Waktu di jam dinding sudah menunjukkan pukul empat subuh. Lala bangun dari tidurnya karena mendengar suara adzan subuh terdengar dari mushola yang berada dekat dengan rumah kediamannya.
"Duh! Udah adzan subuh!" Lala langsung beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju ke belakang rumah untuk mengambil air wudhu.
Setibanya di belakang rumah, Lala melihat Sindi adiknya yang sudah bangun lebih dulu.
"Sindi?" Lala menghampiri Sindi adiknya yang sudah selesai berwudhu, "Kamu kok nggak bangunin aku sih?!" tanya Lala kesal.
"Dari tadi kakak aku bangunin, tapi nggak bangun bangun, udah gitu tidurnya pake ngorok lagi! Huuu!" sahut Sindi.
"Eh, gitu ya?! He... Maaf deh," ucap Lala kemudian membuka kran air lalu berwudhu. Sementara Sindi lebih dulu kembali ke dalam rumah.
Setelah selesai berwudhu, Lala juga masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamarnya untuk sholat subuh.
Pak Didin berjalan lewat di depan kamar Lala yang tidak tertutup rapat dan gak sengaja mendengar untaian do'a yang diucapkan anak sulungnya itu.
"Ya Tuhan, Lala enggak minta banyak... Cuman, Lala enggak mau terus begini... Lala enggak pengen menyinggung perasaan Bambang... Tapi, Lala juga enggak mau kalau memaksakan apa yang Lala enggak kehendaki..."
Pak Didin sangat mengerti dengan apa yang diminta anak perempuannya itu di dalam do'anya. Perlahan Pak Didin berjalan menuju ke ruang tamu dan duduk di sofa sambil melantunkan syair-syair merdu.
Lala yang mendengar syair merdu yang dilantunkan ayahnya itupun langsung datang menghampiri ke ruang tamu.
"Eh, Lala... Duduk sini nak," ucap Pak Didin lembut sambil menepuk sofa di sebelahnya.
"Iya, Pak?" sahut Lala pelan sambil duduk tepat bersebelahan dengan Pak Didin.
Pak Didin menghela nafas, "Bapak boleh tanya sesuatu nggak sama kamu?"
"Emm..." Lala melirikkan bola matanya ke kiri atas sambil berpikir sejenak, "Mau nanya apa, Pak?"
"Kamu sama Bambang ada hubungan apa?" tanya Pak Didin dengan hati-hati.
"Enggak." Lala menggelengkan kepalanya, "Aku enggak ada hubungan apa-apa sama Bambang, Pak." Lala menjawab dengan tatapan serius.
"Terus, kenapa Bambang sering datang kesini?"
"Aku sih sebenarnya enggak suka, Pak. Tapi, aku juga ngerasa enggak enak sama Nenek Mirah."
Pak Didin menganggukkan kepalanya, "Ya sudah, nanti biar ayah yang bujukin Bambang," ucap Pak Didin pelan.
"Beneran, Pak?" tanya Lala tampak tersenyum dengan sangat senang dan Pak Didin membalasnya dengan senyum lembut sambil mengangguk.
Sementara itu di losmen, tepatnya di dalam ruang tunggu karyawan. Bambang sudah merasa tidak sabar untuk menunggu waktu saat pulang kerja karena dia sudah berniat untuk menjemput Lala di rumahnya lalu mengantarkannya lagi ke pasar.
'Habis ini aku masuk shift pagi atau shift malam sih?' Bambang berpikir sambil terus memandangi foto Lala yang terpampang di layar smartphonenya, 'Semoga aja seterusnya aku bisa masuk shift malam, biar bisa terus ketemu sama Lala, hihi.' Bambang tertawa pelan.
Sementara itu, Anton dan Solihin tampak lemas karena sudah beberapa kali bolak-balik ke kamar kecil karena sakit perut yang dialami mereka.
"Nton, lu bawa obat sakit perut nggak?" tanya Solihin lemas.
"Enggak, Hin. Barang kali di warung Pak De ada jualan obat. Lu ke sana gih beli obat," jawab Anton.
"Yah! Lu aja deh ke warung Pak De beli obat, gua lemes banget nih," sahut Solihin.
"Gua juga lemes, Hin..." ucap Anton, "Udah hampir delapan kali gua bolak-balik WC!" tambah Anton.
"Iya gua kan juga sama, Nton! Kan, tadi barengan ama lu juga!" sahut Solihin kemudian menyadari dengan keberadaan Bambang yang juga berada di ruang tunggu karyawan, "Oh iya, Bambang ada noh," sambung Solihin sambil menunjuk ke arah Bambang dengan mulutnya.
Anton menoleh ke arah Bambang, "Mbang, kita boleh nitip ama lu nggak?"
Namun, Bambang sepertinya tidak mendengar ucapan Anton karena sejak tadi masih asik memandangi foto Lala yang terpampang di layar smartphonenya.
"Mbang!" seru Anton memanggil, tapi Bambang tidak menyahut juga.
"Kayaknya dia lagi asik berimajinasi deh, Nton," ucap Solihin kemudian menggeleng heran ke arah Bambang.
"Bentar, gua cari sesuatu deh buat ngagetin dia!" Anton berdiri perlahan kemudian mengambil selebar tisu dari dalam tasnya lalu menggumpal tisu itu dan langsung melemparkannya ke tubuh Bambang.
"Eh!" Sontak Bambang tersadar dari lamunannya.
"Mbang!" seru Anton lagi memanggil Bambang.
"Ya, Nton?" tanya Bambang.
"Gua minta tolong dong," sahut Anton.
"Kamu mau minta tolong apa? Panggilin dokter?"
"Enggak lah! Gua nitip obat sakit perut, Mbang. Kali aja di warung Pak De ada jualan obat," ucap Anton pelan.
"Eemmmm..." Bambang tampak berpikir.
"Nih uangnya." Anton mengulurkan tangannya dengan memegang selembar uang dua puluh ribu ke arah Bambang, "Beliin obat sakit perut dua biji, buat gua sama Solihin. Nah, kembaliannya buat lu aja."
Seketika Bambang langsung mengiyakan karena mendengar bahwa uang kembalian dari membeli obat itu untuknya, 'Lumayan nih.'
Bambang beranjak dari tempat duduk menghampiri Anton dan langsung meraih uang yang dipegang Anton.
"Kalian tunggu disini ya," ucap Bambang kemudian berjalan keluar dari ruang tunggu karyawan dan tidak sengaja berpapasan dengan Pak Rondo yang juga keluar dari ruangannya.
"Kamu mau kemana, Mbang?" tanya Pak Rondo.
"Saya mau ke warung di depan, Bos," jawab Bambang.
"Mau makan?" tanya Pak Rondo lagi.
"Enggak, Bos." Bambang menggelengkan kepalanya, "Mau beli obat sakit perut, di depan," sambung Bambang.
"Nah, pas banget."
"Kenapa, Bos?" Bambang perlahan berjalan mendekat ke arah Pak Rondo.
Pak Rondo mengambil uang dari dalam saku bajunya, "Ini, saya mau nitip sama kamu," ucap Pak Rondo sambil mengangkat tangan Bambang dan meletakkan selembar uang berwarna biru ke dalam telapak tangan Bambang.
"Nitip apa, Bos?"
"Beliin saya gorengan di warung di depan," jawab Pak Rondo.
"Gorengan...? Tapi, kayaknya kalau jam segini udah dingin, Bos," ucap Bambang.
"Iya, enggak apa-apa." Pak Rondo berbalik badan dan hendak membuka pintu ruangannya.
"Bentar, Bos. Ini gorengannya berapa biji?" tanya Bambang.
"Beliin semuanya aja, Mbang," sahut Pak Rondo sambil membuka pintu ruangannya dan masuk.
"Beliin semuanya?" Bambang menatap selembar uang dengan nominal lima puluh ribu yang tadi diberikan oleh Pak Rondo, "Kayaknya sih gorengannya enggak cukup," gumam Bambang, "Tapi, aku liat dulu deh, kali aja Pak De punya stok gorengan." Bambang lanjut berjalan keluar losmen dan langsung menghampiri Pak De di warungnya.
"Eh, Bambang? Ada apa, Mbang?" tanya Pak De.
"Pak De ada jual obat sakit perut nggak?"
"Saya nggak jualan obat, Mbang," jawab Pak De.
"Yaah, terus dimana ya Pak De ada orang jualan obat jam segini?"
"Kalau jam segini sih nggak ada apotek yang buka, Mbang."
Bambang mengangguk.
"Oh iya!" Pak De tiba-tiba teringat sesuatu kemudian menarik laci yang ada di meja warungnya dan mengambil sesuatu dari dalam laci itu, "Kebetulan tadi saya juga sakit perut, Mbang. Tapi, kayaknya sekarang udah enggak sakit lagi deh. Ini juga saya kebanyakan beli obatnya," ucap Pak De sambil meletakkan sebuah plastik klip berisi beberapa strips obat ke atas meja, "Ini saya kasih buat kamu aja deh, Mbang," sambung Pak De.
"Beneran, Pak De?!" Bambang tersenyum lebar seketika.
"Iya, ambil aja..." Pak De menggeser sebuah plastik klip berisi beberapa strip obat mendekatkan ke arah Bambang.
"Makasih banyak, Pak De." Bambang langsung mengambil plastik klip berisi obat itu, 'Asiik! Beneran rezeki di atas rezeki nih hari ini.'
"Iya, sama-sama," sahut Pak De tersenyum.
"Oh iya, gorengannya masih ada nggak, Pak De?" tanya Bambang sambil celingak-celinguk ke arah meja.
"Ada nih, sisa lima belas biji lagi. Tapi, udah dingin kayaknya sih, Mbang..."
"Enggak apa-apa, Pak De," sahut Bambang yang masih tampak senyum lebar di raut wajahnya, "Beli semuanya ya, Pak De..."
"Dibungkus?"
"Iya, dibungkus aja."
"Bentar ya." Pak De memasukkan kelima belas gorengan ke dalam sebuah kantong plastik lalu menyerahkannya kepada Bambang.
"Ini uangnya, Pak De." Bambang menyerahkan selembar uang dengan nominal dua puluh ribu kepada Pak De.
"Udah, nggak usah... Saya kasih buat kamu aja, lagian gorengannya juga udah dingin."
"Beneran, Pak De?!" Bambang semakin melebarkan senyumnya.
"Iya, buat kamu aja."
"Waah! Makasih banyak, Pak De!" seru Bambang dengan sangat senang.
"Iya, sama-sama..."
"Ya udah, saya mau ke losmen lagi deh, Pak De."
"Iya..."
Kemudian masih dengan tersenyum lebar, Bambang melangkah sambil menjinjing sebuah kantong plastik berisi gorengan di tangan kanannya dan memegang sebuah plastik klip berisi beberapa obat kembali masuk ke dalam losmen dan langsung menemui Pak Rondo di ruangannya.
"Bos...." Bambang membuka pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan manager menghampiri Pak Rondo, "Ini gorengannya cuman ada lima belas biji, Bos." Bambang meletakkan sebungkus gorengan di atas meja kerja Pak Rondo kemudian ingin mengambilkan uang yang tadi dititipkan oleh Pak Rondo.
"Udah! Kamu simpan saja kembaliannya, Mbang!" ucap Pak Rondo seketika.
"Tapi..."
"Udah... Kembaliannya buat kamu aja." pungkas Pak Rondo memotong ucapan Bambang.
"Anu..."
"Udah..." pungkas Pak Rondo lagi.
"I-iya deh, Bos..." ucap Bambang pasrah, tapi merasa senang, 'Aduh... Padahal kan, aku mau bilang kalau gorengannya gratis... Tapi, ya udah ah!' gumam Bambang dalam hati sambil tetap berdiri di depan Pak Rondo yang sedang duduk bersantai.
"Ada apa lagi, Mbang?" Pak Rondo menatap Bambang yang masih berdiri di depannya.
"Eeee.. Anu, Bos. Anu..."
"Kamu mau?!" pungkas Pak Rondo lagi memotong ucapan Bambang, "Tolong ambilin saya piring di dapur, Mbang," sambung Pak Rondo.
"I-iya, Bos." Bambang langsung bergegas keluar dari ruangan manager dan langsung berjalan menuju dapur losmen untuk mengambilkan piring lalu kembali lagi ke dalam ruangan Pak Rondo dan meletakkan piring yang tadi sudah diambilnya dari dapur losmen ke atas meja tepat di depan Pak Rondo.
"Bentar ya, Mbang..." Pak Rondo meletakkan semua gorengan dari dalam kantong plastik ke atas piring yang tadi dibawakan Bambang. Kemudian kembali memasukkan lima biji gorengan ke dalam kantong plastik. Sedangkan Bambang masih bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh bosnya itu.
"Anu, Bos... Saya mau tanya," ucap Bambang hati-hati.
"Mau nanya apa, Mbang?"
"Besok saya masuk shift apa, Bos?"
"Oh.. Besok kamu masuk sama kayak hari ini aja," jawab Pak Rondo.
"Baik, Bos..." Bambang mengangguk pelan.
"Ini buat kamu, Mbang." Pak Rondo menyerahkan sebuah kantong plastik berisi lima biji gorengan kepada Bambang.
"I-iya, terima kasih, Bos," ucap Bambang sambil mengambil sebuah kantong plastik berisi gorengan itu, "Saya kembali ke ruang tunggu ya, Bos.." sambung Bambang pelan.
"Iya iya, sudah sana..." Pak Rondo mengibaskan telapak tangannya mengisyaratkan agar Bambang cepat-cepat keluar dari ruangannya.
Bambang berjalan ke arah pintu yang merupakan jalan pintas langsung menuju ke ruang tunggu karyawan.
"Nah, ini dia si Bambang..." Anton tampak kesal karena merasa sangat lama menunggu kedatangan Bambang.
"Dari mana aja lu sih?!" tanya Solihin yang juga kesal.
"Aaa... Tadi aku dari."
"Udah! Nggak penting! Sini mana obatnya?!" tanya Anton.
"Nih obatnya." Bambang menyerahkan sebuah plastik klip berisi beberapa strips obat kepada Anton.
"Serius nih, Mbang?!" Anton terkejut dengan obat yang diberikan Bambang.
"Serius kenapa?" Bambang tampak heran.
"Nih obat kan, harganya mahal, Mbang?!" seru Anton, "Emang lu beli dimana sih?"
"Nggak penting aku belinya dimana! Udah kalian minum obat aja!" seru Bambang membalas kemudian menghampiri ke arah tasnya lalu memasukkan sebungkus gorengan yang tadi diberikan oleh Pak Rondo ke dalam tasnya, 'Udah obatnya gratis dikasih Pak De, dapet dua puluh ribu... Terus, gorengannya juga gratis dikasih Pak De, dapet lima puluh ribu.. Jadi, semuanya tujuh puluh ribu... Wah! Ini sih bukan rezeki di atas rezeki lagi namanya. Tapi, rezeki nomplok di atas rezeki nomplok,' gumam Bambang dalam hati sambil menunjukkan senyum yang sangat lebar dari raut wajahnya.