06

1425 Kata
“Erlend, kenapa semua kemejamu besar?” "Aku pria dewasa, tentu saja semuanya besar." "Tapi aku tidak nyaman memakai ini." Laura meratapi dirinya yang tampak sangat aneh karena mengenakan kemeja flannel biru milik Erlend. Dia kedodoran memakai pakaian ini. Namun yang membuatnya tidak nyaman adalah hars memakai pakaian dalam yang sama, belum lagi dia juga terpaksa mengenakan celana panjang kain milik lelaki itu. Selain memalukan, tetap saja—walaupun Erlend setengah dewa, vampire atau manusia serigala sekalipun, kalau dia laki-laki jelas saja dia akan malu dan tidak nyaman. Erlend tampak santai tiduran di sofa panjang yang ada di samping ranjang. Dia sengaja berada di kamar ini, kamar yang dia sediakan untuk tawanannya, Laura. Di luar sedang hujan deras samai petir menyambar dan gemuruh besar terdengar menggelegar setiap satu menit sekali. Entah mengapa, dia takut kalau ini bukanlah badai biasa, jadi dia harus menjaga Laura. Sebenarnya dalam hati dia peduli dan mencemaskan gadis itu, tapi akal sehatnya tetap menyangka dan meyakini bahwa dia tidak boleh kehilangan sang tawanan yang bisa merasakan keberadaan pencuri helm milik Hades. “Sudah bagus kau pakai baju ‘kan? Jangan mengomel terus,” katanya dingin. Laura duduk di pinggiran ranjang sembari melipat lengan kemejanya. “Setidaknya tolong biarkan aku mengambil bajuku sendiri atau bisakah kita membeli pakaian, kau tahu … aku ini …” Dia agak malu saat mengatakan itu. “Aku wanita, aku butuh pakaian dalam juga.” “Pakai saja milikku,” kata Erlend dengan santainya. Bahkan, sedari tadi ekspresinya tidak berubah, datar saja—dia menatap Laura juga dengan pandangan itu. “Aku punya banyak pakaian.” “Wah, kau lucu sekali ya …” Laura melongo mendengarkan dia bicara. “Lucu, beneran loh, lucu.” “Apa? Pandangan macam apa yang kau berikan padaku itu? Apa yang salah dari ucapanku? Jangan mempermasalahkan pakaian.” “Erlend, apakah kau sadar kalau aku ini seorang wanita, wanita dan pria itu berbeda, kau pikir bagaimana mungkin aku memakai celana dalam pria. Eh, sebenarnya bukan itu masalahnya juga, kenapa juga aku harus memakai pakaian bekas orang lain, kau bercanda ya? Aku memakai pakaian bekas orang dan terlebih itu dari pria?” “Oke, aku paham maksudmu, ya—aku akan carikan pakaian dalam untukmu. Katakana saja semua ukuranmu, maka akan kusediakan.” “Hei! Kau bahkan bukan kekasihku, seenaknya saja kau tanya ukuranku! Bicaramu sangat tidak sopan.” “Bukan berarti aku tak terdengar jahat berarti aku tak bisa membentakmu lagi, Nona,” kata Erlend kembali memperlihatkan tatapan sadisnya kepada Laura sampai gadis itu tak bisa berkata-kata. “Kau diam saja sebentar, aku sedang berpikir, kita bicarakan masalah pakaian dalam ini besok saja.” Laura hanya bisa menggerutu pelan, “dari awal kau memang tidak sadar kalau aku adalah lawan jenismu kan? Kau juga memperlakukanku seenakmu saja.” “Astaga, wanita memang selalu jadi berisik dan biang masalah,” gerutu balik Erlend yang kemudian menoleh ke arah jendela besar yang ada di kamar ini, kelambu putihnya telah tertutup, tapi tetap saja siapapun bisa menerawang lewat kelamut tipis itu. Cuaca di luar semakin buruk. Gemuruh berulang kali terdengar semakin keras, kilat pun bermunculan satu per satu. Iya, mereka seolah saling bersahut-sahutan di langit. Cuaca yang makin memburuk ini membuat hati Erlend semakin tidak tenang dan dipenuhi perasaan aneh. Hari ini, dia belum mendapatkan informasi dari pelayan kediaman ini tentang kemunculan Minotaur atau semacamnya. Dia khawatir kalau mereka semua dalam bahaya. Ia tahu kalau semua pelayan dewa itu juga memiliki kekuatan dan bukan manusia biasa, tapi tetap saja—dia mengkhawatirkan mereka. Bagaimana pun, sejak berada di tempat ini hampir setahun silam, dia sudah sangat dimanja, dibantu dan diterima dengan baik. Selain Thanatos, dia mempedulikan semua pelayan yang ada di kediaman ini. Laura sempat menutup telinga saat melihat cahay kilat terlihat lewat jendela. Gemuruh dan petir terus saja menyambar mengerikan. Pandangan gadis ini tertuju kea rah Erlend yang diam saja. “Kau kenapa?” “Aku cemas.” Erlend menjawabnya dengan spontan. Laura sangat ingin menanyakan banyak hal tentang dewa dan dunia bawah tanah, tapi dia terlalu takut jika itu membuat Erlend marah lagi. “Oke.” Erlend sangat tahu makna oke tersebut. Ia memalingkan wajah ke arah gadis itu lagi, kemudian memicingkan mata, bertanya-tanya sebenarnya siapa gadis ini? “Aku merasa kau ini banyak sekali memikirkan sesuatu,” katanya kemudian. “Aku pun demikian,” sahut Laura tak mau menjadi pihak yang diintrogasi kali ini, “aku merasa kau memiliki banyak masalah—selain dengan minotaur yang menyerang waktu itu. Kau hanya meceritakan sedikit tentang hal tersebut.” “Aku hanya mencemaskan tentang para pelayanku.” “Pelayan?” “Pelayan rumah ini. Menurutmu kenapa tempat ini bisa sangat sepi? Rumah sebesar ini sangat sepi bukan tanpa alasan, Nona, mereka semua juga berusaha membantuku menyeimbang dunia kematian dan dunia kehidupan.” “Aku tidak mengerti, selama ini aku merasa kalau hanya iblis, roh jahat atau hantu saja yang eksis, ternyata dewa pun ada di dunia ini.” Laura kembali mengenang awal pertemuannya dengan Erlend yang mengerikan. Setidaknya saat ini pemuda itu tidak lagi terlihat seperti orang gila yang hendak menerkamnya. “Aku tidak menyangka semua ini kenyataan.” “Aku tak mau lebih banyak membeberkan tentang duniaku padamu, hubungan kita saat ini sebatas saling menguntungkan saja oke? Kau harus membantuku mencari pencuri helm ayahku, aku tak bisa merasakannya sama sekali.” “Kau bilang saling menguntungkan? Rasanya aku tak ada untung sama sekali. Kau … secara teknis sedang menyekapku. Apa kau tidak ingat perlakuan kasarmu padaku?” “Kau jangan khawatir, jika kau berhasil membantuku, aku akan memberikan berlian dan perhiasan padamu. Kalau begitu cukup adil bukan? Aku tidak sejahat yang kau pikirkan. Aku terpaksa kasar padamu, karena aku sering curiga pada orang, aku sering hendak dibunuh penyihir wanita,wajar saja aku waspada padamu. Jujur saja, saat ini pun … aku masih waspada padamu.” “Padahal aku sudah jujur padamu, aku hanya orang biasa, aku bisa melihat hal-hal aneh sejak kecil, kurasa banyak orang yang sepertiku. Ini bukan hal yang mencurigakan menurutku.” Setelah petir menyambar, Erlend kemudian menjelaskan, “memang hal itu tidak mencurigakan. Tapi, yang membuatku penasaran adalah kau benar-benar berbeda, aku merasa sangat aneh setiap dekat denganmu, rasanya kau itu berbahaya.”  “Apa maksudmu itu? Kau mengira kau berbahaya, padahal kau sendiri yang malah mengasariku, kau yang berbahaya disini.” Erlend mengalihkan pandangannya keluar jendela kembali. “Kau tidak mengerti, Jika memang kau tidak berbahaya, aku takkan bereaksi seperti sekarang. Kau sangat aneh, aku merasa kau menyembunyikan hal lain dariku. Aku penasaran apakah itu?” “Astaga, aku takt ahu harus berkata apa lagi agar membuatmu percaya kalau aku sungguh tidak tahu apapun. Sungguh, aku meang bisa melihat makhluk-makhluk aneh. Kau bilang aku seharusnya tak bisa melihatmu, tapi aku sendiri juga tidak mengerti.” “Itu membuktikan kalau kau bukan orang biasa, kau bukan manusia biasa—” Erlend kembali menoleh ke pada Laura untuk sekali lagi. “Kemungkinan kau adalah penyihir, cepat atau lambat kau sendiri akan mengungkap jati dirimu ‘kan? AKu tak tahu tujuanmu, tapi yang pasti—aku akan waspada padamu, dan aku juga menuntutmu untuk membantuku mencari pencuri helm ayahku.” “Dengar, jika memang tuduhanmu benar, aku adalah penyihir hebat, lantas kenapa aku sebodoh itu menunjukkan diri kalau sedang melihatmu ? Aku sungguh kaget saat tahu ada Minotaur sungguhan.” “Omong kosogng, aku tak pecaya omonganmu, bisa saja kau memang berpura-pura seperti itu agar aku mendekatimu, dan kau juga mengungkapkan kalau bisa merasakan keberadaan pencuri helm ayahku sehingga mau tidak mau aku menahanmu disini.” “Tidak mungkin, untuk apa juga aku harus berada disini? Kau mengira aku melakukan semua itu hanya agar kau menyekapku disini? Yang benar saja, kalau aku bisa kabur sekarang, akan kulakukan.” “Hanya kau yang tahu, Nona, yang pasti apapun tujuanmu—kau takkan bisa mengalahkanku nantinya, awas saja jika aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu disini. Aku bukan pria yang akan membeda-bedakan jenis kelamin saat menghadapi pengkhianat. Kau melakukan hal bodoh di rumah, aku akan membantaimu sampai kau tidak bisa membangkitkan dirimu sendiri.” “Kejam sekali kau ini!” Laura kaget dan ketakutan mendengar ancaman tersebut. “membangkitkan diri sendiri? Kau pikir aku apa? Burung phoenix yang bisa bangkit dari abunya?” “Penyihir hebat selalu bisa membangkitkan dirinya sendiri.” “Well, aku bukan penyihir hebat, Tuan Hadeson.” Erlend hanya menyunggingkan senyuman palsu. Senyuman ini sudah mampu membuat tulang belulang dalam tubuh Laura melunak dan tengkuknya merinding. Dia ketakutan setengah mati, entah apa yang akan terjadi jika dia bicara lagi. Karena itulah, dia memilih memalingkan wajah dan diam seribu Bahasa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN