Selama pelajaran matematika berlangsung Rayyan tak banyak bicara. Tangannya sesekali terangkat untuk menyeka bulir-bulir keringat yang jatuh. Konsentrasinya pecah sejak sakit itu kembali berulah. Lelaki itu terdengar batuk, tetapi seperti ditahan. Gwen yang duduk di sampingnya tentu bisa mendengar dengan jelas. "Ray, lo gak pa-pa?" Rayyan menggeleng. Namun detik berikutnya lelaki itu membekap mulut lantas berlari ke luar tanpa menghiraukan guru yang sedang menjelaskan di depan. Kontan saja apa yang dilakukannya mengundang perhatian seisi kelas. Mereka semua berdiri seolah ingin menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan. Gwen yang memang paling tahu kondisi pemuda itu segera mengikuti. Kepanikannya turut membuat ia lupa kalau sekarang di dalam kelas masih ada guru mata pelajara

