Erlend masih tidak mengerti maksud dari pesan yang dikirimkan oleh seseorang melalui kaki burung merpati yang menabrak dinding kamar. Selama berjam-jam memikirkan kemungkinannya, tapi sayang sekali tidak ada petunjuk sedikitpun, dia tidak mengerti apapun. Semakin dia memikirkannya, semakin dia merasakan pusing.
Waktu berjalan cepat sekali, tidak disangka sudah malam hari. Menu makan malam pun masih sama. Erlend sama sekali tidak peka kalau Laura tidak suka roti bakar buatannya. Tapi, dia terus saja menyuapi gadis itu dengan paksa, tak peduli dia menyukainya atau tidak.
Laura tidak banyak berkata. Dia juga tidak berkomentar apapun tentang menu makan malamnya. Kepalanya masih terasa berdenyut-denyut. Dia tidak tahu itu diakibatkan oleh pesan tadi ataukah karena sesuatu yang lain? Tapi, mengapa dia terus merasakan pusing?
Rasa sakit kepalanya membuat dia tertidur dengan sendirinya. Dia tidak tahu kapan tertidur.
Erlend masih merebahkan diri di atas sofa sembari membaca kertas dengan kalimat yang sama yaitu : gadis yang sedang bersamamu.
Dalam hati, dia bingung, apa maksudnya gadis yang sedang bersamamu itu? Dia kembali menengok ke atas ranjang, tepatnya ke gadis yang dimaksud sedang tertidur pulas di bawah selimut tebal.
Dia tahu kalau gadis yang bersamanya ini memiliki suatu rahasia. Akan tetapi, apa yang dimaksud dan apakah rahasia itu? Sudah banyak cara dia lakukan, tapi tidak membuahkan hasil juga. Dia tidak mengerti sebenarnya siapa itu Laura? Dari mana asalnya? Dan mengapa dia bisa melihatnya dalam mode tidak terlihat?
Ingin rasanya dia kembali ke perpustakaan, mencari tahu tentang semua misteri ini. Akan tetapi dia terlalu malas dan rasa kantuk sudah menyerangnya sedari tadi. Dia tidak bisa menahannya lagi sehingga tertidur di atas sofa, dan kertas yang dia pegang pun terjatuh ke lantai.
Burung merpati yang telah mereka obati masih terbaring di dalam keranjang kecil di atas meja dekat mereka. Burung itu sedikit demi sedikit bisa menggerakkan sayap. Dia sempat melihat ke arah Erlend, seolah-olah sebenarnya dia memang ingin memberikan banyak sekali informasi lebih. Binatang kecil ini memang bukan binatang biasa, dia adalah merpati yang dimiliki oleh dewa Thanatos, tak heran dirinya seolah memiliki kesadaran layaknya manusia.
Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat banyak untuk sekarang karena fisiknya yang lemah. Sayap patah, tubuh pun lemah akibat serangan dari burung gagak yang sebelumnya.
Malam itu, semuanya berlalu dengan cepat. Tidak ada masalah yang terjadi. Baik Erlend maupun Laura mendapatkan porsi tidur yang cukup ketimbang hari-hari sebelumnya.
Begitu jam dinding sudah menunjuk ke pukul enam pagi, Erlend bangun terlebih dahulu. Dia dikejutkan oleh sang burung merpati yang ternyata sudah baikan. Burung itu seenaknya berada di atas d**a Erlend, lalu berkicau ketika melihat lelaki ini bangun.
“Oh.” Erlend sempat kaget, tapi langsung paham. “Kau jelas ingin mengatakan banyak hal.”
Merpati itu mengangguk, benar-benar seperti memiliki kesadaran dan paham apa yang sedang dikatakan oleh Erlend.
Erlend pun memegangi burung itu dengan lembut, lalu bangun. Dia sempat mengamati Laura yang masih pulas tertidur. “Baiklah, ayo kita ke perpustakaan, kau bisa memberitahuku apapun di sana.”
Burung tersebut mengerti.
Erlend bergegas membawa sang burung untuk ke perpustakaan. Di sana, dia akan menunjukkan kalimat di buku-buku yang ada, dan membiarkan sang burung untuk memberitahukan sesuatu.
.
.
.
Erlend membawa burung merpati pintar itu ke perpustakaan. Dia mengambil banyak sekali buku tentang penyihir, lalu menaruhnya di meja. Setelah itu dia membuka beberapa buku dengan sembarang halaman. Dia hanya bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi burung itu menunjukkan apa yang ingin dikatakan. Dia sendiri juga merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan apa yang terjadi sebelumnya. Dia tidak percaya kalau Thanatos hanya mengirimkan pesan mengenai kalimat itu saja. Itu memang tulisan tangan Thanatos, dia memperhatikan kertas bertuliskan kalimat tersebut. Akan tetapi, dia tidak mengerti maksudnya.
Selama satu menit lamanya, dia hanya duduk di kursi baca sembari mengamati kertas tersebut. Dia tidak memperhatikan burung merpati yang sibuk meihat halaman-halaman buku tentang penyihir. Karena dihiraukan, burung itu melompat ke arah Erlend, lalu mematuk punggung tangannya.
“Apa? Kau ingin bicara apa?” Erlend memberikannya perhatian.
Burung itu kemudian menunjukkan beberapa kata dengan menggunakan paruh kecilnya. Iya, dari satu buku melompat ke buku lain dengan menunjukkan beberapa kata dan huruf sehingga membentuk sebauh kalimat.
Awalannya, dengan paruh, dia menunjuk ke huruf besar yang merupakan judul bab tentang penyihir Salem. Disitu dia menuding ke huruf T-I-T-A. Karena itulah, Erlend mulai penasaran dan serius memperhatikan.
“Tita?”
Merpati tersebut kembali melompat ke buku lain dan menunjukkan beberapa kata dengan paruhnya. Kata-kata yang dia tunjuk membentuk sebuah kalimat yang berbunyi : adalah gadis yang bersama dirimu.
“Adalah … gadis … yang … bersama … dirimu?” kata Erlend mengeja semua kalimat yang ditunjuk oleh sang merpati. Dia memperhatikan merpati itu dengan tambah serius. “Tita adalah Laura?”
Merpati itu hanya memandangi Erlend. Di sorot matanya yang tajam, seolah ada Thanatos yang bersemayam di dalamnya. Erlend menjadi semakin yakin. Merpati ini jelas bukan merpati sembarangan, aura magisnya saja lebih kental ketimbang reaper yang selalu dia rasakan.
“Tita adalah gadis yang bersama dirimu … bersamaku, dan gadis yang bersamaku adalah Laura, dan Tita adalah Laura. Jika seandainya kertas itu sudah menunjukkan kalimat tersebut, maka artinya Laura sudah mengetahuinya, dan sengaja merobek? Kenapa dia melakukan itu? Atau jangan-jangan dia ingin menyembunyikannya? Apa benar dugaanku, jangan-jangan dia memang ingin melakukan sesuatu padaku?” Erlend mengerutkan keningnya, amat pusing. Dia sudah mulai memeprcayai gadis itu, tapi kemudian ini terjadi. Dia kembali menaruh curiga terhadap gadis tersebut.
Dia meremas kertas dengan perasaan marah. Dia ingin meluapkan amarahnya kepada gadis itu, namun—belum sempat melakukan apapun, mendadak ada suara gaduh yang terdengar di luar kediaman Hades ini. Dia pun langsung menoleh keluar jendela, kabut tebal masih mengintari tempat ini.
Dia berdiri sembari berkata pada sang merpati, “aku akan memeriksanya, kau awasi Laura alias Tita ini.”
Merpati itu kemudian terbang keluar perpustakaan ini, dan menuju ke kamar Laura kembali. Dia memahami apa yang diinginkan oleh Erlend dan melakukan apa yang diperintahkan.
Sementara itu, Erlend langsung membuka kaca jendela perpustakaan, kemudian keluar. Dia tidak mengkhawatirkan kondisi Laura di dalam kediaman Hades karena memang takkan ada yang bisa masuk tanpa ijin dari sang tuan rumah alias dirinya. Untuk sekarang, dia perlu mencari tahu apa yang terjadi di luar.
Suara gaduh seperti pohon tumbang beberapa kali terjadi. Suara-suara itu makin keras membahana di seluruh hutan maple ini. Sumbernya pun ada di sebelah barat, dan langsung didatangi oleh Erlend.
Akan tetapi, sayangnya dia tidak menemukan siapapun kecuali sebuah pohon besar yang tumbang. Dari yang terlihat, sebenarnya pohon itu tumbang secara alami karena tua dan akarnya sudah tidak kuat. Walaupun terlihat normal, tapi Erlend tetap merasa sangat aneh. Mata coklatnya berkilatan, berusaha melihat di tengah pekatnya kabut. Dia benci harus mengakui kalau dirinya seperti sedang dipermainkan oleh seseorang.
“Sial.” Dia mengumpat.
Tak lama kemudian, terdengar suara ringkikan kuda. Sontak, Erlend terbelalak tak percaya. Dia mengenali betul suara ringkikan tersebut, suara asli dari binatang perkasa yang menarik kereta mewah sang dewa Hades.
“Itu kan …” Dia tersenyum senang, apalagi saat mulai merasaka ada aura magis dari kuda-kuda tersebut. Dia punya banyak pertanyaan, tapi untuk sekarang—merasakan keberadaan para kuda itu sudah cukup baginya.
Dia pun bersiul.
Langkah-langkah kaki kuda mendekat, dan suara roda kereta juga terdengar jelas. Dari dalamnya kabut ini, muncul kereta kuda yang selama ini selalu menemaninya. Kereta bertabur permata hitam dengan dua kuda perkasa.
“Ini sangat aneh,” ucap Erlend masih tak percaya melihat kereta kudanya mendatangi dirinya dalam kondisi baik-baik saja. Dia memperhatikan para kuda juga kelihatan tidak mengalami masalah dan sehat. Lantas, apa yang sudah terjadi? Kemana mereka selama ini?
***