07

1179 Kata
Cahaya matahari sudah hilang seutuhnya, malam datang, dan karena cuaca buruk suasana menjadi sangat gelap. Sementara itu, di kamar Laura ini lampu utamanya juga tak bisa menyala, pencahayaan hanya berasal dari lampu dinding. Suara hujan terdengar nyaring sekali, begitu pula dengan suara sambaran petir. Semua ini masih terus terjadi sehingga membuat situasi sekitar rumah menjadi berkabut tebal. Sudah  satu jam lamanya Laura berdiam diri di pinggiran ranjang, sedangkan Erlend masih tiduran di atas sofa panjang sambil bersiul-siul. Situasi ini sangat menegangkan bagi diri Laura. Dia merasa sangat tidak aman dan tidak tenang, terlebih cuaca buruk yang entah mengapa rasanya semakin memburuk. Ini adalah cuaca yang tidak wajar, dia bisa merasakan keanehan disini. Tengkuknya bergidik, bulu-bulu roma di tangannya pun ikut berdiri. Dia merasa sangat takut dengan kondisi ini. Dia membayangkan malam-malam yang harus dilalui Erlend di kediaman sebesar ini seorang diri. “Apa kau selalu sendirian disini?” tanya Laura mulai mengajak Erlend mengobrol kembali, “maksudku rumah ini sangat besar dan kelihatannya cukup mengerikan jika berada di sini sendirian, apalagi kalau dalam cuaca buruk seperti sekarang.” “Sebenarnya tidak juga,” jawab Erlend menoleh ke arah Laura, “tidak ada yang bisa membuatku takut selama ini. Aku bisa menghadapi apapun.” Sombong sekali, pikir Laura dalam hati. “Oh.” “Kenapa kau bertanya seperti itu?” “Tidak, aku hanya penasaran, bagaimana perasaanmu sendirian di tempat seperti ini, dan di tengah hujan deras yang tidak wajar begini.” “Tidak wajar? Kenapa kau mengatakan ini tidak wajar?” “Entahlah, mungkin hanya perasaanku, tapi rasanya aku merasakan hal yang aneh. Sejak berada disini perasaanku tidak enak, dan sejak hujan—aku bertambah tidak nyaman. Aku merasa seperti diawasi, tapi aku tidka tahu siapa itu.” Laura akhirnya mengatakan apa yang ada di dalam benaknya. Dia tidak peduli jika Erlend mengancamnya atau mencurigainya karena pengakuan ini. Masalahnya, dia benar-benar merasa tidak nyaman dan satu-satunya orang yang bisa diajak bicara hanyalah Erlend sekarang. “Oh.” Erlend sebenarnya juga bingung dengan Laura. Dia ingin percaya kalau wanita muda ini tidak tahu apapun tentang dirinya, tapi akal sehatnya menolak untuk mempercayai hal tersebut. Dia sudah sering sekali mendapatkan pengkhianatan dari para penyihir wanita. Tak heran, sikapnya menjadi semakin buruk saja. “Oke, sebenarnya aku juga merasakan hal tersebut.” “Juga merasakannya?” “Iya, aku merasa kita seperti dihalangi untuk bertemu Thanatos, sejujurnya kalau hanya hujan aku bisa menerjangnya, tapi masalahnya adalah berapa kalipun aku bersiul, kereta kuda dewa tak kunjung datang. Aku tak tahu apa yang terjadi.” “Aneh.” “Iya, dan keanehan ini muncul setelah aku membawamu kemari, seolah-olah ada pihak lain yang mengetahui tentangmu dan ingin kau tetap disini karena suatu hal, atau pihak ini ingin merebutmu dariku. Aku tidak tahu yang mana yang benar—” “Merebutku? Kau bicara apa sebenarnya?” “Aku sudah bilang padamu, kau itu aneh, aku takt ahu kau sedang pura-pura terhadapku atau tidak, tapi aku yakin kau memang bukan manusia biasa, Nona. Siapapun yang berusaha menggangguku dan merebutmu, akan kubantai. Saat ini, suasana hatiku sangat buruk, aku kehilangan helm ayahku yang merupakan benda paling hebat di kalangan dewa, selain itu—aku juga maish harus memikirkan dimana retakan ini terjadi dan bagaimana cara menutupnya.” “Mengenai retakan ini? Kau sudah mengatakannya sebelumnya tentang itu …” “Iya, itulah alasan mengapa keseimbangan alam kehidupan menjadi tidak beres. Mungkin manusia lain tidak merasakan adanya bperbedaan, tapi sebenarnya ada Sebagian manusia yang mengalami dampaknya. Karena retakan ini mengeluarkan makhluk dari dunia bawah, kebanyakan adalah minotaur, sisanya iblis dan makhluk-makhluk tak jelas lain.” “Minotaur, aku tak masih tidak percaya kalau makhluk mitologi seperti mereka itu ada.” “Mereka ada, dan sangat berbahaya, kuat dan cukup tangguh. Bahkan aku harus berjuang keras untuk membunuh mereka.” “Mereka bisa dibunuh?” “Orang lain mungkin akan kesulitan membunuh, aku menggunakan dwisula dewa Hades untuk membunuhnya, jadi taka da masalah.” “Lalu apakah sekarang tidak ada perburuan lagi? Kau bilang berburu …” “Iya, aku berburu minotaur jika aku mengetahui lokasinya. Biasanya para pelayanku menghubungiku jika menemukan minotaur yang tak bisa mereka kalahkan. Tapi, berhubung sampai sekarang tidak ada pemberitahuan apapun, kurasa belum ada masalah.” “Raut wajahmu mengatakan sebaliknya.” “Jujur saja, aku merasa khawatir karena tidak mendapatkan informas apapun dari para pelayan. Tapi, aku bisa apa … aku ini demigod, aku lemah, tidak sekuat ayahku, dan mendadak aku harus menggantikan posisinya karena hanya aku putra satu-satunya, aku bisa mengendalikan dunia bawah karena itu memang kekuatanku, tapi … tentu saja, aku hanya setengah dewa. Aku mungkin kuat, tapi aku punya sisi manusia.” Laura merasa ada sesuatu di balik ucapan Erlend. Dia tertegun sejenak, mencoba membaca apa yang dipikirkan oleh pemuda tersebut. Rasanya ada banyak sekali rahasia di balik wajah gelisah tersebut. “Kau benar-benar menyimpan banyak hal, ya ? “Iya, dan aku tak mau membahasnya.” “Boleh kutanya yang lain?” “Apa?” “Mengenai ayahmu , dewa Hades.” “Iya.” “Kemana dia?” “Aku tidak tahu.” “Dia sungguh menghilang?” “Iya, dia menghilang sekitar setahun silam, apa yang kukatakan itu benar, jadi tak usah menanyakannya lagi dan lagi. Kenapa memangnya? Kau sangat ingin tahu bagaimana rupa dari dewa itu? Jangan bertanya tentang itu, oke.” “Kenapa?” “Aku sendiri juga tidak tahu.” “Kau … tidak tahu bagaimana wujud ayahmu?” “Aku tahu lewat sebuah lukisan , aku tak pernah melihatnya langsung. Saat masih kecil, aku diasuh ibu manusiaku sebentar sebelum akhirnya dia meninggal dunia, dan setelahnya aku diasuh oleh Thanator. Aku nyaris tidak pernah mengobrol lama dengan manusia, berinteraksi dengan mereka—kecuali sekarang, denganmu, itupun jika kau memang manusia, rasanya tidak.” “AKu memang manusia.” “Iya, kita akan tahu nanti.” Terdengar gemuruh besar di langit. Gemuruh ini terus terjadi sampai membuat Laura kembali ketakutan. Dia pun langsung memandang keluar jendela yang masih tertutup kelambu putih transparan. Dia memeluk dirinya sendiri. “Hei, tempat ini sangat mengerikan, dikelilingi pepohonan saja, kau yakin takkan ada penyusup atau semacamnya? Perasaanku tidak enak … iya rasanya seperti kita diintai, perasaan ini seperti saat aku melihat ke danau dekat kedai burger tadi. Lalu, ada reaper yang tiba-tiba muncul.” “Sudahlah, takkan terjadi apapun. Itulah sebabnya aku ada disini. Aku akan menjagamu malam ini. Kita lihat saja, jika sampai besok cuaca masih tetap buruk dan perasaan janggal ini masih terjadi, maka sebaiknya kita memang memeriksa sekitar rumah. Mungkin dugaanmu benar, ada penyusup.” Laura meneguk ludah. “Kau akan disini semalaman?” “Iya, Kau boleh tidur jika kau ingin, aku akan disini.” Erlend melirik Laura dengan tatapan meruncing. Dia kemudian menegaskan, “dan kau jangan khawatir, Nona, aku takkan melakukan apapun padamu. Aku akan tetap berbaring di sofa ini jika memang tak ada masalah.” “Oke.” Laura percaya dengan Erlend dengan beberapa alasan. Dia memang tidak punya pilihan lain. Dia langsung menaiki ranjang tersebut, kemudian menyingkap selimut dan masuk ke dalamnya. “Selamat malam.” “Selamat malam.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN