"Jaga! Jaga!"
"Bantuin gue, woy!"
"Loe lari cepetan! Gue juga kewalahan nih, Wel!"
Kedua bola mata Bambang terbuka dan seketika membulat. Ia tersentak dan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara kegaduhan dari bawah lotengnya.
"Huh!" Bambang mendengus kesal sembari menggaruk cepat dan mengacak-acak rambutnya sendiri, "... Ribut banget sih! Nggak ada tempat lain lagi apa buat diributin selain di rumah aku!" gerutu Bambang kesal karena keributan antara Owel dan Rudi dari bawah lotengnya atau tepatnya di ruang depan rumah kediamannya.
"Dikit lagi, semangat!"
"Yaaah!" seru Rudi dan Owel bersamaan diiringi suara hentakan kaki yang begitu cepat menambah suasana gaduh.
Bambang langsung beranjak duduk sembari mendengus kesal. Kepalanya menoleh ke arah jam dinding yang menempel di sisi kanan jendela, "Hah! Udah jam empat sore! ..." gumam Bambang pelan kemudian menggeser badannya untuk turun dari kasur, "... Sekarang waktunya untuk bersiap pergi kerja. Cuci muka dulu, ah...." Bambang beranjak berdiri lalu menuju tangga dan menuruni anak tangga tersebut. Kedua telinganya semakin jelas mendengar suara keributan yang dihasilkan Owel dan Rudi yang sedang bermain game online di ruang depan rumah kediamannya, "Dasar....!" gerutu Bambang diiringi dengan kalimat yang tidak jelas sembari melangkahkan kedua kakinya menuruni satu per satu anak tangga. Ia enggan untuk menoleh ke arah Rudi dan Owel yang masih membuatnya kesal. Setelah anak tangga terakhir, ia mempercepat langkahnya menuju kamar mandi yang berada dalam ruang dapur.
Setibanya di ruang dapur.
Bambang mendengar samar suara gemericik air dari arah kamar mandi yang pintunya dalam posisi tertutup. Ia melangkah ke arah pintu kamar mandi dan suara gemericik air yang keluar dari kran air semakin jelas terdengar di kedua telinganya, membuatnya tahu bahwa ada seseorang di dalam kamar mandi. Kedua keningnya mengernyit dan wajahnya merangut. Bibirnya mengerucut.
"Siapa sih di dalam dapur! ..." gumam Bambang kesal dengan wajahnya yang tetap merangut dan bibirnya mengerucut, "... Nggak tau apa kalau aku mau cuci muka, huh!"
Bambang hanya berdiri diam sembari menyilangkan kedua tangannya di depan d**a dan masih tidak merubah ekspresi wajahnya. Menunggu tepat di depan pintu untuk melihat seseorang yang akan keluar dari dalam kamar mandi dan tetap menunjukkan raut wajahnya yang merangut agar seseorang yang nanti keluar dari dalam kamar mandi mengetahui bahwa dia marah.
***
"Nek, saya nyamperin Rudi dulu ya," ucap Nanda tersenyum ramah menatap Nenek Mirah sembari beranjak berdiri dari sofa di ruang tamu rumah kediaman Nenek Mirah.
"Iya, Nan." Nenek Mirah mengangguk sembari membalas senyum Nanda.
Detik berikutnya, Nanda melangkah ke arah pintu depan dan langsung ke luar melalui pintu tersebut. Dikenakannya sepasang sandal jepit berwarna putih pada kedua kakinya, lalu bergegas melangkah ke seberang jalan tepat menuju rumah kediaman Bambang.
"Rud!" seru Nanda yang sudah tiba di depan pintu rumah kediaman Bambang yang dalam keadaan setengah terbuka. Tangan kirinya mendorong pintu tersebut agar terbuka sepenuhnya. Ia menengok ke arah dalam dan langsung melihat Rudi bersama Owel yang sama-sama sedang mengutak-atik smartphone. Ia pun melangkah masuk dan mendatangi Rudi.
"Rudi! Dari tadi kamu nggak baca chat aku, ya! ..." Nanda membentak sembari berdiri di hadapan Rudi yang sedang duduk pada sofa bersama Owel.
Rudi tersentak, seketika mengangkat wajahnya dan menatap wajah Nanda yang tampak kesal padanya, "Eh...." Rudi tersenyum gugup mengetahui istrinya yang marah.
"Baca nggak!" bentak Nanda menatap Rudi.
"I-iya, ini mau di baca kok," ucap Rudi gugup. Kedua tangannya tampak gemetar sembari mengutak-atik smartphone di tangannya.
Owel tampak gugup karena ikut mendengar suara bentakan Nanda, "Rud, gue nyelamatin nyawa gue yang tersisa dulu, ya," ucap Owel gugup sembari beranjak berdiri dari sofa.
Nanda menoleh ke arah Owel dan menatap dengan tatapan marah.
"Nan, gue ke seberang dulu ya," ucap Owel mengangguk pelan dan ikut tersenyum gugup menatap Nanda sama seperti Rudi. Detik berikutnya, melangkah cepat menuju pintu depan dan langsung berjalan ke luar tanpa menunggu sahutan Nanda.
Nanda kembali menatap Rudi, "Baca cepetan!" bentak Nanda lagi.
"I-iya, bentar, ..." ucap Rudi gemetar sembari mengangguk pelan, lalu menatap layar smartphone di tangannya, "... Sayang, tadi aku lupa buat matiin kran di dapur. Tolong matiin ya, Sayang," ucap Rudi membaca chat yang dikirim Nanda. Tampak senyum bahagia di sepanjang ketika membaca chat tersebut.
"Senyam senyum senyam senyum!" bentak Nanda lagi.
"Jadi, udah boleh manggil sayang nih?" tanya Rudi menatap manja kepada Nanda yang masih berkacak pinggang di hadapannya.
"Nggak jadi!"
"Yahh, ..." Rudi mengeluh kecewa, "... Kok nggak jadi?!"
"Boro boro mau balas chat, dibaca aja enggak!" Nanda memalingkan wajahnya dan menyembunyikan senyuman penuh arti.
"Iya, aku minta maaf," ucap Rudi pelan.
Nanda kembali berpaling menatap Rudi, "Aku bakalan maafin kamu, tapi matiin dulu tuh kran airnya," pinta Nanda.
"Oke! Siap laksanakan!" Rudi segera beranjak berdiri menatap Nanda bak seorang prajurit yang menghadap atasannya.
"Buruan...."
"I-iya." Rudi meletakkan smartphone miliknya ke atas meja kemudian bergegas melangkah ke arah dalam tepat menuju ruang dapur untuk melaksanakan permintaan Nanda istrinya. Setibanya dalam ruang dapur, ia melihat Bambang yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan posisi menyilangkan kedua tangan di depan d**a.
"Itu, Bambang lagi ngapain?" gumam Rudi pelan sembari mengerutkan kedua keningnya menatap ke arah Bambang. Ia perlahan melangkah untuk mendekat ke arah di mana Bambang berdiri, "... Loe ngapain, Mbang?" tanya Rudi kepada Bambang.
"Hah?" Bambang menoleh ke arah kanan dan menatap Rudi. Detik berikutnya, ia berbalik badan lalu berjalan ke arah kulkas.
Rudi seketika heran menatap tingkah Bambang. Kedua keningnya mengkerut, "Bambang itu lagi ngapain sih?!" gumam Rudi sembari melangkah dan berdiri di depan pintu kamar mandi yang masih dalam posisi tertutup. Tangan kanannya terulur untuk membuka pintu kamar mandi tersebut lalu melangkah masuk dan langsung menutup kran air yang terbuka.
Bambang yang sejak tadi berpura-pura mencari sesuatu di dalam kulkas, mencuri pandang ke arah di mana Rudi berada, "Loh! Dari tadi di dalam kamar mandi ternyata nggak ada orangnya?!" gumam Bambang pelan dengan raut wajah yang terkejut mengetahui ternyata tidak ada orang di dalam kamar mandi.
Rudi melangkah ke luar kamar mandi dan langsung berlalu di samping Bambang yang sedang menunduk dan tampak sedang mencari sesuatu di dalam kulkas. Ia terus melangkah ke luar ruang dapur dan menghiraukan tingkah Bambang.
Bambang segera berbalik sembari menutup pintu kulkas setelah melihat Rudi yang sudah keluar dari ruang dapur. Detik berikutnya, kedua kakinya melangkah cepat ke arah kamar mandi yang pintunya dalam posisi terbuka.
"Huh! Kalau tau nggak ada orang, ngapain dari tadi aku nungguin di depan pintu!" gerutu Bambang sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan raut wajah kesal.