Bab 37

1027 Kata
Sambil melangkah memasuki rumah, Bambang berharap agar tidak bertemu dengan Rudi dan Owel. Namun, harapannya musnah setelah melihat Owel dan Rudi yang bersama Nanda sedang duduk di sofa ruang tamu. "Benar kan!" Bambang mendengus kesal sambil berjalan langsung menuju dan menaiki tangga sampai tiba di lotengnya. Bambang langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur untuk segera beristirahat dan berharap agar lekas sore. Namun, istirahat Bambang tetap terganggu karena suara ribut dari Rudi dan Owel yang sedang 'Mabar'. Bambang terus memaksa kedua matanya untuk tetap terpejam sampai suasana mulai hening, entah apa yang Owel dan Rudi sedang lakukan sehingga tidak berisik lagi. "Nah, sekarang kayaknya aku bisa tidur...." "Yaaah!!! Kalah... Elu sih Rud!" Tiba-tiba Owel berteriak. "Hee, iya, maaf maaf..." Suara Rudi juga terdengar, namun sedikit pelan. Bambang langsung membelalakkan kedua matanya karena terkejut mendengar teriakan Owel yang tiba-tiba begitu. "Huuuhhh!!!" Bambang menggerutu kesal sambil terus-terusan menggaruk bagian belakang kepalanya walaupun tidak merasa gatal. Kedua mata Bambang terus saja terpejam, namun telinganya masih mendengar suara Owel dan Rudi yang sedang asik 'mabar' sampai tidak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul empat tepat sore hari. Bambang berduduk di atas tempat tidurnya dengan raut wajah kesal karena gagal tidur. "Tau gini mending aku bantuin Lala aja di pasar! Huh!" Bambang beranjak dari tempat tidurnya, lalu turun dari loteng untuk langsung menuju ke kamar mandi. Saat berjalan dari ruang tamu, Bambang merasa sangat kesal ketika melihat Owel dan Rudi yang masih saja bermain game online. "Nggak sakit apa tuh mata ngeliat hp mulu!" Bambang menggerutu seketika berlalu di ruang tamu dan langsung menuju ke kamar mandi yang ada di dapur. Namun, saat Bambang tiba di depan kamar mandi, dia mendapati lagi bahwa di dalam kamar mandi sedang ada seseorang. "Ini siapa lagi sih yang make kamar mandi!" Bambang kembali menggerutu kemudian duduk di meja makan untuk menunggu siapa yang keluar dari dalam kamar mandi. Sampai tidak sadar karena saking lamanya menunggu sambil duduk di meja makan, Bambang tertidur dengan kepalanya yang beralaskan kedua lengannya di atas meja. Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. JLEKK!!! Sontak Bambang langsung mengangkat kepalanya dan bersiap memasang wajah kesalnya. Namun, ternyata Bambang melihat Nanda istrinya Rudi yang keluar dari kamar mandi itu. "Eh, Bambang... Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Nanda seraya menyunggingkan senyum manisnya ke arah Bambang. Seketika Bambang merasa terhipnotis karena senyuman Nanda yang seakan menembus semua rasa kesalnya. Jelas saja kekesalan Bambang yang tadi sirna seketika. "Hah? E-enggak kok..." jawab Bambang terbata-bata sambil tersipu malu kemudian langsung mengambil sebotol air dingin dari dalam lemari es. "A-aku cuman mau ngambil air doang, kok...." Kemudian Bambang langsung keluar dari dapur dan kembali ke lotengnya untuk berganti pakaian. "Duuuhh!!! Kok aku malah nggak jadi marah sih...." gumam Bambang merasa kesal kembali, "Tapi, senyumannya itu loh..." Bambang tersenyum sendiri sambil mengenakan seragam losmennya, kemudian imajinasinya pun muncul. 'Nanda sedang memasangkan seragam Bambang. Satu per satu kancing baju dipasangkan Nanda.' Padahal sebenarnya Bambang mengancing bajunya sendiri, namun begitulah khayalannya Bambang. "Eh, enggak enggak! Aku kan, udah punya Lala?! Ngapain lagi aku harus berpindah hati?!" Bambang langsung tersadar karena memusnahkan khayalannya kemudian langsung turun dari loteng menuju ke ruang tamu. "Loh! Owel sama Rudi kemana?" pikir Bambang seketika saat tiba di ruang tamu dan tidak melihat Owel dan Rudi di sana. Kemudian Bambang lanjut berjalan keluar rumah dan berniat untuk menghampiri 'Kuda Hijau-nya' yang terparkir di depan rumah kediamannya. 'Astaga! Aku lupa kalau ada gorengan.' Bambang bergegas menghampiri 'Kuda Hijau-nya' dan melihat sebuah kantong plastik berwarna putih berisi gorengan yang dibawanya dari pasar dan masih menggantung di bawah stang motor matiknya. "Syukur nggak ilang..." Bambang menghela nafas lega, "Untung aja masih ada! Kalau ilang, udah pasti tuh pelakunya Owel sama Rudi, mereka kan, makannya rakus! Wuuu!" Dengan seenaknya Bambang menuduh Owel dan Sandi jika gorengannya hilang. "Aku kan, buat nanti malam kalau laper," pikir Bambang sambil menaiki 'Kuda Hijau-nya', dan langsung memacunya menuju ke tempat kerjanya. Sesampainya di parkiran khusus karyawan di losmen tempat dia bekerja dan memarkirkan 'Kuda Hijau-nya'. Bambang menatap ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit, "Wah! kayaknya aku kecepetan deh..." gumam Bambang lirih, "Ya udah, aku ke warungnya Pak De aja deh! Waktunya masih lama." Bambang langsung berjalan menuju ke warung Pak De yang letaknya tepat di depan losmen tempat dia bekerja. Bambang merasa aneh saat sampai di warung Pak De dan melihat beberapa orang yang sedang dengan nikmat menyeruput es kopi hitam, "Loh?! Itu kan kopi kesukaan aku!" Bambang mendengus kesal sambil duduk di kursi panjang di warungnya Pak De. "Eh, Bambang?! Dari mana aja? Kok kamu lama nggak kelihatan?" tanya Pak De. "Hah?? Sakit, Pak De," jawab Bambang dengan wajah datar. "Loh, sakit apa emangnya?" "Ya sakit...!" jawab Bambang singkat. Sontak Pak De pun menjadi bingung sendiri mendengar ucapan Bambang yang menjawab pertanyaannya. "Kamu mau pesan apa?" tanya Pak De kemudian. Namun, tanpa mengucapkan apapun, Bambang malah beranjak berdiri, "Nggak. Nanti aja Pak De," jawab Bambang kemudian pergi dari warung menuju ke arah losmen dan memasukinya. "Nanya mulu! Udah kayak wartawan aja! Huh!" Bambang mendengus kesal sambil melangkah memasuki losmen. Bambang langsung berjalan menuju ke ruang tunggu karyawan untuk meletakkan tasnya. Tapi, sebelum meletakkan tasnya di atas kursi di ruang tunggu karyawan, Bambang membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik berwarna putih yang di dalamnya berisi gorengan. "Dari pada aku makan di warung Pak De, mending aku makan ini di sini... Kan, lumayan nggak bayar, hihi...." pikir Bambang sambil menyantap sepotong gorengan di tangannya. "Kayaknya ada yang kurang nih..." Bambang mengerutkan keningnya, "Oh iya, aku lupa petisnya...!" Kemudian Bambang mengambil sebuah bungkus klip kecil dari dalam kantong plastik putih dan perlahan membuka klipnya untuk dapat mencocol petisnya. "Tapi susah kalau gini.... Mending aku minjem piring di dapur ah..." Bambang beranjak dari kursi kemudian berjalan menuju ke pintu depan ruang tunggu untuk pergi ke dapur. Namun, saat Bambang hendak membuka pintu, ia berpikir kalau lupa untuk kembali memasukkan sebungkus gorengannya ke dalam tas, "Aku lupa! Entar gorengan punyaku malah di habisin orang! Wuu..." Bambang bergegas kembali menghampiri ke kursi dimana tasnya berada dan langsung memasukkan bungkusan gorengan yang tadi di keluarkannya kembali ke dalam tas lalu berjalan kembali menuju ke dapur untuk meminjam piring.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN