Bab 33

1842 Kata
Malam itu ketika jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas, terdengar kembali suara berisik yang berasal dari seberang rumah kediamannya tepat di rumah kediaman Nenek Mirah. Bambang yang tengah tertidur pulas di atas sofa tiba-tiba terbangun karena mendengar suara berisik yang bercampur dengan tawa dari seorang perempuan yang tidak biasa dia dengar. Sedangkan Pak Satria masih pulas dengan dengkurannya. "Siapa lagi sih! Berisik banget tengah malam begini!" gerutu Bambang tetap memejamkan kedua matanya dan seketika menengkurapkan tubuhnya, "Eh, itu kayaknya ada suara cewe juga?" Bambang langsung membuka kedua matanya dan beranjak bangun dari sofa. Kemudian mengintip dari balik gorden jendela depan rumah tepat ke arah rumah kediaman Nenek Mirah, "Siapa itu yang sama Rudi?" gumam Bambang bertanya kepada dirinya sendiri seraya menyipitkan matanya untuk menajamkan penglihatannya tepat ke arah rumah kediaman Nenek Mirah. Rudi bersama istrinya tengah berada di depan rumah kediaman Nenek Mirah. "Oh, iya Nek, kami ke rumahnya Om Satria dulu ya!" ucap Rudi berpamitan sembari menggandeng tangan istrinya, "Ayo Nan, kita kerumah Om Satria," ajak Rudi kepada Nanda istrinya. "Iya, Rud," sahut Nanda sembari tersenyum ke arah Rudi. "Ketuk dulu rumah paman kamu itu, Rud. Biasanya kan, paman kamu itu suka ketiduran di depan televisi," ucap Nenek Mirah. "Apa nggak ganggu beliau tidur, Nek?" tanya Rudi. "Iya, nggak apa-apa," jawab Nenek Mirah, "Entar bilang aja kalau nenek yang nyuruh," tambah Nenek Mirah. "Sini, biar aku temenin kesana, Rud!" seru Mawar seraya beranjak dari tempat duduknya pada sofa di ruang tamu kemudian bergegas menyusul Rudi dan Nanda yang ada di depan rumah. "Yuk!" ajak Mawar berjalan berdahulu dari Rudi dan Nanda yang mengiringinya di belakang. Tok Tok Tok.... "Om Satria!" panggil Mawar sembari mengetuk pintu rumah kediaman Pak Satria. "Itu kayaknya Mawar deh, terus Rudi ada juga, sama siapa itu satunya lagi..." gumam Bambang mengintip dari balik gorden jendela ke arah pintu rumah kediamannya dan melihat Mawar sepupu perempuannya di sana bersama Rudi dan juga Nanda istri Rudi yang belum pernah bertemu dengan Bambang. Bambang yang sejak tadi mengintip, langsung kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa dan pura-pura untuk tidur. "Huh! Ngapain sih mereka kesini!" gerutu Bambang lirih sambil memejamkan kedua matanya, tidak menghiraukan Mawar yang terus saja mengetuk pintu sambil memanggil nama Pak Satria ayahnya Bambang untuk minta dibukakan pintu. Bambang merasa terganggu karena suara Mawar yang berteriak sambil mengetuk pintu dengan keras karena letak sofa dimana Bambang berbaring berada bersebelahan dengan letak pintu depan rumah kediamannya. "Huuuh!!!" Bambang semakin kesal karena tidak dapat kembali tertidur walau dia sudah berusaha memejamkan kedua matanya, "Ngapain sih malam-malam gini mau kesini! Males bukain!" gerutu Bambang kemudian membuka kembali kedua matanya. Bambang menatap ayahnya yang tidur sangat nyenyak dan sepertinya tidak mendengar Mawar yang mengetuk pintu sambil memanggil ayahnya, 'Tapi, kalau ayah kebangun, bisa-bisa ayah nanti marahin aku kalau aku ketahuan pura-pura tidur dan nggak ngebukain pintu,' pikir Bambang. Sementara dari depan pintu, Mawar terus saja mengetuk pintu dengan diiringi memanggil nama Pak Satria. "Om Satria!" panggil Mawar lagi dari luar pintu rumah pamannya itu. "Huh, ganggu orang lagi tidur aja!" gerutu Bambang kesal kemudian terpaksa beranjak bangun dan duduk di sofa sambil datar menatap ke arah televisi yang dibiarkan menyala. Bambang akhirnya melangkah menuju pintu dan membukakannya untuk Mawar yang masih saja terus mengetuk pintu. "Iya-iya, bentar!" seru Bambang menyahut dari balik pintu dan langsung membukakan pintu. "Mbang, ini Rudi sama istrinya mau nginep di tempat lu," ucap Mawar sambil menunjuk ke arah Rudi yang bersama istrinya, "Kamar yang kosong ada, kan?" tanya Mawar kemudian. "Iya," jawab Bambang singkat tidak menghiraukan Mawar kemudian langsung kembali masuk dan kembali duduk di sofa. "Ayo Rud, ajak Nanda masuk ke dalam," ucap Mawar kemudian lebih dahulu memasuki rumah dan langsung menuju ke kamar yang kosong. Rudi tersenyum mengiyakan kemudian masuk bersama dengan Nanda istrinya ke dalam rumah kediaman Pak Satria menyusul Mawar menuju kamar kosong melewati Bambang yang tengah duduk di atas sofa di ruang tamu sembari menatap datar ke arah televisi. "Mbang," sapa Rudi pelan ke arah Bambang. "Hmm." Bambang hanya menyahut singkat tanpa menatap Rudi yang lewat di depannya. Sambil berjalan berdampingan dengan Rudi, Nanda melontarkan senyumnya ke arah Bambang, dan spontan saja membuat Bambang terkesima memandang wajah Nanda yang memiliki paras cantik dengan rambut panjang berwarna cokelat terurai lurus sampai ke pinggang, kulitnya mulus berwarna langsat dengan bibir berwarna merah muda bak artis di televisi yang sering Bambang lihat. Bambang seakan melayang-layang ketika mendapatkan senyuman manis dari Nanda. "Siapa sih cewe yang sama Rudi itu?" gumam Bambang dalam hati yang dia tidak tahu bahwa Nanda adalah istrinya Rudi. Karena rasa penasarannya, Bambang pun langsung menghampiri Mawar yang saat itu hendak pulang kembali ke kediamannya setelah mengantar Rudi dan istrinya sampai ke kamar kosong di rumah kediaman Pak Satria dan Bambang. "Mawar!" ucap Bambang ketika Mawar lewat di hadapannya, "Siapa cewek yang barusan sama Rudi?" sambung Bambang bertanya. "Oh... Dia Nanda," jawab Mawar, "Istrinya Rudi," tambah Mawar kemudian berjalan ke luar rumah, "Ya udah, gua pulang dulu ya," sambung Mawar kemudian menutup pintu rumah dan kembali ke kediamannya untuk segera tidur karena sudah larut malam. Bambang terdiam sejenak kemudian kembali duduk di sofa, "Wah, cantik banget sih istrinya Rudi, kayak artis," ucap Bambang lirih, "Coba aja aku punya istri cantik kayak istrinya Rudi, siapa tadi ya namanya?" gumam Bambang bertanya kepada dirinya sendiri sembari berharap bahwa dia menemukan istri yang cantik seperti Nanda istrinya Rudi, "Eh, nggak ah!" gumam Bambang lagi berusaha menghapus harapannya untuk mempunyai istri yang sama seperti Rudi, "Aku kan udah punya calon istri yang cantik kayak Lala, ngapain aku pengen yang lain lagi ya," ucap Bambang lirih sambil terus berpikir tentang kecantikan Nanda yang menurutnya sangat luar biasa, "Ah! Tapi, Nanda emang cantik banget," gumam Bambang lagi sambil tersenyum lebar kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sementar di dalam kamar, tampak Rudi bersama Nanda yang sedang membersihkan dan menyiapkan kamar untuk tidur. "Kamu tidurnya di dalam kamar aja ya, Nan. Biar nanti aku tidurnya di luar sekalian nememin Bambang," ucap Rudi. "Iya Rud," sahut Nanda pelan, "Eh, tapi, apa nggak apa-apa kita nginep disini, Rud?" sambung Nanda lirih bertanya. "Iya nggak apa-apa, kamu tenang aja," jawab Rudi sembari tersenyum, "Emangnya kenapa?" sambung Rudi balik bertanya. "Iya aneh aja, soalnya pas tadi aku senyumin dia, dia nggak bales senyum aku," jawab Nanda, "Jangan-jangan, dia nggak suka lagi..." tambah Nanda yang kelihatan ragu untuk menginap di rumah kediaman Pak Satria dan Bambang karena melihat tingkah Bambang yang menyambut kedatangannya dengan sinis. Rudi tersenyum tipis ke arah Nanda, "Nggak apa-apa lah Nan, si Bambang mah emang kayak gitu orangnya, jarang bergaul, makanya dia kayak nggak terlalu nge-respon begitu sama kedatangan kita," sahut Rudi menjelaskan sifat Bambang kepada Nanda istrinya. "Oh, gitu ya, Rud," ucap Nanda kemudian duduk di atas tempat tidur, "Ya udah, kalau gitu aku mau langsung tidur aja ya, capek banget nih abis manggung," sambung Nanda kemudian langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk di dalam kamar. "Met tidur ya..." ucap Rudi kemudian melangkah keluar kamar. "Kamu temenin aku di sini dulu ya Rud, aku takut soalnya tempatnya kayak nggak terawat gini, lampunya juga agak redup. Jadi kayak gelap. Kamu kan, tau kalau aku nggak terlalu suka sama gelap," ucap Nanda lirih meminta kepada Rudi untuk menemaninya sampai tertidur. "Iya, aku pasti nemenin kamu kok. Tadi aku cuman mau ke kamar mandi doang, mau pipis," sahut Rudi dengan nada bercanda seketika kembali masuk dan menghapiri Nanda. "Kamar ini emang udah lama nggak dipake, semenjak ibunya Bambang meninggal," sambung Rudi memberitahu. "Ooh, jadi ibunya sepupu kamu ini udah meninggal ya...?" sahut Nanda bertanya. "Iya, makanya jadi agak kurang terawat," jawab Rudi, "Udah, kamu tidur aja. Aku temenin kok," sambung Rudi tersenyum sambil mengusap-usap rambut Nanda dengan lembut kemudian duduk di atas kursi yang ada di samping tempat tidur dan Nanda pun membalas senyuman Rudi lalu perlahan-lahan memejamkan kedua matanya dan tak lama kemudian ia tertidur dengan sangat pulas. Sedangkan Rudi masih asik mengutak-atik smartphone-nya untuk bermain game. Sebenarnya dia malas untuk ke luar kamar dan mendatangi Bambang yang masih duduk di atas sofa. Karena sudah pasti Bambang tidak suka dengan kedatangannya di sana yang di anggapnya hanyalah mengganggu saja. Rudi sudah hapal betul bagaimana sifat sepupunya yang satu itu, tapi apa boleh buat saat ini dia merasa tidak enak karena saat ini menginap di rumah Bambang. Itupun juga karena neneknya yang menyuruhnya untuk menginap, sebenarnya dia juga tidak ingin menginap di rumah kediaman Bambang. "Udah tidur nih anak," ucap Rudi lirih kemudian menghembuskan napas panjang, "Malas banget nih nemenin si Bambang di luar, kenapa nggak nginep di rumah Nenek aja, kan enak bisa mabar sama Owel," gumam Rudi pelan kemudian terpikir dalam benaknya untuk mengajak Owel menemaninya, "Nah bener tuh, gua ajak Owel nginep di sini aja, kan sekalian bisa mabar!" ucap Rudi lirih tersenyum senang karena telah menemukan sebuah ide yang menurutnya bisa mengobati rasa canggungnya dengan Bambang. Rudi beranjak dari tempat duduk, kemudian dengan sangat pelan melangkah keluar kamar lalu menutup pintu juga dengan sangat pelan agar istrinya tidak terbangun. Rudi pun langsung berjalan menuju keluar rumah dengan melewati ruang tamu dan melihat Bambang yang sudah tertidur. "Diih... Tidurnya kok ileran gitu ya...?" gumam Rudi seketika badannya begidik geli sambil dengan pelan menjinjitkan langkahnya agar Bambang tidak terganggu. Setelah berhasil keluar dari rumah kediaman Bambang, Rudi bergegas menuju ke rumah kediaman Nenek Mirah untuk mendatangi Owel. Tok Tok Tok.... Rudi mengetuk pintu rumah kediaman Nenek Mirah, "Eh, kalau aku ngetuk pintu, takut entar nenek keganggu." Rudi pun mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, "Aku kirim pesan ke Owel aja deh..." gumam Rudi kemudian duduk di kursi teras sambil mengutak-atik smartphone-nya. "Wel, lu udah tidur apa belum?" "Belum, Rud... Napa emang?!" "Temenin gua mabar yok! Tapi, kita ngumpil di rumah om aja, biar seru!" "Ya udah, bentar... Gua samperin." Beberapa saat dari depan rumah kediaman Nenek Mirah, Rudi mendengar suara langkah kaki yang menuju ke depan pintu, "Nah, itu Owel..." gumam Rudi ketika duduk di atas kursi di teras rumah kediaman Nenek Mirah. JLEKK!! Pintu rumah terbuka, dan Rudi langsung beranjak dari tempat duduknya. "Eh, gua kira lu masih di rumah om," ucap Owel seketika berjalan menghampiri Rudi. "Yuk Wel, ntar bini gua bangun..." "Bentar, gua ambil losion anti nyamuk dulu," ucap Owel kemudian melangkah kembali ke dalam rumah. "Lah, ngapain... Kan, kita mabarnya di dalam rumah, nggak di luar, Wel," ucap Rudi seketika menghentikan langkah Owel. "Lu nggak tau aja kalau di sana itu nyamuknya banyak banget, Rud..." sahut Owel kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Tak lama kemudian kembali menghampiri Rudi dengan membawa sebotol losion anti nyamuk. "Eh, gua nge-hotspot elu ya," ucap Owel. "Lah, emangnya lu nggak punya kuota internet apa?!" "Ada sih, tapi udah mau abis nih.." "Beli dulu gih.. Nih uangnya..." Rudi meraih saku celananya dan menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada Owel. "Lah, mana ada jam segini konter pulsa buka, Rud, Rud..." sahut Owel menggeleng sambil tetap mengambil selembar uang yang diberikan Rudi. "Kalau konter tutup, ngapain masih nyamber aja sama duitnya..." ucap Rudi dengan nada pura-pura kesal sambil tersenyum. "Ya udah, yuk... Entar Mawar kakak gua bisa bangun..." sahut Owel. Rudi dan Owel pun bersama-sama menuju ke rumah kediaman Bambang dan Pak Satria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN