21

1326 Kata
Cody mengambil sebuah botol kaca kecil seukuran kelingking dari dalam saku jubah yang dia kenakan. Ada cairan bening di dalam botol kaca tersebut. “Ini minumlah, ini adalah ramuan yang biasa ku gunakan untuk mengobati orang yang terkena guna-guna dari penyihir lain,” katanya sembari melepaskan penutup botol, lalu menyerahkannya pada Laura. “Tidak perlu khawatir, aku bisa dipercaya.” Erlend tidak mau membiarkan Laura meminumnya begitu saja. Dia merebut botol tersebut dengan cepat, lalu meneteskan cairan itu di telapak tangannya. Setelah merasakan efek dari ramuan sihir itu, dia mengangguk paham. Cody menatapnya. “Aku terpercaya, bukan?” “Iya.” Erlend mulai percaya sembari menyerahkan botol kaca itu pada Laura. Kemudian, dia mengatakan pada gadis itu, “jangan khawatir, itu aman, sudah kubuktikan. Kalau ada racun atau sihir buruk, normalnya langsung bereaksi padaku. Itu ramuan baik.” Laura menjadi lega, lalu meneguk ramuan sihir dalam bot kaca tersebut tanpa ragu. Selepas melakukan itu, dia merebahkan diri kembali di atas ranjang, dan Erlend dengan penuh perhatian menaikkan selimut hingga ke leher Laura. . . . Berkat obat dari Cody, Laura tertidur pulas. Akan tetapi ternyata efek dari guna-guna tidak mau pergi begitu saja. Sihir yang sudah melekat dalam diri Laura bereaksi dan membuatnya bermimpi buruk. Di mimpi tersebut, dia dikejar oleh banyak sekali orang yang membawa obor. Kakinya telah letih berlari menyusuri hutan. Dia ketakutan, tapi pada akhirnya tertangkap pula. Suara-suara semua orang memenuhi telinganya, semua ingin dirinya mati. Dengan rasa takut luar biasa dia diseret ke tengah lapangan tandus, kemudian diikat oleh mereka di sebuah tiang. Obor-obor dilemparkan ke tumpukan kayu yang ada di bawah tiang tersebut, membuat Laura merasakan panas luar biasa tapi tak bisa bergerak karena tali pengekangnya terlalu kuat. Mimpi itu terlalu nyata sampai dia bisa merasakan panasnya serta kengeriannya. Keningnya berkeringat hebat memaksa dirinya untuk bangun dari tidur. Dia terbangun, dan langsung duduk sembari memegangi dadanya yang berdebar kencang. Baru kali ini, dia merasakan takut karena sebuah mimpi. Masalahnya, dia yakin sekali kalau barusan itu bukan sekedar mimpi, bahkan dia masih bisa merasakan panasnya api saat membakar kulit kakinya. Dia menyibakkan selimut dan kaget ketika melihat sebagian kakinya telah melepuh dan kemerahan seperti terbakar. Meskipun tidak terlalu banyak, tapi sudah jelas itu adalah luka yang diakibatkan oleh api. Rasanya perih sekali. “Apa yang terjadi?” Laura bingung sendiri. Mimpi itu terlalu nyata. Laura hanya terdiam di atas kasurnya untuk beberapa saat sambil menenangkan diri. Dadanya masih  berdebar kencang tidak karuhan. Rasa takut akan kejadian dikejar oleh banyak orang dengan membawa obor itu masih terasa. Pundaknya saja masih merinding. Sekujur tubuhnya sekarang basah oleh keringat. Apa yang dikatakan oleh Cody memang benar terjadi. Gadis itu mengalami mimpi buruk yang tetap terngiang-ngiang walau pun sudah bangun. Laura meghela napas panjang, tidak mengerti apa yang harus dilakukan. “Aku harus minum,” ucapnya sembari turun dari atas ranjang. Dia baru sadar kalau masih mengenakan gaun tidur yang sama dengan kemarin berwarna biru muda. Sekarang kepalanya sudah tidak sakit lagi, demam pun sudah turun. Ada segelas air minum yang selalu disiapkan oleh Erlend di atas meja samping jendela. Dia berjalan mendekatinya dengan langkah yang agak kesakitan, iya luka bakarnya memang nyata. Setiap malam, kelambu jendela kaca itu tertutup rapat. Tapi, entah mengapa, seolah ada yang memerintahkan, Laura malah mendekati jendela dan menyibakkan kelambu putih tersebut. Dia kemudian memandangi area luar yang masih berkabut tebal. Tiba – tiba ada suara seperti desisan ular yang mengatakan: Keluarlah, Tita … Kami ingin membawamu ke tempat yang seharusnya … kami akan memberitahumu tentang siapa dirimu. Hanya saja, suara itu hanya didengar oleh telinga Laura saja. Laura sendiri bingung dengan sebutan Tita tersebut, antara sadar dan terhipnotis, dia merasa ingin sekali menuruti perintah itu. Dia ingin tahu sebenarnya siapa dirinya, mengapa dia dipanggil Tita oleh Thanatos? “Siapa itu?” tanya Laura menengok ke berbagai arah. Tak ada siapapun di ruangan itu. Di luar jendela juga tidak ada tanda-tanda pergerakan. Tidak ada apapun. Akan tetapi suaranya kembali mengatakan: Buka jendelanya, lalu datanglah keluar, kami akan memberitahumu siapa dirimu. Kau tidak perlu menjadi tawanan Demigod itu, Tita, kami akan membebaskanmu. Suaranya semakin lama semakin membius sampai Laura menjadi kehilangan kendali akan dirinya sendiri. Tidak ada pilihan lain baginya, dia pun membuka jendela, kemudian menaikinya, setelah itu dia melompat turun. Dia ingin menghentikan dirinya sendiri, tapi tidak bisa. Jangankan meghentikan langkah kakinya, mengeluarkan sepatah kata saja tidak mampu. Dia ingin memanggil Erlend, tapi suaranya seperti ditahan di tenggorokan. Dia berjalan menebus kabut hingga sampai di tengah halaman samping kediaman Hades ini, tepat di depan tiga orang pria yang memakai jubah hitam. Salah satu di antaranya mengulurkan tangan sembari berkata, “kemarilah, Nona.” Meskipun tidak mau, tapi Laura mengulurkan tangannya dan memegang tangan tersebut. Dan, seketika itu pula gelang kekang yang diberikan oleh Erlend putus dan jatuh ke tanah. Pandangan mata Laura menjadi buram. Ia seperti tidak bertenaga dan jatuh ke dalam pelukan pria berjubah hitam tersebut. Dalam sekejab, mereka semua menghilang. . . . “Sial.” Erlend baru menyadari sesuatu terjadi saat merasakan koneksinya dengan Laura terputus. Dia yakin kalau gelang yang dipakai gadis itu putus. Tanpa menunggu apapun, dia berlari keluar dari perpustkaan, dan membuat Cody kebingungan. “Ada apa?” pemuda itu ikut mengejarnya dengan mimik wajah penasaran. “apa ada sesuatu yang terjadi?” Erlend membuka pintu kamar Laura dan dikejutkan dengan jendela yang sudah dibuka. Angin terlihat mengibarkan kelambu putihnya. Tidak ada seorang pun di ruangan ini—yang membuktikan dengan jelas kalau gadis itu sudah keluar sendiri melalui jendela. “Bagaimana ini terjadi!” bentak Erlend sembari berlari, lalu melompat keluar jendela, lalu menebus kabut untuk mencari keberadaan Laura. Hawa dingin terasa sangat menusuk malam ini. Lambat laun intensitas kabut yang ada di sekeliling kediaman Hades mulai berkurang. Iya, karena memang sang pembuat kabut sudah meninggalkan tempat ini bersama target mereka. Alhasil, makin lama terlihat pepohonan dan sosok Erlend yang berdiam diri di tengah halaman samping sembari pandangan mengarah ke semua tempat. “LAURA! LAURA!” Dia terus berteriak memanggil gadis itu. Dadanya mendadak sesak karena merasa begitu khawatir dan takut. Ini adalah hal pertama yang dia rasakan. Tidak pernah sebelumnya dia merasakan kehilangan yang sampai seperti ini. Tidak ada siapapun di sini sekarang. Rembulan yang sudah lama tak tampak mulai terlihat karena kabut sudah hilang. Cody terlihat melompati jendela pula, dan mendekati Erlend. Dia menemukan gelang yang tergeletak di atas tanah berumput basah. Dia kemudian menyerahkan itu pada Erlend. “Sepertinya ada yang tidak beres.” “Bagaimana mungkin aku tidak mendeteksi kalau Laura keluar dari rumah ini!” Erlend merasa ingin memukul diri sendiri. Dia menyambar gelang tersebut, meremasnya sampai berubah menjadi serpihan bubuk dan dilepaskan begitu saja. Sekarang semuanya tidak penting lagi, dia harus menyelamatkan Laura. “Kemungkinan kelompok pemburu penyihir, bagiku sendiri aku juga tidak mampu mendeteksi siapa yang datang menghampiri tempat ini. Rasanya sangat memuakkan dan menyebalkan. Mari kita bekerjasama untuk menyelamatkan Laura atau Tita. Kita tidak boleh kehilangan dia, selain karena ramalannya yang bisa dimanfaatkan oleh musuh, kita benar-benar membutuhkannya saat berada di situasi yang buruk. Kelompok pemburu penyihir ini bisa memanfaatkannya untuk mencari para penyihir hebat lain dan mereka bisa membunuhnya dengan bantuan ramalan tak terbantahkan milik Tita.” Dengan mata berkilatan marah, Erlend mengatakan, “Aku tidak peduli dengan tujuan mereka, ataupun tujuanku, aku tidak peduli dengan helm Hades juga, aku harus mendapatkan Laura kembali. Dia adalah milikku, dan siapapun yang mencoba merebutnya dariku—akan hancur.” Tanah tempat mereka bepijak ikut bergemuruh karena amarah yang dialirkan oleh Erlend. Sebagai seorang yang bisa memanipulasi dan mengendalikan batuan alam, dia jelas mampu membuat gempa sebanyak yang dia inginkan. Amarahnya saja sudah emmbuat bumi bergetar, Cody sampai takut sendiri. Dia memandangi Erlend dengan pandangan aneh, dia kini mulai percaya pada ramalan Tita ratusan tahun silam tentang keturunan Hades yang berbahaya. Akan tetapi, mana mungkin dia mengatakan ramalan itu pada Erlend. Tidak sekarang. Dia yakin suatu hari nanti sosok Erlend ini akan mengetahui sendiri bahwa di masa lalu, Tita sudah meramalkan tentang “keturunan Hades”. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN