“Johnny.” Pria itu memperkenalkan diri dengan suara paraunya. Dia masih memandangi mereka berdua, lalu mengulang Namanya, “Johnny. Johnny Johnson.”
Serasa ada petir yang menyambar di kepala Laura saat mendengar nama itu. Iya, kali ini dia mulai merasa kalau kesamaan wajah kotor pria ini sama dengan potret anak hilang yang tadi dia lihat di koran. Iya, rasanya pria ini adalah wujud dewasa dari anak tadi.
“Johnny?” ulang Erlend mulai senang karena pria ini bisa diajak bicara. “Oh, kau bisa bicara, harusnya kau bicara dari tadi. AKu tidak sedang ingin memakanmu, tahu. Kau baik-baik saja? Kau tak usah takut padaku, Johnny, aku Erlend, aku tadi yang menyelamatkanmu dari gua.
Laura mencengkram lengan Erlend, lalu berkata, “Erlend, aku akhirnya ingat siapa pria ini!”
“Siapa?”
Pandangan laura kembali ke pria malang ini, lalu menudingnya seraya menjawab, “dia adalah Johnny Johnson, anak yang hilang dua puluh tahun silam. Hari ini adalah hari dimana dia hilang dua puluh tahun silam.”
“Hah?”
“Iya! Aku tak sengaja membacanya tadi di sobekan surat kabar yang dibuang ke tong sampah belakang toko kelontong Mines! Aku yakin sekali, pantas saja wajahnya tak asing! Dia mirip sekali dengan anak itu, Namanya pun sama!”
Untuk sejenak, Erlend terdiam.
.
.
.
Erlend dan Laura membawa pria bernama Johnny Johnson itu keluar dari hutan, lalu berhenti tepat di belakang toko kelontong Mines yang sedang tutup. Setelah memastikan kalau toko ini benar-benar tidak akan dibuka oleh pemiliknya, Erlend sengaja melelehkan logam gagang dan lubang kunci pintu belakang itu sehingga pintunya terbuka sendiri.
Mereka membawa Johnny yang berjalan seperti anak ketakutan itu masuk.
Karena toko sedang tutup, tak heran banyak jendela yang sudah tertutup. Akibatnya, rak-rak yang terdapat banyak barang kebutuhan rumah, dari mulai sabun mandi hingga roti gandum, menjadi tidak terlalu terlihat. Belum lagi, suasananya yang gelap.
Kegelapan ini membuat Johnny semakin ketakutan dan berdiam diri di dekat Laura.
Erlend terpaksa berkeliling sahingga akhirnya menemukan tombol lampu. Dia segera menekannya sehingga penerangan toko ini menjadi lebih baik. “Kurasa takkan ada orang disini.”
Laura ikut memperhatikan sekitar, tidak ada siapapun memang. Tak berselang lama, dia mendengar suara perut Johnny yang berbunyi. Spontan, dia berjalan menuju ke rak yang ada roti gandum dan minuman. Dia mengambilnya beberapa, lalu dibukakan, dan diberikan pada Johnny. “Ini makanlah dahulu.”
Johnny menyambar makanan itu, lalu duduk di atas lantai, dan mulai memakan rotinya seperti orang yang belum makan selama berhari-hari. Dia sangat ketakutan, tapi juga kelaparan. Melihatnya saja Erlend dan Laura terdiam karena iba.
“Kita seperti sedang menjarah di sini.” Laura menoleh para Erlend yang masih memperhatikan Johnny dengan pandangan kasihan. “Kau punya uang ‘kan? Nanti sebelum kita pergi, kita harus meninggalkan uang disini.”
“Menurutmu apa aku tidak punya uang? Bagaimana caranya kita menginap kalau tidak punya uang, Bodoh.”
“Jangan terus menerus memanggilku Bodoh.” Laura kesal. Gigi taringnya semakin kelihatan jelas. Hal ini membuatnya ingin sekali menghisap darah seseorang. “Oh iya … Erlend.”
Erlend bisa menebak apa yang akan dikatakan sekalipun tidak diberitahu. Ia menghela napas panjang, lalu mengatakan, “kau semakin haus.”
“Iya. Apa yang harus kulakukan?”
Erlend mendekati rak minuman, lalu mengambil sekotak s**u stroberi. Kemudian, dia menyerahkannya pada Laura. “Ini minumlah.”
Laura menepis tangannya. “Sial. Kau memang sialan. Kau membuatku jadi vampire, sekarang jadilah kantong darahku.”
“Kantong darah?” ulang Erlend tertawa terbahak-bahak. “Oke, aku akan mencarikan darah untukmu. Kau disini saja, jaga Johnny dan ingat …” Mata Erlend menatap tajam Laura. “Ingat untuk …”
“Terus memakai kalung ini, iya iya aku takkan melepaskannya apapun yang terjadi. Ini yang akan melindungiku dari serangan sihir manapun. Selama aku mengenakan benda milik dewa ini, aku takkan terpengaruh sihir.”
“Bagus.”
“Kau akan pergi keluar?”
“Sebentar, akan kucarikan binatang kecil, selama itu darah tidak masalah, bukan? Setahuku Jasper selalu meminum darah binatang, dia menyukainya, jadi kau pasti suka. Sebentar. Aku juga akan menancapkan dwisula dewa di depan pintu, jadi takkan ada iblis atau pun makhluk dunia bawah yang akan masuk menyerang.”
“Oke.”
Erlend pergi keluar toko kelontong ini meninggalkan Laura dan Johnny.
Beberapa menit kemudian, Laura mulai ikut duduk di depan Johnny, memperhatikannya makan roti gandum dengan lahapnya sampai tersedak. Dia pun mengambil minuman dan memberikannya.
Johnny meminumnya, lalu kembali makan sisa rotinya. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya. Dia bahkan menyembunyikan rotinya karena takut diambil oleh Laura yang sedari tadi melihat.
“Jangan begitu, aku tak berminat merebut rotimu.” Laura menjelaskan.
Karena gigi taringnya kelihatan, Johnny mendadak merangkak mundur, tapi tetap sembari memakan roti gandum. Keningnya mengerut, curiga makhluk apakah laura ini.
Laura malah tidak masalah dijauhi. Dia tidak bisa bernapas lega kalau berdekatan dengan pria itu. Dia sampai mual juga hanya karena melihat rupanya yang begitu kotor, penuh lumpur dan tidak terawat. “Aku penasaran, apakah kau sungguh Johnny Johnson yang diberitakan itu? Iya, aku sih yakin kalau itu kau. Kenapa kau tidak mengatakan apapun lagi ? Coba jelaskan apa yang terjadi padamu atau sesuatu? Kau tadi bisa bicara, bukan? Cobalah menjelaskan sesuatu lagi.”
Johnny diam.
“Aku dan Erlend sedang menyelidiki keanehan di pedesaan ini, kemungkinan ada penyihir,” tambah Laura sempat menengok kea rah jendela yang tertutup. “Dan Minotaur. … mungkin. Tapi, aku sendiri juga tidak tahu sebenarnya bagaimana sifat minotaur itu dan kenapa mereka memilih kabur dari dunia bawah. Erlend selalu menggambarkan kalau dunia bawah itu tempat orang-orang mati, jadi apakah semacam neraka, ya?”
Johnny masih mengunyah roti. Dia masih memproses apa yangs edang dikatakan oleh Laura. Sedikit demi sedikit dia memang bisa menggunakan akal pikirannya. Apalagi, sekarang perutnya sudah mulai kenyang. Perut terisi, fisik juga sudah terobati. Pikirannya mulai cerah perlahan-lahan.
Laura masih menjelaskan, “aku ini vampire .. sekarang, jadi jangan kaget, tapi juga jangan takut, aku tidak berniat menghisap darah siapapun, aku hanya mengantuk dan lemas kalau haus, ini salah Erlend karena memberiku ramuan sialan itu.” Jeda sesaat karena Johnny tampak sudah memahami perkataannya. Dia pun mendehem, lalu menjelaskan, “jadi intinya, jika kau mau menjelaskan tentang apa yang terjadi padamu atau apa yang terjadi di hutan, kau harus segera mengatakannya sekarang, tidak ada waktu lagi. Aku dan Erlend harus mengungkap semua keanehan di pedesaan ini dan pergi.”
“Apa yang terjadi di hutan?” ulang Johnny mengerutkan dahi.
Mendengarkan itu membuat Laura bahagia. Dia mengangguk dengan semangat, kemudian mengatakan, “benar, apa yang terjadi di hutan? Apakah memang ada beruang mati? Apakah dia bisa menghilang … maksudku kenapa dia menghilang? Kata salah salah satu warga di dalam hutan sebelumnya ada mayat beruang yang bulunya coklat gelap dan sudah dipastikan mati, tapi saat didatangi lagi dengan seorang sherrif, tubuhnya mendadak lenyap.”
“Apa yang terjadi di hutan …” ulang Johnny kembali sembari melihat tangan kotornya yang terdapat remahan roti. Dia kemudian teringat kalau seharusnya tangannya terpasang rantai. Tapi, rantai itu sudah hancur berkat kekuatan dari Erlend.
“Ada apa? Kau ingat sesuatu? Kalau kau tidak inga tapa yang terjadi di hutan, setidaknya beritahu aku … tentang dirimu, entah mengapa aku yakin kau ada hubungannya dengan keanehan yang terjadi di pedesaan ini. Banyak anak hilang, bukan? Memangnya kemana mereka? Apakah itu yang menjadi salah satu alasan mengapa tempat ini sudah mulai ditinggalkan? Tolong beritahu aku … apapun.”
“Aku dirantai …” Johnny memandangi Laura dengan pandangan ketakutan dan trauma yang luar biasa. Meskipun begitu, dia merasa harus memberitahu Laura karena menganggapnya sebagai penyelamat. “Tolong aku.”
“Tenang. Kau sudah aman. Kau bersamaku. Erlend juga ada di pihak kita, dia adalah setengah dewa, sangat kuat, bisa kupastikan. Siapapun yang melukaimu, tolong katakan padaku.”
“Penyihir … Arlan.” Johnny masih ingat betul ketika diculik saat kecil.
Malam itu, saat dia keluar dari keluar, tepatnya untuk mengambil bola sepak yang keluar ke halaman depan, seorang pria misterius mengenakan jubah hitam membuatnya tertidur. Setelah itu, dia terbangun di ruangan misterius pula. Sejak saat itu, berbagai eksperimen aneh dan ramuan aneh telah dipaksakan untuk dia minum. Ingatan tersebut membuatnya mual, dan nyaris memuntahkan apa yang sudah masuk ke perutnya.
“Johnny?” Laura khawatir. “Dengar, tak perlu dipaksakan, jangan mengingat apapun, kau tenang saja, masih ada banyak waktu.”
Johnny sudah terlanjur menyebut nama penyihir misterius itu sehingga kesadarannya mulai diambil alih oleh sang pemilik nama. Iya, mendadak dia tertunduk lemas, kemudian beberapa detik kemudian, dia mengangkat kepala dengan pupil mata yang berubah kemerahan. Mimik wajahnya berubah drastis, senyum licik terlihat jelas di bibirnya. Pandangan matanya pun sangat mengerikan kala memandangi Laura.
Laura sontak berdiri, lalu mundur pelan-pelan.
Johnny ikut berdiri, tapi tidak mendekati Laura. Dia berbicara, “Hello, Laura.”
“Siapa kau!” bentak Laura panik. Padahal dia sedang dalam pengaruh sihir perubahan wujud, tapi seseorang bisa mengenalinya. Bahkan, seharusnya dewa pun tak bisa mengetahui kalau dirinya adalah seorang gadis bernama Laura.
“Siapa aku?” ulang Johnny yang kerasukan tersebut. “Aku adalah orang yang mengenalmu. Tapi, jangan waspada begitu, aku bukan pemburu penyihir, aku ini juga penyihir, aku mengenalmu, kau mengenalku … dahulu. Aku senang bisa melihatmu hidup lagi. Selamat untuk reinkarnasimu, Sayang.”
“Aku …”
“Benar, kau tidak ingat, aku pun tak perlu memperkenalkan diri juga, nanti juga kita akan bertemu. Hanya saja, bisakah kau menjauh dari pedesaan ini bersama teman dewamu itu untuk sementara?”
“Apa maksudmu?”
“Aku ada urusan disini dan aku tak mau diganggu sebenarnya …”
“Kau … apa kau yang membuat minotaur …”
“Ah! Minotaur apanya? Tidak ada makhluk mitologi semacam itu disini.”
“Kau apakan sebenarnya des aini? Dan … jangan-jangan Johnny …”
“Iya, Johnny dan anak-anak lainnya itu aku yang menculik, aku punya banyak eksperimen di des aini, jadi sebaiknya kau pergi saja, kau sudah bisa mendapatkan jawaban, bukan? Aku adalah penyihir yang kalian cari.”
Laura curiga karena penyihir ini seolah membuat dia dan Erlend untuk mengetahui semua ini, bahkan dengan susah payah menjelaskannya. “Kau mencurigakan, entah kenapa aku merasa kau sepertinya sudah tahu kami kemari, dan memang merencanakan agar kami datang ke hutan, lalu menemukan Johnny … waktu itu, ada angin yang berhembus ke arahku, dan kemudian aku bisa menemukan sobekan koran tentang penculikan anak, lalu kami menemukan Johnny. Tidak ada kebetulan yang seperti ini.”
“Kau benar, aku yang menuntunmu untuk mengetahui itu, agar kau dan teman dewamu itu tidak terlalu lama disini.”
“Kami tetap akan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di desa ini.”
“Oh, Sayang, kau tak perlu melakukan itu, kau takkan mendapatkan keinginanmu atau keinginan teman dewamu disini. Di desa ini, aku murni melakukannya untuk diriku sendiri.”
“Keinginanku? Keinginan teman dewaku? Apa maksudmu?”
“Tanpa kau beritahu, aku ini sudah tahu kalau tujuanmu kemari untuk mencari kemungkinan informasi tentang penyihir Tita, dan mungkin bisa menemukan jejak pencuri helm Hades, bukan? Iya, kalian takkan menemukan apapun disini karena semau keanehan di desa ini disebabkan olehku yang sedang bereksperimen.”
“Tapi kau … kau mengenalku, bukan?”
“Oh, maksudmu Tita? Jelas saja aku mengenalmu. Kau dahulu sangat terkenal, kita sangat dekat, dan ya tidak usah kaget, aku ini sudah hidup selama ratusan tahun, sudah pasti aku tahu tentang dirimu saat sebelum reinkarnasi.”
“Katakan siapa kau sebenarnya?”
“Namaku Arlan. Kita akan bertemu suatu hari nanti.”
“Aku akan menemukanmu sebentar lagi, bukan suatu hari nanti.”
“Terserah, jika kau memang penasaran apa yang kulakukan di sini dan siapa aku, kau dan teman dewamu bisa berada di sini untuk menyelidikinya. Tapi kuperingatkan, setelah tengah malam ini, kalian akan kesulitan untuk pergi dari desa ini. Kalian akan terjebak disini, dan takkan bisa keluar, lalu melupakan dunia luar, dan menjadi bonekaku … kecuali… kau bisa menemukanku. Maka aku akan dengan senang hari menghapus kutukanku pada tempat ini.”
“Terjebak? Takkan keluar? Melupakan dunia luar? Menjadi boneka? Kutukan?” ulang Laura tidak paham sama sekali dengan apa yang sedang dikatakan oleh penyihir bernama Arlan tersebut. “Aku tidak mengerti.”
“Pertama-tama, Sayang, kenapa kau tidak cari dimana teman dewamu itu, bukankah ini terlaly lama baginya untuk pergi meninggalkanmu?”
Laura melotot kaget. “Apa maksudmu!”
Bukannya menjawab, tiba-tiba tubuh Johnny ambruk dan pingsan di atas lantai. Sosok yang merasukinya telah meninggalkan dirinya. Dia terdengar tertidur pulas karena hal itu.
Sontak saja Laura bergegas keluar toko kelontong Mines ini melalui pintu belakang. Dia mulai mengkhawatirkan keadaan Erlend setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan penyihir misterius tersebut.
“Erlend?” panggilnya seraya menengok ke arah mulut hutan yang sudah tak berkabut, lalu sempat mendongak, tapi kulit wajahnya langsung pedih saat terkena sinar matahari. Bertambah panas dan menyakitkan. Mau tak mau dia memasang kembali tudung jubah hitamnya.
Dia berjalan menyusuri sekitar toko kelontong ini.
Jalanan depan toko sangatlah sepi, benar-benar taka da aktifitas apapun dari warga sekalipun hari sudah semakin siang. Iya, seolah-olah tempat ini memang desa mati. Belum lagi, seluruh toko juga kompak untuk tutup.
“Sial, dimana aku bisa menemukan Erlend kalau begini?” gumam Laura kebingungan. Dia hendak pergi mencari Erlend, tapi tak mungkin meninggalkan Johnny sendiri di dalam toko kelontong orang lain. Langkahnya maju mundur, tidak tahu harus bagaimana. Tapi, dalam hati, dia sangat cemas. Entah mengapa, baginya apapun yang dikatakan oleh penyihir bernama Arlan ini bukanlah gertakan semata, semuca ucapannya pastilah sesuatu yang benar.
“Erlend!” Dia berteriak terus menerus. “Erlend!”
Karena tidak mungkin Erlend mendengar, dia kembali diam dan memikirkan cara untuk mengatasi kemungkinan terburuk. Apabila Erlend hilang, dia benar-benar tidak tahu cara menemukannya. Iya, karena dia memang tidak bisa melakukan sihir apapun untuk sekarang. Lagipula, tidak ada mantera yang dia hafal sama sekali.
Jika dirinya yang hilang, Erlend dengan mudah menemukannya melakui kalung yang dia kenakan. Tapi, sekarang adalah kebalikannya. Laura tertekan hanya karena memikirkan hal ini. Dia juga tidak tahan lagi dengan sengatan cahaya matahari yang seperti membakarnya hidup-hidup. Padahal cuaca sedang berawan, matahari tidak sepenuhnya terlihat.
“Aku harus berpikir.” Laura berjalan menuju ke pintu belakang lagi, berniat untuk memeriksa keadaan Johnny yang dia tinggalkan. “Mungkin Johnny tahu sesuatu tentang Arlan ini.”
Tapi, ketika dia hendak masuk, langkahnya terhenti akibat adanya seseorang yang berdiri pintu belakang dengan ekspresi kebingungan. Seorang pria paruh baya yang bingung kenapa gagang pintunya sudah hilang.
Laura kaget. “Oh.”
Pria berambut hitam itu menoleh ke arahnya.
“Begini, Tuan, kami tadi darurat karena ada pria yang sekarat, tapi toko Tuan sedang tutup, jadi kami masuk untuk mengambil makanan dan …” Laura meneguk ludah, takut diteriaki pencuri oleh pria itu.
Tak diduga, pria itu malah menghela napas lega dan tersenyum.
***