19

1192 Kata
Demam Laura tidak kunjung turun. Hal ini membuat Erlend semakin khawatir. Dia sengaja belajar membuatkan makanan dari buku-buku yang ada di perpustakaan. Untuk bahan makanan, dia sengaja mengambil beberapa sayuran yang tertanam di sekitar kediaman Hades ini, dan menangkap ikan yang ada di danau. Kebutuhan dapur memang tidak banyak, jadi dia harus mencari makanan di sekitar rumah. Dia tidak mungkin meninggalkan tempat ini atau meminta orang luar untuk masuk ke hutan lindung ini. Keduanya adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Apalagi, kabut tebal masih saja menggantung di antara pepohonan, aneh dan tidak masuk akal. Meskipun demikian, Erlend bersyukur karena tidak merasakan energi sihir seperti yang dia rasakan sebelumnya saat menyusuri sekitar rumah. Setelah berhasil menangkap ikan dengan tombak dwisulanya, dia kembali pulang dengan menggerutu, “sial, kenapa aku malah malah menggunakan senjata magis untuk berburu ikan? Thanatos pasti membunuhku nanti.” Di dapur, dia sudah mulai memahami nama-bama dari bahan makanan seperti garam, gula, lada, dan sebagainya. Setelah membersihkan kulit ikan, dia melaburinya dengan garam dan jeruk buah yang dia temukan di hutan. Didiamkan selama beberapa menit, lalu dia mulai memanggangnya. Dia melakukan itu layaknya seorang koki yang sudah berpengalaman. Dia terus menggerutu dan mengumpat. Heran sendiri. Sebelumnya dia sangat aktif dan ganas di Medan pertempuran melawan minotaur, tapi mendadak dia terus menerus berada di dapur, membuat makanan dan merawat orang sakit. “Aku pasti sudah gila,” ucapnya tak percaya ketika ikan panggangnya sudah jadi dan dia sajikan di atas piring dengan hiasan selada serta irisan tomat. Dia tidak mengerti mengapa harus meniru totalitas apa yang dikatakan oleh buku yang dia baca? Mengapa dia sangat ingin Laura terkesan dengan masakannya? Mengapa di pikirannya hanya ada Laura? Dan lebih buruknya, mengapa dadanya juga sakit karena Laura tidak kunjung sembuh? Puas menggerutu, dia berjalan masuk ke ruangan Laura kembali, dan menunjukkan hasil masakannya kepada gadis itu. “Hei, bangunlah, Sialan, aku sudah membuatkan makan malam untukmu. Ikan panggang istimewa.” Laura, dengan wajah pucatnya, bangun dari ranjang. Dia merasa tubuhnya masih sangat letih dan tidak nyaman. Sudah nyaris dua hari dia tidak menyentuh air, rasanya sangat tidak nyaman. “Kau membuatkan makanan terus, terima kasih, besok aku ingin membantu,” katanya dengan suara parau. Erlend memeriksa kening Laura, dan terkejut karena suhu tubuhnya masih panas. “Aku bingung sekali apa yang harus kulakukan, mungkin kita harus pergi keluar dan menemui dokter. Aku tidak pernah sakit, jadi aku tidak mengetahui apa yang harus kulakukan.” Laura menengok keluar jendela, saat ini sudah malam hari, tak heran suasananya sangat gelap dan masih berkabut. Dia menggeleng. “Aku sering demam, menurutku ini bukan penyakit serius, mungkin karena aku kurang istirahat saja. Besok pasti sembuh.” Erlend jadi tidak tega jika harus mengenali gadis ini lagi. Dia menghela napas panjang, kemudian berkata, “kau sudah istirahat seharian, rasanya ini bukan penyakit biasa, mungkin kau terkena guna-guna, kan beberapa hari yang lalu ada orang aneh masuk ke area ini, takutnya dia memberimu guna-guna atau hal magis lain. Aku sungguh masih tidak mengerti kinerja sihir, ini bukan keahlian ku.” “Keahlian mu memang bertarung dan menculik,” ucap Laura yang berniat bercanda. Dia tersenyum pada Erlend, hatinya sudah mulai terbuka karena diperlakukan amat baik sejak dia sakit. “Jangan mengejekku, ya, kekuatan yang kumiliki memang diperuntukkan untuk bertarung. Aku bisa melakukan sihir, tapi aku tak mahir melafalkan mantera, entahlah rasanya sangat aneh. Penyihir memang sangat unik dan misterius, juga menyebalkan— kebanyakan menyebalkan.” Laura mulai memperhatikan ikan panggang buatan Erlend yang cukup parah. Gosong dan baunya sangat aneh. Dia tidak ingin banyak bicara, dan langsung memakannya. Rasa yang mendominasi adalah asin dan asam. Dia berharap sakitnya tidak bertambah parah setelah makan ini. “Enak memang—” katanya. Erlend memicingkan mata. “Tapi?” “Tapi terlalu asin, kau harus belajar mengurangi garam dalam membuat makanan. Besok aku akan membantu membuat sarapan.” “Iya, itu jika kau sudah sehat.” “Aku harap.” “Iya.” “Ngomong-ngomong, Erlend, kenapa aku tak pernah melihatmu makan? Kau tidak mau makan?” “Tidak minat, kelihatannya tidak enak, mana mau aku memakan makanan tidak enak.” Laura mendadak kesal. “Kau menghina makanan buatan mu sendiri, tapi aku tak boleh menghinanya?menyebalkan sekali kau ini.” “Ya sudah makan saja, yang penting 'kan bisa dimakan. Lagipula, aku tidak yakin kalau kau bisa membuat makanan. Kau bisa memasak, hah? Seenaknya bilang membantuku membuat makanan.” “Aku ini bisa memasak, maaf saja ya, setidaknya lebih baik ketimbang daging ikan gosong ini. Kau terlaku banyak menggunakan garam, dan asam ini darimana? Kau menggunakan apa? Selain itu—” Laura memperhatikan sisa daging ikannya dan mencium aroma dari ikan tersebut. “Dan, apa-apaan ini? Bau amisnya masih ada. Sebenarnya ini ikan apa?” “Aku menangkapnya di danau dekat sini, jangan khawatir bisa dimakan, hanya saja aku tidak tahu jenisnya. Intinya bisa dimakan, bahan makanan kita habis, aku tak mungkin pergi dari rumah ini dan berbelanja, aku juga tidak mungkin menyuruh orang kemari membawakan belanjaan. Intinya kita terjebak disini dengan bahan makanan yang menipis. Jadi, kau jangan pilih-pilih makanan.” “Aku kan hanya memprotes makanan mu.” “Kau juga tidak bisa membuat makanan. Palingan kau hanya mampu ... Merebus air.” Belum sempat Laura mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu yang menggelegar. Baru kali ini Laura mendengar ada suara bel pintu yang seperti itu. Dia merasa seperti berada di tengah ruangan dengan suara denting jam yang keras. “Itu suara bel rumah?” Laura kaget. Erlend langsung mengatakan, “sebentar, aku harus memastikan siapa yang datang.” Dia kemudian keluar dari ruangan tersebut, lalu menuju ke pintu depan. Dia merasakan energi sihir, tidak ada tanda-tanda keberadaan hawa dewa. Jadi, dia memastikan ini pasti makhluk selain dewa. Pintu di buka. Erlend bersiap untuk bertarung jika seandainya ini adalah musuh. Akan tetapi, ternyata orang yang datang adalah sosok pemuda seusianya yang memakai jubah hitam dengan membawa sekeranjang bahan makanan seperti kentang, sayuran, bahkan daging. Pemuda itu menurunkan tudungnya, lalu tersenyum pada Erlend. Dia memiliki rambut pirang tua dan mata coklat keemasan. “Selamat malam. Aku Cody Sawyer, penyihir, aku datang karena diminta oleh dewa Thanatos untuk membawakan bahan makanan untuk kalian dan memeriksa keadaan Nona Tita.” “Hah? Kenapa dia tidak datang sendiri dan—” Erlend berhenti bicara, masih tidak percaya dengan segala ucapan Cody barusan. Dia memicingkan mata dan mencoba membaca apa yang sedang dipikirkan oleh penyihir itu. “Pergilah, aku tidak akan membiarkan orang masuk ke kediaman Hades ini hanya karena dia mengatakan nama Thanatos.” “Aku juga punya informasi tentang orang yang mengintai kalian. Dia selalu berkeliaran disini, bukan?” “Dan bagaimana aku tahu kalau itu bukan kau?” Cody tersenyum, menyukai kecerdikan dari Erlend. Dia mengeluarkan sebuah liontin berbentuk tengkorak dari saku jubahnya, kemudian diperlihatkan kepada Erlend. “Percayalah, aku memang dikirim oleh dewa Thanatos.” Melihat liontin tersebut, Erlend mau tidak mau percaya kalau memang penyihir ini adalah utusan dari Thanatos. Dia pun membuka pintu ganda kediaman Hades ini lebar-lebar. “Masuklah, Sialan,” sambutnya. Cody masuk dengan masih mempertahankan senyumanya. Dia sudah diberitahu oleh Dewa Thanatos kalau Erlend Hadeson sangat kasar dan bar-bar, jadi dia tidak terlalu kaget. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN