15

1338 Kata
Meninggalkan Laura yang tertidur seusai makan, Erlend kembali ke perpustakaan. Dia membaca beberapa buku tentang penyihir di masa lalu. Setelah puas dengan bacaan Merlin, dia berpindah ke buku sejarah penyihir Salem. Selama ini, dia lebih sering membaca tentang para dewa, sementara pengetahuan tentang penyihir di dapat dari Thanatos. Melihat begitu banyaknya sejarah tentang Salem, membuat niat membacanya menurun drastis. Dia menutupnya, lalu menyandarkan punggung di kursi. Ketika dia terdiam, suasana menjadi amat sunyi. Dia mulai teringat akan masa lalunya, ketika rumah ini masih ramai oleh para pelayan. Setidaknya bisa membuatnya terhibur dengan Keramahan mereka. Dalam hati, dia ingin mengetahui bagaimana wujud sang ayah. Dia sudah lupa dengan penampakan ayahnya karena sudah ditinggal sendirian saat masih kecil. Sekarang pun, dia harus menjadi dewa pengganti karena pria itu hilang. Menurutnya, dewa Hades adalah dewa yang menyebalkan, tidak sekalipun dia menghormatinya. Dia terpaksa mau melakukan tugas dewa ini juga demi Thanatos, sang dewa kematian. Thanatos bekerja dengan dewa Hades untuk menyeimbangkan dunia bawah. “Sial.” Dia mengumpat seraya menghela napas panjang. Mengingat tentang ayahnya hanya akan membuatnya kesal. Dibesarkan di dunia bawah membuatnya tidka tumbuh layaknya pemuda lainnya. Dia menjadi sangat kaku, arogan dan aneh bagi manusia lain. Dia pun tidak pernah berbaur dengan manusia juga. Apapun yang dia lakukan selalu berdasarkan insting dan akal sehat. Dia tidak pernah menggunakan hati, karena dia tahu para dewa sangat tegas saat memimpin dunia ini. Ketika dia hendak membuka bukunya lagi, tiba-tiba terdengar suara teriakan Laura dari kamarnya. Dia terus saja memanggil, “Erlend!” Erlend lantas meninggalkan perpustakaan dan berlari menuju kamar gadis itu. Dia langsung membuka pintu dengan dua tangan dan bertanya keras, “ada apa?” Laura masih ada di atas ranjang, pandangannya ke arah salah satu jendela kaca yang kelambunya telah tersingkap. Dia menudingnya seraya berkata, “ada burung merpati barusan, dia bertengkar ... Aku tidak tahu cara mengartikannya, tapi dia bertengkar dengan burung gagak. Coba lihatlah, dia jatuh di atas tanah mungkin. Coba periksa.” Tanpa menunggu lagi, Erlend langsung berlari ke jendela, lalu membuka daun jendela kaca tersebut. Dia mendapati bahwa ada seekor merpati yang sayapnya terluka sedang tergeletak di atas tanah. Dia pun segera mengangkat tubuh binatang kecil itu. “Kau bilang dia diserang gagak?” tanyanya. “Iya, aku tidak tahu, sepertinya merpati itu mengetuk kaca jendela barusan, tapi seekor gagak menyerangnya, saat aku berteriak, gagak itu melarikan diri.” “Hah?” Erlend memeriksa di kaki merpati itu ternyata ada sebuah gulungan surat kecil. Dia mulai sadar kalau mungkin ini cara seseorang berkomunikasi dengannya. “Merpati ini masih hidup, aku akan mengobati sayapnya sebentar.” “Ada apa?” “Entahlah, ada surat di kakinya, sebentar ... Aku tinggal dahulu, nanti aku bacakan. Kau tidak takut sendirian 'kan?” "Obati saja disini, aku tak mau melihat ada gagak lagi.“ Laura turun dari ranjang dengan susah payah. Kepalanya masih pening, tapi berkat makan siang buatan Erlend yang agak gosong, setidaknya ada tenaga di tubuhnya. ”Ambilkan saja obatnya, biar aku yang mengobati, kau pasti kasar sekali melakukannya.“ ”Kau tidur saja, siapa yang memperbolehkan mu berdiri, jangan membuatku susah lagi.“ ”Aku tidak apa.“ ”Kau terlihat masih tidak baik-baik saja.“ Laura merebut burung yang sayapnya terluka itu dari tangan Erlend. Kemudian, dia duduk di salah kursi, dan menaruh tubuh makhluk malang itu di atas meja. Dia memperhatikan luka di sayap merpati ini yang diakibatkan oleh paruh tajam sang gagak. ”Cepat ambilkan kotak obat-obatan, kau punya punya 'kan?“ pintanya menoleh kepada Erlend. Erlend mengangguk. ”Sebentar.“ Ketika Erlend meninggalkan ruangan tersebut, Laura mulai membersihkan kotoran tanah yang melekat di bulu-bulu merpati itu. Laura melepaskan gulungan surat kecil yang ada di kaki merpati tersebut. Betapa kagetnya dirinya ketika membaca isi kalimat yang tertulis berbunyi: Tita adalah gadis yang sedang bersamamu. Gadis yang sedang bersama Erlend adalah dirinya. Dia adalah Tita yang dimaksud oleh reaper yang telah tewas akibat serangan sosok misterius. Namun, dia sendiri bingung, lantas memangnya siapa itu Tita? Dirinya adalah Laura, dia sangat yakin bahwa dia hanyalah gadis biasa, manusia biasa yang diberikan anugerah melihat dunia lain. Tidak mau Erlend mengetahui ini, takutnya dia akan semakin ditekan untuk mengaku, dia pun langsung merobek kata Tita, sehingga kalimat yang tersisa adalah 'gadis yang sedang bersamamu'. . . . gadis yang sedang bersamamu. Pesan itu yang ditunjukkan oleh Laura ketika Erlend datang dengan membawakan kotak obat. "Hanya ini?" tanya Erlend penasaran dengan kertas yang dia pegang. "Iya," jawab Laura terpaksa berdusta. Dia juga menghindari pandangan dengan lelaki itu. Saat ini, dia fokus untuk mengobati sayap merpati yang patah. Hal pertama yang dia lakukan adalah membersihkan darah yang ada di sekitar helai-helai sayapnya. Setelah itu, dia mulai memberikan obat berdasarkan jenis yang tertulis di label obat-obatan. Di saat gadis itu sibuk melakukan hal tersebut, Erlend masih mengamati kertas yang bertuliskan hal aneh tadi. Dia masih tidak terima kalau di kertas hanya bertuliskan hal konyol semacam ini. "Apa maksudnya gadis yang bersamamu? Itu jelas maksudnya kau 'kan? Jelas ... gadis mana lagi yang ada di sini," katanya bingung saat melihat Laura. "Kau kenapa? Apa maksudnya itu? Menyebalkan sekali mengirimkan hal seperti ini. Thanatos." "Benar itu dari Thanatos." "Aku bisa mengetahui aura sihirnya. Ini memang Thanatos. Iya, aku yakin sekali. Tapi, aku tidak paham terkadang dia memberikan surat yang isinya aneh atau teka-teki, padahal dia bisa menjelaskan semuanya, tapi malah mengatakan ini saja. Tidak masuk akal." "Jika dia bisa mengirimkan surat kemari, apa itu artinya dia bisa kemari?" "Tentu saja bisa, entah kenapa dia tidak kemari. Dia jelas tahu kau ada disini, dan mungkin dia mengetahui lebih tentang dirimu ... kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku 'kan, Nona?" "Kau sedang menuduhku sesuatu, ya? apa kau masih curiga padaku?" "Well, hanya ada kita sekarang." "Berapa kali aku harus bilang? Aku tidak tahu apapun, aku hanya gadis biasa. Jika kau mengira aku ini 'istimewa', aku tidak tahu apapun tentang dirimu, malahan jika itu benar, aku pun ingin tahu siapa sebenarnya diriku?" "Ooh ..." Erlend memandangi Laura dengan tatapan penuh selidik. Antara percaya dan tidak percaya. Dia bingung sekali menghadapi wanita ini. Rasanya seperti ada hal yang membuatnya ingin percaya, tetapi ada yang lainnya yang tidak bisa percaya. Iya, ini seperti insting dalam dirinya yang mengatakan sebenarnya ada sesuatu dalam diri Laura. Dia masih ingat pertama kali bertemu wanita ini. Entah apa yang terjadi, tetapi sekujur tubuhnya terasa sangat merinding. Dia yakin ada yang menakutkan, tetapi dia tidak bisa menebak apa yang terjadi. Sekali lagi, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia masih memandangi Laura. dia berusaha untuk memahami kira-kira apa yang membuatnya merasakan hal itu. Perasaan takut, tapi juga rasa ingin tahu. Namun dengan kemampuan dan instingnya sebagai seorang dewa, tidak ada yang bisa dia lakukan. Laura kemudian berkata kembali, "Semua keluargaku selalu mengatakan hal yang sama, aku bisa melihat kejadian atau makhluk non manusia karena memang ini adalah pemberian. Banyak manusia lain yang bisa melakukannya, tapi aku juga tidak tahu kalau manusia lain itu tidak bisa melihat dewa yang menyembunyikan, sementara aku bisa melihatnya. Sungguh aku tidak berbohong, aku tidak tahu siapa diriku." "Menurutmu begitu? Kau sungguh tidak tahu siapa dirimu?" "Yang pasti aku adalah manusia, aku yakin itu, jadi berhentilah memandangku seolah aku ini makhluk aneh yang sangat berbahaya. disini yang berbahaya adalah dirimu, kaulah yang kutakuti saat ini." "Bagus kalau kau takut, aku tetap harus waspada padamu, aku tidak bisa mengendorkan perhatianku hanya karena pengakuanmu yang sebenarnya aku sendiri tidak yakin." "Aku tidak tahu kenapa kau berpikir seperti itu, tetapi percayalah aku hanyalah orang biasa yang bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak. melihat hal semacam itu bukan berarti dia penyihir atau semacamnya, bukan? bagi sebagian orang, hal semacam ini adalah suatu kewajaran, ada banyak manusia lain yang begini, mereka disebut indigo." "Tapi, Nona, haruslah aku ucapkan sekali lagi. Indigo tidak bisa melihatku saat dalam mode bertarung. jangankan manusia dengan kemampuan melihat hal supernatural, penyihir saja normalnya tidak bisa melihatku. Kau masih kuawasi, oke?" "Aku lelah bicara denganmu. aku lelah meyakinkanmu, dan aku sudah muak. Terserah apa katamu, yang pasti aku bukanlah orang berbahaya seperti bayanganmu." Erlend hanya terdiam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN