"Papa ngapain?" Radit terkejut bukan main ketika mendengar suara putranya, hingga tablet yang baru saja ditelan seakan tersangkut di tenggorokan karena Radit menelannya tergesa. Beruntung posisinya sekarang membelakangi pintu yang terhubung langsung ke kamar sehingga kemungkinan Rayyan melihat apa yang dilakukannya sangatlah kecil. "Ray, kok bangun sih?" tanya Radit sembari mengusap sudut bibirnya yang basah selepas minum tadi. "Lapar." Senyum tipis tersungging di bibir Radit. Pantas saja Rayyan terbangun tengah malam begini karena sore tadi ia tak sempat makan. "Tadi Papa tawarin kamu makan, tapi kamu susah banget dibangunin. Buburnya Papa panasin dulu, kamu tunggu di kamar aja. Nanti Papa bawa ke sana." "Gak. Mau lihat Papa masak." "Papa suka grogi kalau lagi masak dilihatin." "Kay

