Bambang larut dalam lelapnya karena kelelahan setelah tadi siang membantu Lala di pasar. Namun, tiba-tiba Bambang terbangun karena mendengar suara motor entah milik siapa yang berhenti tepat di depan rumah kediamannya.
"Huuh! Suara motor siapa sih itu! Ganggu orang tidur aja!" Bambang menggerutu kesal seketika menengkurapkan tubuhnya kemudian menutup kepalanya dengan menggunakan bantal untuk mencoba melanjutkan tidurnya. Namun, setelah lama mencoba kembali tidur, dia tak juga kunjung tertidur lagi, "Huuuh!!!" gerutu Bambang lagi seketika melemparkan bantal yang tadi ditutupinya di kepala ke dinding lotengnya, "Kalau gini, gimana aku bisa istirahat!" Bambang seketika beranjak dari tempat tidur kemudian ia perlahan-lahan turun dari lotengnya yang langsung mengarah ke ruang tamu kediamannya.
Dengan pelan Bambang menuruni satu per satu anak tangga agar ayahnya tidak menyadari bahwa dia turun. Namun, saat Bambang sudah menginjakkan kaki pada anak tangga terakhir, Pak Satria ayahnya yang sedang menonton televisi langsung menoleh ke arahnya.
"Mau kemana lagi, Mbang?!" tanya Pak Satria tiba-tiba, kemudian kembali menatap televisi di depannya.
"Hah, enggak...." jawab Bambang singkat kemudian duduk di sofa dan ikut menonton televisi yang sejak tadi ditonton ayahnya. "Emang mau kemana coba! Males!" gerutu Bambang seketika merangutkan wajahnya, "Udah kayak anak kecil aja, mau kemana aja harus ditanya mulu!" gerutu Bambang lagi.
"Kamu itu harusnya istirahat, tidur..." ucap Pak Satria lagi sambil menonton televisi tanpa menoleh kebelakang ke arah Bambang.
"Hhmm!" sahut Bambang kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Sementara itu di seberang rumah kediaman Bambang tepat di rumah kediaman Nenek Mirah neneknya Bambang. Tampak seorang laki-laki yang menjinjing sebuah kantong plastik berisi sesuatu, laki-laki itu merupakan Rudi salah satu sepupu Bambang.
Tok Tok Tok....
"Nek..." panggil Rudi sembari mengetuk pintu.
Namun, sebelum pintu rumah kediaman Nenek Mirah dibuka, Owel tiba dengan mengendarai motornya yang diikuti dengan suara knalpot bising sehingga membuat Bambang yang sedang berusaha kembali untuk tidur tepat di atas sofa menjadi terganggu. "Duuuh! Itu pasti bunyi motornya Owel! Berisik!" Bambang kembali menggerutu sambil tetap memejamkan kedua matanya untuk berusaha kembali tertidur.
"Eh, Rudi..." sapa Owel seketika menuruni motornya dan langsung menghampiri Rudi di depan pintu.
"Wel, dari mana lu?" tanya Rudi.
"Ini habis beli sparepart, Rud," jawab Owel kemudian mengetuk pintu rumah kediamannya.
Tok Tok Tok....
"Bu... Nek..." panggil Owel sambil terus mengetuk pintu, "Loh, udah pada tidur apa?!" ucap Owel kesal karena pintu tak kunjung dibukakan.
"Iya kayaknya, Wel," sahut Rudi menegaskan.
"Nek... Bukain... Ada Rudi niih," panggil Owel sedikit meninggikan nada suaranya sambil terus mengetuk pintu.
"Iya... Bentar...." Terdengar samar suara dari dalam rumah.
JLEKKK!
Pintu pun dibuka, dan yang membukakan pintu ternyata Mawar kakak perempuannya Owel yang kuliah di Jakarta.
"Eh, kakak?! Kapan datang?" tanya Owel seketika terkejut karena kedatangan Mawar yang tiba-tiba.
"Tadi sore, Wel..." jawab Mawar, "Eh, ada Rudi juga," sambung Mawar tersenyum seketika melihat Rudi yang berdiri di belakang Owel, "Masuk, masuk...." tambah Mawar mempersilahkan Rudi untuk masuk, dan Rudi pun masuk bersama Owel.
"Loh, bukannya kakak belum waktunya liburan ya?!" tanya Owel sambil melangkah memasuki rumah lalu duduk pada sofa panjang yang ada di ruang tamu bersama dan bersebelahan dengan Rudi.
"Iya emang belum," jawab Mawar, "Bentar ya, Rud... Aku panggilin nenek dulu," sambung Mawar kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar Nenek Mirah yang berdekatan dengan ruang tamu dan memberitahukan bahwa Rudi datang berkunjung.
"Ini..." Rudi meletakkan sebuah kantong plastik yang tadi dibawanya di atas meja untuk menyerahkannya kepada Mawar.
"Waah, makasih ya Rud... Bay de wey, ini isinya apa?" tanya Mawar sembari menyambut kantong plastik itu.
"Kue Tart, Maw," jawab Rudi.
"Rudi.." sapa Nenek Mirah kemudian duduk di sofa tunggal berseberangan dengan Owel dan Rudi.
"Bentar ya, aku ambilin piring dulu..." Mawar berjalan menuju dapur.
"Sekalian bikinin air minum buat Rudi ya, Maw...." ucap Nenek Mirah.
"Aku juga ya, Kak..." teriak Owel yang juga ingin dibuatkan minuman oleh Kakaknya.
"Yeee, bikin aja sendiri..." sahut Mawar.
"Pelit!" teriak Owel lagi.
"Iya, iya, iya," sahut Mawar sambil berjalan kemudian berpapasan dengan Bik Mumun yaitu ibunya.
"Apaan itu, Maw?" tanya Bik Mumun seketika menunjuk kantong plastik yang dibawa Mawar saat berpapasan dengan Mawar.
"Ini kue, Bu.." jawab Mawar seketika berhenti melangkah.
"Kamu beli?" tanya Bik Mumun lagi.
"Enggak, itu Rudi yang bawain..." jawab Mawar kemudian berlalu meninggalkan ibunya langsung menuju ke dapur.
"Hah? Rudi, ya?" Bik Mumun pun segera berjalan menuju ke ruang tamu dan menghampiri Rudi di ruang tamu.
"Nenek gimana? Sehat?" tanya Rudi dengan ramah.
"Iya, Rud.. Alhamdulillah..." jawab Nenek Mirah tersenyum, "Kerjaan kamu gimana?" sambung Nenek Mirah balik bertanya.
"Iya, Alhamdulillah lancar, Nek," jawab Rudi.
"Eh, Rud.. Emangnya lu kerja dimana?" tanya Owel seketika.
"Gua kerja ngamen, Wel," jawab Rudi kemudian tersenyum.
"Maksud lu, ngamen yang kayak di jalan jalan itu?" tanya Owel lagi.
"Bukan..." sahut Bik Mumun pelan.
"Loh, ngamen kan?!" Owel tampak heran menatap Rudi.
"Iya ngamen Wel, tapi gua ngamennya di acara acara besar gitu..." jawab Rudi menjelaskan.
"Itu sih bukan ngamen... Itu tuh namanya jadi artis..." sahut Owel seketika, "Wah, hebat lu sekarang jadi artis," sambung Owel berdecak kagum.
"Ini, diminum, Rud..." Mawar tiba dengan membawa beberapa gelas berisi teh hangat di atas nampan dan meletakkannya di atas meja.
"Loh, kue tadi mana, Kak?" tanya Owel seketika.
"Bukan buat kamu, weee," sahut Mawar seketika menjulurkan lidahnya ke arah Owel.
"Tapi aku laper, Kak!" seru Owel.
"Iya, iya... tangan aku cuman dua! Mana bisa bawa kue sekaligus!" Mawar dengan kesal kemudian kembali menuju dapur untuk mengambil kue yang di bawakan Rudi tadi.
"Gini, Nek..." Rudi mulai serius dengan maksud kedatangannya berkunjung ke rumah kediaman Nenek Mirah, "Aku mau ngasih kabar kalau aku minggu ini mau nikah, Nek," tambah Rudi.
Owel terkejut seketika menyemprotkan air ketika sedang minum, begitu pula dengan Nenek Mirah dan Bik Mumun yang juga terkejut mendengar kabar dari Rudi yang akan menikah.
"Nih kuenya..." ucap Mawar seketika meletakkan dua buah piring berisi kue yang sudah diiris-irisnya kemudian duduk di samping Bik Mumun ibunya.
"Lu serius nih, nggak becanda, kan?" tanya Owel seketika sambil meraih sehiris kue berukuran lebih besar dari hirisan kue yang lain.
"Iya serius gua, Wel," jawab Rudi.
"Eh, eh, eh, eh.... Jangan yang gede, Wel! Itu kan, buat Nenek...." tegur Mawar seketika menepis tangan Owel yang menggapai sehiris kue yang ukurannya lebih besar dari hirisan kue yang lain. Namun, Owel bersikeras menggambil hirisan kue yang besar itu.
"Laper tau...!" sahut Owel seketika menggigit kue besar di tangannya.
"Iiihh!!!" Mawar tampak kesal.
"Udah, biar aja... Nggak apa-apa..." ucap Nenek Mirah, "Kamu kenapa baru ngasih kabarnya sekarang?!" tanya Nek Mirah dengan raut wajahnya yang mulai marah.
"Loh, kan aku udah ngasih tau sama Mawar, Nek," jawab Rudi.
"Hee..." Mawar tampak cengengesan, "Iya, Nek... Tadinya kan, aku mau ngabarin. Makanya aku pulang, Nek..." ucap Mawar masih tersenyum malu, "Terus, aku lup-pa...." sambung Mawar.
"Dih! Pantesan kakak pulang..." sahut Owel sambil terus menyantap kue di tangannya.
"Kamu itu harusnya ngasih tau ke nenek, Rud..." ucap Nenek Mirah pelan.
"He... Iya, Nek... Khilaf..." Rudi juga tampak tersenyum malu sambil menganggukkan kepalanya.
"Terus, acara resepsinya kapan, Rud?" tanya Owel setelah menelan kue di dalam mulutnya kemudian kembali meraih gelas berisi teh hangat yang tadi diminumnya.
"Iya minggu ini, Wel..." jawab Rudi, "Kalau nikahnya sih udah minggu kemarin," tambah Rudi.
"Nah, kan... Harusnya kamu itu beritahu nenek dulu...!" seru Nenek Mirah kembali menunjukkan raut wajahnya yang mulai marah.
"Lagian, ibu sama ayah kamu kok juga nggak ngasih tau nenek?" tanya Bik Mumun ikut bicara.
"Iya, Bik.. Soalnya mendadak, jadi nggak sempat ngasih kabar," jawab Rudi.
"Terus, istri kamu mana? Kenalin dong... Aku penasaran nih," sahut Mawar.
"Nah, bener tuh..." tambah Owel mengucapkan dengan mulut penuh berisi kue yang masih dikunyahnya.
"Wel! Telan dulu tuh makanan, baru ikut ngomong!" tegur Mawar.
"Iya, terus mana istri kamu? Kok nggak diajak kesini?" tanya Nenek Mirah.
"Tadinya sih kesini mau sama istri aku, Nek.. Tapi, dia masih manggung. Jadi, nggak aku bawa," jawab Rudi.
"Loh! Istri kamu artis juga Rud?!" tanya Mawar terkejut.
"I-iya, Maw," sahut Rudi.
"Ya udah, kalau gitu kamu tungguin istri kamu selesai manggung, terus ajak dia kesini..." ucap Nenek Mirah.
"Iya Nek..." sahut Rudi kemudian menatap jam tangan di lengannya, "Nah, kayaknya dia udah selesai manggung, Nek," sambung Rudi.
"Ya udah, kamu jemput aja dulu istri kamu," ucap Nenek Mirah.
"Iya, Nek," sahut Rudi kemudian beranjak dari sofa.
"Kalau bisa, sekalian aja nginep disini barang semalaman," tambah Nenek Mirah.
"Iya bener tuh," sahut Mawar.
"Lah, kalau nginep, terus tidurnya dimana?" tanya Owel seketika.
"Kan, itu ada kamar yang masih kosong di rumah Om..." sahut Mawar.
"Oh iya ya...." Owel mengangguk.
"Iya, Nek... Ya udah, aku mau jemput istri aku dulu ya, Nek..." ucap Rudi berpamitan.
Kemudian Rudi berjalan keluar rumah, lalu menghampiri motornya yang terparkir di depan rumah dan langsung pergi untuk menjemput istrinya.