Kuda Hijau' saya." Bambang langsung berjalan menghampiri 'Kuda Hijau-nya'. Bambang tampak kesulitan mengeluarkan 'Kuda Hijaunya' dari barisan parkiran yang sangat rapat. "Duuh, ini gimana sih, Pak Udin naruhnya dempet banget!" gerutu Bambang sambil terus berusaha mengeluarkan 'Kuda Hijaunya' yang terhimpit rapat dengan dua motor di samping kiri dan kanan. "Bisa nggak, Mbang?!" seru Pak Udin. Namun, Bambang terus saja berusaha meloloskan 'Kuda Hijaunya' itu dan tak menghiraukan Pak Udin, "Huh!" Bambang kembali menggerutu dengan ucapan-ucapan yang tidak jelas. Pak Udin beranjak dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Bambang, "Bisa nggak?" tanya Pak Udin lagi. "Liat sendiri kan, pake nanya!" ucap Bambang lirih dan ketus. "Ya udah kalau nggak mau dibantu." Pak Udin kembali ke tempat duduknya. "Ngeselin banget sih!" Bambang merasa sangat kesal sambil terus berusaha meloloskan 'Kuda Hijaunya' dari himpitan motor-motor lain di samping kanan dan kiri. Sampai Bambang memaksa dengan keras, sehingga terdengar bunyi alarm yang berasal dari motor di sebelah kanan karena tidak sengaja terbentur kaki Bambang. Tit Tit Tit Tit Tit........ Bunyi alarm itu terus terdengar, sampai tiba-tiba seorang perempuan datang menghampiri Pak Udin. "Pak Udin?! Itu motor saya kenapa?!" "Eh, Non Lili." Pak Udin menatap cemas sambil beranjak berdiri, "A-anu, Non..." "Dia mau maling ya?!" "Bukan... Bukan... Itu, si Bambang maksain buat ngeluarin motornya, Non," jawab Pak Udin hati-hati. "Terus, kenapa Pak Udin cuman ngeliatin doang?! Cepetan bantuin dia buat ngeluarin motornya. Entar malah motor punya saya yang baret-baret...!" "I-iya, Non." Pak Udin langsung bergegas menghampiri Bambang, dan Lili pun juga ikut menghampiri Bambang. "Sini saya bantu..." Pak Udin pun membantu Bambang mengeluarkan motornya. "Lain kali, hati-hati, Mas! Kalau nggak bisa jangan dipaksain!" ucap Lili, yaitu seorang perempuan yang tadi menghampiri Pak Udin. Bambang menoleh ke arah Lili, 'Dia kan, perempuan yang tadi masuk ke ruangannya Pak Rondo...' pikir Bambang. "I-iya, ma-ma-maaf, ya..." sahut Bambang terbata-bata kerena gugup saat melihat kecantikan paras seorang perempuan yang dilihatnya. Bambang terus saja menatapi Lili sambil tersenyum lebar sehingga membuat Lili merasa risih. "Pak, dia kenapa sih?" tanya Lili. "Dia emang biasa gitu, Non," jawab Pak Udin, "Udah, biarin aja, nanti juga dia sadar sendiri, Non," sambung Pak Udin. "Oh iya, tadi saya udah ke ruangan papih, tapi kok papihnya nggak ada ya, Pak?" tanya Lili. "Mungkin lagi di kamar kecil kali, Non," jawab Pak Udin, "Non Lili tunggu aja di ruangannya, paling bentar lagi juga dateng kok," tambah Pak Udin. "Iya deh." Lili pun kembali ke dalam losmen meninggalkan Pak Udin bersama Bambang dan langsung masuk ke ruangan Pak Rondo. Sementara masih di tempat parkir losmen, Pak Udin mulai bingung dengan tingkah Bambang yang sejak tadi hanya tersenyum menatap lurus ke depan tepat ke arah dimana tadi Lili berdiri. "Mbang...?" Pak Udin melambaikan tangannya ke depan wajah Bambang. Namun, Bambang tetap tersenyum sendirian. "Bambang!!" Pak Udin berteriak tepat di depan wajah Bambang. "Aaa!" Sontak Bambang terkejut dan tersadar dari lamunannya. "Kamu kenapa sih, Mbang? Kok dari tadi senyam-senyum sendirian?!" "Eh, anu. Loh, cewe yang tadi kemana, Pak?" tanya Bambang kemudian celingak-celinguk setelah sadar bahwa Lili sudah tidak berada bersama mereka di tempat parkir. "Siapa?" "Itu, cewe yang tadi, Pak..." "Oooh, maksud kamu 'Non Lili' ya?" "Hah? Non Lili." Bambang mengerutkan kedua keningnya, "Eh, Pak. Tadi saya liat kalau non Lili masuk ke ruangannya Pak Rondo.. Jangan-jangan cewe itu..." "Ya elah! Bukan!" pungkas Pak Udin. "Terus siapa?" "Non Lili itu anaknya Pak Rondo yang kuliah di Bandung, Mbang." "Ooh, anak pak Rondo ya... Hehe, kirain..." Bambang menggaruk bagian belakang kepalanya sambil tersenyum cengengesan, "Eh, terus ngapain dia disini, Pak?" tanya Bambang. "Katanya sih dia liburan... Soalnya lusa salah satu temennya ngundang dia buat datang ke acara resepsi perkawinan temennya, Mbang..." jelas Pak Udin. "Oooh..." Bambang mengangguk faham, "Eh! Udah mau pagi nih, saya pulang dulu deh!" Bambang langsung menaiki 'Kuda Hijaunya' dan segera memacunya dengan cepat keluar dari parkiran losmen menuju ke jalan raya untuk pulang ke kediamannya. Bambang perlahan menghentikan motornya tepat di depan rumah kediamannya kemudian berjalan ke pintu depan, "Huh! Masih pada mainan aja mereka! Pada nggak kerja apa?!" Bambang melangkah masuk sambil menggerutu ketika masuk ke dalam rumah dan melihat Owel bersama Rudi sedang 'mabar' duduk di sofa ruang tamu. Bambang berjalan menuju ke dapur lewat di depan Owel dan Rudi tanpa mengatakan apapun. Setibanya di dapur, Bambang langsung membuka lemari makanan dan berharap akan ada makanan di dalam lemari itu. Namun, saat Bambang membukanya, ia kecewa karena tak menemukan apapun untuk dimakan. "Ini serius nih?! Nggak ada makanan?! Biasanya kan, ayah pasti ninggalin makanan?! Paling enggak telor mentah sebiji!" ucap Bambang sambil menggerutu kemudian menutup pintu lemari kembali, "Oh iya! Aku kan, ada gorengan..." Seketika Bambang teringat dengan gorengan yang tadi diterimanya dari Pak Rondo. Dari dapur, Bambang menengok ke arah depan tepat ke arah ruang tamu, "Duuh! Aku makan gorengannya disini aja atau di loteng ya?" ucap Bambang lirih sambil terus mengintip ke arah ruang tamu, "Kalau aku makan disini, nanti Owel sama Rudi pasti minta.. Whuuu!" Kemudian Bambang mengambil sebotol air dingin dari dalam lemari es sambil bergumam, "Mending makan di loteng aja deh..." Bambang langsung berjalan dengan membawa sebotol air dingin menuju tangga dan langsung naik ke lotengnya. Setibanya di loteng, Bambang menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit. "Duh! Kalau gini aku harus cepat, nanti Lala bisa berangkat duluan." Akhirnya Bambang bergegas menghabiskan gorengan yang tadi dibawanya. Setelah selesai menyantap gorengan, Bambang kembali turun dari loteng yang langsung menuju ke ruang tamu. "Mau kemana lagi, Mbang?" tanya Owel. "Mau jalan-jalan," jawab Bambang singkat. "Idihh... Jalan-jalan nih. Kayaknya sih jalan sama gebetan..." sahut Rudi dengan nada sedikit mengejek. "Beneran, Mbang?! Lu udah punya gebetan?!" tanya Owel seketika sambil meletakkan smartphonenya di atas meja. "Ya bener!" jawab Bambang berlalu menuju ke luar rumah dan langsung menaiki 'Kuda Hijaunya', kemudian segera memacunya untuk menuju ke rumah kediaman Lala. Setelah beberapa menit Bambang memacu 'Kuda Hijaunya' menelusuri jalan bekelok, akhirnya Bambang tiba tepat di depan halaman rumah kediaman Lala. "Semoga aja Lala nggak berangkat duluan..." ucap Bambang lirih sambil berjalan tergesa-gesa ke pintu depan rumah kediaman Lala. Tok Tok Tok! "Lala..." Bambang mengetuk pintu sambil memanggil Lala. Seketika pintu pun dibuka, dan yang membuka ternyata bukanlah Lala, melainkan Pak Didin ayahnya Lala. "Bambang... Masuk, Mbang." Pak Didin mempersilahkan Bambang masuk ke dalam rumah. "Iya." Bambang menjawab singkat sambil mengikuti langkah Pak Didin. Sementara Lala mengintip dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka tepat menatap ke arah ruang tamu, 'Duuh.. Semoga Bapak berhasil buat ngebujuk Bambang... Aamiin...' gumam Lala penuh harap. Pak Didin duduk di atas sofa ruang tamu, "Ada apa, Mbang?" tanya Pak Didin seraya mengisyaratkan tangannya mempersilahkan Bambang untuk duduk, dan Bambang pun langsung duduk sambil menjawab, "Lala nya udah berangkat apa belum?" "Lala ada tuh, di kamarnya, lagi siap-siap kayaknya," jawab Pak Didin, "Memangnya kenapa, Mbang?" sambung Pak Didin bertanya. "Anu.. Saya mau jemput Lala buat ngantar ke pasar," jawab Bambang tersenyum cengengesan. Pak Didin mengagguk, "Emangnya kamu enggak kerja?" tanya Pak Didin. "Kerja kok..." "Hm?! Apa nggak bikin kamu telat masuk kerja, Mbang?! Kalau kamu nungguin Lala?" "Enggak kok, soalnya saya kena giliran shift malam," jawab Bambang cengengesan. Pak Didin kembali mengangguk, tampak dari raut wajahnya yang sedang berpikir bagaimana supaya Bambang tidak lagi menjadi antar jemput untuk Lala anaknya, "Memangnya kamu kerja apa?" "Eemmm... Saya kerja di losmen," jawab Bambang cengengesan. "Kerja di losmen? Sebagai apa?" "Bagian staf kebersihan," jawab Bambang. "Staf kebersihan?! Maksud kamu jadi OB?" "Hee." Bambang tersenyum cengengesan, "I-iya, Om..." jawab Bambang. "Terus, apa kamu nggak kepikir buat nambahin penghasilan, Mbang?" tanya Pak Didin. 'Hah? Nambahin penghasilan?! Wah! Pas banget nih! Jadi, aku bisa cepet-cepet ngumpulin uang buat ngelamar Lala, hihi.' Bambang bergumam sambil tersenyum kecil, "Mau, Om!" seru Bambang menjawab dengan semangat, "Caranya gimana, Om?" sambung Bambang bertanya dan tampak rasa penasaran dari raut wajahnya. Pak Didin menoleh ke arah halaman depan rumahnya tepat menatap sebuah motor matik berwarna hijau yang terparkir di sana, "Itu motor kamu kan?" tanya Pak Didin. "Iya, itu motor saya, Om," jawab Bambang, "Namanya Kuda Hijau, Om," tambah Bambang. "Hm?! Kuda Hijau?!" Pak Didin langsung merasa heran karena Bambang menamai motor matiknya dengan nama yang menurut beliau sangat tidak masuk akal, "Gini, kalau memang kamu mau nambahin penghasilan, Om ada temen.. Nah, temen Om itu kerjanya jadi tukang ojek online, Mbang," ucap Pak Didin menjelaskan. "Ojek Online?" ucap Bambang lirih kemudian mulai berpikir sejenak, 'Kayaknya ayah Lala ngerestuin aku buat jadi menantunya deh... Soalnya ayah Lala kayak nyuruh aku buat buru-buru ngumpulin uang supaya cepat ngelamar Lala, hihi.' "Mbang?" ucap Pak Didin heran karena melihat Bambang yang tiba-tiba diam. "Eh! I-iya, Om?" Bambang tersentak. "Gimana? Kamu mau nggak?" "Iya, mau, Om!" seru Bambang dengan semangat, "Terus cara daftarnya gimana, Om?" "Kamu punya hape, kan?" "I-iya, punya kok, Om." Bambang mengambil smartphonenya dan menunjukkannya kepada Pak Didin, "Ini kan, Om?" "Nah, bener.. Kalau hape yang model begitu bisa..." "Terus gimana cara daftarnya, Om?" "Nah, kalau cara daftar sih, saya juga belum ngerti. Nanti saya tanyain sama temen om dulu deh." "Siap, Om!" seru Bambang bersemangat. "Ya sudah kamu pulang dulu, nanti om kabarin kalau om udah ketemu sama temen om yang udah kerja jadi tukang ojek online itu," ucap Pak Didin. "Oh, gitu ya Om." Bambang mengangguk kemudian beranjak berdiri dan tidak ingat dengan tujuan awalnya datang ke rumah kediaman Lala, "Kalau gitu, saya pulang dulu ya, Om." Bambang pamit dan bersaliman dengan Pak Didin kemudian perlahan berjalan menuju ke depan rumah. "Yes! Bapak berhasil!" ucap Lala pelan ketika melihat ayahnya yang berhasil membujuk Bambang untuk pulang. Namun, langkah Bambang tiba-tiba terhenti karena merasa lupa tengang sesuatu. "Kenapa, Mbang?" tanya Pak Didin cemas. "A-anu, Om... Kayaknya aku lupa sesuatu deh, tapi apa ya...?" ucap Bambang sambil berpikir untuk mengingat sesuatu yang dia lupa. "Coba kamu ingat-ingat lagi deh," sahut Pak Didin. "Oh iya!" sentak Bambang ketika sudah ingat dengan sesuatu yang tadi dia lupa. "Duuuhh! Bambang susah banget dibujuk!" gumam Pak Didin. Bambang berjalan menghampiri Pak Didin, "Ini yang ketinggalan, Om. Kalau enggak ada ini, gimana aku bisa nambahin penghasilan kan Om?" ucap Bambang sambil meraih sebuah smartphone miliknya yang tadi diletakkannya di atas meja. "Ooh, ya sudah. Kamu pulang aja dulu, nanti om bisa ngabarin lagi." ucap Pak Didin. "Iya, Om!" seru Bambang sambil berjalan keluar rumah dan langsung menghampiri motor matiknya. Namun, Bambang kembali merasa melupakan sesuatu, "Eh sebentar, kayaknya masih ada yang kelupaan deh!" Bambang kembali berjalan masuk ke kediaman Lala. "Kenapa lagi, Mbang?! Ada lagi yang ketinggalan?" tanya Pak Didin yang masih duduk di sofa ruang tamu. "Eee.. Enggak, Om..." sahut Bambang. "Kayaknya kamu kurang tidur deh, Mbang. Kamu jadi pelupa gitu soalnya," ucap Pak Didin. "Kayaknya bener deh apa yang om bilang," sahut Bambang kemudian. "Nah, kalau gitu mending kamu pulang deh, tidur... Entar kalau keseringan lupa, rambut kamu bakalan cepet jadi huban, Mbang," ucap Pak Didin menjelaskan. 'Bener nih, kayaknya ayah Lala merestui aku sama Lala nih,' pikir Bambang karena merasa bahwa Pak Didin mengkhawatirkannya, "Ya udah, aku pulang dulu ya, Om." Bambang kembali menghampiri 'Kuda Hijaunya' dan langsung memacunya kembali pulang ke rumah kediamannya untuk segera tidur seperti yang sudah diusulkan oleh Pak Didin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN