Bab 18

1606 Kata
Setelah beberapa jarak dari benda misterius berteksur lembek dan dingin ia meraba-raba dinding kamar, ia menyentuh benda yang tidak asing lagi baginya, yaitu sakelar lampu. "Nah, ketemu.." gumam Bambang dengan yakin kemudian menekan tombol pada sakelar untuk menyalakan lampu kamar di mana ia berada. Kemudian Bambang menyeret pandangannya mengarah ke benda misterius tadi. "Aaaaaa.....!!!" Sontak Bambang berteriak setelah mengetahui wujud sebenarnya dari benda misterius yang tadi di sentuhnya yang ternyata adalah seekor siput kecil tanpa cangkang. Bambang memang takut atau lebih ke pobia dengan hewan melata, apalagi dengan siput. Teksturnya yang lembek dan berlendir sangat membuat Bambang kegelian. "Lu kenapa Mbang?" tanya Anton seketika menghampiri Bambang karena ketika itu ia tak sengaja lewat di depan kamar di mana Bambang berada. "A-a-anu.. I-itu..." sahut Bambang terbata-bata dan wajahnya memucat sambil menunjuk dinding di mana siput tanpa cangkang itu merayap. "Apaan?" Anton mengerutkan kedua keningnya menatap siput tanpa cangkang yang di tunjuk Bambang. "Lu takut sama ginian, Mbang?" tanya Anton heran. Seketika pikiran jahil Anton pun muncul, ia meraih seekor siput yang merayap di dinding itu lalu mendekatkannya ke arah Bambang. "Nton.. Nton.. Nton... Jangan becanda Nton...!" seru Bambang sambil melangkah mundur menjauh siput yang di arahkan Anton kepadanya. "Lah, gedean juga badan lu, Mbang..." ucap Anton sambil tertawa kecil dan tak menyerah untuk mendekatkan siput ditangannya ke arah Bambang. "Jangan.. Jangan... Geli... iii..!!" seru Bambang semakin berusaha menjauh sambil bergidik. "Pegang dulu Mbang, nggak gigit kok..." sahut Anton semakin mendekatkan siput ditangannya itu ke arah Bambang. "Jauhin, jauhin... Nton!" seru Bambang lagi dengan raut wajahnya yang memerah sudah mulai kesal. "Tangkap, Mbang...." Anton melemparkan siput dari tangannya ke arah Bambang. Sontak Bambang berlari tunggang-langgang sambil bergidik karena merasa geli, ia berlari mengelilingi kamar. "Hahahaha..." Anton tertawa puas karena berhasil menakut-nakuti Bambang. "Anton..!" Tiba-tiba terdengar suara tidak asing di telinga Bambang dan Anton memanggil yang tidak lain adalah suara Pak Rondo. "Ya, Bos..!" sahut Anton kemudian keluar kamar dan bergegas menghampiri Pak Rondo ke ruangannya meninggalkan Bambang sendirian. "Rasain, di panggil Bos kan, emang enak..." gumam Bambang ketus sambil dengan nafasnya yang masih terengah-engah setelah berlarian memutari bagian dalam kamar. Dengan berjinjit Bambang berjalan menuju kamar mandi di kamar tersebut lalu mengambil sebuah serok dan menghampiri seekor siput tanpa cangkang yang tergeletak di atas lantai. Dengan rasa geli dan sesekali tubuhnya bergidik, Bambang mencoba mengatasi rasa pobianya dengan hewan melata di depannya itu, ia memberanikan diri untuk memasukkan siput tanpa cangkang itu ke dalam serok menggunakan sapu. "Gara-gara ini, nih.. Kerjaan ku jadi terhambat..." gerutu Bambang sambil bergidik kemudian membawa seekor siput itu ke kamar mandi dan perlahan menurunkan siput itu di dalam kamar mandi, "Nah, kamu cari makan di dalam sini aja ya, banyak lumutnya kok, sekalian aja bantuin aku bersihin lumutnya biar aku nggak capek-capek nyikat di sini lagi.." ucap Bambang lirih. Setelah selesai membereskan kamar nomor dua puluh empat, Bambang kemudian menuju ke kamar selanjutnya yang memang berada berseberangan dengan kamar yang tadi sudah di bereskannya, yaitu kamar nomor dua puluh lima. "Kapan ya aku bisa santai..." gumam Bambang sambil membereskan sprey di atas tempat tidur tepat di dalam kamar, "Itu apa?" tanya Bambang lirih seketika menemukan sebuah botol kaca yang bergambar seekor gajah, "Ini apaan ya?" gumamnya memperhatikan dengan seksama botol yang di pegangnya, "Ah, simpan dulu aja deh... Kalau aku nggak beresin ini, nanti kalau-kalau ada orang yang cek in di sini kan bisa gawat.." gumamnya lagi kemudian memasukkan sebuah botol kaca berukuran kecil yang bergambar seekor gajah ke dalam kantong celananya. Kemudian Bambang berlanjut menyapu lantai di dalam kamar, tapi saat ia menyapu sampai ke sudut kamar ia menemukan sebotol pelembab rambut. Bambang pun meraih botol pelembab rambut itu, "Masih penuh, masa di tinggal sih?" gumamnya sambil menatapi botol pelembab rambut di tangannya. "Aku taro di depan aja deh.." gumamnya lagi kemudian melangkah keluar kamar. "Eh, bentar deh..." Bambang menghentikan langkahnya tepat di depan kamar, "Aku lupa ngepel lantai.." gumamnya. Kemudian Bambang kembali masuk ke dalam kamar dan segera mengepel lantai kamar. Setelah selesai membereskan dan membersihkan kamar tersebut, Bambang segera keluar dan langsung pergi menuju ke meja resepsionis. "Aku taruh di mana ya?" gumam Bambang sambil berdiri di belakang meja resepsionis dan mencari laci di meja itu. "Loh kok lacinya dikunci?" gumam Bambang lagi setelah berusaha menarik laci. "Ya udah, aku simpen dulu aja deh.." ucapnya lirih kemudian memasukkan botol pelembab rambut yang tadi di temukannya ke dalam kantong celananya lalu bergegas masuk ke dalam ruang tunggu karyawan. "Mas, Mas..!" Tiba- tiba datang seorang wanita cantik yang langsung menghampiri Bambang ketika masih berdiri di belakang meja resepsionis sehingga Bambang pun menghentikan langkahnya tepat di depan ruang tunggu karyawan yang pintunya hampir di bukanya. "Suaranya merdu banget..." gumam Bambang dalam hati kemudian perlahan memalingkan kepalanya menoleh ke arah wanita cantik yang berdiri di depan meja resepsionis. "Mas...!" panggil wanita cantik itu sambil menyulam senyumnya dan menunjukkannya ke arah Bambang. "Pantas suaranya merdu banget... Orang cantik ternyata..." ucap Bambang dalam hati sambil tersenyum dan tidak beranjak dari tempat dia berdiri menatap wanita cantik itu. "Mas..!" panggil wanita cantik itu lagi seketika dengan wajahnya yang merasa heran. Bambang hanya tersenyum sendiri sambil sesekali menggeleng pelan menatapi wanita cantik yang berdiri di depan meja resepsionis itu, "Cantik banget..." gumamnya dalam hati. "Mas..?!" Wanita cantik itupun merasa risih dengan tingkah Bambang yang sejak tadi hanya tersenyum tanpa mengucapkan satu patah katapun kepadanya. *Ting... Ting...* Wanita cantik itupun menekan bel yang berada di atas meja resepsionis, tapi Bambang tetap tidak menghiraukannya. *Ting... Ting...* Wanita cantik itu kembali membunyikan bel. "Iya bentar..!" sahut Anton yang ternyata berada di dalam ruang tunggu karyawan. Anton bergegas keluar dari ruang tunggu karyawan, dan saat ia membuka pintu ruang tunggu, badan Bambang keras terbentur oleh pintu yang di buka Anton karena bergegas. Sehingga badan Bambang dengan cepat meluncur tersungkur dan kepalanya membentur meja resepsionis. "Aawww..." jerit Bambang lirih sambil memusut-musut wajahnya. "Rasain...!" ucap wanita cantik itu lirih dengan nada ketusnya kemudian menertawakan keadaan Bambang. "Mbang? Ngapain lu? Nangkep kodok ya?" tanya Anton heran sambil menahan bibirnya untuk tertawa karena melihat Bambang yang tersungkur sampai wajahnya membentur meja. "Ngapain, ngapain.." gerutu Bambang kesal sambil perlahan berdiri lalu bergegas melangkah masuk ke dalam ruang tunggu karyawan dan menyembunyikan wajahnya yang memerah karena merasa kesal bercampur rasa malu. Dengan wajah kesalnya Bambang segera masuk ke dalam kamar kecil, sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin. "Aduuh, muka aku..." ucap Bambang lirih sambil mengusap-usap wajahnya, "Untung aja nggak cedera, kan kasian nanti muka aku yang imut dan tampan ini tergores.." ucapnya lagi sambil tetap memusut-musut wajahnya. "Oh iya, tadi kan, aku nemu anu..." Bambang mengambil sebuah botol pelembab rambut dari dalam kantongnya, lalu mengusapkan pelembab rambut itu ke kepalanya sambil berimajinasi menjadi seorang bintang iklan terkenal dengan gayanya yang sok keren menatap wajahnya dari pantulan cermin. Sementara itu, di meja resepsionis di mana Anton dan wanita cantik tadi berada. "Maaf ya, Mbak... dia emang biasa begitu.." ucap Anton menatap wanita cantik yang masih berdiri di depan meja resepsionis. "Iya, dari tadi itu saya udah manggil dia beberapa kali tapi malahan enggak di jawab.." sahut wanita cantik itu. "Oh iya, mbak ada keperluan apa ya? Kalau jam segini mau pesan kamar udah nggak bisa, Mbak," ucap Anton. "Iya, saya nggak pesan kamar, tapi saya ke sini mau ngambil barang saya yang ketinggalan di dalam kamar kok, Mas?" sahut wanita cantik itu. "Maaf, kamar nomor berapa ya, Mbak?" sahut Anton bertanya dengan sopan sambil mengeluarkan sebuah buku tamu dari dalam laci dan meletakkannya di atas meja resepsionis. "Kalau enggak salah kamar nomor dua puluh lima, Mas..." jawab Wanita cantik itu. "Kamar nomor dua puluh lima..." Anton membolak-balik lembar demi lembar buku yang tadi di keluarkannya, "Atas nama Cika ya, Mbak?" tanya Anton. "Benar," sahut wanita cantik itu. "Baru cek out tadi siang, ya?" "Benar, Mas..." "Boleh liat KaTePe-nya, Mbak?" tanya Anton. "Lah, kok mau ngambil barang yang ketinggalan aja pake liat KaTePe segala, Mas?" tanya wanita cantik itu heran. "Ini demi kenyamanan semua tamu, Mbak," jawab Anton. "Duh, KaTePe aku kan, juga ketinggalan di dalam kamar, Mas," sahut wanita cantik itu. "Emmm, sebentar Mbak..." Kemudian Anton menoleh ke arah ruang tunggu karyawan, "Mbang... Bambang...!" seru Anton. Namun, batang hidung Bambang tak juga terlihat. "Bentar ya, Mbak... Saya panggilin temen saya yang tadi dulu, soalnya dia tadi yang tugas buat beresin kamar, dan salah satunya itu kamar nomor dua puluh lima," ucap Anton menatap wanita cantik yang masih berdiri di depan meja resepsionis kemudian menoleh lagi ke arah pintu ruang tunggu karyawan, "Mbang... Bambang...!" seru Anton lebih mengencangkan suaranya sampai terdengar ke ruangan manager di mana Pak Rondo berada. Pak Rondo pun bergegas menghampiri Anton di meja resepsionis, "Ada apa, Nton?" tanya Pak Rondo. "Bos, ini kata mbak-nya ada barang yang ketinggalan di kamar nomor dua puluh lima," jawab Anton. "Suruh Bambang temenin mbak-nya ke kamar nomor dua puluh lima, kan tadi dia yang punya tugas buat beresin kamar itu?" sahut Pak Rondo seketika bertanya. "Iya Bos, dari tadi saya panggil, Bambangnya nggak muncul-muncul..." sahut Anton. "Coba kamu samperin, Nton.." ucap Pak Rondo. "Iya, Bos..." Anton pun bergegas memasuki ruang tunggu karyawan. Pak Rondo tersenyum menatap wanita cantik yang masih berdiri di depan meja resepsionis, "Mbak dari mana?" tanyanya seketika. "Dari tadi, Om.." jawab wanita cantik itu. "Lah, kok om sih? Mending panggil abang aja..." sahut Pak Rondo mulai genit. Wanita cantik itupun heran melihat tingkah Pak Rondo, "Ya mending dipanggil om, daripada aku panggil mbak..." ucap wanita cantik itu kesal sambil memutar bola matanya ke kanan. Seketika Pak Rondo menggaruk-garuk kepalanya sambil mengangguk, "Bener juga ya... Mending dipanggil om daripada di panggil mbak... Nanti kalau dipanggil mbak, bisa-bisa aku disangka siluman dong..." gumamnya sambil sesekali tersenyum malu ke arah wanita cantik yang berdiri di depan meja resepsionis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN