Anton tiba di dalam ruang karyawan, tapi ia tak melihat batang hidung Bambang di mana pun.
"Bambang mana sih?" gumam Anton dalam hati setelah menyebarkan pandangannya kesegala penjuru ruang tunggu karyawan, "Bambang... Bambang..." Anton menggeleng, kemudian ia bergegas kembali menghampiri Pak Rondo di meja resepsionis.
"Lah, mana Bambang?" tanya Pak Rondo menoleh ke arah Anton setelah ia mendengar suara pintu yang dibuka.
"Nggak ada, Bos," jawab Anton sambil berjalan menghampiri Pak Rondo.
"Aduh...! Gimana ini, saya harus cepet...." Wanita cantik itu tampak cemas.
"Mohon tunggu sebentar lagi ya, Mbak," ucap Pak Rondo menyabari wanita cantik yang sejak tadi berdiri di depan meja resepsionis, "Nton, coba cari di kamar, mungkin Bambang ke sana...!" seru Pak Rondo sembari menoleh ke arah Anton yang sudah berdiri di sampingnya.
"Iya, Bos...." Anton kemudian bergegas menelusuri lorong losmen tepat menuju ke kamar yang belum di bereskan Bambang.
Sambil berjalan, Anton menyembunyikan raut wajahnya yang sudah mulai tampak kesal karena ulah Bambang sehingga ia di suruh Pak Rondo untuk mondar-mandir mencari Bambang.
"Awas aja lu kalau ketemu, Mbang...!" gumam Anton kesal sambil melangkah dengan menghentak.
Tak berapa lama, Anton tiba di depan kamar nomor dua puluh lima. Anton membuka pintu kamar tersebut, tapi ia juga tetap tak melihat batang hidung si Bambang.
"Nggak ada..." Anton mengerutkan kedua keningnya. "Oh, mungkin dia ada di kamar berikutnya..." pikir Anton lagi kemudian berlanjut mencari Bambang di kamar berikutnya.
Setelah menaiki tangga tepat di lantai tiga, Anton akhirnya tiba tepat di depan pintu kamar yang bertuliskan nomor tiga puluh empat. Perlahan Anton membuka pintu kamar tersebut, tapi tetap saja ia tak menemukan Bambang di dalam sana.
"Lah, nggak ada juga...!" gumam Anton kesal, kemudian ia memasuki kamar tersebut dan melihat keadaan kamar yang masih belum di bereskan, "Kalau belum di beresin berarti Bambang belum kesini..." pikir Anton sambil perlahan berjalan keluar kamar hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar, "Bentar, gua curiga kalau Bambang lagi ngekhayal di kamar kecil deh..." gumam Anton.
Anton berbalik badan dan kembali memasuki kamar, lalu ia langsung menuju kamar mandi di dalam kamar tersebut.
"Bambang...!" seru Anton seketika membuka pintu kamar mandi, tapi Bambang tetap tidak ada, "Nggak ada..." gumam Anton heran, "Ah udahlah gua capek mondar-mandir...."
Dengan langkah kesal Anton kembali menghampiri Pak Rondo di meja resepsionis.
"Gimana? Ketemu?" tanya Pak Rondo seketika ketika melihat Anton yang hampir sampai menghampirinya.
Anton menggeleng, "Enggak ketemu, Bos..." sahut Anton dengan nada lesu.
"Nyusahin banget nih si Bambang...!" gumam Pak Rondo geram.
"Gimana Om?" tanya wanita cantik itu.
"Ya sudah, kamu aja yang temenin Mbak-nya, Nton...!" seru Pak Rondo.
"Iya, Bos..."
Kemudian Anton berjalan menuju kamar nomor dua puluh lima bersama wanita cantik yang memang sebelumnya dia lah orang terakhir yang cek in di kamar itu.
Sesampainya di depan kamar nomor dua puluh lima, wanita cantik yang tiba bersama Anton bergegas masuk ke dalam kamar. Namun, Anton dengan gesit menghalangi wanita cantik itu.
"Loh, kok saya di halangin sih, Mas?" tanya wanita cantik itu heran menatap Anton.
"Maaf, Mbak.." Anton menurunkan kepalanya. "Ini kebijakan perusahaan bahwa saya yang harus terlebih dahulu masuk, Mbak.." sambung Anton menjawab.
Wanita cantik itu tampak cemas dan memaksa ingin masuk lebih dahulu.
"Mbak, mbak, mbak...." Anton tetap berusaha menghalangi wanita cantik itu masuk.
"Eh, kenapa Nton?" tanya Bambang yang tiba-tiba muncul.
"Naah, ini ni biang keroknya..." Dengan seketika Anton langsung menjitak ubun-ubun Bambang.
"Aduh, kenapa nih?" sahut Bambang tampak heran dan meringis sambil memusut-musut kepalanya.
"Kemana aja lu?! Gue mondar-mandir di suruh Pak Rondo buat nyari elu!!" bentak Anton kesal.
"Ooh, tadi itu aku...." Ucapan Bambang seketika terputus setelah menyadari ada seorang wanita cantik yang juga berada di depan pintu kamar nomor dua puluh lima.
"Aku apa!" bentak Anton lagi.
"He.. Mbak..." Bambang tampak cengengesan menatap wanita cantik itu. "Tadi maaf ya, Mbak..." ucap Bambang sambil menurunkan kepalanya.
"Loh, nggak biasa Bambang tingkahnya kayak gini..." Anton bergumam heran melihat tingkah tak biasa dari Bambang yang tampak tenang berhadapan dengan seorang wanita cantik. "Sapu sama pel elu kemanain? Kok nggak lu bawa sih, Mbang?" tanya Anton.
"Saya nggak perlu basa-basi!" Wanita cantik itu kembali memaksa masuk dari halangan Anton.
"Ya udah noh.. Masuk..." sahut Anton ketus mempersilahkan wanita cantik itu memasuki kamar.
Wanita cantik itu bergegas mencari-cari sesuatu dari balik sprey yang sudah terlihat rapi.
"Emang Mbak-nya nyari apaan, Nton?" tanya Bambang.
Anton mengangkat bahu, "Nggak tau juga gua..." sahut Anton kemudian masuk ke dalam kamar menyusul wanita cantik yang sejak tadi sudah mengobrak-abrik tempat tidur di dalam kamar tersebut.
Tiba-tiba, Pak Rondo juga muncul di depan kamar. "Gimana Nton? Apa benda yang di cari mbaknya udah ketemu?" tanya Pak Rondo.
"Eh, Bos.." Anton menoleh ke belakang tepat mengarah ke depan kamar menatap Pak Rondo, "Nggak tau nih, saya juga nggak tau apa yang di cari mbak ini, Bos," jawab Anton.
Pak Rondo ikut masuk ke dalam kamar, "Memang apa yang ketinggalan, Mbak?" tanya Pak Rondo.
"Dompet, Om.." sahut wanita cantik itu sambil tetap mencari-cari hingga kesegala penjuru kamar.
"Biasanya mbak naruh dompetnya dimana?" tanya Pak Rondo.
"Tadi siang saya taruh di atas tempat tidur, Om," jawab wanita cantik itu. "Tapi ini spreynya kayaknya udah di beresin, Om," lanjut wanita cantik itu.
"Kalau begini urusannya memang harus nyari Bambang, Nton.." ucap Pak Rondo menoleh ke arah Anton.
"Nah pas, itu orangnya ada, Bos..." Anton berbalik badan menunjuk ke arah pintu depan kamar, tapi anehnya Bambang tidak ada di sana. "Loh...?" gumam Anton heran karena kembali tidak melihat Bambang.
"Siapa, Bambang? Kamu sudah ketemu dia?" tanya Pak Rondo.
"Tadi Bambang ada di depan sana, Bos," sahut Anton heran, "Bener kan, Mbak?" Anton menoleh ke arah wanita cantik untuk meminta dukungan bahwa juga telah melihat Bambang. Namun, wanita cantik itu hanya mengangkat bahu sambil menggeleng.
"Aku nggak liat siapa-siapa selain mas, kok," sahut wanita cantik itu.
"Kamu ini ngigo ya, Nton?" tanya Pak Rondo heran.
"Loh, tadi Mbak juga ketemu sama Bambang di depan, kan?!"
"Nggak.." Wanita cantik itu kembali mengangkat bahunya sambil menggeleng. "Tadi malah aku heran, kok mas-nya ngomong sendirian?" ucap wanita cantik itu.
"Hah, kok ngomong sendirian sih..! Wah, jangan gitu Mbak. Kan, saya nanti dikira bohong sama Bos saya..." sahut Anton.
"Ih.. Beneran kok, mas-nya tadi itu ngomong-ngomong sendirian...!" sahut wanita cantik itu memaksa.
"Anton... Anton..." Pak Rondo menggelengkan kepalanya. "Tadi Bambang, sekarang kamu, Nton...."
Wanita cantik itu kemudian berjalan ke arah Pak Rondo dan Anton, "Nanti besok aja deh lagi saya kesini, Om," ucap wanita cantik itu.
"Iya, maaf ya Mbak atas ketidak-nyamanannya," sahut Pak Rondo pelan sambil menurunkan kepalanya.
Kemudian wanita cantik itu keluar kamar lalu bergegas pulang meninggalkan Anton dan Pak Rondo.
"Tadi saya beneran ketemu Bambang di depan, Bos..." ucap Anton.
Pak Rondo hanya menggelengkan kepalanya menatap Anton yang sejak tadi memaksa bahwa dia memang bertemu dengan Bambang.
Pak Rondo berjalan keluar kamar dan langsung kembali ke ruangannya meninggalkan Anton sendirian di dalam kamar nomor dua puluh lima.
"Loh, kok jadi aku sih yang aneh..." Anton menggaruk bingung kemudian ikut berjalan keluar kamar dan langsung menuju ke ruang tunggu karyawan.