35

1768 Kata
Laura mendadak ingat sesuatu. Pundaknya gemetaran karena takut. Entah kenapa dia baru sadar akan hal ini. Bukankah tadi pria itu memanggilnya Tuan Spring? Tapi, Erlend jelas memperkenalkan dirinya sebagai Jasper saja? Lantas bagaimana orang itu bisa tahu nama belakangnya? Dia langsung bangkit dengan pandangan horror kepada Erlend. “Erlend, pria itu tadi memannggilku Tuan Spring,” katanya lirih. Erlend menoleh. “Memangnya kenapa? Itu kan nama sementaramu.” “Tapi ,.. tapi kau tadi ‘kan hanya memperkenalkan diriku sebagai Jasper.” Keheningan terjadi di antara mereka. . . . Tidak ada yang membahas tentang kemungkinan pria tua itu mengetahui nama belakang pria yang sedang ditiru Laura. Baik Erlend maupun Laura sama-sama diam sepanjang malam. Sepanjang malam itu pula mereka tidur tidak berdekatan. Erlend tidak suka berdekatan dengan lelaki lain, sementara itu Laura tidak peduli juga. Dia mulai terbiasa dengan tubuh laki-laki bernama Jasper ini. Walaupun memang, dia harus beradaptasi, terutama saat harus ke kamar mandi. Beberapa kali dia masih salah dengan tata cara untuk buang air kecil, tapi untungnya sekarang sudah terbiasa, itupun sesekali harus menutup mata karena masih malu. Iya, Laura serasa ingin mati saat harus menyentuh kejantanan milik lelaki ini. Tangannya gemetaran karena ini pertama kalinya memegang, meskipun pada dasarnya itu adalah dirinya sendiri yang berubah wujud menjadi lelaki. Tampaknya Erlend tidak mempedulikan itu, malahan dia senang melihat Laura yang kesulitan. Ia seirng menahan tawa setiap kali Laura keluar dari kamar mandi dengan muka yang memerah karena malu. Pagi hari datang dengan cepat hari ini.  Hari ini sudah cerah, tapi kabut masih menggantung di seluruh kota akibat hujan yang terjadi semalaman itu.  Kabut setebal ini membuat aktivitas warga menjadi melambat, mereka memutuskan untuk tidak terlalu banyak keluar keluar. Bahkan, banyak toko yang masih tutup, termasuk toko kelontong Mines. Erlend dan Laura sudah ada di sana. Mereka benar-benar menarik perhatian, sama-sama tampan dan menawan. Erlend mengenakan jaket hitam dipadu dengan celana jeans sebagaimana pemuda dari kota, sedangkan Laura terpaksa mengenakan kaos hitam serta jubah hitam dengan kepala yang tertutup tudung. Entah mengapa, dia baru merasakan kalau cahaya matahari, walau hanya sedikit, tapi efeknya sangat menyengat sampai dia tidak nyaman dan merasa haus. “Erlend, aku pasti sebentar lagi haus,” ucap Laura merasa bagaikana anjing yang dibiarkan di gurun pasir berhari-hari. Ketika mulutnya terbuka, memang terlihat kalau giginya agar runcing. Akan tetapi untuk tahap ini, dia masih bisa mengendalikan rasa hausnya. Erlend menatapnya. “Sebentar saja, kalau kau memang sangat haus, nanti kit acari binatang di dalam hutan ini.” Dia mengalihkan pandangan ke depan mereka, dimana merupakan bibir hutan kecil yang sebenarnya sangat tandus serta banyak pepohonan yang telah menggugurkan daun, padahal ini bukanlah musim gugur. “Iya, berharap saja kita menemukan sesuatu.” “Kita akan masuk ke dalam? Rasanya sangat suram sekali.” Laura memperhatikan kabut tebal yang masih melingkupi seluruh batang pepohonan sehingga padangan mata menjadi terbatas. “Kita takkan butuh apa-apa ‘kan?” Erlend menoleh ke bangunan belakang dari toko kelontong Mines yang tidak terawatt, banyak lumut hitam dan sangat kotor, apalagi ada tong sampah yang isinya sampai meluber dan menyebar ke sekitar. AKibatnya, bau tak sedap menembus hidung. “Astaga, pemilik toko ini pasti orangnya jorok sekali,” katanya. Laura lebih memahami dengan berkata, “kau tahu kan ini pedesaan, berada di pinggiran kota, aku rasa wajar saja kalau missal petugas pemungut sampah telat datang. Kenapa kau mendadak peduli dengan sampah?” “Tidak, apa-apa, ayo masuk saja.” Erlend mengajaknya sembari berjalan memasuki Kawasan hutan. “Ayo, jangan jauh-jauh dariku, kau itu walaupun Vampire tapi payah.” Laura baru hendak melangkahkan kakinya mengikuti Erlend, tapi sebuah angin berhembus dari belakang ke arahnya. Dia spontan menoleh karena angin itu tidaklah wajar. Angin aneh yang mengibarkan sobekan koran yang sebelumnya ada di atas tong sampah. Sobekan koran tersebut tepat berhenti di sepatu Laura. Laura pun mengambilnya karena penasaran. Dia heran dengan berita yang tertulis di sobekan koran tersebut. Di situ ada beberapa potret anak-anak berbagai jenis kelami dari usia tujuh tahun hingga tiga belas tahun. Dikatakan bahwa mereka semua adalah anak-anak yang menghilang sejak dua puluh tahunan terakhir dan hari ini adalah hari peringatannya atas menghilangnya anak terakhir. Dan, anak terakhir itu bernama Johnny Johnson, anak laki-laki berusia tujuh tahun yang telah menghilang selama dua puluh tahunan. Pihak kepolisian pusat maupun Sherrif setempat tidak bisa menemukan keberadaannya ataupun anak yang hilang lain. Mereka memutuskan untuk menutup semua kasus mereka dan menyatakan telah meninggal dunia. Entah mengapa Laura mendadak tertarik dengan kasus tersebut, apalagi tempat menghilangnya adalah di daerah sini dan sekitarnya. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kasus yang sedang mereka selidiki? Penyihir misterius? Minotaur atau semacamnya? Anak-anak menghilang? Apakah mungkin menghilangnya sama dengan mayat binatang beruang yang diceritakan oleh Tuan Thorns? “Jasper!” teriak Erlend yang kedengarannya amat kesal. Laura buru-buru membuang sobekan itu, dan berlari mengejar Erlend. “Iya!” . . . Erlend dan Laura menjelajahi hutan ini dan memperkirakan jarak antara bangunan toko kelontong dengan hutan ini. Setelah dirasa sudah lima ratus meter, mereka berhenti. Akan tetapi, tidak ada apapun disana. Bercak darah, bercak bulu binatang ataupun jejak kaki. Tidak ada sama sekali. Tanah dipenuhi daun busuk yang masih basah akibat terguyur hujan semalaman. Kalaus udah begini, tidak ada bisa mendapatkan informasi apapun, Erlend memahami hal ini. Dia sempat berjongkok dan melihat-lihat apakah ada kemungkinan ada petunjuk. Dia betingkah sudah seperti detektif. “Kau seperti detektif,” kata Laura. “Iya, karena aku memang selalu melakukan ini saat mengejar minotaur atau semacamnya,” sahut Erlend mengambil salah satu daun yang sudah kuning dan basah. Dia memperhatikannya dengan dedaunan yang lain. Bentuknya tidak sama, yang lainnya berbentuk bulat besar, sementara daun yang dia bawa adalah lonjong. Baik Erlend dan Laura tidak kenal sebenarnya pepohonan apa yang ada disini karena semuanya tak memiliki daun. Semuanya telah berguguran, karena itulah semua sampah daun disini sudah membusuk. Hanya beberapa saja yang masih kuning, termasuk yang dipegang oleh Erlend. “Jadi?” Laura bingung dengan cara Erlend memperhatikan daun tersebut. “Ada apa dengan daun tersebut?” Erlend kemudian berdiri, kemudian mencium aroma dari daun tersebut. “Aku merasa ini bukan daun dari pepohonan ini, bentuknya tidak sama, dan ada bau anyir sedikit.” Dia menyodorkannya di hidung Laura. “Kau Vampire, seharusnya kau jauh lebih berguna saat membicarakan tentang bau. Coba gunakan hidungmu.” Laura mengendus daun itu. Samar-sama dia tidak mencium sesuatu yang aneh, tapi mendadak rasa hausnya menjadi-jadi. Dia mulai mencium kalau ada bekas darah … sangat sedikit, tapi jelas tercium oleh seorang vampire. Akibatnya, gigi taring Laura menjadi tumbuh lagi. “Sial, ada bau darah disini, tapi tidak ada bekasnya … aku jadi semakin haus.” “Iya.” Erlend menjauhkan daunnya dari hidung Laura. Kemudian dia memperhatikan sekitar. Sunyi, berkabut dan terasa sangat mencekam. Sekarang masih pagi, tapi suasananya begitu aneh. “Rasanya ini adalah desa mati. Aku merasa seperti terjebak di masa lalu setiap kali memikirkannya.” Laura mengangguk setuju. “Iya, rasanya seperti ini adalah tempatnya orang mati, maksudku … tidak ada yang modern, dan bahkan jalanan saja sepi, toko-toko tutup hanya karena kabut. Pantas saja kaum muda meninggalkan tempat ini, tempat ini benar-benar tua.” Terjadi keheningan sejenak. Erlend tiba-tiba berkata, “kau dengar itu?” “Apa?” Laura mendadak takut, dia ikut memperhatikan sekitar. Dia tidak merasakan apapun, melihat apapun atau mencium apapun. “Jangan menakutiku, apa yang kau lihat? Apa yang kau dengar?” “Aku seperti mendengar ada yang bernapas.” “Hah? Kau bercanda, ya? Bagaimana mungkin kau mendengar suara napas orang?” Erlend melirik Laura dengan tatapan serius. “Apa kau lupa kalau aku ini setengah dewa? Kalau manusia biasa mungkin takkan mendengarnya, tapi aku yakin ada yang bernapa di sekitar sini.” Dia menyingkapkan kedua lengan jaketnya hingga siku. “Ayo kita kejar dia.” “Hah! Bagaimana kalau itu adalah zombie beruang atau penyihir yang sedang mengendalikannya atau mungkin minotaur.” “Aku tidak merasakan adanya minotaur, kemungkinan ini hanyalah orang biasa … makhluk biasa, aku tidak tahu, tapi suara napasnya sangat aneh, lemah dan seperti akan meninggal dunia.” “Kau ini bicara apa, sih?”  “Ada seseorang.” Erlend yakin, dia segera berjalan menuju ke arah yang diminta oleh instingnya. “Ayo ikuti aku. Jangan jauh-jauh.” Laura mengikutinya di belakang. Dia sempat menoleh ke berbagai arah untuk memastikan bahwa mereka benar-benar sendirian. Rasa haus yang sedang menyerangnya perlahan juga membuat kelima indera di tubuhnya menjadi meningkat. Entah mengapa, dia mencium banyak sekali darah. Anehnya, semua bau darah ini menyebar dari semua arah. Erlend mengeluarkan kekuatan dewanya. Dari dalam tanah muncul sebuah tombak panjang yang terbuat dari gabungan logam tua yang tertimbun dari dalam tanah. Wujud tombaknya sendiri sangat kotor karena memang sebagian telah berkarat. “Erlend, aku bisa mencium bau darah,” kata Laura mendekati Erlend karena takut. Dia tidak mau jaraknya dengan lelaki ini semakin jauh. “Rasanya seperti di depan itu ada yang tidak beres.” Erlend juga waspada ketika menyibakkan semak belukar kering yang ada di depan mereka, kemudian melangkah maju menuju ke gua yang ada di dalam situ. Mulut gua tersebut banyak ditumbuhi oleh semak belukar berduri, kelihatannya sangat gelap dan basah. Erlend dan Laura berhenti di depannya, berusaha mengintip, tapi tidak bisa melihat apapun. Erlend merasa aneh, kalau hanya kegelapan biasa, matanya bisa melihatnya. Dia semakin yakin kalau ada yang sedang bermain dengan sihir disini. “Aku mencium bau darah disini, jangan-jangan di dalam ada beruang itu.” Laura meneguk ludah, antara haus, tapi juga ketakutan. “Apa yang harus kita lakukan?” Erlend pun mengerjai Laura dengan berkata, “Pertama-tama, buatlah kepalamu bersinar agar kita bisa melihat bagian dalamnya.” “Hah? Bersinar bagaimana?” “Kau penyihir ‘kan? Walaupun sekarang kau vampire, tapi kau tetap Laura sang reinkarnasi Tita, kau pasti mengetahui mantera untuk membuat kepalamu bersinar.” “Kau pikir kepalaku ini lampu senter!” Laura mengerutkan dahi dengan mimic wajah jengkel. “Jangan berkata konyol!” Sembari tertawa, Erlend mengeluarkan senter kecil dari dalam saku jaketnya. Dia berkata, “aku bercanda, Bodoh, kau ini mudah sekali marah.” Laura berpaling muka. Erlend menekan tombol nyala pada senter kecil tersebut, lalu dia menyorotkan cahayanya ke dalam gua. Pencahayaan dari senter itu cukup bagus walaupun ukurannya hanya segenggam tangan saja. Saking terangnya sampai tanah basah, dinding curam gua, sampai seseorang di dalamnya terlihat. Iya, betapa kagetnya Erlend dan Laura saat melihat ada sosok pria misterius dengan pakaian lusuh, sobek dan kotor sedang tergeletak di atas tanah dengan posisi kaki tangan terantai besi. “Astaga, itu apa, Erlend?” Saking kotornya, Laura tidak mau percaya kalau itu adalah manusia. Dia malah menganggap aklau makhluk itu adalah mayat hidup. Erlend hanya diam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN