Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang terisak menangis, aku menggeliatkan badanku seraya membuka kedua mataku perlahan. Rasa kantuk menghantam kepalaku ketika aku berusaha bangkit dari rebahanku dan duduk di ranjang. Beginilah efek yang ku rasakan ketika tidur siang. Ku edarkan pandanganku ke seluruh arah kamar ini, dan tepat di depan jendela sana aku melihat bang Shaka yang tengah berdiri menghadap ke arah luar jendela. Suara isakan itu semakin terdengar dari arah tempat bang Shaka berdiri sekarang. Apakah ia menangis? Aku ingin mengabaikan dirinya karena aku teringat jika aku sedang merajuk padanya. Tapi, niat mengabaikan itu ku urungkan seiring dengan suara isakannya yang semakin menjadi. Bahkan kini bang Shaka menyebut-nyebut namaku dengan suara yang lirih. Turun dari ran

