Radit memandangi foto dalam galeri ponselnya. Foto yang mengingatkan pada pertemuannya bersama Amanda kemarin. Meski mantan istrinya itu memasang sikap sedingin es, tetapi itu cukup mengobati kerinduannya. Seperti apa pun Amanda sekarang, bagi Radit dia tetaplah sosok yang dulu. Jika saja perselingkuhan fiktif itu ditiadakan, mungkin sampai saat ini mereka masih hidup bersama-sama. Seandainya Radit harus pergi pun tentu akan diiringi tangis kehilangan, bukan tawa penuh kebencian. Seorang perawat masuk ke dalam ruangannya. "Siang, Pak. Bagaimana keadaannya? Sudah siap untuk hari ini?" Radit hanya tersenyum kemudian mengangguk. Karena terlalu lelah, kemarin malam ia terpaksa dibawa ke tempat menyedihkan ini lagi. Rutinitas barunya tahun-tahun terakhir memang begini, dua kali dalam satu bul

