Terdiam di depan cermin dengan melihat pantulan dirinya sendiri, sedang Gendis lakukan hampir lima belas menit berlalu. Kakinya hampir kesemutan karena terlalu lama berdiri. Namun otak dan hatinya terus saja ribut memikirkan hal yang bertentangan. Sedangkan debaran jantungnya tiba-tiba bekerja secara tidak biasa. "Apa sebenarnya mau kamu, hah?" tanya Gendis pada dirinya sendiri. Raut wajahnya terlihat biasa saja, tetapi tidak dengan pikirannya. "Gendis, kamu nggak pingsan kan?" Ketukan pintu diiringi suara khawatir Glen membuat Gendis mau tidak mau segera membuka pintu kamar mandi sebelum pintu itu didobrak paksa oleh Glen andai dia tidak segera keluar. "Apaan sih! Berisik!" protes Gendis kemudian berlalu melewati Glen yang berdiri tegap di depan pintu kamar mandi. "Lagian kamu lama ba

