Bab 36

1037 Kata
Bambang merasa sangat bingung karena melihat Sandi yang ikut memesan es kopi hitam yang sama dengan pesanannya. "Ini, silahkan diminum." Ibu Mimin meletakkan dua gelas es kopi hitam di depan Bambang dan Sandi kemudian sebentar melirik ke arah gorengan jualannya yang hanya ada beberapa. Sandi mulai mengambil sebuah gorengan dan kemudian menyantapnya. "Wah! Kalau segitu, kayaknya nggak cukup deh.." gumam Ibu Mimin dalam hati kemudian bergegas kembali ke dalam warung untuk memasak gorengan lagi. Sementara Bambang merasa lapar ketika melihat sebuah piring berisi beberapa gorengan yang ada di atas meja dan melihat Sandi yang dengan nikmat menyantapnya, "Duh, laper sih, tapi uangku nggak cukup kalau beli gorengan..." gumam Bambang dalam hati sambil terus menatapi Sandi yang menyantap gorengan itu. Sandi menyadari bahwa Bambang sejak tadi sedang memerhatikannya menyantap gorengan, "Mbang, kalau lu mau gorengan, ambil aja," ucap Sandi. "Hm." Bambang hanya mengangguk kemudian meraih gelas berisi es kopi hitam di depannya dan langsung menyeruputnya bagai kopi panas. "Tenang aja, gua yang traktir..." ucap Sandi lagi sambil menyatap gorengan di tangannya. "Hah! Ditrakir?!" pikir Bambang dan dengan cepat meraih sebuah piring kecil lalu menuangkan petis ke dalam piring itu, kemudian mengambil sebuah gorengan dan mencocolnya dengan petis lalu langsung menyantapnya. Sandi beranjak berdiri dari kursi, "Bu, aku ke toko dulu, nanti Bambang biar saya yang bayarin....!" seru Sandi. "Iya....!" seru Ibu Mimin terdengar samar dari dalam warung. Sandi pun berjalan menjauh dari warung menuju ke toko yang bersebelahan dengan warung tadi dan meninggalkan Bambang di sana. "Wah! Sandi udah pergi..." gumam Bambang seketika, kemudian berpikir sejenak sambil mengunyah gorengan yang ada di dalam mulutnya, "Kesempatan nih!" Bambang mulai tersenyum menang lalu mengambil sebuah piring kecil lagi dan meletakkan gorengan yang tersisa di piring besar ke dalam piring yang dipegangnya. Dengan lahapnya Bambang menyantap gorengan yang dijual di warung Ibu Mimin sampai tidak terasa Bambang sudah menghabiskan semua gorengan yang ada. "Hhhmmm... Lumayan kenyang..." ucap Bambang lirih kemudian kembali menyeruput es kopi hitamnya. Kemudian Ibu Mimin datang dengan membawa gorengan hangat yang baru matang dan meletakkannya ke dalam piring besar. "Ini, mau gorengannya lagi enggak?" tanya Ibu Mimin. Melihat gorengan yang baru dibawa Ibu Mimin, Bambang kembali merasa lapar lalu mengambil lagi beberapa gorengan dari piring besar ke dalam piring kecil dan langsung menyantap gorengan dengan cocolan petis dari piring kecil yang satunya. Saking asiknya Bambang menyantap semua gorengan sampai habis, ia teringat tentang kerjaannya, "Astaga! Aku lupa!" Bambang tersentak saat menyadari bahwa hari ini dia bekerja. Bambang pun segera beranjak dari kursi. "Udah kenyang, Mbang?" tanya Ibu Mimin seketika menoleh ke arah depan ketika merasa Bambang berdiri. "Hah! I-iya, Bu," jawab Bambang. "Gorengannya berapa biji?" tanya Ibu Mimin. "Lima belas, Bu," jawab Bambang singkat. "Ini masih ada sisa sepuluh biji, mau dibawa pulang sekalian nggak?" tanya Ibu Mimin lagi. Mendengar tawaran itu, Bambang pun langsung mengiyakan karena dipikirnya bukan dia juga yang bayar. "Lumayan nih, buat ganjel perut di kerjaan...." "Iya, Bu... Bungkusin deh," ucap Bambang tersenyum. "Ya udah, bentar ya..." Ibu Mimin pun langsung memasukkan semua gorengan yang tersisa ke dalam kantong plastik dan tak lupa juga memasukkan petis yang sudah dibungkusnya dengan plastik klip kecil. Bambang pun bergegas menelusuri jalan ke depan pasar dan langsung menuju ke parkiran di mana 'Kuda Hijau-nya' berada, kemudian Bambang langsung memacunya untuk segera tiba di losmen tempat dia bekerja. Tak berapa lama, akhirnya Bambang pun sampai di tempat kerjanya dan melihat Pak Rondo yang berdiri di depan pintu losmen. Namun, Bambang berpura-pura tidak melihat dan tetap mengendarai 'Kuda Hijau-nya' menuju ke parkiran Losmen. "Duuh.... Gimana nih, ada bos lagi, di depan...." Bambang tampak cemas sambil berjalan menuju ke depan pintu losmen. "Bambang!" bentak Pak Rondo dengan berkacak pinggang setelah Bambang tiba di hadapannya. "I-iya, Pak..." sahut Bambang lirih seketika menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan raut wajahnya yang mulai takut. "Ngapain kamu kesini?!" bentak Pak Rondo lagi. "Ke-ke-kerja, Bos..." sahut Bambang pelan dan terbata-bata dengan terus menyembunyikan raut wajahnya yang masih takut. "Kamu tahu kan, kalau kerja itu harus ada aturan! Kamu sudah beberapa kali saya maafkan, tapi kamu tetap saja melakukan kesalahan yang sama!" Pak Rondo terus saja memarahi Bambang sampai terdengar oleh Ifan, Joni, dan Solihin yang ada di dalam losmen tepat duduk di meja resepsionis. Bambang terdiam seribu bahasa karena tak tahu harus berbuat apa. Pak Rondo menghela nafas, "Kalau kamu masih sakit, mendingan kamu pulang dan nggak usah masuk kerja aja dulu..." Pak Rondo menurunkan volume suaranya. Mendengar ucapan Pak Rondo, seketika merasa kecewa karena akan lebih lama memakan waktu mengumpulkan uang untuk melamar Lala, "Ta-tapi, sa-saya mau ke-kerja, Bos," ucap Bambang pelan dan terbata-bata. "Ya sudah! Kalau kamu mau masuk kerja hari ini, nanti sore aja kamu datang lagi!" "Ja-jadi, saya ganti shift, Bos?" tanya Bambang. "Iya! Soalnya hari ini saya sudah minta Solihin buat gantikan kamu siang ini!" "I-iya, Bos..." sahut Bambang pelan sambil mengangguk dan masih menundukkan kepalanya. Pak Rondo pun langsung masuk ke dalam losmen dan lewat tepat di depan Ifan, Joni, dan Solihin yang ada di depan meja resepsionis. "Apa liat-liat! Kalau nge-fans bilang aja!" bentak Pak Rondo sambil berjalan memasuki ruangannya yang sontak membuat Ifan, Joni, dan Solihin langsung menundukkan kepala mereka. "Diih... Nge-fans apaan coba..." dengkus Solihin lirih karena tidak terima dia dibilang nge-fans dengan Pak Rondo. Sementara Bambang dengan langkah lunglai kembali ke parkiran dan menghampiri 'Kuda Hijau-nya' di sana. "Baik banget sih, si Bos... Hihi..." Bambang tampak senang karena kesalahannya yang terlambat masuk kerja dimaafkan oleh Pak Rondo, "Asik bisa istirahat lagi di rumah..." Bambang mulai menaiki 'Kuda Hijau-nya' dan langsung memacunya kembali menuju ke kediamannya. Namun, saat di tengah perjalanan menuju pulang ke kediamannya, Bambang kembali teringat bahwa di rumah sedang ada Rudi yang bersama istrinya, dan juga Owel pasti ada di sana. "Tapi, apa aku bisa istirahat ya? Kalau di rumah, Owel sama Rudi pasti ribut main game! Apalagi nambah satu orang, itu istrinya Rudi... Huh!" Bambang bergumam lalu mendengus kesal sambil tetap memacu 'Kuda Hijau-nya' menuju ke kediamannya. Tidak lama kemudian, Bambang pun sampai di depan rumah kediamannya dan memarkirkan 'Kuda Hijau-nya' tepat di depan rumah. Kebiasaan Bambang kembali muncul, dan seperti biasa Bambang selalu memarkirkan motor matiknya sembarangan yang memakan jalan. Bik Mumun ibunya Owel terus saja menegur Bambang, bahkan sampai memarahinya. Namun, Bambang tidak memperdulikannya dan tetap meneruskan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN