Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

1032 Kata

"Uda ... makan dulu. Aku sudah siapkan makan siang di meja." Datuk Sinai tetap saja bergeming mendengar ujaran Fatma. Lelaki yang rambutnya sudah ditumbuhi uban, setia menatap keluar jendela. Pandangan lelaki tersebut berlabuh pada hamparan sawah-sawah menguning yang siap disabit. Fatma menganjur napas pelan dan panjang. Pelan-pelan perempuan itu mendekat, lalu duduk di sebelah sang suami. "Tunda dulu kemarahan Uda pada Farida. Lihatlah tubuhnya, kering kerontang seperti padi yang mati dimakan tikus sawah. Melihatnya saja, aku tak tega, Uda ...," lirih Fatma dengan suara tertahan. Terdengar embusan pelan dari bibir Datuk Sinai. Lelaki itu menjalin kesepuluh jemarinya di atas paha. "Aku tak marah padanya. Aku marah pada diriku sendiri. Tak bisa menjaga anakku sendiri. Melihat Farida, te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN