Part 23

1292 Kata

Rayyan duduk diam di pinggir lapangan melihat sang kakak yang sejak beberapa menit lalu sibuk memainkan si kulit bundar. Bergerak lincah mendribel bola sebelum akhirnya memasukan bola itu ke dalam ring. Raka memang mahir di bidangnya, begitupun Rayyan. Bedanya Raka masih mungkin merealisasikan apa yang menjadi impiannya, sementara Rayyan kini punya keterbatasan. Jangankan berlari selincah itu, kelelahan sedikit saja bisa membuatnya sesak napas. Entah seberapa singkat waktu yang ia punya untuk tetap berada di tengah-tengah keluarga juga temannya. Lelaki itu mengambil ponsel dalam saku celana abu-abunya kemudian membuka halaman internet. Dengan wajah serius ia mengetik keluhan-keluhannya belakangan ini, dari yang sederhana sampai yang dirasa paling berat. Tidak adanya pertengkaran antar mam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN