Bab 53: Tertunda oleh urusan perut

1193 Kata
Deru suara mesin motor matik berwarna hijau berpacu seiring alunan syair yang didendangkan Bambang. Si Kuda Hijau yang ia naiki melintas di jalan raya yang cukup sepi dan hanya menemui dua sampai empat pengendara jalan yang berlawanan arah dengannya. Bukan tanpa alasan kenapa jalanan sekarang sepi, hanya karena sekarang baru saja pukul enam pagi. Bambang memacu motor matik hijau miliknya dengan sangat lancar. Berlenggak-lenggok ke kanan dan kiri bagaikan sang penguasa jalanan. Namun, ketika ia dan Kuda Hijau-nya hampir tiba di gang kecil yang merupakan jalan satu-satunya untuk menuju rumah kediaman Lala si wanita idamannya, Bambang merasakan sakit di bagian perutnya bersamaan merasakan ada sesuatu yang hendak ke luar di bagian belakang. "Aduh, aduh, aduh, ..." Bambang meliak-liukkan badannya saat perutnya merasakan ada sesuatu yang melilit. Si Kuda Hijau diperintahnya untuk berhenti di tepi kiri jalan, tepatnya di depan bengkel milik Owel. Detik berikutnya, ia tidak bisa lagi menahan angin pencemaran yang terdorong di bagian belakang, "... Kok mules sih?! Apa gara-gara salah makan, ya?! ..." gumam Bambang pelan dengan mengerutkan kedua keningnya sambil memegangi bagian perutnya yang sakit itu, "... Ah, ke rumah dulu deh." Bambang memutar arah dan bergegas pulang dahulu, untuk menyelesaikan urusan perutnya kepada kamar kecil di rumah kediamannya. Si Kuda Hijau yang ditunggangi Bambang telah berhenti tepat di depan rumah kediamannya dan melihat Nanda sedang menjemur pakaian tepat di halaman depan rumah kediamannya. Nanda yang menyadari kedatangan Bambang langsung menoleh dan menatap ke arah Bambang dengan tatapan marah. Bukan tanpa alasan, ia marah kepada Bambang karena ingat kejadian kemarin pagi saat gorengan yang dibeli Rudi untuknya dan dititipkan kepada Bambang, tapi Bambang malah tidak mengantarkan gorengan itu. Padahal saat itu Nanda sangat lapar. Satu hal yang membuatnya menahan emosinya, Rudi sempat memberitahukan padanya kalau sikap Bambang itu aneh dan memintanya untuk memaklumi. "Awas kamu!" ucap Nanda berbisik pelan dengan kedua matanya yang menatap tajam jauh ke arah Bambang. Bambang hanya bisa menundukkan kepala dan duduk diam di atas motor matik hijau miliknya dengan perasaan takut ketika melihat raut amarah yang ditunjukkan Nanda kepadanya. Sebenarnya ia tahu akan kesalahannya, yaitu kesalahan memakan gorengan yang dibeli Rudi dan seharusnya ia mengantarkannya ke bengkel milik Owel saat itu. "Sayang!" seru Rudi yang melangkah keluar melalui pintu depan rumah kediaman Bambang. Ia berjalan mendatangi Nanda yang berdiri di dekat jemuran di halaman rumah sambil menatap sebentar ke arah Bambang yang masih belum turun dari motor matik. Nanda gesit mengubah raut wajahnya yang awalnya penuh amarah menjadi senyum bahagia, supaya Rudi suaminya tidak tahu emosi yang dia tunjukkan tadi kepada Bambang sepupu suaminya. "Iya, Sayang?" Nanda menoleh ke belakang dan tersenyum lembut ke arah Rudi yang berjalan ke arahnya. "Aku mau ke rumah temen dulu, katanya dia ada kenalan yang punya tenda buat disewa," ucap Rudi balas tersenyum menatap Nanda. "Kapan? Sekarang?" tanya Nanda sambil berpaling untuk melanjutkan menjemur pakaian. "Iya, Sayang. Soalnya takut nanti temenku itu nggak bisa ditemuin kalau pas udah masuk jam kerja," jawab Rudi. Dari atas motor matik miliknya, Bambang mencoba mendengarkan pembicaraan Rudi bersama Nanda. Nanda dan Rudi menyadari kalau Bambang menguping pembicaraan mereka. Rudi menoleh ke arah di mana Bambang berada, "Eh, Mbang," sapa Rudi dengan melempar senyum ke arah Bambang. Nanda juga ikut menoleh ke arah Bambang. Mengetahui ada celah saat Rudi tidak menatapnya, ia pun kembali menatap tajam ke arah Bambang dengan tatapan amarah. Bambang mengangkat kepalanya dan seketika menoleh ke arah Rudi, lalu mengangguk tanpa mengucapkan apapun. Kemudian segera kembali menundukkan kepalanya saat melihat sorot tajam yang dilemparkan Nanda kepadanya. "Kok loe cuman diem di situ aja sih?" tanya Rudi heran menatap jauh ke arah Bambang yang masih duduk di atas motor matik hijau. Bambang hanya mengangguk dan belum berani turun dari motor matik hijau miliknya karena merasa masih melihat sorot tajam yang ditunjukkan Nanda yang berdiri di samping Rudi. Rudi kembali menoleh dan menatap Nanda yang berdiri di sampingnya, "Sayang, aku berangkat dulu ya," ucap Rudi tersenyum menatap Nanda. Nanda dengan gesit kembali merubah raut wajahnya seratus delapan puluh derajat sambil membalas senyuman Rudi, "Iya, hati-hati di jalan ya, Sayang," ucap Nanda lembut. "Iya, Sayang." Rudi mendekatkan wajahnya ke wajah Nanda. Melayangkan sebuah kecupan hangat yang akan mendarat di antara kedua kening Nanda. Nanda hanya diam menunggu pendaratan kecupan dari suaminya. Detik berikutnya, saat bibir Rudi hampir menyentuh di antara kedua keningnya, ia menarik kepalanya ke belakang untuk menghindar. "Iih, ..." Nanda menghindar, "... Malu tau kelihatan banyak orang," ucap Nanda tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya ke bahu kanan Rudi dan seketika mencubit bahu Rudi. "Aduh, aduh." Rudi melepaskan cubitan sayang yang dilakukan Nanda, kemudian dia membalas dengan mengulurkan kedua tangannya ke arah perut Nanda dan seketika menggelitik perut Nanda. "Aaa!" Nanda berteriak dan berlari dengan diiringi gelak tawa ke sisi lain jemuran untuk menghindar dari gelitikan suaminya. Bambang melihat kebahagiaan yang tercurah dari sepasang suami istri yang dilihatnya di depan rumah kediamannya. Detik selanjutnya, lamunannya kembali tercipta. Ia membayangkan bahwa Rudi dan Nanda yang sedang bercanda bersama di depan rumah kediamannya itu menjadi dirinya bersama Lala sang wanita idamannya. "Hap!" Rudi dengan gesit memeluk tubuh istrinya dari arah belakang dan tidak sengaja melihat Bambang yang tersenyum sendirian sambil duduk di atas motor matik hijau. Nanda pun juga melihat hal yang sama seperti apa yang dilihat oleh suaminya. "Sayang, kamu jadi berangkat atau nggak?" tanya Nanda kembali mengingatkan sembari menolehkan kepalanya ke belakang menatap Rudi yang masih belum melepaskan pelukan di tubuhnya. Ia merasa risih dan aneh melihat tingkah Bambang yang tersenyum sendirian. "Oh, iya, ..." Rudi mengangguk sambil perlahan melepaskan pelukan pada Nanda istrinya, kemudian memutar tubuh Nanda agar berdiri berhadapan dengannya, "... Ya udah, aku berangkat ya," ucap Rudi tersenyum lembut sambil melayangkan cubitan pelan yang mendarat di hidung pesek Nanda. Nanda merona sambil menunduk tersipu dan mengangguk pelan untuk mengiyakan. Detik berikutnya, ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap Rudi dengan tatapan senyum lembut, "Hati-hati ya, Sayang," ucap Nanda pelan. Rudi mengangguk mengiyakan kemudian berlalu menuju motorgede berwarna hitam miliknya yang ada di halaman depan rumah kediaman nek Mirah tepat berseberangan dengan rumah kediaman Bambang. "Mbang, loe nggak masuk?" tanya Rudi berhenti tepat di samping motor matik yang masih dinaiki Bambang. Bambang tersentak dari lamunannya akan kebahagiaan bersama Lala sang pujaan hatinya, "Eh, i-iya," jawab Bambang mengangguk cepat, kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk melepaskan kunci motor yang masih menancap di lubang kunci pada motor matik miliknya. Detik selanjutnya, ia turun dari motor dan langsung melangkah ke arah depan rumahnya. Rudi hanya terdiam dengan tatapan heran menatap ke arah Bambang yang tidak terlalu banyak bicara saat dia menyapanya. Sedangkan Nanda yang kembali melanjutkan menjemur pakaian pada jemuran di halaman depan rumah hanya menatap tajam ke arah di setiap langkah Bambang. Bambang menyadari sorot tajam dari Nanda yang ditujukan padanya, tapi ia tidak berani untuk membalas tatapan Nanda, "Duh... Itu si nenek sihir melotot mulu sih!" batin Bambang berkata dengan raut wajah takut dan hanya menunduk sambil terus melanjutkan langkahnya menuju pintu depan rumah kediamannya. Detik berikutnya, ia mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke dalam rumah karena menyadari Nanda tak melepaskan tatapan tajam ke arahnya di setiap langkahnya. Tanpa berlama-lama, ia langsung masuk melewati pintu depan rumah kediamannya dan bergegas melangkah ke arah dalam menuju kamar kecil untuk menyelesaikan urusan pada perutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN