28

1287 Kata
Selama semalaman, Erlend dan Laura tidur berdua dalam satu ranjang. Mereka merasakan kedekatan luar biasa dan melupakan apa yang telah terjadi hari itu. Ketika pagi sudah mulai datang, keduanya bangun dengan tubuh dan sudah segar kembali. Cahaya matahari terlihat menerobos jendela-jendela kamar. Tapi, situasinya tak terlalu terang karena memang kelambu masih menutupi jendela. Baik Erlend dan Laura bangun bersamaan. Mereka berdua saling memandang untuk beberapa saat. Setelah itu, bangun dan kembali ke tabiat masing-masing. Iya, Erlend tampak meregangkan otot-otot di tubuhnya, kemudian berkata, “sebaiknya kita cepat bangun. Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Kau bilang akan membantuku memasak? Kita butuh makan, kita lihat apakah kau memang bisa membuat makanan, pasti lebih buruk daripada buatan ku.” Sindiran halus tersebut membuat Laura terbakar semangat. Dia bangun dari ranjang, lalu turun terlebih dahulu dan berkata, “ayo kita buat makanan, jika dibandingkan dengan roti panggang gosong, aku jelas lebih baik darimu.” “Oke.” Erlend tertawa. Dia ikut turun dari ranjang, kemudian berjalan keluar kamar menuju ke dapur. Langkahnya diikuti oleh Laura yang kelihatan menahan tawa. Kini, dia semakin yakin bahwa Erlend memiliki hati yang hangat, dia bisa mendapatkan cintanya kalau begini. Membayangkan hal itu saja sudah membuat pipinya memerah. Lagipula, mana bisa dia melupakan apa yang sudah terjadi semalam. Mereka telah berciuman, ciumannya pun berbeda dan itu sudah cukup membuktikan bahwa perasaan Erlend kini berbeda untuk Laura. Laura tersenyum sepanjang langkahnya menuju ke dapur. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum hingga mereka mulai memasak roti panggang berdua. Kedekatan mereka sudah terlihat jelas dan tampaknya tak ada rasa malu-malu kembali. Erlend mengakui kalau menyukai Laura, tapi terlalu malu untuk mengatakannya. Laura pun sudah bisa mengetahui itu lewat mata Erlend, walaupun dia juga ingin agar Erlend mengutarakan perasaannya lebih dahulu. Selepas membuat makanan berdua, mereka duduk bersebelahan di meja makan. Kemudian menikmati sarapan mereka yang cukup sederhana tapi sangat enak karena dibuat berdua. “Erlend, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Laura yang selalu saja memerah saat bertatapan muka dengan Erlend. Momen ciuman semalam tak juga menghilang. Berbeda dengan Erlend yang tampaknya sudah bisa terbiasa. Dia menganggap kalau sekarang dia sudah menjalin hubungan dengan Laura. Dia hanya tidak paham bahwa untuk menjalin hubungan dibutuhkan pengakuan dari dua belah pihak. “Ada apa?” Erlend bertanya balik. “Mengenai rumah ini, aku melihat di luar jendela, suasananya jauh lebih suram, tapi langit cerah, entah mengapa, ini perasaanku atau tidak, tapi pepohonan maple di luar sepertinya berlumut hitam dan aneh. Ada apa sebenarnya?” Tidak mungkin menyembunyikan ini selamanya, Erlend akhirnya mengakui, “begini,sebenarnya aku membuat tempat ini dijaga ketat agar orang asing tidak bisa mendekat dengan mudah.” “Dijaga ketat?” “Iya, aku membuat udaranya beracun bagi siapapun kecuali kita dan orang yang kuperbolehkan masuk. Pepohonan juga sudah buat layaknya labirin, ada kediaman Hades palsu juga yang berfungsi layaknya lubang hitam, sekali masuk takkan bisa keluar lagi. Selain itu, aku juga melepaskan penjaga Kediaman Hades yang berupa ksatria zirah besi abadi. Mereka semua hanya besi karena itulah takkan bisa mati. Mereka bisa memerangi siapapun yang tak kuinginkan masuk kemari.” Laura terbatuk mendengar semua itu. “Kau membuat tempat ini seperti terisolasi. Kenapa kau sampai berbuat sejauh ini?” “Aku tak mau kau diculik lagi, Laura. Sudahlah, jangan mendebatku masalah keamanan tempat ini.. Lagipula, saat ini dewa bawah tanah adalah aku, aku bebas menggunakan semua fasilitas yang ada di kediaman ini. Entah kapan Ayahku akan pulang, aku bahkan tidak tahu dia kemana, tapi kurasa takkan peduli sekalipun rumah ini kuhancurkan juga.” “Berbicara tentang ayahmu, aku jadi teringat akan helm yang dia miliki masih hilang. Kalau kita terisolasi disini, bagaimana caranya aku membantumu mencari helm yang dibawa pencuri misterius ini?” “Sudahlah, itu bisa dicari lain kali. Lagipula, tidak ada masalah semenjak kau bersamaku. Maksudku, para pelayan kediaman Hades ini bekerja cukup baik menangani Minotaur di berbagai tempat. Tapi, memang ... Aku harus mencari lubang retakan ini sebelum dunia atas dan bawah menjadi kacau. Ini memusingkan, tapi memang sudah menjadi tugasku.” “Aku jadi penasaran dengan retakan yang kau maksud.” “Aku juga tidka terlalu tahu penyebabnya, tapi sesuatu terjadi sejak ayahku pergi, retakan itu muncul dan helm penghilang itu ikut lenyap. Aku masih belum memahami apa yang terjadi. Tapi, kau tidak perlu ikut memikirkan ini sebenarnya. Thanatos dann dewa yang memiliki hubungan dengan dunia bawah juga ikut membantu. Walaupun memang, aku satu-satunya yang punya kemampuan dewa Hades, jadi mereka mengandalkan ku untuk membongkar apa yang terjadi.” “Aku paham perasaanmu, jadi bagaimana kau akan menemukan retakan ini jika kau terus berada di rumah ini denganku?” “Karena itulah aku membuat rumah ini sangat aman, agar saat aku meninggalkanmu, kau akan aman.” “Kau berniat meninggalkanku disini?” “Iya, sebentar, kalau ada informasi mendadak. Kau jangan khawatir, aku sudah memanterai tempat ini yang membuat mantera sihir apapun takkan bisa menembusnya, jadi orang luar takkan bisa membuatmu keluar, dan bertamu pun mustahil kecuali aku memang memperbolehkannya. Tapi, saat aku keluar, aku takkan membiarkan siapapun mendekati rumah ini.” “Kedengarannya memang aman. Aku sangat berterima kasih padamu. Kau tetap melindungiku sekalipun aku ini Tita ... Yang dianggap orang berbahaya, aku sendiri tak tahu siapa itu.” “Tita adalah masa lalu, sekarang kau adalah Laura. Walaupun jujur saja, aku sudah bilang padamu, aku sendiri juga tak mengenal Tita. Tapi, siapa tahu saat aku mengobrol dengan Thanatos atau keluar untuk membasmi Minotaur mungkin aku bisa mencari informasi lebih tentang penyihir masa lalu bernama Tita ini.” “Itu dimaksudku, Erlend.” “Apa?” “Sesekali ajak aku untuk ikut denganmu.” “Apa?” “Dengar, aku bukannya ingin membahayakan diri, tidak, jangan salah paham dahulu, aku percaya seratus persen padamu. Aku bisa menyamar agar tidak terlihat seperti Laura, dan kita bisa menyelidiki tentang retakan, mencari helm Hades yang hilang dan sekaligus mencari tahu tentang diriku. Aku juga ingin langsung mengetahui siapa aku.” “Kau pikir dengan menyamar maka segalanya bisa selesai? Para pemburu penyihir itu cerdik dan kuat, mereka bisa dibilang punya anugerah dari malaikat, sulit sekali dikelabui.” “Iya, tetap saja, tolong ajak aku, mungkin kita bisa mencari tahu mantera mengubah bentuk atau ramuan sesuatu, atau alat-alat dewa mungkin? Iya intinya agar aku tak diketahui bahwa aku adalah Laura.” “Itu dia.” Erlend tampak berpikir sejenak. Dia pernah ingat beberapa ramuan yang pernah dibaca dari buku di perpustakaan kediaman ini. “Aku pernah baca sesuatu tentang ramuan yang bisa me gubah tubuh, itu jelas bisa dilakukan. Dikatakan bahwa kita bisa meniru wujud dari orang lain karena ramuan tersebut.” “Oh iya?” “Iya, walaupun ada jeda waktunya, tapi bisa diakali dengan membuat banyak ramuan. Hanya saja, kita perlu rambut dari orang yang kita tiru.” “Rambut? Disini hanya ada kita berdua. Lalu apa yang bisa ditiru.” “Nanti akan kucarikan, kau tenang saja.” “Apakah hanya bisa meniru manusia?” “Kalau kau mau jadi binatang, sebenarnya bisa saja, tapi itu menggunakan mantera kuno. Kau penyihir, seharusnya bisa melafalkannya. Tapi, perlu latihan, kalau mau cepat dan instan pakai ramuan pengubah tubuh saja yang kukatakan tadi, aku akan mencari rambut seseorang di kota, itu hal yang mudah ketimbang berlatih sihir untuk mengubah wujud menjadi binatang.” Laura mengangguk. “Baiklah, terserah asalkan nanti kau mengajakku. Aku berjanji akan melatih sedikit ilmu sihir agar bisa mempertahankan diri.” “Iya, tak masalah, berhubung kita sekarang tahu kau ternyata penyihir, maka sudah seharusnya kau berlatih sihir, setidaknya untuk menangkal mantera yang hendak menguasai tubuhmu.” “Iya.” Setelah mengobrol, mereka kembali melanjutkan sarapan mereka. Setelah itu, keduanya pergi mandi. Untuk sesaat, mereka ingin menikmati hari-hari setelah apa yang terjadi kemarin. Hari ini, mereka hanya mau bersantai saja di rumah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN