Amuk Datuk Sinai

975 Kata

Datuk Sinai menatap tubuh sang putri yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Hatinya bertambah remuk melihat wajah sang istri yang kusut masai. Mata perempuan berkerudung hitam itu bengkak menangisi keadaan putri mereka. Dua minggu berlalu, tetapi keadaan Farida tak juga membaik. Hanya mesin pendeteksi jantung yang berbunyi lemah, penanda Farida masih bernyawa. Beban yang kini menindih dadanya, membuat Datuk Sinai terlihat semakin tua. Penyesalan berhamburan menyerang tempurung kepalanya tanpa jeda. Kata-kata pengandaian selalu saja digumamkan dalam hati. Namun, apalah daya, penyesalan kerap datang belakangan. Nasi telah menjadi bubur, tak mungkin bisa diubah lagi. "Uda ...," lirih suara Fatma memanggil Datuk Sinai. Tangan perempuan tersebut menggenggam tangan Farida erat-erat.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN