Di sinilah mereka berada sekarang. Dalam sebuah ruangan dengan nuansa putih dominan. Hanya berdua. Lelehan air mata masih tampak jelas membasahi pipi mulus sang wanita. Lelaki yang kini tergolek di pembaringan pun tak bisa berbuat banyak. Bingung merangkai kata yang tepat dan cukup masuk akal untuk mulai menjelaskan. Radit memberanikan diri menatap mantan istrinya. Semakin lama suara terisak itu membuat hatinya kian sakit. "Amanda," panggilnya. Amanda tak menjawab, hanya menoleh sekilas kemudian menunduk lagi. Tidak tega melihat raut sendu Radit. Ibel benar, seandainya ia tidak buru-buru mengambil keputusan semua pasti tidak akan seperti ini. Dulu Amanda memang merasa sudah tidak tahan dengan perlakuan Radit, baik karena perselingkuhannya atau kekerasan yang kerap ia terima. Jika tahu se

