Bab 52: Buy One get One

1170 Kata
Suasana losmen sudah tampak sunyi. Meja resepsionis juga tak ada yang menjaga. Di dalam ruang tunggu karyawan juga suasananya hening, karena hanya ada dua orang di dalamnya. Anton sepertinya sedang tertidur dalam posisi badan duduk dan bersandar pada kursi di sudut ruangan. Kepalanya mendongak ke atas tepat ke arah langit-langit ruangan, dengan mulut menganga yang mengeluarkan suara dengkuran. Dengkuran itu memenuhi ruangan. Bambang yang duduk pada kursi yang sejejer tapi di sudut yang berbeda, sambil mengutak-atik smartphone-nya. Kedua matanya menatap layar smartphone, mulutnya mengerucut dengan wajah yang merangut. Bukan karena sesuatu yang dilihatnya pada layar smartphone miliknya, melainkan kesal karena suara dengkuran Anton yang memenuhi seisi ruangan. "Anton ngeselin banget sih!" gumam Bambang lirih sembari beranjak berdiri dari kursi, "Mendingan aku ke warung pakde aja deh." Bambang melangkah ke arah pintu salah satu pintu. Tangan kanannya terulur untuk membuka pintu dan melihat suasana di area meja resepsionis yang sangat sunyi. "Sepi banget sih?!" Bambang mengerutkan kedua keningnya sembari perlahan melangkahkan kedua kakinya ke luar ruangan. Berjalan mengitari meja resepsionis dan langsung menuju ke arah luar losmen untuk mendatangi warung milik pakde. "Eh, Mbang, ..." sapa Pakde menatap Bambang yang akan duduk pada kursi panjang di depan warung miliknya, "... mau minum, Mbang?" "Enggak, Pakde, ..." Bambang menggeleng pelan sambil sedikit menyunggingkan senyum ke arah Pakde, "... Mau makan dulu aja." Pandangannya menyebar ke atas meja warung untuk mencari piring berisi gorengan yang biasa dijual Pakde. "Makan apa, nasi mau?" tanya Pakde. "Gorengan mana, Pakde?" Bambang terus menyebarkan pandanganya ke atas meja warung dan belum juga menemukan gorengan yang dia maksud. "Gorengannya udah habis, baru tadi diborong sama orang, Mbang, ..." jawab Pakde sambil tersenyum dengan tangan mengarah ke belakang tengkuk dan menggaruknya pelan walau tidak gatal, "... Mendingan makan nasi aja lah, Mbang. Kan, lebih awet kenyangnya." "Emmm, ..." Bambang melirik kedua bola matanya ke arah kanan untuk berpikir sejenak. Empat detik berikutnya, Bambang langsung mengangguk cepat, "Iya deh, Pakde," ucap Bambang tersenyum lebar. Pakde mengulurkan tangan kirinya ke arah pintu etalase kaca di atas meja warung, lalu menggesernya sampai terbuka. Tangan kanannya masuk ke dalam etalase kaca tersebut untuk meraih sebuah nampan bulat berisi dua buah bungkusan nasi yang terbungkus kertas dari dari dalam etalase kaca tersebut. Nampan berisi dua bungkus nasi itu dia letakkan ke atas meja lalu menggesernya sampai tiba tepat di hadapan Bambang. "Beli satu gratis satu, Mbang," ucap Pakde mempromosikan dagangannya agar Bambang bersedia membeli kedua nasi bungkus di atas nampan. Yah, mengingat saat ini sudah hampir pagi dan daripada nasi bungkus yang dijualnya basi, lebih baik sekaligus beramal dan dagangannya tidak akan sia-sia karena basi. "Beneran, Pakde?" tanya Bambang dengan wajah sumringah menatap Pakde yang seketika mengangguk mengiyakan, "... Waah! Rezeki nomplok lagi." Bambang dengan cepat mengulurkan kedua tangannya meraih dua bungkus nasi di atas nampan di depannya. Kemudian nampan yang sudah kosong diambil oleh Pakde lagi. "Sebentar, saya ambilkan piring dulu." Pakde berjalan ke samping warungnya lalu berhenti tepat di area piring kotor. Dia duduk berjongkok dan langsung membersihkan salah satu piring yang kotor, lalu segera menyerahkannya kepada Bambang. Bambang sangat senang menatap dua bungkus nasi di depannya. Tangan kanannya mengangkat salah satu bungkusan nasi dan meletakkannya ke atas piring yang tadi diserahkan oleh Pakde. Bambang menumpahkan semua nasi dari dalam bungkusan ke atas piring di depannya setelah melepaskan gelang karet yang ada pada bungkusan nasi. Aksinya dia lanjutkan untuk bungkusan nasi yang selanjutnya. Setelah isi dari dua bungkusan nasi menjadi satu, barulah tangan kanannya meraih sebilah sendok dan bersiap untuk menyantap makanan di hadapannya. "Saya rebahan lagi ya, Mbang," ucap Pakde sambil duduk pada salah satu dari lima kursi plastik yang sudah disusunnya berjejer lalu perlahan merebahkan tubuhnya ke atas susunan kursi tersebut. Belum sampai sepuluh menit, Bambang sudah selesai menghabiskan makanan di depannya. Tangan kanannya meraih sebuah teko berisi air putih yang tergeletak di atas meja warung sembari tangan kanannya meraih sebuah gelas plastik yang berada di samping teko. Dia tuangkan air putih ke dalam gelas plastik di tangan kirinya. Diangkatnya tangan kirinya untuk menuangkan air putih ke dalam mulutnya. Detik berikutnya, mulut Bambang membuka sedikit dan keluarlah angin dari tenggorokannya yang menandakan bahwa dia sudah kenyang dan puas. "Pakde," panggil Bambang sembari beranjak berdiri dan menengok ke arah Pakde yang berbaring dengan kedua mata terpejam. Sepertinya Pakde sudah tertidur, begitulah isi dalam pikiran Bambang saat melihat Pakde yang tidak menjawab panggilan darinya. Tidak menunggu jawaban dari Pakde, Bambang langsung melangkah menuju losmen untuk segera mengutak-atik smartphone-nya di dalam ruang tunggu karyawan. *** Anton menggeliatkan badannya yang duduk bersandar di kursi dan tanpa sadar dia terjatuh dengan posisi tengkurap dan wajah menghadap lantai. "Aduh!" Anton tersentak sambil merasakan sakit di wajahnya yang membentur lantai. Bambang yang melihat itu hanya bisa tertawa pelan menertawakan Anton, "Hahaha, rasain! Sakitnya sih nggak seberapa, tapi malunya?! ... Itu balasan buat orang yang mengorok dan berisik!" batin Bambang menang. Anton perlahan bangun untuk duduk di atas lantai sambil memusut wajahnya yang terasa sedikit perih akibat benturan dengan lantai marmer. Bambang menoleh ke arah jam dinding yang menempel di ruang tunggu karyawan dan mengetahui bahwa sekarang sudah pukul setengah enam pagi, "Hah, udah waktunya pulang! ..." seru Bambang bergumam pelan lalu beranjak berdiri dan mengambil tas selempangnya yang tergelatak di atas kursi di sampingnya, "Lala aku datang...." ucap Bambang pelan sambil menggantung tas selempang miliknya ke bahu kirinya dengan wajah sumringah. "Mau ke mana loe, Mbang?!" tanya Anton perlahan beranjak berdiri dan menatap Bambang dengan tatapan heran. "Mau pulang," jawab Bambang singkat dan tanpa panjang lebar langsung melangkah ke arah pintu dan segera keluar dari ruang tunggu karyawan. Anton menoleh ke arah jam dinding dan mengetahui sekarang memang benar waktunya untuk pulang. Detik berikutnya, ia masih heran sambil menoleh dan menatap ke arah pintu yang tadi dilalui oleh Bambang, "Kalau sekarang waktunya pulang, ..." Anton mengerutkan kedua keningnya, "... Kok Ifan sama Solihin belum datang ya? Hari ini kan, jadwal mereka...." Anton bergumam pelan. Anton ikut mengambil tas miliknya yang tergeletak di atas salah satu kursi dalam ruang tunggu karyawan, lalu bergegas keluar untuk menyusul Bambang. Di parkiran losmen. Bambang menaiki motor matik hijaunya sambil memasukkan kunci ke dalam lubang yang tersedia. Diputarnya kunci tersebut ke arah kanan. Kemudian, kedua tangannya sudah bersiap pada posisi masing-masing. Mesin motor matik sudah dihidupkan. "Mbang! Tungguin gue!" seru Anton yang berlari mendatangi Bambang. Bambang menoleh ke arah Anton sambil tersenyum lebar dengan tatapan bingung menatap Anton. "Mbang! Loe yakin kalau sekarang sudah waktunya pulang?" tanya Anton dengan nafasnya yang terengah-engah sambil membungkukkan badan. Senyum Bambang berubah menjadi tatapan heran menatap Anton yang masih membungkuk dengan nafas terengah di samping motor matik hijaunya, "Iya, yakin," jawab Bambang mengangguk pasti. "Tapi, kok yang shift siang pada belum datang?" Bambang hanya menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya, "Aku duluan ya, Nton," ucap Bambang tanpa menunggu sahutan dari Anton dan langsung menancap gas pergi menjauh dari Anton untuk keluar dari area parkiran losmen. Bambang tidak mau menunda waktu untuk pergi ke rumah kediaman Lala dan menjemput Lala, kemudian mengantarkan Lala ke pasar. Hanya itu usaha yang bisa dilakukannya untuk membuat Lala suka pada dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN