Bambang memonyongkan mulutnya tepat ke arah telinga kiri seekor kucing belang dua yang dijinjitnya dengan tangan kanannya. Detik berikutnya, ia menghembuskan angin pertama yang keluar dari mulutnya dengan cepat dan tepat ke arah dalam telinga kiri Popong si kucing belang.
Usaha pertama belum berhasil, tapi Bambang belum menyerah. Ia hembuskan lagi angin yang kedua ke dalam telinga kiri Popong si kucing belang. Dan, hasilnya masih sama seperti tiupannya yang pertama. Detik berikutnya, Bambang terus menerus meniup angin ke dalam telinga kiri Popong si kucing belang. Ia berharap Popong mau melepaskan gigitannya.
Namun, Popong si kucing belang tampaknya tidak mau melepaskan gigitan pada sepotong gorengan di mulutnya.
"Keras kepala banget ternyata kamu ya, Pong!" Bambang geram melihat Popong si kucing belang yang sejak tadi terus menguatkan gigitan untuk mempertahankan sepotong gorengan.
Belum habis akal, Bambang beralih meniup ke telinga kanan Popong si kucing belang secara terus menerus tanpa henti. Detik berikutnya, Bambang mulai tersengal tapi Popong si kucing belang tidak juga melepaskan sepotong gorengan dari mulutnya.
"Dasar kamu, Pong!" bentak Bambang kesal menatap wajah Popong si kucing belang yang memiliki raut wajah tanpa rasa bersalah.
Bambang diam sesaat sembari terus menatap sepotong gorengan yang masih dalam gigitan Popong si kucing belang, "Apa cara yang aku lakukan nggak sama kayak yang dilakukan ayah, ya?!" pikir Bambang mulai ragu setelah mencoba melakukan trik yang sama seperti yang dilakukan pak Satria tapi hasilnya tidak seperti yang dia harapkan. Tapi, Bambang masih belum mau menyerahkan sepotong gorengan yang sekarang masih dalam gigitan Popong si kucing belang.
"Aha!" Bambang tersenyum sembari melirikkan kedua bola matanya ke kanan atas ketika menemukan ide cemerlang yang tiba-tiba terlintas dipikirannya. Ia menggerakkan tangan kirinya yang kembali terulur untuk memegang sepotong gorengan di sisi satunya dan masih dalam gigitan Popong si kucing belang di sisi satunya lagi. Ia tersenyum menyeringai menatap wajah polos Popong si kucing belang, "Hyaat!" Bambang menarik paksa tangan kirinya yang memegang sepotong gorengan. Membuat sepotong gorengan yang dia perebutkan dengan Popong si kucing belang kini terbelah dua.
"Hap!" Bambang dengan cepat memasukkan sepotong gorengan yang ada dalam genggaman tangan kirinya ke dalam mulutnya yang membuka lebar, "Nyam nyam nyam...." Dikunyahnya gorengan tersebut di dalam mulutnya sembari menunjukkan wajahnya yang tampak mengejek Popong si kucing belang.
Popong si kucing belang yang masih dijinjit Bambang mencoba berontak agar bisa melepaskan diri.
Bambang pun melepaskan cubitannya pada leher belakang Popong si kucing belang, "Hus! Hus! Hus!" Bambang mengibaskan kedua tangannya untuk menyuruh Popong si kucing belang menjauh. Dan benar saja, Popong si kucing belang langsung berlari ke luar dari ruang dapur, "... Hmm, enak aja mau makan gorengan punyaku! ..." gumam Bambang sembari masih mengunyah gorengan di dalam mulutnya dan menatap ke arah Popong yang berlari ke luar dari ruang dapur. Detik berikutnya, setelah menelan gorengan yang dia kunyah dalam mulutnya, ia berkacak pinggang dan tersenyum dengan penuh kemenangan, "Hahaha.... Ternyata harus dengan caraku sendiri!"
Bambang begitu menikmati setiap kunyahan dalam mulutnya. Indera perasa di lidahnya tidak mau melewatkan semua rasa gurih yang pada gorengan dalam mulutnya. Detik selanjutnya, ia berbalik badan dan kembali menatap sebuah bungkus plastik berisi gorengan yang tergeletak di atas meja makan.
"Nah! Sekarang aku bisa dengan tenang melahap semua gorengan itu," gumam Bambang tersenyum senang kemudian melangkah ke depan sembari mengulurkan tangan kanannya untuk meraih sebuah bungkus plastik yang berada di atas meja makan di depannya. Lalu, ia melangkah keluar dari ruang dapur untuk segera membawa sebungkus gorengan di tangan kanannya menuju loteng.
Bambang melangkahkan kedua kakinya menaiki satu per satu anak tangga sampai tiba di loteng tempat di mana dia melepaskan penatnya.
Bambang duduk bersila, menghela nafas lega sembari menatap sebuah bungkusan plastik yang tergeletak di depannya dan masih dalam keadaan terikat, "Akhirnya aku bisa memenuhi kebutuhan perutku buat kerja nanti malam." Bambang tersenyum lebar sembari saling menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Detik berikutnya, kedua tangannya terulur untuk membuka ikatan pada bungkusan plastik di depannya. Setelah ikatannya terbuka, tangan kanannya terulur masuk ke dalam bungkusan plastik tersebut.
"Eh! Bentar dulu, kayaknya ada yang kelupaan lagi nih, ..." Bambang menghentikan pergerakan tangan kanannya yang tadi hampir meraih sepotong gorengan dari dalam bungkusan plastik di depannya, "... Astaga! Aku lupa ngambil piring buat petisnya," gumam Bambang kemudian segera beranjak berdiri lalu kembali melangkah menuruni satu per satu anak tangga dan bergegas melangkah menuju ruang dapur untuk mengambil sebuah piring kecil.
Bambang melangkah masuk ke dalam ruang dapur dan langsung mendatangi sebuah lemari piring yang letaknya bersebelahan dengan wastafel cuci piring. Setelah berdiri menghadap lemari piring, kedua tangannya terulur untuk membuka dua pintu pada lemari piring. Badannya membungkuk seiring kepalanya menoleh ke segala arah menatap ke dalam lemari piring untuk mencari keberadaan di mana piring kecil berada.
"Nah!" Bambang tersenyum lebar menatap sebuah piring kecil yang tergeletak di bagian dasar dalam lemari piring, "... Pucuk dicinta, Lala pun tiba," gumam Bambang sembari tertawa pelan mengucap pribahasa asal-asalan dengan membayangkan wajah seorang perempuan yang diidamkannya. Detik berikutnya, tangan kirinya terulur masuk ke dalam lemari piring untuk meraih sebuah piring kecil yang berhasil ditemukannya. Dan segera kembali ke loteng untuk menyantap gorengan di sana.
Kurang dari lima menit, Bambang telah selesai menyantap semua gorengan yang ada dalam bungkusan plastik putih terang di depannya.
"Nah bener, kan!" gumam Bambang tersenyum lega sembari menggeleng pelan dan tangan kanannya memusut perutnya yang sudah mulai buncit. Ia pun menolehkan kepalanya ke arah belakang dan tepat menatap sebuah kasur tidur, "... Sekarang aku udah siap untuk terbang ke sana biar bisa melanjutkan mimpiku bertemu Lala." Bambang beranjak berdiri lalu membalik badannya. Detik selanjutnya, ia melompat terjun dan mendarat tepat di atas kasur tidurnya dengan posisi badan terlentang tanpa membereskan piring kecil dan bungkusan plastik yang dibiarkannya berserakan di samping kasur tidur miliknya.
Bambang diam termenung dengan senyuman tipis menatap langit-langit lotengnya yang dihiasi oleh sarang laba-laba, "Lala, kita ketemuan yuk," ucap Bambang pelan dengan nada mengajak sembari menatap ke salah satu sarang laba-laba yang dalam pandangannya telah berubah menjadi wajah seorang perempuan sang pujaan hatinya.
Bambang terus tersenyum menatap salah satu sarang laba-laba di langit-langit loteng yang dalam pandangannya masih menggambarkan wajah dari perempuan yang dipujanya. Tanpa sadar, kedua kelopak matanya mulai berat sehingga tak mampu lagi menahan rasa kantuk. Detik berikutnya, ia pun terlelap dalam angan-angan memandang wajah sang kekasih impiannya.
Tiba-tiba, kedua mata kembali terbuka. Bambang merasakan ada udara yang tersendat di kerongkongannya.
"Duh, aku lupa kalau belum minum!" Bambang mendengus, lalu kembali beranjak bangun dan berdiri dari kasur tidurnya. Kedua kakinya melangkah cepat untuk menuruni satu per satu anak tangga lalu bergegas menuju ruang dapur untuk mengambil sebotol air dingin dari dalam lemari. Tangan kanannya mengangkat botol berisi air dingin itu dan menuangkannya ke dalam mulutnya. Setelah selesai minum, Bambang bersendawa puas dan sangat nyaring. Saking panjangnya angin sendawa yang keluar dari kerongkongannya, ia sampai bisa membuat musik dari sendawaanya itu.
Detik berikutnya, Bambang kembali ke loteng untuk melanjutkan mimpinya yang tadi tertunda. Belum lama dia menelentangkan tubuhnya sambil kembali menatap salah satu sarang laba-laba yang dalam pandangannya telah berubah menjadi wajah sang pujaan hatinya, Bambang segera terlarut dalam buaian mimpi indahnya dan berharap bisa bertemu Lala sang kekasih impian yang teramat dirindukannya. Mimpi itu sangat ingin dia ubah menjadi nyata. Hidup bersama dengan Lala dalam satu atap. Mendapatkan banyak anak dan bermasa depan bahagia. Padahal sebenarnya, ia belum tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak seindah yang dia bayangkan dalam mimpi-mimpi indahnya. Dia biarkan saja pikirannya dalam keadaan tidak tahu sambil terus menjalani kehidupannya yang seolah-olah bahagia seperti lelaki-lelaki lain yang seumurannya.