Bambang berangkat kerja dengan semangat yang sangat menggebu-gebu dari dalam hatinya. Apalagi bayangan Lala terus saja melayang-layang di dalam pikirannya. Impiannya untuk segera menikah akan segera terwujud jika dia benar-benar bisa membuktikan kepada semua orang termasuk Pak Satria ayahnya sendiri, bahwa dirinya mampu menabung untuk masa depannya nanti dan menikahi calon istrinya.
"Asik," kata Bambang kegirangan sambil memainkan kuda hijaunya di sepanjang jalan menuju losmen, "Kalau aku bisa menabung, aku pasti bakalan punya istri!" seru Bambang kegirangan tidak perduli kalau saat ini orang-orang yang juga sedang mengemudi di jalan menatapnya heran.
Bambang terus melaju dengan kuda hijaunya, hati Bambang merasa sangat bahagia, meskipun juga ada rasa kesal karena harus menunggu tabungannya banyak dulu baru bisa melamar sang pujaan hatinya, tapi rasa bahagia Bambang mengalahkan rasa kecewanya itu, sebab bayangan Lala yang selalu saja hadir dan tersenyum bagaikan permaisuri membuatnya menjadi lebih bersemangat dari pada biasanya.
"Lala, Lala, kamu kok cantik banget," kata Bambang yang merasa bahwa Lala adalah seorang perempuan yang begitu cantik baginya.
Karena terus saja membayangkan Lala dan berkhayal bahwa Lala selalu ada di depan matanya, kini Bambang menjadi tersesat, arah yang di tujunya bukan lah losmen tempat dia bekerja melainkan pasar yang menjadi tempat Lala berjualan pakaian.
"Nah lo, kenapa aku jadi sampai sini?" tanya Bambang kepada dirinya sendiri, "Perasaan tadi jalannya udah benar," kata Bambang lagi seraya berpikir sambil menepuk-nepuk jidatnya dengan telapak tangannya.
Hari sudah semakin sore, nampak lah matahari yang mulai semakin bersembunyi di balik kuningnya senja sehingga menambah keheningan pasar tempat Lala berjualan yang ketika siang hari adalah tempat yang sangat ramai dan kini menjadi terasa begitu sunyi. Hanya ada beberapa orang di sana yang sedang membersihkan sisa-sisa jualannya.
Bambang menggaruk-garukan kepalanya dengan tangannya meskipun sebenarnya tidak gatal, dia nampak kebingungan hendak memutar balik arah jalan tujuannya, sedangkan untuk bertanya Bambang merasa malu.
"Ini kemana ya arahnya kalau mau ke losmen, kok sepi banget aku jadi takut," ucap Bambang sambil bergidik seram, "Ya udah, mendingan aku jalan aja dari pada di sini, siapa tahu ketemu jalan yang arahnya menuju losmen," ucap Bambang lagi dengan pasti.
Bambang pun akhirnya menghidupkan kembali mesin motor matiknya dan kemudian berlalu dari pasar tempat Lala berjualan. Dengan sangat pelan Bambang mengitari seluruh pasar sampai akhirnya menemukan arah jalan keluar yang di anggapnya adalah jalan menuju losmennya.
Meskipun harus berbelok-belok hingga dia benar-benar menemukan jalan yang benar untuk sampai ke losmen tempat dia bekerja itu, dan setelah beberapa kali memutar balik ketika menemukan jalan buntu akhirnya Bambang sampai juga ke tempat di mana dia seharusnya berada, yaitu di losmen.
Perasaan Bambang pun akhirnya menjadi lega ketika dia sudah sampai di depan losmen dan memarkirkan motor matiknya di parkiran losmen kemudian dengan cepat kakinya mulai melangkah menuju losmen.
Setelah sampai di ruang tunggu karyawan Bambang pun duduk dan beristirahat sebentar, lalu cepat-cepat menuju ruangan manager untuk melihat jadwal yang ada di depannya. Namun, ketika Bambang melangkahkan kakinya dengan cepat, tali sepatunya lepas dan terinjak oleh kaki yang satunya lagi sehingga dia pun oleng dan akhirnya terjatuh hingga terterkungrap ke lantai dan wajahnya juga terbentur lantai.
Parahnya lagi ketika Bambang tertengkurap ke lantai dan wajahnya menyentuh lantai, Anton melihatnya dan tepat berdiri di hadapannya.
"Ngapain lu Mbang?" tanya Anton sambil tertawa cekikikan di susul oleh Solihin yang tiba-tiba juga ada di sebelah Anton. "Lagi nangkap kodok Lu?" lanjut Solihin bertanya seketika ikut tertawa bersama Anton menertawakan Bambang.
Bambang menatap Anton dan Solihin dengan keadaan masih tengkurap dengan wajah yang memerah karena menahan rasa malu, Bambang menatap geram ke arah Anton dan Solihin yang kini berjalan berlalu dari hadapan Bambang tanpa menolongnya untuk berdiri.
"Gue kesana dulu ya Mbang, Lu bisa bangun sendiri kan?" tanya Anton mengolok-olok sehingga membuat Bambang bertambah geram dan menggerutu sendiri, "Bukannya nolongin malah menertawakan, awas kalian," gerutu Bambang kesal meskipun setelah Anton dan Solihin sudah tidak terlihat lagi dari hadapannya.
Perlahan Bambang bangun dan berdiri lalu cepat-cepat menuju ke pintu ruangan manager untuk melihat jadwalnya malam ini. Setelah dia sampai di depan ruangan manager, Bambang pun segera menghapal nomor-nomor kamar yang sudah di tinggalkan tamu yang chekout pada malam itu.
"Kamar nomor dua puluh empat, dua puluh lima, tiga puluh empat, sama tiga puluh lima," gumam Bambang sambil manggut-manggut. Namun, dengan seketika wajah Bambang berubah pucat saat mengingat kamar nomor tiga puluh lima, "Hah... Tiga puluh lima?" gumam Bambang lagi merasa takut.
Wajah Bambang seketika memucat dan tubuhnya pun gemetaran sehingga menyebabkan dirinya menjadi bergoyang-goyang seperti pohon kering yang tertimpa angin.
Bambang meneguk air liurnya, "Ini beneran, nih...?" gumamnya seketika terdiam sejenak.
Kemudian Bambang mulai melangkah untuk mengambil sapu dan alat pelnya ke dapur lalu mencoba memberanikan dirinya agar seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada kamar nomor tiga puluh lima.
"Tenang aja Bambang, di sana nggak ada hantu," seru dan gumam Bambang dalam hati mencoba menenangkan dirinya sendiri dan meneguhkan hatinya meskipun sebenarnya dari dalam hati dia tetap merasa masih sangat ketakutan, "Ini semua demi Lala, aku harus berani," gumamnya lagi dengan pasti, "Lagian kan, aku bisa bersihkan kamar itu pas agak siangan dikit jadi nggak terlalu takut," katanya sambil tersenyum geli.
Bambang pun mulai melangkahkan kedua kakinya menjauh dari pintu depan ruangan manager menuju ke losmen pertama yang berada di lantai dua. Satu per satu anak tangga dia pijak hingga ia pun tiba di depan pintu kamar yang sudah terbuka dan bertuliskan nomor dua puluh empat pada daun pintu kamar tersebut.
"Loh, kok tumben pintu kamarnya sudah kebuka?" gumam Bambang heran dengan mengerutkan kedua keningnya.
Perlahan Bambang melangkahkan kedua kakinya satu per satu memasuki kamar tersebut, anehnya semua lampu di dalam kamar itu tidak menyala.
Bambang meraba-raba di dinding mencari sakelar untuk menyalakan lampu di dalam kamar itu. Hingga saat ia masih meraba-raba di dinding, telapak tangan sebelah kanannya merasakan seperti menyentuh sesuatu benda yang agak lembek dan dingin.
"Apaan nih?" gumam Bambang heran sambil menekan-nekan benda misterius yang tadi di sentuhnya, "Dingin, lembek... Apaan ya?" gumam Bambang lagi, "Ah, cari tombol lampunya dulu deh, kalau terang kan bisa liat...."
Bambang pun mengesampingkan rasa penasarannya akan benda misterius yang tadi di sentuhnya lalu berlanjut mencari sakelar lampu untuk menghidupkan lampu di dalam kamar dia berada agar rasa penasarannya dengan benda misterius dingin dan lembek yang tadi di sentuhnya sirna seketika.