Pintu di buka.
Erlend sudah siap untuk bertarung jika seandainya ini adalah musuh. Namun, ternyata orang yang datang adalah sosok pemuda seusianya yang memakai jubah hitam dengan membawa sekeranjang bahan makanan dari mulai sayuran hingga daging.
Pemuda itu menurunkan tudung, lalu tersenyum pada Erlend. Dia memiliki rambut pirang tua dan mata coklat keemasan.
“Selamat malam. Aku Cody Sawyer, penyihir, aku datang karena diminta oleh dewa Thanatos untuk membawakan bahan makanan untuk kalian dan memeriksa keadaan Nona Tita,” katanya kemudian.
.
.
.
Cody Sawyer. Penyihir. Erlend sama sekali tidak pernah mengenalnya. Padahal jika ada penyihir hebat atau kuat, dia bisa langsung mengenalinya. Akan tetapi penyihir yang satu ini tidak pernah dia dengar ataupun lihat.
Cody mengaku kalau dirinya adalah penyihir yang lebih mahir dalam hal ramuan. Karena itulah, keahliannya sangat cocok untuk menangani keadaan Tita alias Laura untuk saat ini.
Dia mendatangi kamar Laura, dan langsung diperkenalkan oleh Erlend kepada gadis itu.
“Laura, ini adalah Cody Sawyer. Dia penyihir yang dikirim oleh Thanatos, dia akan memeriksa keadaan mu, aku tidak terlalu tahu detailnya, pokoknya sekarang dia harus memeriksa kondisimu,” katanya menuding Cody.
Cody membungkuk sesaat, lalu mendekat ke tepian ranjang. “Halo, namaku Cody Sawyer, salam kenal, Nona.”
Cara bicaranya sangat sopan sehingga membuat Laura rileks. Dia bangkit terduduk di ranjang. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya tidak merasakan sakit kepala kembali. “Salam kenal, aku Laura.”
Cody mengulurkan tangan. “Tolong berikan telapak tangan mu, aku akan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada mu. Aku merasa tidak ada aura jahat dalam diri mu, tapi aku punya insting kalau ini bukan penyakit biasa.”
Laura menaruh telapak tangannya di atas tangan Cody. Dia pun juga punya perasaan kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Hanya saja, mana bisa dia mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan sihir.
“Oh, apakah kau ini semacam Shaman?” tanya Erlend penasaran terhadap metode yang dilakukan Cody dalam menganalisa apa yang terjadi dalam diri Laura.
Shaman sendiri adalah istilah untuk para penyihir, yang umumnya adalah pria, yang bertugas untuk menyeimbangkan alam dunia kematian dan dunia orang hidup. Mereka gemar tinggal berpindah-pindah dan cenderung senang menyatu dengan alam. Iya, itu karena sudah naluri mereka untuk selalu menjaga alam.
Sihir yang digunakan Para kelompok penyihir ini selalu mengandalkan energi dari alam. Karena energi alam tidak terbatas, mereka menjadi sangat kuat jika bertarung dengan sihir. Akan tetapi hanya berlaku untuk pertarungan jarak jauh, jika pertarungan tersebut dilakukan dalam jarak dekat, bisa dipastikan mereka lemah.
Cody menggelengkan kepala. “Tidak, aku hanya penyihir biasa yang gemar membuat ramuan herbal. Tidak ada yang istimewa dari diriku.” Dia mulai memejamkan mata dan menganalisa telapak tangan Laura. Mimik wajahnya sama sekali tidak berubah, hanya sedikit terkejut, selebihnya tidak ada masalah. “Baiklah, sepertinya memang ada sedikit ulah dari penyihir lain yang tidak diketahui.”
“Ulah dari penyihir lain?” ulang Laura bingung.
Erlend tidak terlalu kaget karena sudah menduganya. Pelaku yang dia curigai pun pernah masuk ke wilayah hutan maple ini sehingga membuat suasana hatinya buruk. “Oh, jadi benar begitu.”
“Tapi, tidak masalah, aku akan berikan ramuan, dan tidurlah, aku yakin besok kau akan membaik.” Cody sudah membuka mata lagi dan melepaskan tangan Laura.
Dia kemudian mengambil sebuah botol kaca kecil seukuran kelingking dari dalam saku jubah yang dia kenakan.
Ada sedikit cairan bening yang ada di dalam botol kaca tersebut.
“Ini minumlah, ini adalah ramuan yang biasa ku gunakan untuk mengobati orang yang terkena guna-guna dari penyihir lain,” kata Cody melepaskan penutup botol, lalu menyerahkannya pada Laura. “Tidak perlu khawatir, aku bisa dipercaya.”
Erlend tidak mau begitu saja membiarkan Laura meminumnya. Dia merebut botol tersebut dengan cepat, lalu meneteskan cairan itu di telapak tangannya. Setelah merasakan efek dari ramuan sihir itu, dia mengangguk paham.
Cody tersenyum. “Aku terpercaya, bukan?”
“Iya.” Erlend menyerahkan botol kaca itu pada Laura. Kemudian, dia mengatakan pada gadis itu, “jangan khawatir, itu aman, sudah kubuktikan. Kalau ada racun atau sihir buruk, normalnya langsung bereaksi padaku. Itu ramuan baik.”
Mendengar hal itu, Laura pun menjadi lega. Kemudian, dia meneguk ramuan sihir dalam bot kaca tersebut tanpa ragu.
Selepas melakukan itu, dia merebahkan diri kembali di atas ranjang, dan Erlend dengan penuh perhatian menaikkan selimut hingga ke leher Laura.
Erlend mengajak Cody untuk pergi ke perpustakaannya. Dia ingin membicarakan banyak hal bersama penyihir asing ini, terutama tentang Thanatos yang tidak datang sendiri.
.
.
.
Cody Sawyer diajak ke perpustakaan oleh Erlend. Penyihir ini tidak menunjukkan sikap waspada ataupun yang lainnya. Dia sudah mempercayai Erlend, dan berharap kalau demigod itu juga mempercayainya.
Erlend mempersilakannya duduk di salah satu kursi yang mengintari meja baca, dia pun juga duduk di kursinya. Di atas meja baca tersebut sudah tertumpuk banyak sekali buku bacaan yang bertema penyihir dan dunia sihir. Sudah letih dia mencari tahu tentang hal yang berhubungan dengan Tita, tapi tak kunjung ketemu. Lalu sekarang, sudah terbukti kalau Tita adalah Laura.
“Jadi, kau sungguh dikirim oleh Thanatos?” tanya Erlend kemudian. Tatapannya menyelidik kea rah wajah Cody Sawyer. Sesungguhnya dia masih tidak mau mempercayai siapapun, tapi dia sendiri sadar kalau penyihir ini tidak bermaksud buruk.
“Iya, seperti itulah.”
“Dan kau adalah …”
“Penyihir biasa, Cody Sawyer, aku tinggal tidak jauh dari tempat Laura, dari awal aku sudah mengetahui kalau dia adalah reinkarnasi dari Tita. Jadi pasti dia bisa melihat apa yang normalnya penyihir biasa atau bahkan dewa sekalipun tidak bisa melihatnya.”
“Apa maksudmu? Aku juga tahu kalau Laura adalah Tita berkat informasi dari Thanatos, sebelumnya ada reaper yang tewas sambil mengucapkan nama itu juga, tapi aku tidak mengerti siapa itu Tita, dan kenapa Laura menyembunyikan ini?”
“Kurasa dia tidak menyembunyikannya.”
“Jangan bicara omong kosong, dia sengaja merobek surat kecil dari Thanatos dan berbohong padaku, dia sengaja melakukan itu agar aku tidak tahu bahwa jati dirinya adalah Tita.”
“Kemungkinan karena dia takut padamu, kau sedang mencari tahu apa dan siapa itu Tita, bukan? Sedangkan dia baru tahu dari surat itu bahwa dirinya adalah Tita, dia tidak mau kau menanyainya dan mengancamnya, kurasa alasan itu yang paling masuk akal. Aku yakin dia tidak mungkin kenal atau mengingat saat dia menjadi Tita.”
“Memangnya siapa itu Tita?”
“Tita adalah penyihir hebat di masa lalu, dia memang tidak dikenali oleh banyak manusia ataupun penyihir lain, tapi sebenarnya dia benar-benar hebat, dia bisa meramalkan sesuatu dengan presentase kebenaran seratus persen.”
“Seorang peramal?”
“Iya, tapi ini sungguh berbeda dengan mereka yang bisa melihat masa depan ataupun lainnya, ramalan Tita sungguh terjadi dan akurat, tidak terbantahkan lagi. Karena ramalannya semua bencana bisa dihindari seperti wabah hitam yang diakibatkan penyihir hitam atau lainnya.”
“Kapan dia hidup?”
“Ratusan tahun silam.”
“Kapan dia mati dan mengapa?”
“Dia meramalkan dirinya tewas di tangan para warga yang membakarnya, dan itulah yang terjadi, sekalipun dia berlari kemanapun, ramalannya selalu menuju ke satu kesimpulan, dia mati terbakar. Itu terjadi sekitar tiga ratus tahun silam. Meskipun begitu, dia sudah meramalkan apapun yang terjadi di masa depan—bahkan tentang dirinya sendiri.”
“Apa katamu?”
“Iya, dahulu, dia mengatakan pada penyihir terdekat yangs udah dia anggap sebagai keluarga bahwa dia akan bereinkarnasi menjadi seorang gadis biasa di kota ini, jika ada bayi yang dibuang di depan panti asuhan di tengah gerhana matahari, maka itu adalah dirinya.”
“Tapi … Laura punya keluarga.”
“Itu adalah keturunan dari penyihir yang merupakan keluarga Tita. Iya, aku menjulukimereak adalah para Saudari. Mereka semua menyembunyikan jati diri Laura, bahkan dari dirinya sendiri.”
“Kenapa?”
“Karena ada kelompok yang ingin membunuhnya jika mengetahui kalau dia adalah reinkarnasi Tita.”
“Siapa?”
“Tadi sudah kukatakan bukan kalau Tita tewas di tangan para warga yang memabkarnya. Semua manusia itu mengetahui kalau Tita penyihir dari kelompok yang menyebut diri mereka adalah pemburu penyihir. Merekalah yang selalu membantai para penyihir yang berpengaruh dan berbahaya untuk dunia. Sampai sekarang aku tidak mengerti siapa mereka, tapi kemungkinan orang-orang yang diberikan anugerah dari cawan suci Tuhan, atau entahlah—mungkin juga mereka setengah malaiakt, karena normalnya tidak mungkin ada manusia biasa yang bisa menyembunyikan diri dari penyihir sampai ratusan tahun seperti ini. Mereka berbahaya bagi penyihir, dan target utama mereka adalah Tita, jika mereka tahu kalau dia masih hidup—sudah jelas mereka akan mengincarnya mati-matian.”
“Aku dan Laura juga diteror, sejak aku membawanya kemari, aku mulai mendapatkan terror dari seseorang, bahkan aku tak bisa mendeteksi keberadaannya. Mungkinkah dia adalah anggota dari pemburu penyihir itu?”
“Iya, kemungkinan.”
“Tapi bagaimana mereka tahu kalau aku membawa Tita? Tidak ada yang tahu sebelumnya bahwa Laura adalah Tita, bukan?”
“Laura bisa melihat apa yang seharusnya tidak terlihat, bukan? AKu yakin ada kemungkinan pencuri helm ayahmu ini mengatakan kecurigaannya pada Laura kepada kelompok ini. Keberadaan Laura megancam dirinya, jelas dia akan bekerja sama dengan kelompok pemburu penyihir ini.”
“Masuk akal memang. Bagaimana caramu tahu semua ini? Kau bilang ini rahasia, bukan? Kau juga jelas bukan anggota dari Saudari dari Tita.”
“Aku bukan anggota Saudari, tapi aku adalah keturunan penyihir yang dahulu pernah mencoba menyelamatkannya dari serangan kelompok pemburu penyihir dan amukan warga yang anti penyihir. Hanya saja, waktu itu leluhurku terpisah dengan Tita—dan Tita dibakar di tiang oleh para warga.”
“Oke, lalu bagaimana caramu mengenal Thanatos?”
“Thanatos sendiri yang mendatangiku beberapa tahun silam, dia selalu memesan ramuan tertentu padaku. Bisa dibilang, kami hanya mengenal karena saling membutuhkan. Jujur saja, koleksi benda kematian yang dimiliki oleh para dew aitu sangat langka, dan terkadang ramuan tertentu hanya bisa dibuat dengan bahan-bahan yang bisa didapat dengan bantuan dewa.”
“Baiklah, ada satu hal lagi …”
“Ada apa?”
“Bagaimana kau tahu kalau Helm Hades dicuri?”
“Thanatos memberitahukan segalanya.”
“Dan, kenapa dia tidak kemari?”
“Ada serangan Minotaur di kediamannya.”
“Aku harus segera kesana dan memutuskan apa yang harus kulakukan pada Laura.”
“Kalau menurutku, kita harus berdiam dahulu sebentar di rumah ini. Disini sangat aman, bukan?”
“Iya, aman, tidak ada yang bisa masuk, jadi tidak akan ada yang mendekati kita, kecuali kalau kita sendiri yang keluar dari sini.”
“Laura masih butuh istirahat, setelah mendapatkan ramuanku, ada kemungkinan dia mengalami mimpi buruk yang berlebihan. Dia juga akan merasa nostalgia denga napa yang dia rasakan. Aku tidak tahu, apakah ada kemungkinan dia ingat kalau dirinya Tita atau tidak. Tapi, normalnya penyihir yang bereinkarnasi lambat laun akan mengingat kehidupan di masa lalunya.”
“Baiklah, aku akan menunggu beberapa hari sampai Laura sembuh.”
Cody mengangguk.
***