Erlend menekan tombol nyala pada senter kecil tersebut, lalu dia menyorotkan cahayanya ke dalam gua. Pencahayaan dari senter itu cukup bagus walaupun ukurannya hanya segenggam tangan saja. Saking terangnya sampai tanah basah, dinding curam gua, sampai seseorang di dalamnya terlihat.
Iya, betapa kagetnya Erlend dan Laura saat melihat ada sosok pria misterius dengan pakaian lusuh, sobek dan kotor sedang tergeletak di atas tanah dengan posisi kaki tangan terantai besi.
“Astaga, itu apa, Erlend?” Saking kotornya, Laura tidak mau percaya kalau itu adalah manusia. Dia malah menganggap aklau makhluk itu adalah mayat hidup.
Erlend hanya diam.
.
.
.
Pria misterius yang kemungkinan berusia dua puluh tahunan itu dikeluarkan dari dalam gua. Penampilannya sangat buruk, kotor, penuh lumpur dan berbau anyir. Selain itu, rambutnya juga terlihat sudah panjang lebat, selebat jenggot dan kumis. Intinya orang ini seperti sudah tidak merawat diri selama bertahun-tahun. Badan saja sampai kecoklatan.
Dia masih tidak sadarkan diri.
Erlend terpaksa hanya menggeletakkannya di atas dedaunan basah depan gua. Dia juga bingung harus bagaimana. Dia sendiri tidak merasakan adanya aura sihir atau semacamnya dari pria ini. “Entah kenapa aku yakin orang ini hanya manusia biasa.”
“Dia masih hidup ‘kan?” Laura malah fokus pada rantai yang ada di pergelangan tangan dan kaki pria ini, tampaknya sudah diputus dari tempat lain.
“Kau lihat sendiri dia masih bernapas, apa kubilang … orang ini yang kumaksud suara napas tadi. Sepertinya dia sedang sekarat.”
“Tapi lihatlah dia, Erlend, mungkin dia semacam tahanan?” Laura meneguk ludah kembali. “Baunya sangat busuk, tapi juga penuh bau darah, aneh sekali.”
“Aku bisa menciumnya juga.” Erlend mengeluarkan satu botol kaca kecil dari saku celana jeansnya. Cairan yang ada di dalamnya berwarna putih bening layaknya air biasa. Dia menunjukkannya pada Laura. “Kau tahu ini apa?”
“Air putih?”
“Ini salah satu minuman yang dimiliki oleh ayahku, Hades, sekarang aku akan menyembuhkannya dengan satu tetes dari cairan ini. Thanatos bilang ayahku menggunakan ramuan ini untuk mengobati diri saat terluka dalam pertempuran. Tapi, berhubung sekarang tak ada pertempuran, jadi minuman buatannya ini menjadi tidak berguna.”
“Kau membawa benda semacam itu juga di kantongmu?”
“Ini untuk jaga-jaga, aku setengah dewa, bukan dewa seutuhnya, aku bisa terluka fatal kalau kita menghadapi dewa lain, dan kau … apalagi kau … kau lemah sekali seperti ranting kecil, jelas saja aku membawa benda-benda semacam ini.”
“Oke. Lanjutkan.”
“Baiklah.” Erlend berjongkok di samping pria itu, lalu membuka mulut pria itu, dan menuangkan satu tetes dari cairan yang ada di botol kaca.
Ketika Erlend mencengkram dagu pria itu, otomati wajahnya menengadah sehingga bisa dilihat jelas oleh Laura. Dia amat terkejut karena seperti perah melihat pria itu. Wajahnya tidak asing, tapi karena terlalu kotor, dia masih belum bisa menebaknya.
“Erlend …” panggilnya seraya mengerutkan dahi.
Erlend selesai melakukan tugasnya, lalu berdiri kembali dan mengantongi cairan obat ke dalam saku celananya. Dia tampaknya tidak memperhatikan kalau Laura sedang cemas akan sesuatu. “Setelah ini dia akan bangun dan mengatakan pada kita kenapa dia ada disini.”
“Bagaimana kalau dia orang jahat? Bagaimana jika dia musuh yang sedang menyamar? Atau bagaimana jika dia adalah penyihir yang kita cari?”
“La—Maksudku, wahai sobatku, Jasper, di aini hanya manusia biasa, kalaupun dia mencoba menyerangku.” Erlend menunjukkan tombak yang sedari tadi dia bawa. “Akan kutusuk perutnya sampai tembus punggungnya.”
“Kau terkadang mengerikan.” Laura ingat malam itu dimana dwisula Erlend menembus tembok saat sedang mengintimidasinya. “Terserah apa katamu, tapi sepertinya aku ingat pernah melihat orang ini.”
“Apa maksudmu? Kau kenal orang kotor ini?”
“Aku belum bisa mengingatnya, ya … dia terlalu kotor untuk dikenali, Erlend.”
Efek cairan tadi sudah mulai terbukti. Pelan-pelan, pria tadi sudah mulai menggerakkan tangan dan kaki. Detak jantung yang dia miliki juga mulai stabil. Cairan ini sangat bermanfaat apalagi untuk seorang manusia. Satu tetes saja sudah membuktikan bahwa Kesehatan pria itu pulih total. Bahkan pria itu langsung segar dan membuka matanya.
Dia bangkit terduduk dengan ekspresi wajah kebingungan. Lidahnya keluh ketika hendak mengatakan sesuatu. Reaksinya saat melihat Erlend dan Laura adalah merangkak menjauh layaknya seekor binatang yang sudah tidak percaya akan keberadaan mansuia. Mimik wajahnya mendadak waspada.
“Hei, tenanglah, aku yang menyembuhkanmu barusan,” kata Erlend mencoba bicara dengan lembut, “kau baik-baik saja, Bung? Kau kelihatan buruk sekali. Apa yang terjadi padamu?”
Pria itu memandangi sekitar. Kabut yang tadinya memenuhi tempat ini sudah berangsur hilang, hanya menyisakan pepohonan yang ada dimana-mana. Dia semakin bingung, dimanakah dia ini?
“Kelihatannya dia bingung,” bisik Laura ke telinga Erlend.
Erlend mendorong Laura agar agak jauh. “Sudah kubilang, jangan berbisik di telingaku, selama tubuh mu masih laki-laki, cobalah untuk menjaga jarak denganku. Rasanya aneh saat ada pemuda bertubuh atletis yang berbisik padaku dengan nada suara lembut.”
“Oke, terserah, aku akan diam.” Laura berpaling wajah sembari menggerutu.
Pria tadi hendak kabur, tapi dia seakan lupa caranya berdiri, dia malah merangkak untuk menajuh. Dia sesekali menoleh pada Erlend yang berjalan mendekatinya.
“Bung, kau jangan main-main ya, aku baru saja membuatmu sembuh dan kau main pergi begitu saja! Hei!” Erlend muak melihat dirinya diacuhkan. Bahkan sekarang dia semakin kesal karena pria itu mulai berdiri dan berjalan cepat menjauh ke sembarang arah. Marah, dia berlari lebih cepat dan menghadang pria itu di depan, lalu menodongkan mata tombak ke arahnya.
“Mau kemana kau, b******k, jangan mengacuhkanku,” ancamnya dengan suara dingin. Dari semua jenis orang, dia paling benci dengan orang yang menghiraukannya padahal dia sudah sopan dan berbuat baik. Saking marahnya, mata coklatnya sampai berkilatan. “Jangan coba-coba lari sebelum menjelaskan padaku siapa dirimu dan kenapa kau ada disini? Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau bicara.”
Pria itu melihat ujung tajam dari tombak logam tua yang ditodongkan ke wajahnya. Tubuhnya mendadak gemetaran lagi. Dia ketakutan sampai-sampai kencing berdiri.
Laura menjadi sedih. “Erlend! Mungkin dia korban kekerasan atau sesuatu. Kau membuatnya ketakutan.”
Lutut pria itu menjadi lemas kembali, dan dia pun ambruk di atas tanah dengan ekspresi penuh rasa takut, tertekan dan masih tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Di bayangannya, Erlend adalah orang jahat yang tak mungkin dilawan, apalagi dia memegang sebuah senjata tajam.
Melihat hal itu, Erlend menurunkan tombaknya. Dia kemudian mendekati pria itu beberapa langkah, lalu bertanya kembali, “Bung, ada apa denganmu? Apa kau dikejar seseorang? Kau dihajar? Apa yang terjadi padamu? Katakan saja semuanya padaku, aku akan memebreskan orang yang menghajarmu.”
Masih tidak ada jawaban.
“Dengar, aku akan semakin curiga kalau kau melihatku dengan tatapan takut begitu. Oke … oke, aku minta maaf.” Erlend melebur tombak logamnya sehingga kembali mencair dan berjatuhan di atas tanah. “Lihat, aku sudah melebur tombaknya, sekarang kau tak punya alasan untuk takut.”
Pria itu malah melotot, lalu memperhatikan cairan logam yang perlahan-lahan meresap masuk ke dalam tanah kembali. Ini adalah salah satu hal mustahil yang pernah dia lihat. Benar, reaksinya sebenarnya tidak terlalu kaget karena sudah seirng melihat kemustahilan selama ini.
Laura mendekati Erlend, dia berkata pada Erlend. “Mungkin dia memang sedang trauma, aku yakin ada orang yang menghajarnya habis-habisan lalu meninggalkannya untuk mati di dalam gua ini. Mungkin saja anggota gangster atau semacamnya.”
“Entahlah, aku tidak puya pendapat lain.”
“Lagipula lihatlah dia, dia seperti anak-anak. Maksudku … aneh sekali.”
“Lalu aku harus bagaimana? Obat yang kuberikan padanya sudah emulihkan fisiknya, kalau memang mentalnya yang dirusak seseorang, mana bisa kuperbaiki.”
“Kita bawa dia ke klinik yang ada disini. Well, aku tak melihat ada klinik dimana-mana, tapi mungkin Nyonya Flowers mengetahui sesuatu. Intinya, dia mungkin menjadi saksi sesuatu yang ada di hutan.”
“Kau benar, bisa saja orang ini disiksa penyihir itu.”
“Iya, itu juga mungkin, tapi tipis kemungkinannya juga. Kenapa juga penyihir menyiksa manusia.”
“Kau benar. Jadi, kita membawanya ke klinik?”
“Hany aitu caranya.”
“Sebentar, bagaimana kalau seandainya orang yang menjadi pelakunya malah orang dari desa ini? Bukankah ini malah menimbulkan masalah? Jujur saja, kalau aku menggunakan kekuatan dewaku, maka semua terkendali, tapi aku tidak mungkin menggunakannya terlalu sering pada manusia biasa. Nanti aku akan mendapat masalah.”
“Eh …” Laura tidak bisa berpikir apapun. “Entahlah.”
“Oh, aku punya ide. Kita bawa saja seorang dokter kemari untuk memeriksa keadaannya.”
“Ke hutan ini?”
“Tidak, maksudku kita ajak pria ini ke toko kelontong Mines yang kebetulan sedang tutup, lalu kit acari dokter untuk memeriksa kejiwaannya.” Erlend memperhatikan pria itu yang masih saja linglung tak mau bicara. “Kalau saja aku bawa buku mantera atau ramuan magis, aku mungkin bsia langsung memaksanya untuk bicara. Tapi, sudahlah, kita pakai cara manusia biasa saja.”
“Oke.”
“Ayo kita turun.”
“Sebentar, Erlend, bagaimana caranya kita membawanya turun? Dia sepertinya tidak akan paham juga apa yang kita minta. Kau mau menggendongnya?”
“Lebih baik aku menyeretnya ketimbang menggendongnya.”
“Lalu?”
Erlend menuding pria itu lagi. “Hei, kau … dengarkan aku, aku akan mengobatimu lebih lanjut, jadi ikuti kami untuk turun. Kita tidak mungkin melakukan pemeriksaan padamu.”
Pria itu memandangi Erlend dan Laura secara bergantian. Dia terlihat masih sangat khawatir dan ketakutan, meskipun tidak seperti sebelumnya.
“Eh, mungkin sebaiknya kita mengikatnya dengan tali, lalu mengajaknya turun, mungkin dengan begitu dia paham ucapan kita.” Laura memandangi pria itu dengan tatapan serius. “Dia jelas takkan paham sekalipun bibir kita berbusa.”
“Mengikatnya?” ulang Erlend mulai memikirkan untuk membuat tali dari serat batang kayu yang ada di sekitar mereka. “Baiklah, aku akan membuat sesuatu dari kayu, kau diam saja dan awasi pria ini … entah siapa Namanya, kita bahkan takt ahu Namanya, tapi aku yakin dia ada hubungannya dengan mayat beruang yang hilang.”
Laura mengangguk setuju. “Iya aku yakin juga begitu, kita panggil saja Tuan Gua.”
“Hah?” Erlend menoleh pada Laura. “Gua? Karena kita menemukannya di gua?”
“Iya.”
“Johnny.” Pria itu mendadak mengeluarkan kata. Dai masih memandangi mereka berdua, lalu mengulang Namanya, “Johnny. Johnny Johnson.”
Serasa ada petir yang menyambar di kepala Laura saat mendengar nama itu. Iya, kali ini dia mulai merasa kalau kesamaan wajah kotor pria ini sama dengan potret anak hilang yang tadi dia lihat di koran. Iya, rasanya pria ini adalah wujud dewasa dari anak tadi.
“Johnny?” ulang Erlend mulai senang karena pria ini bisa diajak bicara. “Oh, kau bisa bicara, harusnya kau bicara dari tadi. AKu tidak sedang ingin memakanmu, tahu. Kau baik-baik saja? Kau tak usah takut padaku, Johnny, aku Erlend, aku tadi yang menyelamatkanmu dari gua.
Laura mencengkram lengan Erlend, lalu berkata, “Erlend, aku akhirnya ingat siapa pria ini!”
“Siapa?”
Pandangan laura kembali ke pria malang ini, lalu menudingnya seraya menjawab, “dia adalah Johnny Johnson, anak yang hilang dua puluh tahun silam. Hari ini adalah hari dimana dia hilang dua puluh tahun silam.”
“Hah?”
“Iya! Aku tak sengaja membacanya tadi di sobekan surat kabar yang dibuang ke tong sampah belakang toko kelontong Mines! Aku yakin sekali, pantas saja wajahnya tak asing! Dia mirip sekali dengan anak itu, Namanya pun sama!”
Untuk sejenak, Erlend terdiam.
***