Detik demi detik berlalu, jam pun terlewati dengan cepat. Laura masih duduk di salah satu kursi yang mengintari meja baca di tengah perpustakaan.
Dia tidak mengganggu Erlend sekali. Dia membaca salah satu buku bacaan yang sudah tua, tak satupun kalimat yang dia pahami. Meskipun menggunakan bahasa yang dia pahami, tapi maknanya sangat asing. Alhasil, dia lebih sering menoleh ke luar jendela ketimbang mengamati buku tersebut.
Sedangkan Erlend sendiri masih membaca salah satu buku tentang penyihir hebat di masa lalu. Legenda tentang Merlin. Di kalangan manusia mungkin pria itu dikenal sebagai legenda masyarakat saja. Akan tetapi baik Merlin ataupun kaum penyihir Salem memang benar adanya.
“Kau sedang baca apa?” tanya Laura yang merasa bosan karena kediaman di antara mereka yang sudah terjadi lebih dari satu jam.
“Buku tentang penyihir Merlin.”
“Kenapa kau malah membaca buku tentang Merlin?”
“Sebagai informasi saja, dia nyata, dan benar-benar hidup. mengingat dia penyihir terkuat yang pernah ada, aku harus mengetahui sedikit tentang sihirnya, yang mungkin bisa membantuku mencari tahu siapa yang menyerang reaper. Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, aku tidak percaya jika ini ulah dewa— dan mungkin ada alasan lain mengapa Thanatos tidak langsung datang kemari begitu tahu kalau ada reaper yang lenyap disini.”
“Kedengarannya rumit, tapi aku percaya jika kau bilang kalau Merlin memang benar hidup. Aku tidak meragukan mu lagi setelah apa yang terjadi.”
“Anehnya, aku tak melihat ada kata-kata Tita dimanapun. Apa ini Tita? Tita juga tidak terdengar seperti perkataan— apa yang sebenarnya ingin dikatakan reaper itu? Aku penasaran.”
“Bagaimana dengan buku tentang penyihir Salem? Mungkin ada nama penyihir yang seperti namanya?”
“Aku belum membacanya.” Erlend menepuk tumpukan buku berdebu yang ada di atas meja, di hadapannya. Dia menghela napas panjang, lalu mengatakan, “aku benci membaca, tapi tak ada pilihan lain. Sial.”
Laura bertanya, “kalau menurutku itu mungkin nama seorang penyihir wanita. Tita lebih terdengar seperti nama seorang wanita ketimbang benda magis atau sebuah kata.”
“Aku setuju dengan ucapanmu, tapi entahlah, aku merasa kalau mungkin saja Tita ini sebutan untuk benda magis yang dimiliki penyihir. Para penyihir terbiasa memberikan nama untuk benda-benda magis mereka, tak heran jika ada yang bernama 'perempuan' seperti itu.”
“Iya mungkin juga.”
“Tapi mungkin juga wanita lain dari Merlin.”
“Hah?”
“Aku bilang kemungkinan, kita harus mencari tahunya— lagipula kau seharusnya membantuku, jika kau tidak paham semua kalimat yang ada di buku-buku itu, setidaknya cari saja kata Tita, siapa tahu kau menemukannya.”
“Aku dari tadi mencarinya dan tidak menemukannya dimanapun.”
“Oh iya?”
“Iya ...” Laura berhenti sejenak karena merasakan tiba-tiba kepalanya cukup sakit. Dia spontan meremasnya dan memijat kening.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah, mungkin.”
“Ini sudah siang, mungkin kau lapar.” Erlend menjadi pengertian, dia menghindari perdebatan, dan langsung berdiri. “Aku akan buatkan makanan untukmu.”
“Tidak perlu, aku tidak lapar.” sesaat setelah mengatakan ini, perut Laura berbunyi dan sampai terdengar di telinga Erlend.
Erlend menyindir, “Oh, tidak lapar?”
“Aku akan buat sendiri, aku lebih suka buatan sendiri,” kata Laura yang ikut berdiri, akan tetapi sakit kepalanya kembali menyerang. Bagian depan keningnya terasa berkedut-kedut. Sakit sekali.
Saking sakitnya, matanya sampai berkunang-kunang, dan lututnya lemas. Dia nyaris jatuh kalau saja tak berpegangan pada pinggiran meja.
Erlend buru-buru menghampirinya. “Ada apa denganmu? Kenap kau tiba-tiba begini?”
“Entahlah, aku merasa tidak bertenaga dan kepalaku sakit.” Laura bisa merasakan kalau kelopak matanya mulai sulit terbuka. Dalam waktu sekejap saja, dia benar-benar merasa tidak bertenaga. Sangat aneh.
“Biar aku gendong,” kata Erlend menggendong tubuh Laura lagi, kali ini dengan sikap yang jauh lebih lembut dan sopan. Dadanya berdebar karena cemas. Baru kali ini dia merasakan kepedulian terhadap orang lain selain dewa Thanatos. Dia berkata, “kau mungkin terlalu lelah dan lapar, akan kubuatkan sesuatu.”
Laura yang terserang rasa letih luar biasa memilih diam saja, tidak merespon. Dia pun pasrah berada di gendongan Erlend.
Erlend segera membawa gadis ini kembali ke dalam kamarnya. Kemudian, dia langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk mereka.
Dalam hati, dia juga bertanya-tanya, normalkah manusia tiba-tiba terserang rasa sakit kepala seperti itu?
.
.
.
.
Setelah membaringkan tubuh Laura di atas ranjang, Erlend berada di dapur. Dia mempersiapkan bahan makanan di atas meja dapur, kemudian melakukan keahliannya membuat makanan dadakan. Itupun hanya sebatas roti isi. Dia tidak memiliki keahlian memasak apapun kecuali membuat roti isi, merebus air, atau makanan instan.
Selama beberapa hari terjebak, dia sudah membaca beberapa cara membuat mie instan. Meskipun begitu, dia belum bisa melakukannya karena belum sempat keluar membeli semua bahan makanan.
Di kediaman Hades sementara hanya tersedia roti gandum, aneka s**u, selai, buah kering,dan semacamnya. Dia memiliki makanan kaleng, tapi tidak tahu cara memasaknya. Jadi, memang lebih aman membuat roti isi.
Agar berbeda dari biasanya, kali ini dia memanggang dahulu rotinya, kemudian bagian tengah dia taruh selai stroberi.
Selepas semuanya siap, dia membawa sua makanan ke ruangan Laura lagi. Di sana dia agak terkejut karena melihat Laura yang tidak tenang.
Laura terlihat gelisah di bawa gulungan selimut. Keningnya basah oleh keringat. Kedua tangannya terlihat memijat kening tersebut. Kedua kelopak matanya masih berat untuk di buka. Namun, setidaknya dengan berbaring, tenaganya sedikit terkumpul kembali.
“Bagamana keadaanmu?” tanya Erlend menaruh piring berisi roti selai di atas meja samping ranjang. Dia pun duduk di tepi ranjang tersebut, kemudian memeriksa suhu tubuh Laura lewat kening.
Laura membuka matanya perlahan, tapi masih sangat ingin menutup. Wajahnya juga makin pucat. Hanya dalam Sekejap waktu saja dia menjadi selemah itu.Aneh.
“Aku tidak apa-apa, kau bisa lanjutkan membacamu di perpustakaan, mungkin kau benar aku lelah.”
“Ada yang aneh denganmu, kau tidak mungkin tiba-tiba lelah begini. Mungkinkah ada masalah.” Erlend menengok keluar jendela dimana cuaca masih berkabut. Pagi, siang, malam, sepertinya kondisi seperti takkan hilang dalam waktu dekat. “Pasti ada sesuatu, tapi anehnya, aku sungguh tidak bisa melakukan apapun padamu. Siapa kau ini sebenarnya?”
“Laura.” Laura bangun dibantu oleh Erlend. Kemudian dia bersandar di bantal yang ditumpuk sebanyak mungkin. Dia menghela napas panjang,merasa kalau tenaganya sudah mulai banyak. Namun tetap saja kepalanya seperti dipukuli dari dalam. “Aku tidak tahu apa maksudmu, aku juga merasa aneh, tapi aku juga tidak tahu kenapa bisa begini.”
“Kita memang diteror.” Erlend mengambil piring, lalu memegang roti selai buatannya. “Aku yakin ini belum berakhir. Aku penasaran, siapa orang yang mengganggu itu dan apa itu Tita.”
Laura memandangi roti selai yang dipegang Erlend. Dia agak kaget karen pemuda ini mendadak menyodorkan roti ke mulutnya, hendak menyuapinya. “Eh ...”
Erlend masih fokus pada pemikirannya. Dia amat yakin kalau Tita adalah sejenis benda magis yang berkekuatan sihir. “Oh, jangan-jangan Tita adalah benda yang ada di rumah ini, atau Tita adalah benda yang ada dalam dirimu.”
“Dalam diriku?” ulang Laura mengamati roti isi di hadapannya. Dia ingin mengigitnya, tapi malu. “Aku tak memakai apapun jika kau penasaran, aku tidak memakai kalung, gelang, cincin, ataupun hal yang menempel dalam diriku. Jangan coba-coba berpikir kalau ada benda magis dalam perutku.”
“Mungkin saja, kau sakit perut 'kan?” Erlend hanya asal tebak.
Perut Laura berbunyi kembali. Dia lantas mengatakan, “Perutku lapar bukan sakit. Kepalaku yang sakit. Apa? Kau mengira kalau ada sesuatu di dalam otakku?”
“Bisa jadi.”
“Tidak mungkin!”
“Ah, sudahlah! Bicaranya nanti saja, buka mulutmu!” perintah Erlend sembari menyodorkan roti itu ke mulut Laura. “Ayo cepat!”
Bibir Laura terkena selai stroberi. Dia terpaksa langsung menggigit hingga setengah dari roti tersebut. Lalu, dia memakannya dengan lahap. Walaupun rasanya agak gosong, tapi mana mungkin dia protes. Ia hanya memalingkan wajah.
Sedangkan Erlend masih menatap keluar jendela, melihat kabut tebal yang entah sampai kapan akan melingkupi wilayahnya. Dia mendadak rindu akan Thanatos, berharap bisa menemuinya lagi dan meminta bantuan. Bisa jadi, penyerang ini adalah penyihir hebat? Lalu, apa yabg dimaksud dengan Tita?
Cara Erlend menyuapi Laura sangat kasar, seperti anjing yang dipaksa makan oleh majikan. Dia juga kelihatannya tidak tahu kalau menyuapi seorang gadis bisa menjadi situasi yang romantis. Sayang, bagi Erlend— tidak ada yang romantis.
Mau tidak mau, Laura terpaksa mengunyah dengan cepat, dan terus memakan roti sampai habis. Dia tidak berkomentar sedikit pun sampai makan siangnya selesai.
***