08

1221 Kata
Pagi sudah datang, tapi matahari tak kunjung terlihat. Jam sudah Menunjukkan pukul delapan pagi. Kabut tebal masih mengintari kediaman ini, belum.lagi ternyata masih terjadi gerimis di luar. Cuaca masih buruk meskipun tak seburuk malam sebelumnya. Sejak pagi buta, Erlend tidak bisa tenang karena cuaca aneh ini. Dia juga harus memikirkan kondisi tawanannya. Alhasil, alih-alih mencari tahu masalah tentang keanehan cuaca, dia memilih untuk melakukan sesuatu di dapur. Memasak. Dia sedang berusaha mencampurkan beberapa bahan makanan yang ada di dapur untuk membuat roti isi. Setidaknya itu adalah menu sarapan paling sederhana untuk dibuat. Beruntung, rumah ini masih memiliki bahan makanan. Para pelayan selalu menyiapkan bahan makanan sebagai jaga-jaga apabila terdapat tamu yang hendak menemui Dewa Hades. Selain itu, sebagai demigod, Erlend juga menginginkan makanan. Dia hampir menghancurkan benda-benda di dapur karena merasa kesal. Dia bahkan kesulitan untuk memotong selada. Terlalu sering bertarung habis-habisan dengan minotaur membuatnya kesulitan mengendalikan diri saat memegang pisau untuk sekedar memotong sayuran. Laura mendengar kegaduhan itu lantas bangun dari tidurnya. Dia segera turun ranjang, kemudian bergegas menuju ke sumber suara. Dia sebenarnya agak ragu sekaligus heran karena pintu kamar sama sekali tak dikunci, bisa saja dia melarikan diri. Iya, meskipun niat itu luntur begitu melihat keluar jendela di lorong rumah yang menunjukkan cuaca luar yang gerimis serta berkabut tebal. Saking tebalnya sampai-sampai tak jelas ini pagi atau siang. Sampai akhirnya, dia tiba di ruang makan. Disana dia mendapati Erlend sedang menyajikan sepiring sandwich atau roti isi di atas meja. Dia menyapa, “oh hai, Tawananku. Selamat pagi.” “Eh, sedang apa kau?” Laura kebingungan. “Mencukur rambut.” Erlend geram. “Menurutmu, apa yang sedang kulakukan?” “ya kau membuat makanan.” “Iya, ini makanlah, kau melewatkan makan malam kemarin. Kau pasti lapar.” “Oh.” Laura mendekati meja makan dengan ekspresi heran. Dia benar-benar heran dengan karakter Erlend yang selaku berubah-ubah. “Jangan oh saja,” sahut Erlend sembari duduk di salah satu kursi meja makan. “Aku sangat jengkel sekarang.” “Lalu aku harus apa?” “Entah.” Laura merasa sangat kesal jika Erlend mendadak menjadi pemuda menyebalkan begini. Dia duduk di kursi yang berseberangan dengan Erlend. Setelah memandangi roti isinya, dia kemudian berkata, “aku tahu kau kesal karena cuaca aneh ini.” “Iya aku sedang memikirkan fenomena ini. ini sangat aneh, semenjak pagi aku memanggil kudaku, tapi tak ada respon juga. Selain itu, fenomena hujan yang tak kunjung reda ini juga aneh sekali— kabut sialan ini juga mengintari tempat ini seolah-olah ingin menyembunyikannya dari dunia luar.” “Hei ...” Mendadak Laura panik. “Bagaimama jika seandainya ini ulah dari reaper yang kemarin, reaper itu ternyata bekerjasama dengan makhluk lain untuk mengawasi kita?” “Jika itu memang terjadi, maka besar kemungkinan kau memang bukan sembarang gadis, Nona.” “Aku jadi takut.” “Sudah makan saja dahulu. Jangan buat aku makin kesal. Aku membuatkan makanan itu dengan susah payah.” “Susah payah?” Laura memperhatikan sandwich-nya, kemudian dia memakannya. Rasa sausnya sangat tidak enak. Tapi, mana mungkin dia protes. “Iya, lumayan. Lagipula ini hanya sandwich, semua sandwich rasanya sama saja.” “Oh ...” Erlend tak bisa membohongi dirinya kalau dia suka pujian itu. Walaupun hanya sekedar kata-kata biasa, tapi ini pertama kalinya dia membuatkan makanan untuk seseorang, dan orang itu suka. “Kau tidak makan?” “Tidak, aku tidak lapar.” “Oh, oke. Jadi, apa rencana kita selanjutnya?” Belum sempat Erlend menjawab, mendadak ada suara gedoran pintu— keras sekali di pintu depan. Sontak saja, pemuda ini langsung berlari ke sana. "Hei ..." Laura ikut mengejar. . . . . . . suara gedoran pintu tersebut masih sangat keras. Semakin keras. Semakin keras. Semakin keras. Siapapun yang melakukannya seolah diliputi oleh kemurkaan kepada sang pemilik rumah. aneh, Erlend tidak merasakan hawa keberadaan siapapun. dia hanya merasakan tidak enak, tapi tak tahu dimana sumbernya. ketika dia sampai, gembok terbuka dengan kekuatannya, dan daun pintu ganda itu pun terbuka lebar. akan tetapi tidak ada siapapun disana. di depan pintu, tidak ada siapapun yang berdiri atau terlihat. Erlend hanya mendengar suara gerimis. dia langsung keluar dari dalam rumah, dan berlari turun teras .... dan masuk ke dalam kabut halaman depan. dia berputar untuk mencari orang yang kemungkinan bersembunyi di kabut ini. "siapa?" Ia berteriak kencang. sorot matanya menajam. dia tak mau dipermainkan lagi. semenjak kemarin, dia harus berpikir keras tentang apa yang terjadi. kalau benar ucapan Laura bahwa seorang reaper sedang mengawasinya, mungkin saja itu permintaan Thanatos. tapi, untuk apa? bukankah dia harus menemuinya untuk mencari tahu siapa sebenarnya Laura itu? Atau mungkin pihak lain, pihak yang kemungkinan mengetahui siapa itu Laura dan berniat untuk membawanya? "siapapun dirimu, sekarang muncullah di hadapanku!" teriak Erlend masih mencari-cari seseorang yang mungkin bersembunyi di balik kabut ini. Erlend tidak tahu yang mana yang benar. kemampuannya tak bisa mendeteksi bahaya ataupun musuh. dia juga tidak bisa mengetahui siapa itu Laura, tidak juga bisa membuatnya hilang ingatan. semua ini membuatnya semakin kesal dan ingin melampiaskannya dengan sesuatu. iya, karena kemarahan ini membuatnya mendekati salah satu pohon maple, lalu menjejaknya hingga tumbang. peristiwa ini membuat tanah bergetar dan gemuruh terdengar keras. terlebih, ketika batang pohon itu ambruk ke tanah. dengan mimik wajah mengerikan, dia berteriak, "siapapun dirimu, kau akan mendapat masalah karena mencari gara-gara denganku, Sialan!" di teras, Laura masih kebingungan, tak bisa melihat Erlend pergi kemana. dia punya kesempatan kabur, tapi mana mungkin dia berani ... melihat begitu banyaknya kabut yang mengintari rumah ini. jarak pandang amat pendek sampai-sampai dia tidak bisa melihat rumput di halaman depan. "Ada apa ini?" Herannya. dia penasaran dengan apa yang terjadi. jika dikaitkan dengan kemarin, maka kejadian ini mungkin berkaitan. dia mendongak, berusaha melihat langit, tapi benar-benar tidak bisa. kabut terlalu tebal, cahaya matahari saja tidak bisa bersinar terang. udara masih amat dingin. rintik hujan masih berjatuhan. Tak berselang lama, seekor burung gagak terbang ke arahnya, membuat gadis ini spontan berteriak. Namun, si gagak hanya terbang di atas kepalanya lalu hilang di dalam kabut. Teriakan Laura membuat Erlend kembali berlari ke arah rumah, lalu naik ke teras. rambut dan sebagian mantel yang dia kenakan tampak basah karena gerimis. Dia bertanya pada Laura, "Ada apa?" "Tidak apa-apa." Laura mengangguk pelan. Dia mengelus d**a, dan menarik napas dalam-dalam. "Hanya burung." "Burung?" "Iya, ada burung gagak melintas di kepalaku." "Burung gagak?" "Iya." "Lalu dimana dia?" "Barusan pergi ke dalam kabut, entahlah sekarang ada dimana. apa menurutmu itu ...." "Reaper. Tidak mungkin." Erlend berpikir keras. kalau itu reaper, maka dia bisa merasakan kehadirannya, tapi dia tidak merasakan apapun. dia menenangkan diri, kemudian berkata lagi, "mungkin burung biasa, tapi juga mungkin ..." "Apa mungkin dia reaper yang kemarin? sudah kubilang, rasanya kita seperti diawasi." "Aku tidak merasakan apapun, tidak ada yang mengawasi ... seharusnya." Erlend mulai ragu-ragu dengan kemampuannya. mendadak kepalanya pusing. dia pun langsung menyambar lengan Laura, lalu diajaknya masuk dengan paksa. "Ayo masuk saja." "Tapi, bagaimana dengan orang yang mengetuk tadi." Laura sudah terbiasa diseret, jadi tak mempermasalahkan ini. "Dan suara apa tadi? sesuatu ambruk di atas tanah, kukira kau sedang bertarung." "Tidak ada, aku hanya sedang marah." Ketika mereka masuk rumah, pintu telah menutup dengan sendirinya dan gembok kembali terkunci rapat. Di saat itulah, di balik kabut yang tebal ini, ada mata hitam yang mengintip ke rumah. Sepasang mata misterius itu terlihat mengawasi apapun yang terjadi di sana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN