Tabir Tuai

1023 Kata

Farida menunduk menekuni makanannya. Duduk satu meja dengan ayah dan bunda, sudah dilakoni sejak dua minggu kepulangannya. Sikap Datuk Sinai tak sedingin hari-hari sebelumnya. Lelaki tersebut mulai bicara dengan sang putri meski satu atau dua patah kata. Itu sudah cukup membesarkan hati Farida. Dia yakin, cepat atau lambat, dinding es yang dibangun ayahnya akan segera runtuh. "Tambuahlah makannya Farida. Kurus benar badannya sekarang." Fatma menambahkan satu sendok nasi ke dalam piring putrinya. Farida hanya mengangguk mendengar ujaran sang bunda. Matanya melirik sekilas ke arah Datuk Sinai. Ayahnya itu sedang menatapnya sekilas, lalu beralih pandangan kepada sang istri. "Jangan terlalu dipaksa. Nanti kekenyangan dia." Singkat, tetapi mampu membuat d**a Farida mengembang bahagia. Rasa-

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN