Bab 35

1119 Kata
Setelah libur sebentar karena kemarin sakit, seperti biasanya Bambang bergegas bangun untuk kembali ke rutinitasnya sebagai office boy di losmen tempat dia bekerja. Namun, karena tadi malam tidur Bambang terganggu, akhirnya ia pun bangun kesiangan. Bambang langsung beranjak bangun dari tempat tidur kemudian menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, "Astaga! Aku telat!" seru Bambang lirih seketika bergegas turun dari lotengnya dengan tidak lupa untuk membawa handuk kecil dan langsung menuju ke kamar mandi yang letaknya ada di bagian dapur. Namun, sesampainya Bambang di sana, ia melihat Nanda yang sedang sibuk berberes-beres di dapur. "Duh! Gimana nih!" Bambang langsung menghentikan langkahnya tepat di depan pintu dapur kemudian berbalik arah dan berjalan menuju ke ruang tamu, "Nunggu di sini aja deh!" gumam Bambang kemudian menduduki sofa ruang tamu. Ketika di ruang tamu, tampak wajah Bambang semakin cemas karena menatap jam dinding yang berada di atas televisi di ruang tamu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan tepat, sedangkan Nanda istrinya Rudi belum juga selesai di dapur, "Masih lama nggak sih!" gumam Bambang kesal sambil beranjak berdiri dari sofa kemudian kembali ke dapur untuk melihat apakah Nanda sudah selesai. Namun saat Bambang kembali tiba di dapur, ia melihat lagi Nanda yang keluar masuk kamar mandi karena sedang membersihkan ruangan dapur di kediaman Bambang. "Huuuhhh!!!" Bambang menggerutu kesal sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, "Nggak tau apa orang mau kerja! Lagian ngapain sih dia!" Bambang mendengus kesal, sedangkan Nanda yang melihat kedatangan Bambang hanya menyunggingkan senyum ke arah Bambang sambil terus mempel lantai ruangan dapur. "Cuci muka aja deh!" gumam Bambang kesal kemudian menghampiri lemari es dan mengambil sebotol air dingin. Dengan langkah kesal Bambang menuju ke depan rumahnya lalu mengguyur seluruh bagian wajahnya tepat di teras kediamannya dengan air dingin yang tadi diambilnya dari dalam lemari es. "Uuhh... Sejuknya...." Bambang menikmati dinginnya air yang menyentuh kulit di wajahnya, "Enakan gini, sejuk... Dari pada pake air kran... Hihi..." ucap Bambang lirih kemudian kembali masuk ke dalam rumah sambil mengeringkan wajahnya yang sedikit basah dengan handuk kecil yang dibawanya tadi. Padahal sebenarnya Bambang memang sudah terbiasa jika ingin berangkat kerja ia hanya membasuh wajahnya saja, dan bisa dihitung dengan jari total Bambang mandi sebelum berangkat ke tempat kerjanya dalam kurun waktu sebulan. Bambang bergegas untuk menaik 'Kuda Hijaunya' yang terparkir tepat di depan rumah kediamannya kemudian menghidupkan mesin dan langsung pergi. "Huh! Bikin orang telat aja tuh cewe!" Bambang menggerutu kesal dengan menyalahkan Nanda yang tadi bolak-balik dapur dan kamar mandi karena sedang membereskan peralatan dapur yang tampak tak terawat. Padahal yang sebenarnya, walaupun Nanda tidak disana, Bambang tetap saja terlambat ke tempat kerjanya karena bangun kesiangan. Namun, Bambang tetap saja menyalahkan Nanda dan tak mau menyalahkan dirinya sendiri. "Oh iya! Gimana kalau aku jemput Lala aja?!" pikir Bambang saat berhenti di lampu merah ketika mengendarai 'Kuda Hijaunya' dan melihat dua pasangan pria dan wanita yang sedang berboncengan. Kemudian, saat ada jalur untuk memutar balik, Bambang langsung berbalik arah lalu dengan sangat cepat memacu 'Kuda Hijaunya' menuju ke rumah kediaman Lala untuk menjemputnya. Tok Tok Tok "Lala..." Bambang mengetuk pintu rumah kediaman Lala. GLEKK! Pintu dibukakan seseorang yang ternyata adalah Sindi. "Eh." Bambang tekejut lalu tersipu ketika melihat Sindi yang membukakan pintu, "Lala-nya a-ada nggak?" tanya Bambang terbata-bata. "Ada," jawab Sindi singkat dengan raut wajahnya yang merangut kemudian masuk dan memanggil Lala. Tak lama kemudian, Lala menghampiri Bambang di depan rumah. "Ya, Mbang? Ada apa?" tanya Lala heran. "Kamu hari ini kerja, kan?" sahut Bambang balik bertanya. "Iiyaa..." jawab Lala ragu, "Emangnya kenapa, Mbang?" sambung Lala bertanya. "Kamu mau aku antar ke pasar nggak, La?" sahut Bambang balik bertanya lagi. "Eemmm...." Lala terdiam sambil berpikir sejenak, 'Aku sih sebenarnya males banget ikut sama Bambang, tapi lumayan dapet tumpangan dari pada naik ojek, hihi'. "Iya deh, Mbang," ucap Lala menerima tawaran Bambang yang ingin mengantarkannya ke pasar. "Ya udah, aku ke dalam dulu, mau ngambil tas," sambung Lala kemudian masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian kembali lagi ke depan rumah menghampiri Bambang. Bambang lebih dahulu menaiki 'Kuda Hijaunya' dan menyalakan mesin. "Tumben cepat motor kamu hidup, Mbang?" ucap Lala menanyakan tentang motor matiknya Bambang sambil naik dan duduk di belakang Bambang. "Hee, i-iya..." sahut Bambang gugup, kemudian hidungnya menghirup aroma wangi yang berasal dari tubuh Lala, "Waah! Wangi banget..." ucap Bambang lirih dan sedikit terdengar di telinga Lala. "Hah?! Kenapa, Mbang?" tanya Lala yang tidak mendengar dengan jelas apa yang tadi dikatakan Bambang. "Eh, e-enggak kok, La," jawab Bambang cengengesan kemudian perlahan menjalankan 'Kuda Hijau-nya' menuju ke pasar dengan membonceng Lala di belakang untuk mengantarkannya ke pasar. Sesampainya di pasar tempat Lala bekerja, bukannya langsung menuju ke losmen, Bambang malah mengikuti Lala menuju ke toko dan membuat Lala menjadi bingung. "Makasih ya, Mbang..." ucap Lala seraya menyunggingkan senyumnya ke arah Bambang. "Iya, La... Sama-sama," sahut Bambang balas tersenyum. Kemudian Lala pun langsung berjalan ke dalam pasar dan langsung menuju ke toko. Namun, Bambang malah mengikutinya masuk ke dalam pasar, "Kok malah ngikut sih?!" gumam Lala bingung melihat Bambang yang berjalan di sampingnya. "Kamu nggak kerja, Mbang?" tanya Lala. "I-iya, kerja kok," jawab Bambang. "Ooh, kamu kerjanya shift malam ya?" tanya Lala lagi menerka. "Enggak, aku masuknya siang, kok," jawab Bambang. "Oooh, siang.." Lala mengangguk. Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan toko pakaian dimana Lala bekerja. "Makasih ya, Mbang," ucap Lala seraya menyunggingkan senyum ke arah Bambang. "Waaah! Lala ngasih senyum ke aku!" Bambang tampak senyum selebar-lebarnya sehingga membuat Lala menjadi heran. "Iiih!" Itunya pada kuning semua! Nggak pernah gosok gigi kali, ya?!" gumam Lala dalam hati mulai merasa geli ketika melihat gigi Bambang yang tak pernah dia sikat, "Ya udah, aku kerja dulu, Mbang...." ucap Lala langsung berjalan masuk ke dalam toko sambil bergidik geli. "Jorok banget sih si Bambang?!" Setelah melihat Lala yang masuk ke dalam toko, Bambang berniat kembali ke depan pasar. Namun, saat dia berbalik badan, ia melihat warung Ibu Mimin yang baru saja buka. "Nah, pas banget ada warung, aku kan belum sarapan?" gumam Bambang kemudian berjalan menuju warung yang letaknya bersebelahan dengan toko tempat Lala bekerja. Saat Bambang tiba di warung, ternyata dia melihat Sandi yang sudah ada di sana lebih dulu. "Eh, Bambang," sapa Sandi yang sedang duduk di kursi panjang di depan warung. "Hm," jawab Bambang singkat sambil duduk di kursi panjang di depan warung bersebelahan dengan Sandi. "Bu, pesan kopi hitam pake es ya, Bu," ucap Bambang. "Iya, Mbang, bentar ya..." sahut Ibu Mimin pemilik warung. "Bu, saya juga ya, Bu," ucap Sandi yang memesan sama dengan pesanan Bambang. "Iya...." sahut Ibu Mimin lagi. Bambang heran dengan Sandi yang juga ikut-ikutan memesan es kopi hitam, "Kok dia mesannya sama kayak pesanan aku sih?!" Sementara Ibu Mimin dengan raut wajah semringah bersemangat menyiapkan pesanan Bambang dan Sandi yang sama-sama memesan kopi hitam dengan es.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN